Chapter 6 of 30
Mimpi Panas, Pelukan Arick
1.7k words
Kegelapan di ruangan itu terasa berat, menekan dada Helena. Matanya terbuka lebar, tarikan napas tanpa suara tertahan di tenggorokannya saat ia tersentak bangun di tempat tidur. Jantungnya berdebar kencang di dadanya, seperti dentuman drum yang panik bergema di dalam ruangan yang sunyi itu. Keringat membasahi gaun tidur sutranya, membuat kain itu menempel dengan tidak nyaman. Kehangatan samar yang menyengat menyelimutinya, seperti jubah tak terlihat yang terjalin dari sisa-sisa mimpi yang kuat dan meresahkan. AC berdengung lembut dari sudut ruangan, namun kulitnya masih terasa licin, dahinya berkaca-kaca. Ia mengulurkan tangan yang gemetar ke lehernya, menelusuri garis tulang selangkanya, dan mendapati garis itu lembap. Napasnya tersengal-sengal dan cepat, berusaha menemukan ritme. Apa itu? Apa yang baru saja terjadi? Batas-batas mimpi itu sudah mulai pudar, larut dalam kegelapan, hanya menyisakan sisa sensasi yang kuat: sentuhan hantu, bisikan yang seolah membelai telinganya bahkan sekarang, panas yang masih membara jauh di dalam dirinya. Seprai katun Mesir yang mahal, yang biasanya begitu sejuk dan halus di kulitnya, kini terasa berat, terbelit di kakinya seperti jaring. Ia mencoba menendangnya, tetapi gerakan itu hanya menyebabkan gelombang panas baru merambat ke dadanya. Pikirannya seperti lanskap yang kabur, berjuang untuk memahami detailnya, namun tubuhnya bergetar dengan energi listrik yang asing. Sebuah erangan rendah keluar dari bibirnya, setengah frustrasi, setengah kerinduan aneh yang tak terucapkan. Ia menutup matanya, mencoba memaksa gambar-gambar itu kembali, untuk memahami mengapa ia terbangun dalam keadaan seperti itu. Itu bukan mimpi buruk dalam arti tradisional; tidak ada rasa takut, tidak ada teror. Sebaliknya, itu... sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih berbahaya, jauh lebih memikat. Rasanya terlarang, berbahaya, namun tak dapat disangkal memikat. Aroma kulitnya sendiri, bercampur dengan aroma samar parfumnya yang masih tercium, tiba-tiba terasa asing, hampir tajam dalam keheningan.
Suaminya tidur nyenyak di sampingnya, napasnya yang lembut dan teratur sangat kontras dengan napasnya yang terengah-engah. Ia berbaring telentang, siluet yang familiar dan tak bergerak di bawah selimutnya sendiri. Sebuah perasaan seperti rasa bersalah, namun bercampur dengan secercah kegembiraan yang menantang, berbelit-belit di perutnya. Ia tidak tahu. Tidak tahu tentang gejolak yang berkecamuk di dalam dirinya, tidak tahu tentang lanskap terlarang yang baru saja dilalui pikirannya. Pikiran itu sekaligus meresahkan dan mendebarkan. Ia bergeser, suara gemerisik seprai terdengar keras di telinganya, tetapi suaminya tidak bergerak. Pandangannya beralih ke jam digital di meja samping tempat tidur: 02:17 pagi. Sangat pagi. Namun ia merasa terjaga sepenuhnya, setiap ujung sarafnya berdenyut, setiap pori-porinya waspada. Keheningan rumah biasanya memberinya kedamaian, rasa aman. Malam ini, rasanya seperti ruang gema bagi pikiran-pikiran liarnya sendiri, keinginan-keinginan tak terkendalinya sendiri. Kasur di bawahnya terasa lebih lembut dari biasanya, hampir terlalu empuk, seolah masih menyesuaikan diri dengan bentuk tubuh yang tak hadir. Tubuhnya sendiri terasa berat, lesu, namun sekaligus dipenuhi ketegangan yang hampir tak tertahankan. Tangannya secara naluriah bergerak ke perutnya, menekan ringan, seolah untuk meredakan gejolak saraf dan panas yang memancar dari dalam dirinya. Perjanjian dengan Arick. Pertemuan yang akan datang. Itu bukan hanya keputusan yang dia buat saat terjaga. Itu telah meresap ke alam bawah sadarnya, berakar, dan berkembang menjadi sesuatu yang jelas, menguasai. Rasa malu perlahan mulai muncul dari dadanya, naik ke tenggorokannya, mekar di pipinya. Dia merasa terekspos, bahkan dalam privasi tempat tidurnya sendiri, di bawah selubung kegelapan. Mimpi itu terlalu nyata, terlalu kuat, membuatnya merasa rapuh dan rentan. --- Kemudian, seperti kilat yang tiba-tiba menerangi lanskap gelap, mimpi itu kembali. Bukan dalam potongan-potongan yang terfragmentasi, tetapi dalam kejelasan yang jelas, hampir menyakitkan. Itu Arick. Selalu Arick. Wajahnya, muda dan tulus, namun dengan intensitas yang membakar pertahanannya. Dia ada di sana, dalam mimpi itu, bukan hanya bayangan yang sekilas, tetapi kehadiran yang nyata. Dia telah memeluknya. Bukan pelukan lembut dan jauh, tetapi pelukan erat dan posesif yang tidak menyisakan ruang di antara tubuh mereka. Dia ingat tekanan kuat dadanya di dadanya, lebar bahunya yang mengejutkan, cara lengannya melingkari pinggangnya, menariknya semakin dekat. Panas kulitnya telah meresap ke gaun tidurnya, perpindahan kehangatan langsung yang terasa mengkhawatirkan sekaligus sangat memabukkan. Dia ingat aromanya – aroma maskulin yang bersih, campuran halus antara hujan dan sesuatu yang liar, tak terkendali, yang melekat padanya bahkan setelah dia mengantarnya pulang. Dalam mimpi itu, aroma itu diperkuat, menyelimutinya sepenuhnya, menariknya lebih dalam ke orbitnya.
Napasnya, hangat dan lembut, menyentuh telinganya, mengirimkan getaran ke seluruh tubuhnya, getaran yang mencerminkan getaran yang dirasakannya sekarang, duduk tegak di tempat tidurnya. Dia membisikkan sesuatu, kata-kata yang tidak dapat diingatnya dengan jelas, tetapi *perasaan*nya tetap ada: intim, sugestif, sangat pribadi. Dirinya dalam mimpi bersandar padanya, menyerah pada kekuatannya, melebur dalam pelukannya. Dia merasakan rasa memiliki yang mendalam, keinginan mentah dan tak terbantahkan yang mengejutkannya bahkan dalam realitas tidur yang terhenti. Tangannya. Oh, tangannya. Dalam mimpi itu, tangan-tangannya bergerak dengan percaya diri dan sengaja perlahan. Satu tangan bertumpu kuat di punggung bawahnya, menahannya di dekatnya, sementara tangan yang lain—inilah detail yang membuat pipinya memerah—meluncur ke bawah, menelusuri lekukan pinggulnya, berhenti di persimpangan paha dan tubuhnya. Ingatan akan sentuhan itu, tekanan hantu itu, begitu jelas sehingga seluruh tubuhnya menegang sebagai respons, sebuah desahan keluar dari bibirnya. Ia kembali memejamkan matanya, upaya putus asa untuk menghapus bayangan itu, untuk menyangkal kekuatannya. Tetapi sia-sia. Ingatan itu terpatri dalam benaknya, berputar tanpa henti. Ia melihat matanya, gelap dan penuh pengertian, menatap tajam ke matanya, sebuah pertanyaan tanpa kata terucap di antara mereka. Sebuah pertanyaan yang dijawab oleh dirinya dalam mimpi tanpa kata-kata, hanya dengan desahan penyerahan yang dalam dan bergetar. Tidak ada rasa canggung, tidak ada keraguan, tidak ada rasa bersalah. Hanya rasa lapar yang membara dan saling timbal balik. Napasnya sendiri tersengal-sengal. Ini lebih dari sekadar mimpi. Ini adalah keinginan terdalam dan terlarangnya yang terwujud. Arick, pemuda yang dengan berani mengusulkan perjanjian yang akan menghancurkan fondasi hidupnya, kini telah menyusup ke alam bawah sadarnya, mengklaim pikiran terdalamnya. Keberaniannya, keberaniannya yang luar biasa, membuatnya terengah-engah. Ia tidak hanya menggodanya di dunia nyata; ia menghantui mimpinya, melucuti hambatannya satu per satu, bahkan ketika ia tidak sadar.
Erangan rendah, tak disengaja dan tertahan, keluar dari mulutnya. Ia merasakan rasa malu yang mendalam, rasa tidak pantas yang membakar. Namun, di baliknya, percikan kecil kegembiraan yang memberontak berkelebat. Mimpi itu indah dalam intensitasnya, menggembirakan dalam sifat terlarangnya. Ia merasa hidup, diinginkan, *dilihat* dengan cara yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Pikiran itu berbahaya. Pikiran itu adalah pengkhianatan. Tapi itu benar. Pria di sampingnya, suaminya, tidak pernah sekalipun membangkitkan gairah yang begitu mendalam dan menguasai segalanya, bahkan di hari-hari awal mereka. Helena menggigil, getaran yang dalam dan mengganggu menjalar dari kulit kepala hingga ujung kakinya. Bayangan wajah Arick, begitu dekat dengannya, bibirnya hampir menyentuh, terpatri di kelopak matanya. Ia hampir bisa merasakannya, merasakan sentuhan janggutnya di kulitnya. Mimpi itu memang pengkhianatan terhadap pernikahannya, tetapi juga pengungkapan mendalam tentang kebutuhannya yang tak terpenuhi, hasratnya yang terpendam. Dan Arick, dengan pesona mudanya dan tawaran yang berani, telah menjadi katalisnya. --- Dengan gerakan tiba-tiba dan tersentak, Helena menyingkirkan selimut. Udara dingin dari AC menerpa kulitnya, membuat bulu kuduknya merinding, tetapi itu tidak banyak meredakan gejolak batinnya. Kaki telanjangnya mendarat lembut di karpet mewah, tumpukan tebalnya terasa nyaman bagi sarafnya yang tegang. Dia perlu bergerak, untuk mematahkan mantra mimpi itu, untuk menjauhkan diri secara fisik dari sosok yang tidur di sampingnya. Setiap detak jantungnya terasa seperti pengkhianatan, setiap denyut panas adalah rahasia. Dia melangkah pelan melintasi ruangan, gerakannya hati-hati, hampir diam-diam. Rumah itu sunyi, diselimuti keheningan subuh. Satu-satunya suara adalah dengungan lembut peralatan dan deru panik di telinganya sendiri. Bayangannya terpantul dari jendela meja riasnya yang gelap: seorang wanita berantakan dengan mata lebar dan terkejut, rambutnya kusut tak terkendali, gaun tidur sutranya menempel basah. Dia tampak seperti orang asing, seorang wanita yang diliputi sesuatu yang hampir tidak dia mengerti.
Dapur, yang biasanya terang dan nyaman, terasa suram dan dingin dalam cahaya redup. Ia mengandalkan ingatannya, tangannya meraba porselen dingin sebuah gelas, lalu dispenser air minum di lemari es. Suara air yang mengalir ke dalam gelas terdengar sangat keras dalam keheningan, membuatnya tersentak. Ia meneguk air dalam-dalam, cairan dingin itu mengejutkan tenggorokannya, sebuah jeda singkat dari panas di dalam tubuhnya. Namun rasa dingin itu cepat hilang, meninggalkan sensasi terbakar yang tetap membara. Ia bersandar pada meja dapur granit yang dingin, jari-jarinya mencengkeram tepinya hingga buku-buku jarinya memutih. Mimpi itu terlalu kuat, terlalu nyata, untuk sekadar dilupakan. Itu bukan hanya fantasi sesaat; rasanya seperti ramalan, sekilas tentang kenikmatan yang dijanjikan Arick, 'selingan indah' yang dengan percaya diri ditawarkannya. Dan bagian yang menakutkan adalah, tubuhnya mengingatnya, meskipun pikiran sadarnya mencoba mengabaikannya sebagai imajinasi belaka. Pandangannya beralih ke jendela besar yang menghadap taman yang terawat rapi, yang kini diselimuti bayangan gelap. Di luar, dunia tertidur, tak menyadari apa pun. Di dalam, dunianya kacau. Arick tidak hanya menyentuh tangannya, berbisik di telinganya, dan merayunya dengan kata-katanya; ia kini telah mengklaim ruang dalam mimpinya, mengikis dinding kendali dirinya yang telah dibangun dengan hati-hati. Rasanya mengganggu, namun ia tak bisa menyangkal sensasinya, kenikmatan terlarang yang masih terasa di kulitnya. Bayangan Arick, begitu muda, begitu percaya diri, begitu tak kenal takut dalam pengejarannya, memenuhi pikirannya. Ia adalah kekuatan alam, elemen pengganggu yang telah menghantam kehidupan teratur dan terprediksinya, membalikkan segalanya. Dan ia, seorang wanita dua kali lebih tua darinya, seorang istri, seorang ibu, benar-benar, tak berdaya, terpikat. Rasa malu bercampur dengan campuran kuat antara kerinduan dan pembangkangan. Mengapa ia tidak boleh merasakan ini? Mengapa ia tidak boleh mendambakan kehangatan, gairah, yang telah lama hilang dari hidupnya?
Ia menyesap air lagi, tangannya sedikit gemetar. Pertemuan pukul 9 malam. Rasanya sangat jauh, namun juga sangat dekat. Mimpi itu hanya meningkatkan antisipasinya, ketakutannya, hasratnya. Mimpi itu melukiskan gambaran, pratinjau yang jelas tentang apa yang menantinya, apa yang ingin Arick berikan. Dan tubuhnya, tubuhnya yang berbahaya dan penuh kerinduan, sudah merespons, bergetar dengan rasa sakit yang rendah dan mendesak. Getaran menjalari tubuhnya, campuran antara teror dan harapan yang menggembirakan. Pikiran tentang tangannya, mulutnya, kekuatan mudanya, sangat luar biasa. Ia menutup matanya, mencoba fokus pada hal lain, tetapi bayangan itu tak henti-hentinya. Itu bukan hanya kenangan sensual; itu adalah janji, kontrak yang ditandatangani dalam lanskap demam tidurnya. Bayangan tangan Arick lembut perutnya muncul di benak Helena, sebuah gambaran yang terasa begitu nyata hingga membuatnya ingin menjerit.