Chapter 7 of 30

Jejak Nafas, Bisikan Rindu

1.6k words

Helena melangkah memasuki kafe dengan debar jantung yang terasa tidak wajar. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima menit. Aroma kopi yang baru diseduh dan roti panggang memenuhi udara, bercampur dengan kebisingan percakapan yang ramai. Beberapa pasang mata menoleh sekilas ke arahnya sebelum kembali asyik dengan urusan masing-masing. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem dan celana panjang hitam, pakaian yang sengaja dipilih agar terlihat kasual namun tetap berkelas. Kemeja itu terasa sedikit ketat di dadanya, bukan karena ukurannya, tapi karena dadanya yang membusung gugup. Pandangannya menyapu seisi ruangan, mencari sosok yang telah mengacaukan pikirannya semalaman. Dan, di sudut yang sedikit tersembunyi, di balik pot tanaman palem besar, ia melihatnya. Arick. Pemuda itu sudah duduk, menghadap pintu masuk, seolah memang menunggunya. Ia mengenakan kaus polos berwarna abu-abu gelap yang membentuk otot bisepnya dengan rapi, dipadukan dengan celana jeans. Rambutnya yang sedikit berantakan seolah baru saja disisir jemari, memberi kesan santai yang memikat. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya saat pandangan mereka bertemu. Helena menelan ludah. Rasa panas merambat naik ke pipinya. Semalam, dia sudah memimpikan pemuda itu. Dan sekarang, dia ada di depannya, nyata. Kehangatan yang merambat di kulitnya saat bermimpi seolah masih tersisa. Ia memaksakan sebuah senyum kecil, berusaha terlihat tenang, padahal di dalam dadanya, jantungnya berpacu seperti kuda lepas. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya enggan bergerak maju, namun juga tak sanggup berbalik. “Helena,” sapa Arick, suaranya rendah dan serak, bahkan lebih memikat daripada yang diingatnya. Ia bangkit dari kursi, kursinya berderit sedikit, lalu memundurkan kursi kosong di hadapannya. Sebuah isyarat yang sopan, namun matanya memancarkan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang Helena kenali dari mimpinya. Tatapan itu seolah menelanjanginya, melihat setiap kerentanan dan hasrat tersembunyi yang ia miliki. “Arick,” balas Helena, suaranya nyaris berbisik. Ia mendudukkan diri dengan hati-hati, tangannya meremas tas kulit yang ia bawa. Kehangatan Arick yang berdiri begitu dekat, memenuhinya. Bahkan setelah ia duduk pun, pemuda itu tidak langsung kembali ke kursinya, melainkan berdiri sejenak di samping meja, mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya. Aroma maskulin yang samar, perpaduan sabun dan aroma alami kulit Arick, menerpa indra penciumannya. Aroma itu sama persis dengan yang ia hirup dalam tidurnya. “Sudah lama menunggu?” Helena mencoba menanyakan itu. Suaranya terdengar lebih stabil dari yang ia duga. Dia mencoba memusatkan perhatian pada menu di atas meja, menghindari tatapan Arick yang intens. Namun, setiap detail di sudut matanya menangkap gerakan kecil Arick. Otot-otot di lengannya yang terekspos, kerutan halus di sudut matanya saat ia tersenyum, dan bibirnya yang penuh. Bibir yang semalam, dalam mimpinya, terasa begitu nyata. Arick menggeleng pelan, lalu akhirnya duduk kembali di kursinya, tepat di seberangnya. “Tidak. Baru saja sampai. Aku tahu kau akan datang.” Ada nada kepastian dalam ucapannya yang membuat Helena merasa sedikit gelisah sekaligus entah mengapa, dihargai. Seolah Arick benar-benar memahami gejolak dalam dirinya, tahu bahwa meskipun ia akan melawan, ia tetap akan datang. Pelayan mendekat, menanyakan pesanan. Helena memesan teh Earl Grey, berharap kehangatan teh bisa menenangkan sarafnya. Arick memesan kopi hitam pekat, tanpa gula. Pilihan yang begitu kontras, namun entah mengapa terasa begitu pas dengan kepribadian mereka. Helena berusaha menjaga napasnya tetap teratur. Pertemuan ini terasa begitu berbeda dari yang pertama. Kali ini, tidak ada ketidakpastian. Hanya ada ketegangan yang nyata, hasrat yang tertahan, dan bisikan dari mimpinya yang terus menghantuinya. Ia melihat Arick mengangkat cangkir kopinya, menyesapnya pelan. Matanya tidak beralih dari Helena, seolah setiap gerakannya diperhatikan, setiap detailnya direkam. “Bagaimana kabarmu, Helena?” Arick bertanya, menyingkirkan cangkirnya. Suaranya terdengar lembut, tapi mata Arick tidak. Mata itu adalah janji, ancaman, dan harapan sekaligus. Helena tidak bisa berbohong. Dia tidak baik-baik saja. Dia merasa seperti sehelai daun yang siap diterbangkan angin ke mana saja. --- “Aku… baik,” Helena berbohong. Bibirnya terasa kaku, berusaha membentuk senyum yang meyakinkan. Arick hanya mengangkat satu alisnya, ekspresinya geli, seolah ia bisa membaca setiap pikiran yang bersembunyi di balik raut wajah Helena. Udara di antara mereka terasa menipis, dipenuhi oleh sesuatu yang tak terucapkan, namun begitu pekat. Arick mencondongkan tubuhnya ke depan, lengannya bertumpu pada meja kecil di antara mereka. Gerakan itu memperpendek jarak di antara mereka, membuat Helena merasakan detak jantungnya semakin cepat. “Apa kau yakin?” bisiknya, suaranya bahkan lebih rendah dari sebelumnya. Kepalanya sedikit miring, rambutnya yang gelap jatuh menutupi sebagian keningnya. Helena bisa melihat bintik-bintik emas di kedalaman iris mata Arick yang cokelat gelap. Mata yang tampak begitu polos, namun menyimpan begitu banyak rahasia dan daya pikat. Napas hangat Arick menerpa pipi Helena. Sensasinya begitu nyata, begitu mendalam. Bukan sekadar udara yang bergerak, melainkan semburan panas yang membawa serta aroma tubuh Arick yang lembut dan manis. Helena menahan napas. Pori-pori di kulitnya seolah terbuka, menerima setiap sentuhan tak terlihat dari Arick. Rasanya seperti ada gelombang listrik kecil yang mengalir dari pipinya, menjalar ke seluruh tubuhnya, membangunkan setiap sel yang selama ini tertidur. Ia bisa merasakan kehangatan Arick yang memancar, dekat sekali. Begitu dekat hingga ia hampir bisa menghitung bulu matanya yang panjang dan lentik. Bibir Arick yang penuh itu, sedikit terbuka saat berbicara, seolah mengundang. Helena merasakan desakan aneh untuk menyentuhnya, melingkarkan jarinya di sana, merasakan kelembutannya. Sebuah pikiran yang begitu lancang, begitu berbahaya, namun begitu menggoda. Terlalu menggoda. “Aku… aku baik-baik saja,” Helena mengulang, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Ia menarik sedikit kepalanya ke belakang, berharap bisa menciptakan jarak yang aman, namun Arick hanya tersenyum tipis, seolah menyadari usahanya dan menganggapnya lucu. Ia bahkan tidak beranjak mundur sedikit pun. Kehangatan napas Arick tetap membelai kulitnya, menjadi pengingat konstan akan kehadirannya yang dominan. “Tadi malam,” Arick melanjutkan, suaranya seperti bisikan rahasia di tengah keramaian kafe. Ia tidak menoleh, matanya masih terpaku pada Helena, menembus pertahanannya. “Kau datang mengunjungiku, kan?” Pipinya memanas lebih hebat. Helena tahu persis apa yang dimaksud Arick. Ia berbicara tentang mimpinya. Bagaimana Arick bisa tahu? Apa Arick juga memimpikannya? Pikiran itu begitu gila, namun juga begitu memikat. Seolah ada ikatan tak kasat mata di antara mereka, yang melampaui batas realitas. “Apa maksudmu?” Helena mencoba bersikap tidak peduli. Namun, suaranya bergetar, mengkhianati dirinya. Ia bisa merasakan tatapan Arick tertuju pada bibirnya, pada lehernya yang terbuka, pada setiap inci tubuhnya yang bereaksi terhadap kedekatannya. Ini bukan lagi sekadar percakapan. Ini adalah tarian, sebuah godaan yang diselimuti kata-kata, sebuah janji yang melayang di udara. Arick terkekeh pelan, tawa kecil yang hanya terdengar oleh mereka berdua, yang membuat bulu kuduk Helena meremang. “Jangan berbohong, Helena. Aku bisa merasakannya. Kau merindukan sentuhan. Merindukan kehangatan. Merindukan seseorang yang melihatmu lebih dari sekadar ‘istri’.” Pernyataan itu menampar Helena, namun juga membelainya. Itu adalah kebenaran yang pahit, yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat bahkan dari dirinya sendiri. Ia memang merindukan itu. Merindukan sentuhan yang tulus, perhatian yang mendalam, hasrat yang membakar. Bukan hanya dari Arick, tapi dari siapa pun yang bisa memberinya. Dari suaminya, dari siapa saja. Tapi hanya Arick yang mampu melihatnya, dan berani mengatakannya. --- Helena menunduk, menghindari tatapan Arick. Ia merasa telanjang, semua rahasia hatinya terbongkar. Kehangatan napas Arick di pipinya terasa seperti pengakuan yang tak terhindarkan. Setiap gerakan Arick, setiap bisikan, seolah menariknya lebih dekat, mengisi kehampaan yang selama ini ia rasakan di dalam dirinya. Kehampaan yang bahkan ia sendiri tidak sadari betapa dalamnya, sampai Arick datang dan mulai mengisinya. “Kau tidak perlu menyembunyikannya dariku,” Arick berbisik lagi, suaranya kini terdengar lebih lembut, lebih menenangkan. Ia mengulurkan tangannya, tidak menyentuh Helena, tetapi meletakkan telapak tangannya terbuka di atas meja, di dekat tangan Helena. Sebuah undangan yang jelas, namun tak memaksa. Helena menatap tangan itu. Jari-jari yang panjang dan kuat, dengan urat-urat halus yang menonjol di punggung tangan. Tangan yang semalam dalam mimpinya, merengkuh pinggangnya, membelai kulitnya. Ia merasa ada dorongan kuat untuk meraih tangan itu, menggenggamnya, merasakan kehangatan yang Arick tawarkan. Tapi Helena menahan diri. Ia tidak bisa begitu saja menyerahkan diri pada hasrat yang begitu membara ini. Ada batas yang harus ia jaga, bahkan jika hatinya meronta ingin melampauinya. “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan,” Helena berkeras, suaranya nyaris tercekat. Ia mengangkat cangkir tehnya, menyesapnya perlahan. Hangatnya teh terasa hambar dibandingkan dengan gelora panas yang Arick ciptakan dalam dirinya. Arick hanya tersenyum tipis, sorot matanya tetap tajam, seolah menikmati permainan kucing dan tikus ini. Ia tahu Helena berbohong, dan ia tahu Helena tahu ia tahu. “Tidak apa-apa,” Arick berkata, suaranya tenang, penuh pengertian. “Kita punya banyak waktu.” Kata-kata itu, ‘banyak waktu’, seolah menjadi mantra yang meresap ke dalam jiwanya. Banyak waktu untuk apa? Untuk meluruhkan pertahanannya? Untuk membongkar setiap tembok yang ia bangun? Untuk membiarkan Arick mengisi setiap celah kehampaan yang menganga? Helena tidak tahu, tapi bagian dari dirinya sangat ingin tahu. Pelayan datang membawa pesanan mereka. Arick mengambil cangkir kopinya, menyesapnya lagi. Helena memperhatikan bagaimana jari-jari Arick melingkari cangkir itu, begitu presisi, begitu kuat. Ia membayangkan jari-jari itu melingkari pinggangnya, menelusuri punggungnya, membelai kulitnya. Bayangan itu membuat perutnya bergejolak, dan ia terpaksa menelan ludah kasar. “Aku sudah memikirkan tempat itu,” Arick memulai, mengubah topik pembicaraan. Helena mendongak, merasakan sedikit lega karena Arick tidak lagi menyinggung masalah mimpi atau kerinduan. Namun, mata Arick masih memancarkan janji yang sama. “Tempat yang cocok untuk kita ‘bekerja sama’.” Helena merasakan lonjakan adrenalin. Jadi, ini dia. Saatnya berbicara tentang ‘kesepakatan’ mereka. Ia merasa sedikit takut, namun rasa ingin tahu dan hasrat yang lebih besar mengalahkan segalanya. “Di mana?” tanyanya, suaranya sedikit gemetar. Arick meletakkan cangkir kopinya kembali ke meja. Ia tidak langsung menjawab. Matanya berkelana ke seisi kafe, lalu kembali menatap Helena. Ada senyum misterius di wajahnya, senyum yang menjanjikan segalanya sekaligus tidak mengungkapkan apa-apa. Jari-jarinya, tanpa suara, perlahan menyentuh tepi cangkir kopi Helena, seolah tak sengaja. Kontak kulit yang begitu singkat, begitu tidak disengaja, namun mengirimkan gelombang sensasi ke seluruh tubuh Helena. Dari ujung jari kakinya hingga helai rambutnya, setiap serat sarafnya terasa hidup, bergetar.

End of Chapter 7

Chapter 7: Jejak Nafas, Bisikan Rindu - SELINGKUH: Selingan Indah Keluarga Utuh | Novel AI Studio