Chapter 1 of 8
Chapter 1: Sisa Luka di Lorong Hujan
1215.2M words
Dinginnya rintik hujan malam ini seolah merobek sisa-sisa kehangatan terakhir yang membungkus tubuh Rian.
Di bawah naungan langit Jakarta yang kelabu pekat, ia berdiri mematung bagai patung tak bernyawa di sudut gang sempit yang gelap.
Air hujan mengalir deras melewati rambut hitamnya yang basah kuyup, menetes ke pelupuk mata sebelum akhirnya jatuh membasahi kemeja usang yang melekat erat di kulitnya yang gemetar.
Jemarinya yang pucat mencengkeram erat sebuah kotak beludru merah kecil di dalam saku celananya.
Kotak itu berisi satu-satunya bukti perjuangan kerasnya selama enam bulan terakhir—sebuah cincin perak sederhana yang dibelinya dengan upah kerja paruh waktu yang nyaris tidak manusiawi.
Setiap tetes keringat dan rasa lelah yang ia rasakan selama ini seolah lenyap begitu saja setiap kali ia membayangkan senyum bahagia di wajah Clarissa saat menerima cincin ini.
Dari kejauhan, pintu kaca restoran mewah di seberang jalan akhirnya terbuka lebar, memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat.
Sosok wanita bergaun satin merah marun melangkah keluar dengan keanggunan yang biasa ia pamerkan di media sosial.
Wanita itu tidak sendirian malam ini; lengannya bergelayut manja pada lengan seorang pria jangkung berjas necis yang memegang payung hitam besar di atas kepala mereka.
Pria di sampingnya tampak begitu percaya diri dengan jam tangan emas yang berkilau mewah di bawah sorotan lampu lobi, kontras dengan penampilan Rian yang tampak seperti gelandangan basah.
"Clarissa!" panggil Rian dengan suara parau yang nyaris tenggelam oleh deru angin malam yang menusuk tulang.
Langkah kaki wanita itu terhenti seketika saat matanya menangkap sosok Rian yang berdiri gemetar di tepi jalan.
Kerutan jijik langsung menghiasi dahi mulusnya, sementara pria kaya di sampingnya hanya menatap Rian dengan senyuman meremehkan yang sangat kentara.
"Mau apa lagi kamu ke sini, Rian?" tanya Clarissa dengan nada suara yang begitu dingin, tanpa ada sedikit pun kehangatan yang dulu pernah ia berikan saat mereka masih bersama.
Pemuda itu menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokannya mendadak kering bagaikan padang pasir yang gersang.
"Aku... aku cuma mau menyerahkan ini kepadamu. Ini cincin yang aku janjikan dulu, Clarissa. Aku sudah mengumpulkan uang setiap hari hanya untuk membeli cincin pertunangan kita."
Tangan yang gemetar itu menyodorkan kotak beludru merah yang kini sudah basah oleh air hujan ke hadapan Clarissa.
Adrian, pria kaya di samping Clarissa, melepaskan tawa kecil yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Rian.
"Jadi, ini mantan kekasihmu yang miskin itu, sayang? Dia benar-benar datang ke tempat mewah ini hanya untuk memberikan mainan murah seperti itu?"
Dengan gerakan kasar, Clarissa merebut kotak beludru tersebut dari genggaman Rian tanpa memedulikan air hujan yang mengotori jemari lentiknya.
Dibukanya kotak itu dengan sekali sentak, memperlihatkan sebuah cincin perak murah dengan permata imitasi kecil berkilau redup di tengahnya.
"Kamu pikir aku mau memakai cincin sampah seperti ini di jariku, Rian?" ejek Clarissa dengan suara yang sengaja diperkeras agar didengar oleh para pelayan restoran di sekitar mereka.
"Clarissa, tolong jangan berkata seperti itu... Aku membelinya dengan seluruh sisa tabunganku..." bisik Rian dengan tatapan memohon yang sangat menyedihkan.
"Sadarlah, Rian! Kamu itu pria tidak berguna yang ditakdirkan untuk selalu berada di bawah!" seru Clarissa dengan kejam.
"Kamu tidak akan pernah bisa memberikan kehidupan yang layak untukku. Bahkan di atas ranjang pun, kamu selalu membuatku merasa tidak puas dan bosan setengah mati dengan tubuhmu yang lemah itu!"
Kata-kata kejam itu bagaikan belati berkarat yang ditancapkan langsung ke ulu hati Rian, lalu diputar dengan perlahan untuk menyiksanya.
Luka masa lalunya yang kelam kembali terbuka lebar—ingatan di mana ia selalu dianggap tidak berdaya, tidak jantan, dan tidak berharga oleh wanita pertama yang sangat ia cintai.
Kehancuran harga dirinya kini terasa begitu total, menyisakan kekosongan yang sangat menyiksa di dalam dadanya.
Tanpa belas kasih sedikit pun, Clarissa melemparkan kotak beludru beserta cincin murah itu tepat ke arah genangan air berlumpur di dekat kaki Rian.
"Ambil kembali cincin sampahmu ini dan pergi jauh-jauh dari hidupku," desis Clarissa sembari merapatkan tubuhnya ke dada Adrian yang bidang.
Adrian tertawa puas melihat kehancuran Rian yang tidak berdaya di hadapan mereka berdua.
Sebelum berbalik menuju mobil sport mewah yang sudah menunggu di lobi, Adrian dengan sengaja melangkah maju dan menginjak kotak cincin yang tenggelam di lumpur tersebut dengan sepatu kulit mahalnya hingga hancur berkeping-keping.
Deru mesin mobil sport berkekuatan tinggi itu meraung keras, memecah keheningan malam sebelum akhirnya melesat pergi meninggalkan kepulan asap knalpot yang pekat.
---
Rian berdiri terpaku di bawah guyuran hujan yang semakin deras, merasakan air matanya yang hangat mengalir menyatu dengan dinginnya air hujan di pipinya.
Perlahan, lututnya terasa lemas hingga ia tidak mampu lagi menopang berat badannya sendiri.
Rian jatuh terduduk di atas aspal yang kasar dan dingin, membiarkan celananya basah kuyup oleh air genangan yang bercampur lumpur kotor.
Tangannya yang gemetar merayap perlahan ke dalam genangan air tersebut, meraba-raba mencari sisa-sisa cincin pertunangan murahnya yang kini telah hancur terinjak.
Rasa sakit akibat pengkhianatan ini merambat ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa seperti makhluk paling menjijikkan yang ada di muka bumi.
Di tengah keputusasaan ekstrem saat ia merangkak memungut cincin itu dengan ujung jari yang mulai berdarah karena tergores kerikil tajam, sesuatu yang aneh mulai terjadi di dalam tubuhnya.
Tiba-tiba, dada Rian terasa sangat panas, seolah-olah ada bara api yang menyala di balik tulang rusuknya.
Rasa hangat itu menyebar cepat ke seluruh pembuluh darahnya, menggantikan hawa dingin yang sejak tadi menyiksa tubuhnya.
Napas Rian mendadak tercekat di tenggorokan saat rasa panas itu berubah menjadi sensasi terbakar yang luar biasa dahsyat.
Ia mencengkeram dadanya dengan erat, berguling di atas aspal yang basah sambil mengerang kesakitan yang amat sangat.
Detak jantungnya berdegup dengan sangat kencang, memompa energi aneh yang terasa liar dan tak terkendali ke seluruh penjuru tubuhnya.
Cahaya merah menyala yang sangat terang tiba-tiba memancar dari sela-sela jarinya yang mencengkeram dada.
Cahaya itu begitu pekat dan berkilau, menembus pakaian basahnya dan menerangi kegelapan gang sempit tersebut dengan intensitas yang menakjubkan.
Rian terbelalak lebar saat merasakan energi panas itu mengalir turun dan berpusat di bagian bawah perutnya, memberikan sensasi berdenyut yang sangat kuat dan penuh gairah.
Sebuah proyeksi hologram berwarna merah darah tiba-tiba muncul mengambang tepat di hadapan matanya yang terkejut setengah mati.
Tulisan-tulisan digital mulai terbentuk dengan cepat di udara kosong, memancarkan aura misterius yang terasa sangat kuno namun berteknologi tinggi.
'Sistem Eksibionis: Aktif'
Rian menatap tulisan tersebut dengan napas yang memburu tidak teratur, sementara rasa sakit di dadanya perlahan mereda dan berganti dengan kekosongan yang menuntut untuk segera dipenuhi.
Energi yang mengalir di tubuhnya terasa begitu murni, begitu kuat, seolah-olah ia baru saja dilahirkan kembali sebagai predator mutlak yang siap menaklukkan dunia.
Hologram merah itu berkedip liar di retina mata Rian dengan tulisan: 'Inisialisasi berhasil. Sisa waktu hidup Anda: 23 jam 59 menit. Temukan inang betina sebelum jantung Anda berhenti.'