Chapter 5 of 30

Janji Terlarang, Api Membara

1.2k words

Helena mencoba memfokuskan pandangannya pada layar monitor di meja kerjanya, deretan angka dan grafik saham bergerak lesu. Pikirannya justru berputar pada aroma mint dan citrus yang kini seolah menempel abadi di indra penciumannya, menolak pergi meski ia sudah mandi sampai kulitnya memerah. Ia meremas pangkal hidungnya. Bayangan sentuhan tangan Arick di mobil, tatapan mata pemuda itu yang terlalu intens, dan bisikan janji 'kesenangan' yang terucap di lobi hotel, semua berputar-putar seperti film yang diputar ulang tanpa henti. Sebuah getaran halus memecah konsentrasinya. Ponselnya, yang tergeletak di samping keyboard, berdengung pelan di atas permukaan kayu jati. Helena mengabaikannya. Mungkin notifikasi grup WA, atau email pekerjaan yang tidak penting. Namun, getaran itu berulang, lebih kuat dan mendesak. Ia menghela napas, jemarinya enggan meraih. Rasa penasaran, bercampur sedikit kejengkelan karena diganggu, akhirnya menguasai. Jari telunjuknya terulur, menyentuh layar sentuh. Nama yang muncul di sana membuat napasnya tertahan. Arick. Huruf-huruf itu seperti menusuk retina, memantik percikan listrik di sarafnya. Arick? Kenapa pemuda itu meneleponnya? Jantung Helena sontak berdebar lebih cepat, ritmenya tak beraturan seperti tabuhan drum yang kacau. Tenggorokannya mendadak kering, seolah udara di ruangan itu menipis. Ia merasakan aliran darah berdesir panas di pipi dan telinganya. Mematikan telepon itu adalah pilihan rasional. Mengabaikannya adalah tindakan bijak. Tapi jemarinya justru membeku di udara, tak sanggup bergerak, terperangkap antara ketakutan dan dorongan kuat yang sulit diartikan. Sebuah suara kecil di kepalanya berbisik, memprovokasi, ‘Angkat saja. Apa salahnya?’ Suara itu terdengar persis seperti tawa renyah Arick yang masih terngiang. Ia tahu ini adalah awal dari bahaya. Sebuah bahaya yang manis, memabukkan, dan sangat, sangat menggoda. Detik-detik berlalu, ponsel itu terus bergetar, seolah Arick tahu persis bagaimana cara memancingnya. Bibir Helena tanpa sadar membentuk garis tipis, antara cemas dan geli. Ia menelan ludah, berusaha mengumpulkan kembali keberaniannya yang entah menguap ke mana. Akhirnya, dengan dorongan yang terasa seperti melompat dari tebing, ia menekan tombol hijau.The air itself seemed to thicken, pressing in on Helena. Ia mengangkat ponsel ke telinga, jantungnya berdegup seperti seekor burung terperangkap. Suara Arick yang renyah langsung menyapa, memenuhi indra pendengarannya. "Helena." Ada nada geli dalam suaranya, seolah ia bisa melihat ekspresi terkejut di wajahnya. Helena berdeham, berusaha agar suaranya terdengar stabil. "Arick. Ada apa?" Ia mencoba terdengar profesional, menjaga jarak. Gagal total. Arick tertawa kecil. "Langsung ke inti? Tidak ada 'hai, apa kabar'?" "Aku sibuk," Helena membalas cepat, tatapannya kembali ke layar monitor yang entah mengapa terlihat kabur. Angka-angka di sana tidak lagi bermakna. "Sibuk membayangkan aku?" Suara Arick melirih, menjadi bisikan yang terasa panas di telinganya. Pipi Helena memerah. Ia mencengkeram ponselnya lebih erat. "Tentu saja tidak," ia berdusta, suaranya sedikit meninggi. "Apa yang kau inginkan?" "Yang kuinginkan?" Arick mengulangi, jeda sebentar. "Aku ingin menanyakan sesuatu." "Apa?" "Bagaimana rasanya kembali ke realita setelah tadi?" Arick bertanya, nada suaranya berubah serius, namun ada jejak godaan yang sulit disembunyikan. "Apa aroma mint-ku masih mengganggumu?" Helena menelan ludah. Pertanyaan itu memukul tepat sasaran, mengingatkannya pada desiran aneh di kulitnya, pada sensasi sentuhan yang baru saja ia coba buang dari pikirannya. "Aku tidak mengerti maksudmu," ia berbohong lagi. "Oh, aku yakin kau mengerti," Arick membantah lembut. "Sangat mengerti, malah. Aku hanya menelepon untuk memastikan." "Memastikan apa?" Suaranya terdengar lebih lemah dari yang ia harapkan. "Memastikan bahwa apa yang terjadi di lobi tadi... bukan hanya khayalanku." Hening sesaat, yang terasa sangat panjang. "Bahwa kau juga merasakannya." Helena tidak bisa menjawab. Otaknya kosong, hanya ada gema kata-kata Arick. Ia mengingat tatapan Arick, janji di matanya. Rasa panas menjalar dari leher ke dadanya. "Aku tidak suka sesuatu yang setengah-setengah, Helena," Arick melanjutkan, suaranya kini lebih dalam, lebih tegas. "Dan kurasa kita punya sesuatu yang belum selesai, tadi." Jantung Helena berdentum kencang. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Arick, ini salah." "Salah?" Arick mendesah. "Apa yang salah dari merasakan sesuatu yang nyata? Sesuatu yang kita berdua inginkan?" "Aku... aku punya pekerjaan," Helena mencoba berpegangan pada realitas. "Pekerjaanmu menunggumu besok pagi," Arick membalas, seolah membaca pikirannya. "Malam ini, kau hanya milikku." Sebuah getaran aneh menjalari tubuh Helena, campuran takut dan keinginan yang membingungkan. Kata-kata Arick seperti mantra, melucuti pertahanannya satu per satu. "Apa... apa maumu?" "Aku ingin menyelesaikan apa yang kita mulai," Arick berbisik, nadanya kini persuasif, memohon, namun tetap mengancam. "Pukul sembilan." "Di mana?" Helena bertanya tanpa sadar, suaranya nyaris tak terdengar. Ia membenci dirinya sendiri karena menanyakan itu. "Aku akan kirim alamatnya. Pastikan kau datang." Arick tidak menunggu jawaban. "Jangan membuatku menunggu, Helena. Kau tidak akan suka jika aku harus datang menjemput." Ancaman itu terasa seperti janji. Sebuah sensasi geli menjalari punggung Helena. Ia tahu Arick tidak main-main. Dan bagian dari dirinya, bagian yang paling gelap dan berani, justru menyukai ancaman itu. "Baik," kata Helena, satu kata yang terasa seperti mengikatnya pada takdir baru. "Aku akan datang." Arick tidak menjawab, hanya tawa kecil yang terdengar di ujung telepon, tawa kemenangan. Tawa yang membuat Helena merasa seperti mangsa yang baru saja terperangkap, namun anehnya, ia tidak keberatan sama sekali. Ia merasa panas, seluruh tubuhnya berdenyut. Hasrat yang terkubur dalam-dalam kini bangkit, menuntut untuk dipuaskan.---Arick langsung menutup sambungan tanpa mengucapkan selamat tinggal. Ponsel di tangan Helena terasa panas, seolah memancarkan sisa-sisa energi dari percakapan barusan. Ia menurunkan tangannya perlahan, menatap layar yang kini kembali menampilkan wallpaper lamanya. Foto pegunungan bersalju yang dulu memberinya rasa damai, kini terlihat hambar, datar. Jantungnya berdebar kencang, memukul rusuknya seperti palu godam. Bukan lagi ritme yang kacau, melainkan detak yang kuat, bersemangat, hampir histeris. Keringat dingin muncul di pelipisnya. Tenggorokannya masih terasa tercekat, namun kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena gejolak emosi yang tak bernama. Perpaduan aneh antara kegembiraan yang meluap dan teror yang mematikan. Ia menjatuhkan ponselnya kembali ke meja, benda itu berbunyi 'tok' saat menyentuh permukaan kayu. Lalu ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulitnya, mendongak menatap plafon putih. Matanya terpejam. Bayangan Arick muncul, begitu jelas, begitu nyata. Senyum miringnya, kilatan di mata hitamnya, cara ia berbicara dengan suara rendah yang menggetarkan. Semuanya. Helena menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan napasnya yang memburu. Namun sia-sia. Setiap sel dalam tubuhnya kini terasa hidup, berteriak, menuntut sesuatu yang ia sendiri belum berani namai. Ia baru saja mengatakan 'ya' pada Arick. Ia baru saja membuat janji. Sebuah janji yang ia tahu akan membawanya ke jurang. Jurang itu tidak gelap dan menakutkan, melainkan dipenuhi cahaya remang-remang, aroma manis, dan bisikan-bisikan nakal. Bahaya yang sangat manis. Kalimat itu terngiang-ngiang di benaknya, kini terasa begitu tepat, begitu nyata. Ia seperti berdiri di tepi tebing tinggi, memandang ke bawah, dan bukannya merasa ngeri, ia justru merasakan dorongan kuat untuk melompat. Tangannya gemetar saat ia meraih gelas air mineral di mejanya. Air dingin itu terasa menenangkan saat menyentuh bibirnya, namun tidak mampu memadamkan api yang kini berkobar di dalam dirinya. Pikirannya melayang, membayangkan pukul sembilan nanti. Di mana Arick akan membawanya? Apa yang akan terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar, bercampur dengan gambaran-gambaran liar yang mulai terbentuk di benaknya. Ia harus gila. Ini adalah tindakan gila. Arick adalah pemuda yang baru ia kenal beberapa jam, seseorang yang seharusnya tidak pernah ia temui lagi setelah pertemuan tak sengaja itu. Tapi ia sudah berjanji. Dan janji itu terasa lebih berat, lebih mengikat, daripada semua komitmen profesional yang selama ini ia jalani. Ada sensasi yang berbeda, sensasi yang memacu adrenalin, memprovokasi sisi paling beraninya. Helena membuka matanya. Pandangannya jatuh pada pantulan wajahnya di layar monitor yang gelap. Wajah itu terlihat asing. Pipi memerah, mata memancarkan gairah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia tidak mengenali wanita itu. Wanita yang baru saja membuat janji dengan bahaya yang sangat manis, janji yang akan mengubah segalanya.

End of Chapter 5