Chapter 9 of 30

Rencana Tak Terduga, Hasrat Terlarang

1.5k words

Helena menarik tangannya dari cangkir Earl Grey, gerakan itu lebih cepat dari yang seharusnya. Jari-jarinya terasa dingin, padahal baru saja merasakan kehangatan samar dari sentuhan Arick yang seolah merambat dari bibir cangkir keramik. Arick tersenyum tipis, sorot matanya menembus, seolah tahu persis gejolak apa yang baru saja ia tanamkan. Rasa panas menjalar dari telapak tangannya, naik ke pergelangan, lalu ke seluruh lengan. Ia buru-buru memegang cangkir dengan kedua tangan, pura-pura menghirup sisa teh yang sudah mendingin. “Waktu kita banyak,” kata Arick pelan, suaranya rendah dan merayu, “tapi tempat ini bukan yang terbaik untuk bicara hal penting.” Ia memberi isyarat ke sekeliling kafe yang mulai sepi, namun masih diisi beberapa pasang mata penasaran. Helena mengangguk kaku, jantungnya berdebar tidak karuan. Ia tidak tahu harus merasa lega atau cemas. Arick telah melihatnya, menelanjanginya, dan sekarang ia akan membawanya ke suatu tempat yang lebih... pribadi. Helena mengikuti Arick keluar dari kafe. Aroma kopi dan roti yang baru dipanggang memudar di belakang mereka, digantikan oleh kelembapan malam dan bau asap knalpot yang samar. Arick tidak menyentuhnya, tapi setiap langkahnya terasa seperti magnet yang menariknya. Ia bisa merasakan tatapan Arick di punggungnya, sebuah sentuhan tak kasat mata yang membuat bulu kuduknya meremang. Saat mereka mencapai sedan biru tua Arick yang terparkir agak jauh di sudut jalan, Helena merasa napasnya tertahan. Arick membuka pintu penumpang untuknya, gestur sopan yang terasa aneh setelah semua godaan verbal dan non-verbalnya. Helena masuk, merasakan dinginnya jok kulit sebelum kehangatan tubuhnya sendiri perlahan menghangatkan permukaannya. Aroma Arick segera menyerbu indra penciumannya, perpaduan mint yang segar dan musk alami yang maskulin. Aroma itu, kini terkurung di ruang sempit ini, jauh lebih intens daripada di kafe. Helena menelan ludah, mencoba mengendalikan degup jantungnya yang semakin tidak beraturan. Arick masuk ke kursi pengemudi, menutup pintu dengan bunyi ‘klik’ lembut yang memecah kesunyian. Ia tidak langsung menyalakan mesin. Cahaya remang dari lampu jalanan di luar menyelinap masuk, menciptakan bayangan-bayangan panjang di wajah Arick, menonjolkan tulang pipinya yang tegas dan garis rahangnya yang kuat. Ia menoleh ke arah Helena, tatapannya tenang, namun ada kilatan nakal di matanya yang gelap. “Kita akan ke mana?” tanya Helena, suaranya sedikit serak. Ia mencoba terdengar biasa saja, tapi ada getaran halus yang tidak bisa ia sembunyikan. Tangannya saling meremas di pangkuan, ujung-ujung jarinya memutih. Arick menyandarkan punggungnya ke jok, satu tangan santai di kemudi. “Ke tempat yang lebih tenang,” jawabnya, dan mesin mobil pun menyala dengan dengungan lembut. Arick mengemudikan mobil keluar dari area kafe, menyusuri jalanan yang semakin sepi. Helena terus mengamati jalan, mencoba menebak tujuan mereka. Hatinya berkejolak antara rasa ingin tahu yang membara dan ketakutan yang dingin. Ini adalah langkah maju, sebuah komitmen yang terasa semakin nyata, semakin sulit untuk ditarik kembali. Arick tidak banyak bicara selama perjalanan singkat itu. Ia hanya sesekali melirik Helena, senyum tipis di bibirnya seolah membaca setiap pikiran cemas yang berputar di kepala wanita itu. Helena merasa telanjang di bawah tatapannya, semua pertahanan yang ia bangun selama ini terasa runtuh satu per satu. Ia tahu Arick telah melihat jauh ke dalam dirinya, ke bagian yang paling gelap dan paling tersembunyi, tempat hasrat dan kerentanan bersembunyi. Mobil Arick akhirnya berhenti di sebuah jalanan yang gelap dan lengang, jauh dari keramaian, di bawah naungan pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi. Hanya ada beberapa mobil terparkir di kejauhan. Sebuah tempat yang sempurna untuk “bicara hal penting,” pikir Helena, sekaligus tempat yang sempurna untuk melakukan hal-hal lain yang jauh lebih intim. --- Arick mematikan mesin. Suara mesin yang tadi berdenyut halus lenyap, digantikan oleh keheningan malam yang pekat, hanya sesekali diselingi suara jangkrik dan embusan angin yang menggoyangkan dedaunan. Ruang sempit di dalam mobil terasa membesar, namun pada saat yang sama, terasa lebih sesak oleh keberadaan mereka berdua. Arick menoleh sepenuhnya ke arah Helena, siku kanannya bertumpu di sandaran jok, wajahnya diterangi samar oleh layar ponselnya yang menyala sebentar. Ada ketenangan yang menipu dalam gerak-geriknya, seolah ia sedang membicarakan cuaca. “Nah, Bu,” kata Arick, suaranya kini lebih rendah, lebih intim. “Kita sudah punya kesepakatan.” Helena mengangguk, lidahnya terasa kelu. “Benar.” “Dan kita butuh tempat untuk menjalankannya,” lanjut Arick, tatapannya tidak lepas dari mata Helena. “Tempat yang nyaman, aman, dan paling penting, pribadi.” Helena menahan napas. Ia sudah membayangkan apartemen sewaan, vila tersembunyi, atau mungkin sebuah hotel butik. Tempat-tempat klise yang sering ia dengar dalam cerita-cerita perselingkuhan. Ia bahkan sudah menyiapkan skenario dalam benaknya, bagaimana ia akan bernegosiasi, menetapkan batasan, melindungi dirinya dari tergelincir terlalu jauh. Arick tersenyum, senyum itu semakin lebar, menampilkan gigi-gigi putihnya yang rapi. “Saya sudah memikirkan tempat yang paling sempurna,” katanya, nada suaranya terdengar begitu santai, seolah ia baru saja menemukan ide brilian untuk makan malam. “Tempat yang paling tidak akan dicurigai siapa pun.” Helena menatapnya, menunggu, jantungnya berdebar kencang. Firasat buruk mulai menjalar, bercampur dengan rasa penasaran yang tak tertahankan. “Di mana?” bisiknya, nyaris tidak terdengar. Arick mendekat sedikit, aroma mint-musk miliknya semakin kuat, memenuhi rongga hidung Helena. “Di rumah Ibu, Helena.” Udara di dalam mobil terasa menipis. Helena membeku. Kata-kata itu menggantung di udara, sebuah bom waktu yang baru saja dijatuhkan dengan nada santai. Rumahnya? Tempat paling suci, tempat di mana ia membangun keluarganya, tempat suaminya tidur setiap malam? Ide itu begitu gila, begitu nekat, begitu… Arick. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia bahkan tidak bisa berkedip. Pikiran-pikiran liar melintas cepat, membentuk skenario-skenario mengerikan, namun di sela-sela itu, sebuah bisikan berbahaya mulai terdengar, bisikan yang berbisik tentang sensasi terlarang, adrenalin yang memacu, dan kepuasan yang mungkin akan didapatkan dari sebuah pelanggaran terbesar. “Rumahku?” ulang Helena, suaranya pecah, hampir tidak bisa ia kenali. Ia merasa wajahnya memanas, darah berdesir ke telinga. Ini terlalu jauh, terlalu berisiko. Ini bukan hanya “selingan indah” lagi; ini adalah perusakan yang disengaja. Namun, Arick hanya menatapnya, tenang, seolah ia baru saja mengusulkan untuk pergi berbelanja bahan makanan. “Suami Ibu akan pergi dinas minggu depan, kan?” tanya Arick, nada suaranya berubah menjadi lebih lembut, seolah ia sedang mengidentifikasi sebuah fakta yang sudah pasti. “Ibu sudah menyebutkannya saat kita pertama bertemu. Beberapa hari, sendirian di rumah besar itu. Tidak ada yang akan curiga. Tidak ada tetangga yang akan melihat mobil saya masuk ke halaman. Dan Ibu tidak perlu membuat alasan untuk keluar malam atau menginap di tempat lain.” Ia menjelaskan semua itu dengan logika yang dingin, efisien, dan mematikan. Setiap alasannya terasa masuk akal, setiap poinnya menohok tepat pada kelemahan Helena. Arick melanjutkan, suaranya kini seperti bujukan yang lembut. “Lagipula, itu tempat Ibu yang paling nyaman. Ibu akan merasa aman, tidak perlu khawatir soal kebersihan atau privasi. Kita bisa tenang, tanpa terburu-buru.” Ia menyebutkan ‘tenang’ dan ‘tanpa terburu-buru’ dengan penekanan, seolah tahu persis apa yang dibutuhkan Helena: waktu, kelembutan, dan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan di rumahnya sendiri. --- Helena menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan kaku. Ia berusaha menarik napas dalam, tapi udara di paru-parunya terasa berat, panas. Seluruh tubuhnya menegang, membeku dalam ketidakpercayaan dan sekaligus—ia harus jujur pada dirinya sendiri—gairah yang aneh. Arick ingin melakukannya di rumahnya. Di rumah yang sama dengan suaminya. Di kamar yang sama dengan suaminya. Pikiran itu seharusnya memicu rasa jijik dan penolakan yang keras, tapi yang ia rasakan hanyalah gelombang panas yang menjalari setiap inci kulitnya, dari ujung jari kaki hingga helai rambutnya. Ia membayangkan skenario itu: rumahnya yang sepi, sunyi, diselimuti kegelapan malam. Lampu-lampu ruangan yang biasanya terang benderang kini hanya menyisakan temaram. Kemudian Arick. Berjalan masuk melalui pintu depan yang sengaja ia biarkan tidak terkunci. Sepatunya yang dilepas di dekat rak sepatu. Aroma tubuhnya yang maskulin memenuhi ruang tamu. Arick yang berdiri di ambang pintu kamarnya, senyum nakal di bibirnya, tatapan tajamnya menyapu dirinya yang mungkin sudah menunggu di balik selimut sutra. Detak jantungnya berpacu kencang membayangkan setiap detail itu, setiap momen terlarang yang terasa begitu nyata, begitu menggoda. Betapa gila. Betapa nekat. Ini adalah puncak dari semua yang pernah ia bayangkan, sebuah fantasi yang tak pernah berani ia wujudkan bahkan dalam mimpi. Melakukan hal ini di ‘sarang’nya sendiri, di bawah bayang-bayang pernikahannya yang hampa, akan menjadi tindakan pemberontakan paling intim yang pernah ia lakukan. Risiko pengkhianatan yang begitu besar, namun imbalan dari adrenalin dan keintiman terlarang itu terasa begitu memabukkan. Ia bisa merasakan getaran di seluruh tubuhnya, bukan karena takut semata, tapi karena antisipasi yang membakar. Tangannya mengepal di pangkuan, kukunya menancap ke telapak tangan. Arick tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya duduk di sana, mengamatinya, senyum tipis masih terukir di bibirnya. Ia membiarkan ide itu meresap, membiarkan Helena bergulat dengan pertarungan batinnya sendiri. Ia tahu dia telah menancapkan benih keraguan, benih gairah, benih pemberontakan. Helena bisa merasakan tatapan Arick yang membakar, seolah menembus setiap lapis keraguannya, langsung menuju inti hasratnya yang kini terbuka lebar. Rasa malu bercampur dengan keinginan yang tidak bisa ia padamkan. Ia ingin membantah, ingin berteriak bahwa ini tidak mungkin, ini salah. Tapi kata-kata itu tercekat di tenggorokannya. “Bagaimana, Bu?” Arick akhirnya memecah keheningan, suaranya rendah, penuh godaan. “Mau mencobanya di sarang naga?”

End of Chapter 9