Chapter 2 of 8
Chapter 2: Gairah Pertama yang Menyelamatkan Nyawa
1.4k words
Rasa sakit yang teramat sangat mendadak menghantam dadaku seolah ada cakar besi tak terlihat yang meremas jantungku tanpa ampun.
Napas yang kuembuskan terasa panas dan pendek, membuatku terpaksa bersandar pada dinding koridor kantor yang dingin untuk menjaga keseimbangan agar tidak jatuh tersungkur.
Keringat dingin mengalir deras dari pelipis, membasahi kerah kemeja kerjaku yang kini terasa mencekik leher bagaikan jerat tali tambang.
Melayang tepat di depan mataku yang mulai berkunang-kunang, sebuah layar hologram transparan berwarna merah menyala berkedip-kedip dengan kejam.
[Peringatan: Energi vital sisa 2%. Hitung mundur kematian dimulai: 14 menit 52 detik.]
Suara mekanis yang dingin itu berdenging langsung di dalam kepalaku, mengirimkan gelombang kepanikan yang membuat bulu kudukku berdiri tegak seketika.
Kejadian gila semalam di bawah guyuran hujan deras ternyata bukan sekadar halusinasi akibat patah hati setelah Clarissa mencampakkanku dengan begitu kejam.
Sistem Eksibionis ini nyata, dan sekarang entitas misterius itu menuntut bayaran pertamaku untuk tetap bertahan hidup di dunia yang fana ini.
Langkah kakiku yang gemetar kupaksa untuk terus menyeret tubuh melintasi lorong lantai tiga gedung perkantoran yang sudah sangat sepi ini.
Hampir semua karyawan telah pulang ke rumah masing-masing sejak dua jam yang lalu, menyisakan keheningan malam yang hanya dipecahkan oleh suara dengung AC koridor yang monoton.
Bagaimana aku bisa menemukan wanita yang mau bersetubuh denganku dalam waktu kurang dari lima belas menit di tempat sepi seperti ini?
Pikiran gila itu terus berputar di dalam benakku, bercampur dengan rasa takut akan kematian yang kini berada tepat di depan mata.
Tiba-tiba, telingaku menangkap suara isakan halus yang datang dari arah ruang arsip tua di ujung lorong yang remang-remang.
Suara tangisan itu terdengar sangat rapuh, memecah kesunyian malam dengan nada keputusasaan yang sangat mendalam, jenis keputusasaan yang sangat kukenal karena aku baru saja merasakannya kemarin.
Perlahan, aku melangkah mendekati pintu kayu jati yang sedikit terbuka itu, berusaha tidak menimbulkan suara bising sekecil apa pun yang bisa mengejutkan orang di dalam.
Mengintip dari celah pintu yang sempit, mataku menangkap siluet seorang wanita yang sedang duduk meringkuk di lantai yang berdebu di antara barisan rak besi yang tinggi.
Rembulan malam yang menembus jendela kaca kecil di sudut ruangan menerangi wajah wanita itu, memperlihatkan sosok yang sangat kukenal di kantor ini.
Sarah, sekretaris kepala divisi keuangan yang terkenal dengan julukan 'Ratu Es' karena sikapnya yang selalu dingin, angkuh, dan memandang rendah setiap pria yang mencoba mendekatinya.
Kini, wanita yang biasanya tampil dengan pakaian kerja super rapi, rok span ketat, dan riasan wajah sempurna itu terlihat hancur berantakan tanpa sisa.
Rambut hitam panjangnya terurai kusut menutupi sebagian wajahnya yang basah oleh air mata yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan.
Kedua tangannya memeluk lututnya erat-erat ke dada, sementara bibirnya yang memerah bergumam lirih mengecam pengkhianatan kekasihnya yang ternyata berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Melihat penderitaannya, dadaku kembali berdenyut kencang dengan rasa sakit yang luar biasa, namun kali ini bukan karena empati terhadap nasibnya yang malang.
[Target terdeteksi: Sarah Amelia. Tingkat kerentanan mental: 85%. Peluang keberhasilan pesona mutlak: Tinggi.]
[Waktu tersisa: 09 menit 12 detik. Segera lakukan kontak visual dan tunjukkan aset kesempurnaan Anda untuk mengaktifkan sistem.]
Rasa bimbang sempat mencengkeram pikiranku, membenturkannya dengan moralitas yang selama ini kujunjung tinggi sebagai seorang pria biasa yang menghormati wanita.
Namun, ingatan tentang bagaimana Clarissa membuang cincin pertunangan kami ke dalam lumpur sambil tertawa mengejek bersama selingkuhannya yang kaya mendadak bangkit kembali.
Harga diriku yang hancur berkeping-keping malam itu berteriak menuntut pembalasan, menuntut pembuktian bahwa aku tidak seburuk dan seasing yang mereka kira selama ini.
Persetan dengan aturan moral dunia yang munafik ini jika ujung-ujungnya aku harus mati konyol di lantai koridor yang sunyi tanpa ada satu orang pun yang peduli.
Mendorong pintu kayu itu dengan pelan, aku melangkah masuk ke dalam kegelapan ruang arsip yang terasa dingin dan berbau kertas tua yang pengap.
Derit engsel pintu yang tua langsung membuat Sarah terkejut dari tangisannya yang pilu.
Kepalanya mendongak cepat, menatapku dengan mata yang sembap merah dan penuh dengan kilatan amarah defensif yang luar biasa tajam.
"Rian? Sedang apa kamu di sini? Pergi dari sini sekarang juga sebelum aku memanggil keamanan!" bentaknya dengan suara serak yang dipaksakan agar terdengar berwibawa.
Tangannya dengan tergesa-gesa menghapus sisa air mata di pipinya, sementara tubuhnya berusaha bangkit berdiri dengan bersandar pada rak dokumen besi di belakangnya.
Alih-alih menuruti perintahnya untuk pergi, aku justru terus melangkah mendekat dengan langkah mantap, lalu mengunci pintu kayu di belakangku dengan sekali sentakan pelan.
Suara klik dari kunci pintu yang berputar terdengar begitu nyaring di dalam ruangan yang sunyi ini, meningkatkan ketegangan yang merayap di antara kami berdua.
"Aku bilang pergi, Rian! Apa kamu tuli? Jangan lancang atau aku akan memastikan kamu dipecat dari kantor ini besok pagi!" ancam Sarah lagi, namun kali ini suaranya terdengar bergetar hebat karena ketakutan.
Ketakutan mulai merayapi matanya saat dia menyadari bahwa fisikku jauh lebih kuat dan tinggi darinya di ruangan yang tertutup rapat tanpa ada jalan keluar lain.
"Maafkan aku, Sarah. Tapi aku tidak punya pilihan lain malam ini jika aku ingin tetap bernapas dan melihat matahari esok hari," bisikku dengan suara yang terdengar sangat tenang namun menyimpan ketegasan yang dingin.
Langkahku terhenti tepat dua langkah di hadapannya, membuat napas hangatku yang memburu bisa dirasakan langsung oleh kulit wajahnya yang memerah karena emosi.
Tanganku perlahan bergerak turun ke arah pinggang, menyentuh kepala sabuk kulit hitam yang kukenakan dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat.
"Apa... apa yang mau kamu lakukan? Jangan macam-macam! Aku bisa berteriak!" teriak Sarah dengan panik yang memuncak, tubuhnya gemetar hebat menempel erat pada rak besi di belakangnya seolah ingin menyatu dengan benda mati itu.
Membuka kancing celanaku dengan satu gerakan mantap, aku membiarkan kain celana bahan itu melonggar dan merosot turun ke lantai ruang arsip yang berdebu.
Seketika itu juga, aura mistis yang sangat pekat dan hangat mendadak meledak dari dalam tubuhku, memenuhi setiap sudut ruangan sempit yang dingin ini.
Udara di sekitar kami seolah meleleh seketika, digantikan oleh gelombang energi tak terlihat yang membawa aroma maskulin yang sangat memikat dan memabukkan indra penciuman.
Begitu pakaian dalamku kuturunkan setengah tiang, memamerkan aset kesempurnaan mutlak yang diberikan oleh sistem misterius ini, seberkas cahaya keemasan halus terpancar secara magis.
Sarah mendadak membeku seketika bagaikan patung batu yang kehilangan seluruh kekuatannya.
Kata-kata ancaman yang hendak keluar dari bibirnya yang bergetar menguap begitu saja, menyisakan mulut yang sedikit terbuka dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
Matanya yang sembap langsung melebar sempurna, terkunci erat pada apa yang baru saja kupamerkan di hadapannya tanpa bisa berpaling atau mengedipkan mata sedikit pun.
Pancaran energi gaib dari asetku seketika menghapus seluruh akal sehat Sarah, hancurkan semua dinding pertahanan mental dan moralitas sosial yang dibangunnya dengan susah payah selama bertahun-tahun.
Rasa sedih akibat pengkhianatan kekasihnya, amarah atas kelancanganku, dan ketakutan akan situasi berbahaya ini lenyap tanpa sisa dalam hitungan detik yang singkat.
Wajah cantiknya kini merona merah padam, memancarkan gelombang gairah seksual yang sangat panas hingga membuat dadanya yang indah naik turun dengan cepat dan tidak beraturan.
"Ah..." desah Sarah lirih, sebuah suara yang sangat manja, pasrah, dan penuh hasrat yang mustahil keluar dari sosok Ratu Es dalam keadaan sadar sepenuhnya.
Kedua tangannya yang gemetar perlahan turun dari rak besi, bertumpu pada lantai berdebu saat tubuhnya perlahan merosot berlutut di depanku seolah-olah dia sedang menyembah dewa kesuburan kuno.
Melihat keputusasaan yang tadinya kurasakan kini berubah menjadi kebanggaan instan saat Sarah memohon sentuhanku, egoku yang sempat hancur kini membubung tinggi ke langit dengan kekuatan penuh.
Rasa sakit di dadaku yang mencekik sejak tadi mendadak menguap sepenuhnya tanpa bekas, digantikan oleh aliran kekuatan baru yang sangat hangat dan menyegarkan setiap sel di tubuhku.
"Indah... sangat indah... tolong, biarkan aku menyentuhnya, Rian... aku mohon padamu..." rintih Sarah dengan mata yang sayu dan basah oleh air liur yang menetes di sudut bibirnya yang sensual.
Akal sehatnya telah benar-benar terbakar habis oleh pesona mutlak dari sistem, menyisakan insting liar seorang wanita yang mendambakan pemuasan dari sang jantan dominan yang berdiri di hadapannya.
Membungkuk sedikit, aku mencengkeram rambut hitam panjangnya dengan lembut namun tegas, memaksanya mendongak untuk menatap langsung ke dalam sepasang mataku yang kini berkilat gelap penuh dengan nafsu berkuasa.
"Kamu menginginkan ini, Sarah? Katakan sekali lagi dengan jelas agar aku bisa mendengarnya," tuntutku dengan suara rendah yang sarat akan dominasi tanpa batas yang belum pernah kumiliki sebelumnya.
"Ya... aku menginginkannya! Aku sangat menginginkanmu, Rian! Tolong miliki aku sekarang juga, hancurkan aku dengan keindahanmu!" serunya setengah berbisik dengan nada memohon yang sangat putus asa dan penuh gairah yang menyiksa tubuhnya.
Mendengar pengakuan patuh dari wanita tercantik di kantor ini membuatku menyadari sepenuhnya bahwa aku telah melintasi batas moralitas demi bertahan hidup di dunia yang keras ini.
Aku bukan lagi pria pecundang yang lemah, bukan lagi Rian yang bisa dipermainkan dan dibuang begitu saja oleh wanita mana pun di dunia ini.
Menarik tubuh Sarah berdiri dengan sekali sentakan kuat, aku mendorongnya perlahan hingga punggungnya bersandar pada meja kayu besar di tengah ruangan arsip yang dipenuhi tumpukan kertas.
Dokumen-dokumen lama yang bertumpuk di atas meja berhamburan jatuh ke lantai menciptakan suara bising, namun tak satu pun dari kami yang memedulikan kekacauan kecil itu lagi.
Sarah dengan agresif merobek kancing kemeja putihnya sendiri dengan tangannya sendiri, memperlihatkan keindahan tubuh bagian atasnya yang kencang dan berkulit mulus di bawah siraman cahaya rembulan malam.
Sentuhan kulit kami yang pertama memicu sengatan listrik gaib yang luar biasa dahsyat, membuat kami berdua mengerang bersamaan dalam kenikmatan yang sangat pekat dan memabukkan.
Tanpa membuang waktu berharga lagi, aku menyatukan tubuh kami dalam pergumulan gairah yang sangat panas, liar, dan penuh dengan dominasi mutlak yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan sedikit pun.
Setiap gerakan yang kulakukan terasa begitu presisi, bertenaga, dan penuh gairah, seolah-olah sistem ini telah memprogram tubuhku untuk menjadi mesin pemikat wanita terbaik yang pernah ada di muka bumi.
Sarah menjeritkan namaku berulang kali dalam kegelapan ruang arsip yang sunyi, mencakar punggungku erat-erat seiring dengan kepuasan klimaks yang hantam tubuhnya bertubi-tubi tanpa ampun.
Gairah liar kami memenuhi ruangan pengap itu dengan suara desahan napas yang memburu, erangan kenikmatan yang tertahan, dan hantaman halus yang berirama konstan memecah kesunyian malam kantor.
Di tengah badai kenikmatan yang melanda ini, aku bisa merasakan aliran energi vital berwarna ungu kemerahan mengalir deras dari tubuh Sarah masuk ke dalam nadiku sendiri.
Layar sistem di pandanganku mendadak berubah warna menjadi hijau lembut yang menenangkan jiwa, menandakan bahwa ancaman kematianku telah berhasil dihindari untuk sementara waktu.
[Misi bertahan hidup harian berhasil diselesaikan. Energi vital terisi penuh: 100%. Batas waktu diperpanjang: 24 jam ke depan.]
[Mengekstraksi energi dari target berkualitas tinggi. Memulai proses sinkronisasi jiwa dengan subjek.]
Ledakan kepuasan terakhir yang luar biasa dahsyat membuatku melepaskan semua beban dan ketegangan di dalam diri Sarah yang tubuhnya bergetar hebat menahan klimaksnya yang kesekian kali malam ini.
Kami berdua terengah-engah dalam keheningan malam yang kembali menguasai ruangan setelah badai gairah yang begitu liar itu perlahan-lahan mulai mereda dari tubuh kami.
Sarah menyandarkan kepalanya yang basah oleh keringat di dadaku yang naik turun dengan tidak beraturan, matanya terpejam rapat dengan senyum kepuasan yang sangat dalam terukir di bibirnya yang merekah merah.
Perlahan, aku menarik diri dari pelukannya dan mulai merapikan kembali pakaianku yang berantakan, merasakan tubuhku kini jauh lebih segar, bertenaga, dan penuh percaya diri dibanding sebelumnya.
Namun, tatapanku mendadak terhenti pada pergelangan tangan kanan Sarah yang terkulai lemas di atas lantai berdebu di samping meja arsip.
Kulit putih mulusnya tiba-tiba mengeluarkan uap hitam tipis yang berputar cepat seolah ditarik oleh kekuatan gaib yang tidak terlihat dari dalam tubuhnya.
Sebuah tanda berbentuk cambuk hitam legam mulai terukir di sana, membakar kulitnya secara perlahan tanpa menimbulkan rasa sakit sedikit pun pada dirinya yang masih setengah sadar.
Garis-garis hitam itu berkilau dengan cahaya ungu redup yang sangat pekat, membentuk jalinan tulisan kuno yang sangat jelas terbaca oleh kedua mataku yang melebar karena terkejut.
Tepat setelah gairah mereka mereda, sebuah tanda tato berbentuk cambuk hitam muncul di pergelangan tangan Sarah, berkilau dengan tulisan: 'Budak Energi Tingkat 1'.