Napas Arick yang hangat masih membelai pipiku, menusuk pertahananku yang rapuh. Aroma maskulinnya, campuran rempah dan citrus segar, menguar, memenuhi rongga hidungku. Aku menahan napas, berusaha keras menyembunyikan getaran tak kentara yang mulai merambati seluruh tubuh. Jantungku berdentum-dentum, memukul rusuk seolah ingin menembus keluar. Arick tak bergerak. Ia hanya menatapku, sorot matanya yang jenaka namun penuh perhitungan itu seolah tahu persis badai apa yang berkecamuk di dalam diriku. Senyum tipisnya mengembang, mengejek, atau mungkin justru menggoda.
“Nona Helena,” bisiknya, suaranya rendah dan serak, sebuah melodi yang membuat bulu kudukku berdiri. “Sepertinya kau sangat senang bertemu denganku.”
Kata ‘sangat senang’ itu sengaja ditekan, diselipi nada geli yang membuatku ingin menamparnya dan menciumnya secara bersamaan. Aku merasa pipiku memanas, entah karena malu atau karena desakan hasrat yang tiba-tiba menggelegak. Kafe yang ramai mendadak terasa sepi, hanya ada aku dan Arick, terperangkap dalam gelembung ketegangan yang menyesakkan.
Aku memaksa bibirku membentuk senyum tipis, berusaha menunjukkan ketenangan yang sama sekali tidak kurasakan. “Kenapa kau berpikir begitu, Arick?” suaraku bergetar sedikit, lebih dari yang kuinginkan.
Arick tertawa kecil, suara renyahnya menyebar seperti melodi di antara riuhnya obrolan orang-orang. “Matamu, Nona. Matamu tidak bisa berbohong.”
Ia menunjuk ke arah mataku dengan jari telunjuknya, namun ia tidak menyentuh. Gerakan itu terasa begitu dekat, begitu intim, sampai aku bisa merasakan hembusan udara dari ujung jarinya yang nyaris menyentuh kelopak mataku. Sebuah getaran lain menjalari tubuhku, lebih dalam, lebih intens. Aku nyaris terpekik. Ini gila. Ini terlalu cepat.
Aku mengalihkan pandangan, mencari celah untuk melepaskan diri dari tatapan intensnya. Pandanganku jatuh pada tas tangan kulit Hermès Birkin-ku yang tergeletak di samping kursi. Aku meraihnya, pura-pura ingin mencari sesuatu, apa saja, asalkan bisa memutus kontak mata yang terlalu jujur itu.
Namun, tanganku yang gemetar malah membuat tas itu tergelincir dari genggaman. Dalam sekejap, isinya berhamburan di lantai keramik kafe yang bersih. Ponsel iPhone 15 Pro Max, dompet Bottega Veneta, kunci mobil Porsche, lipstik Dior, dan beberapa lembar uang seratus ribuan rupiah menyebar begitu saja, menarik perhatian beberapa pasang mata di meja sebelah.
Sebuah napas tertahan keluar dari bibirku. Malu. Ini benar-benar memalukan. Aku membungkuk cepat, ingin segera mengumpulkan barang-barangku sebelum ada yang menyadari betapa cerobohnya aku. Jemariku bergerak tergesa-gesa, meraih dompet yang terjatuh paling dekat.
“Biar kubantu, Nona,” suara Arick lembut, begitu dekat di telingaku. Ia juga ikut membungkuk, tanpa canggung sedikit pun. Punggung tangannya tanpa sengaja menyentuh punggung tanganku yang sedang meraih ponsel. Sentuhan singkat, namun cukup untuk mengirimkan sengatan listrik yang menjalar ke seluruh lenganku.
Aku mendongak, mataku bertemu dengan matanya yang gelap. Jarak kami begitu dekat, aku bisa melihat bayangan diriku sendiri di iris matanya yang jernih. Aroma tubuhnya semakin kuat, menelusup ke setiap pori-pori kulitku. Sebuah tarikan napas tertahan keluar dari bibirku, samar, nyaris tak terdengar. Situasi ini... ini adalah ujian.
---
Arick tidak segera menarik tangannya. Jemarinya yang panjang dan hangat tetap menempel di punggung tanganku, menekan sedikit, seolah tanpa sadar. Sensasi sentuhan itu begitu aneh, familiar sekaligus asing. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Otakku membeku, semua logika yang selama ini kujaga dengan susah payah lenyap entah ke mana, digantikan oleh gelombang panas yang mendadak menyerbu seluruh tubuh.
Dia menunduk, matanya menelusuri wajahku, dari dahiku, turun ke hidung, lalu berhenti di bibirku. Sebuah senyum kecil, lebih jujur kali ini, terukir di sudut bibirnya. “Kau baik-baik saja, Nona?” bisiknya, suaranya serak dan dalam, hanya untukku dengar.
Aku mengangguk pelan, terlalu terpaku pada sentuhan tangannya dan tatapannya yang menghipnotis. Jemarinya mulai bergerak perlahan, mengusap punggung tanganku, seolah membersihkan debu yang sebenarnya tidak ada. Setiap gerakan kecil itu terasa seperti ribuan jarum halus yang menusuk kulit, namun bukan rasa sakit yang kurasakan, melainkan denyutan aneh yang menyenangkan.
“Jangan terlalu panik,” katanya, nada suaranya lembut, menenangkan. “Biar aku yang mengambilkan ini.” Ia menunjuk lipstik Dior-ku yang terguling di bawah meja. Namun, tangannya tidak bergerak menjauh dari tanganku. Justru, jemarinya semakin merapat, seolah ingin menyatukan kulit kami.
Detak jantungku semakin tidak beraturan. Ini bukan hanya ‘selingan’ lagi. Ini adalah badai. Badai yang kupikir bisa kukendalikan, tapi nyatanya malah menyeretku ke pusaran yang lebih dalam. Sentuhan Arick adalah pemicunya. Sentuhan yang polos, tanpa paksaan, namun memiliki kekuatan untuk meruntuhkan dinding-dinding pertahananku satu per satu. Rasa bersalah bergejolak, namun kalah telak oleh desakan hasrat yang begitu kuat.
Aku merasakan panas menjalar dari tanganku, merambat naik ke lengan, lalu ke dadaku, hingga memenuhi seluruh tubuh. Arick, dengan tenang, meraih lipstik itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap menggenggam punggung tanganku. Ia mengumpulkannya, lalu meletakkannya di antara kami, di lantai.
“Ambil ini, Nona,” bisiknya lagi, masih dengan suara yang sama lembutnya. “Dan ini juga.” Ia menunjuk kunci mobil Porsche-ku yang berkilauan. Matanya tidak lepas dari mataku, seolah ia sedang membaca setiap pikiran yang melintas di benakku.
Tanganku gemetar saat aku mencoba mengambil kunci itu. Jemariku bergesekan lagi dengan jemarinya. Kali ini, sentuhan itu terasa lebih intens, lebih lama. Jari-jari kami seolah saling mencari, saling merespons. Aku tahu aku seharusnya menarik tanganku, mengakhiri kontak yang terlalu berani ini, tapi ada sesuatu yang menahanku. Sesuatu yang lebih kuat dari akal sehat, lebih mendesak dari rasa malu.
Arick tersenyum kecil, bibirnya yang penuh dan kemerahan itu begitu menggoda. Ia tidak menarik tangannya. Justru, ia membalik telapak tanganku, lalu mengusap telapak tanganku dengan ibu jarinya, perlahan, melingkar. Gerakan itu begitu sensual, begitu halus, membuat napasku tercekat di tenggorokan. Aku bisa merasakan setiap garis di telapak tanganku seolah hidup, berdenyut, merespons sentuhan ajaibnya.
“Aku tahu kau menginginkannya,” bisiknya, suaranya serak dan parau, seperti bisikan iblis yang memikat. “Selingan indah yang kutawarkan.”
---
Kata ‘selingan indah’ itu bergaung di telingaku, disusul oleh gelombang kebingungan. Benarkah ini hanya selingan? Atau Arick sedang menguji seberapa jauh aku akan jatuh? Tanganku masih dalam genggamannya, ibu jarinya terus mengusap telapak tanganku dengan ritme lambat, konsisten, dan memabukkan. Setiap usapan adalah janji, setiap tekanan adalah godaan. Aku merasakan aliran darahku memanas, memompa lebih cepat dari biasanya. Aku menatapnya, mencari jawaban di kedalaman matanya yang gelap.
Kafe kembali menjadi latar yang kabur, suara-suara di sekelilingku meredup. Hanya ada Arick, sentuhannya, dan pertarungan batin yang melahapku hidup-hidup. Aku membiarkan diriku terhanyut sejenak, menikmati sensasi yang sudah lama sekali tidak kurasakan. Sentuhan nyata, perhatian murni, hasrat yang tak lagi tersembunyi. Ini bukan sekadar sentuhan fisik. Ini adalah sentuhan emosional yang jauh lebih dalam, menembus lapisan-lapisan kekosongan yang selama ini menyelimutiku.
Aku menarik napas, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadaranku. Sentuhan ini terlalu berbahaya, terlalu memikat. Ini akan menghancurkanku jika aku tidak segera menghentikannya. Aku harus menarik tanganku. Aku harus.
Dengan gerakan yang canggung, aku menarik tanganku dari genggaman Arick. Telapak tanganku terasa hampa, dingin, seolah kehilangan sebagian dari diriku. Sensasi sentuhan Arick masih melekat kuat di kulitku, membakar, meninggalkan jejak yang tak mungkin terhapus. Aku bisa bersumpah, bahkan aroma tubuhnya tertinggal di sana, di ujung jemariku.
Arick tidak menahan. Ia membiarkan tanganku terlepas, namun tatapannya tetap terkunci padaku, intens dan penuh arti. Ada semacam kekecewaan samar yang melintas di matanya, namun dengan cepat tergantikan oleh senyum tipis yang penuh misteri. Ia tahu apa yang baru saja terjadi. Ia tahu efek yang ia timbulkan. Dan ia menikmatinya.
“Sudah semua, Nona,” katanya, suaranya kembali normal, namun ada nada geli yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia menunjuk barang-barangku yang sudah terkumpul rapi di dekat tas.
Aku mengangguk kaku, menunduk, dan mulai mengumpulkan barang-barangku dengan tergesa-gesa. Ponsel, dompet, kunci, lipstik. Semuanya masuk kembali ke dalam tas. Tanganku masih gemetar, jantungku masih berdetak tak karuan. Aku bisa merasakan tatapan Arick masih menancap di kepalaku, mengamati setiap gerak-gerikku.
“Terima kasih, Arick,” ucapku pelan, nyaris berbisik. Aku tidak berani menatapnya lagi. Malu, sekaligus takut. Takut pada diriku sendiri, pada apa yang Arick bangkitkan di dalam diriku.
Ia tidak menjawab. Hanya ada keheningan yang panjang, yang terasa semakin berat. Aku bisa merasakan kehadirannya di sampingku, begitu dekat, begitu nyata. Udara di sekitarku terasa menghangat, seolah Arick memancarkan panas dari tubuhnya. Aku menyelesaikan semua, lalu menegakkan tubuh, berusaha untuk terlihat tenang dan percaya diri.
Namun, saat aku hendak berdiri sepenuhnya, Arick bergerak. Ia tidak menyentuh lenganku, atau pinggangku, atau bagian tubuhku yang lain. Hanya pergelangan tanganku. Ia meraihnya, menahannya dengan genggaman yang kuat namun tidak menyakitkan, persis saat aku akan berdiri. Jantungku kembali berdebar, lebih kencang dari sebelumnya, seolah baru saja berlari maraton. Tatapannya kembali mengunci, lebih dalam, lebih gelap. Ini bukan lagi tentang selingan, melainkan sebuah janji yang tak terucapkan, sebuah klaim yang tak terbantahkan. Arick memegang erat pergelangan tangan Helena seolah tak ingin melepaskannya, tatapannya menyiratkan sesuatu yang lebih dari sekadar kesepakatan.