Chapter 4 of 8

Chapter 4: Interogasi di Bawah Bayang Sensasi

1.2k words

Gemetar halus menjalar di ujung jari Rian saat dia melangkah mundur, memberi ruang bagi tamu tak diundang itu untuk masuk. Detektif Linda melangkah melewati ambang pintu dengan keangkuhan yang hanya dimiliki oleh aparat hukum berpengalaman. Bau parfum maskulin bercampur aroma kopi instan langsung memenuhi ruang tamu Rian yang sempit dan pengap. "Rian Aditya?" tanya Linda, suaranya sedingin es, meskipun malam ini udara kota terasa sangat menyengat. Anggukan pelan menjadi satu-satunya jawaban yang sanggup Rian berikan, sementara matanya melirik sekilas ke arah lencana yang tergantung di sabuk kulit wanita itu. "Kita perlu bicara," tegas Linda, matanya menyapu sekeliling ruangan sebelum mendarat tepat di wajah Rian yang pucat. "Mengenai Sarah." Nama itu bagaikan hantaman godam di dada Rian, membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Perlahan, Linda berjalan menuju sofa kulit yang sudah mengelupas di sudut ruangan dan duduk tanpa menunggu dipersilakan. Postur tubuhnya tegak, memancarkan dominasi yang biasa dia gunakan untuk mengintimidasi para tersangka di ruang interogasi. "Duduk," perintah Linda, jarinya menunjuk ke kursi plastik di hadapannya. Rian menurut tanpa suara, merasakan tenggorokannya mendadak kering kerontang seperti padang pasir. Satu map biru tebal diletakkan Linda di atas meja kaca yang berdebu, menimbulkan suara benturan yang cukup keras. "Sarah Amalia, rekan kerjamu, ditemukan pingsan di toilet kantor beberapa jam yang lalu," Linda membuka pembicaraan tanpa basa-basi. Tatapan matanya begitu tajam, seolah bisa menembus tengkorak kepala Rian dan membaca setiap rahasia yang tersimpan di sana. "Dokter mengatakan dia mengalami syok berat akibat hilangnya energi vital secara drastis, sesuatu yang sangat tidak masuk akal secara medis," lanjut Linda. Napas Rian tertahan di tenggorokan, tangannya mengepal erat di bawah meja untuk menyembunyikan getarannya. Khawatir akan ketahuan membuat pikiran Rian melayang pada sistem mengerikan yang kini bersarang di dalam tubuhnya. Sistem yang menuntutnya untuk terus mencari mangsa demi mempertahankan hidup, sistem yang baru saja merenggut energi Sarah. "Kami memeriksa rekaman CCTV koridor," Linda mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka. Kehangatan tubuh detektif itu mulai terasa, membawa aroma intimidasi yang semakin pekat. "Kau adalah orang terakhir yang terlihat bersamanya di ruang arsip sebelum dia ditemukan kolaps," tambah Linda. Ketakutan mulai merayap di punggung Rian, mengingatkannya pada trauma masa lalu saat dia dituduh dan dipermalukan secara tidak adil. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya, membasahi kerah kaus tipis yang dia kenakan. "Saya... saya tidak melakukan apa-apa padanya, Detektif," jawab Rian dengan suara yang sedikit bergetar. Kebohongan itu terdengar sangat lemah di telinga Linda yang sudah terbiasa mendengar ribuan dusta setiap harinya. Satu alis Linda terangkat, senyum sinis tersungging di sudut bibirnya yang dilapisi lipstik merah gelap. "Benarkah? Lalu bagaimana kau menjelaskan fakta bahwa tanda-tanda vitalnya menurun drastis tepat setelah kau keluar dari ruangan itu?" tanya Linda. Tekanan di dalam dada Rian semakin membubung tinggi, memicu kepanikan luar biasa yang membuat jantungnya berdebar kencang. --- Tiba-tiba, sebuah suara mekanis bergema di dalam kepala Rian, memecah kesunyian yang mencekam. [Peringatan: Detak jantung melampaui batas aman akibat tekanan psikologis.] [Mengaktifkan Protokol Pertahanan Diri: Aura Pasif Eksibionis diaktifkan secara otomatis.] Seketika itu juga, Rian merasakan gelombang hangat yang sangat kuat mengalir dari pangkal pahanya, menyebar ke seluruh tubuh. Sensasi panas yang membara itu membuat Rian sedikit tersentak, namun anehnya, kepanikannya mendadak sirna. Rasa takut yang tadinya melumpuhkan kini digantikan oleh rasa percaya diri yang meluap-luap. Udara di dalam ruangan yang sempit itu mendadak terasa sangat tebal dan dipenuhi oleh feromon yang tidak kasat mata. Linda, yang tadinya menatap Rian dengan pandangan penuh selidik, tiba-tiba menghentikan ucapannya di tengah kalimat. Matanya yang tajam berkedip beberapa kali, seolah-olah pandangannya mendadak menjadi kabur. Hembusan napas Linda yang tadinya teratur kini mulai terdengar sedikit lebih berat dan cepat. "Detektif?" panggil Rian, suaranya kini terdengar jauh lebih berat, dalam, dan memiliki daya pikat yang menghipnotis. Linda tidak menjawab, namun pandangannya secara perlahan dan tidak sadar mulai turun dari wajah Rian. Matanya terpaku pada bagian tengah tubuh Rian, tepat di mana aura pasif sistem sedang memancarkan daya tarik puncaknya. Pupil mata detektif tangguh itu melebar dengan sangat cepat, menelan sebagian besar warna cokelat di matanya. Sesuatu yang luar biasa sedang terjadi pada diri Linda; insting liarnya mendadak bangkit dan memberontak melawan logika profesionalnya. "Panas..." bisik Linda pelan, tangannya bergerak tanpa sadar menuju kerah kemeja seragamnya. Satu kancing teratas kemejanya dibuka, memperlihatkan kulit lehernya yang kini mulai memerah dan berkeringat. Rian memperhatikan setiap detail perubahan itu dengan rasa takjub yang mendalam. Ketakutannya sebagai buronan kini sepenuhnya berubah menjadi rasa berkuasa yang sangat memabukkan. Wanita di hadapannya ini adalah seorang penegak hukum, sosok yang memiliki otoritas untuk menjebloskannya ke penjara. Namun sekarang, detektif tangguh itu tampak sangat rapuh, gemetar di bawah pengaruh pesona absolut yang dipancarkan dari celana Rian. "Ada apa, Detektif Linda? Anda terlihat sangat tidak nyaman," goda Rian, sengaja memajukan sedikit duduknya. Gerakan sederhana itu membuat Linda tersentak kecil, napasnya semakin memburu hingga dadanya naik turun dengan sangat kentara. Bibir Linda sedikit terbuka, mengeluarkan desahan halus yang sangat tipis namun terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu. Dia mencoba memalingkan wajahnya, mencoba mengingat kembali tugasnya, namun matanya seolah terkunci oleh magnet yang mustahil dilawan. Fokusnya telah hancur sepenuhnya; lembar kasus di atas meja kini tidak lebih dari sekadar kertas tanpa makna. "Kau... apa yang kau lakukan padaku?" tanya Linda, suaranya tidak lagi terdengar tegas, melainkan serak dan penuh kepasrahan. Rian hanya tersenyum tipis, menikmati pemandangan langka di mana seorang pemburu kini telah berubah menjadi mangsa. Dia bisa merasakan energi gairah yang mulai menguar dari tubuh Linda, ditarik secara perlahan oleh sistem di dalam dirinya. --- Keheningan malam semakin larut, namun ketegangan di dalam ruangan itu justru semakin memuncak ke titik didih. Linda meremas ujung meja kaca dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha keras mempertahankan sisa kesadarannya. Namun, setiap kali dia menatap lekukan di balik celana Rian, gelombang hasrat yang sangat dahsyat menghantam otaknya. Pikirannya dipenuhi oleh fantasi liar yang belum pernah dia rasakan sebelumnya sepanjang hidupnya. Hasrat untuk menyentuh, melihat, dan menyerahkan dirinya sepenuhnya pada pemuda di hadapannya ini begitu mendominasi. "Aku... aku harus pergi," ucap Linda dengan sangat tidak yakin, meskipun tubuhnya sama sekali tidak bergerak dari sofa. "Silakan, Detektif. Pintu tidak dikunci," sahut Rian dengan nada menantang, tahu betul bahwa wanita itu tidak akan bisa melangkah pergi. Linda menatap pintu keluar, lalu kembali menatap Rian, matanya kini benar-benar diselimuti oleh kabut gairah yang pekat. Konflik batin di dalam dirinya telah berakhir; akal sehatnya kalah telak oleh insting primitif yang menuntut kepuasan. Perlahan, Linda bangkit berdiri dari sofa dengan gerakan yang goyah namun pasti. Dia tidak berjalan menuju pintu keluar, melainkan melangkah mendekati pintu masuk utama apartemen Rian. Linda tiba-tiba mengunci pintu dari dalam, melepaskan lencana polisinya, dan berbisik dengan suara serak: 'Tunjukkan padaku apa yang kau sembunyikan di sana...'

End of Chapter 4

Chapter 4: Chapter 4: Interogasi di Bawah Bayang Sensasi - Sistem Eksibionis | Novel AI Studio