Chapter 4 of 30
Wangi Arick, Hasrat Terpendam
1.2k words
Udara di koridor apartemen terasa dingin, menusuk kulit, kontras sekali dengan panas yang masih bergejolak di dalam tubuh Helena. Setiap langkahnya menggema di lantai marmer yang licin, bunyi sepatu haknya terdengar hampa. Dia berjalan cepat, seolah ingin segera menghapus jejak kebersamaan dengan Arick yang masih menempel erat, tidak hanya di pikiran, tapi juga di seluruh indranya.
Helena menyentuh kerah blus sutranya. Kehangatan kulitnya sendiri terasa asing. Aroma Arick. Wangi keringat bercampur sabun murahan, sedikit tanah basah, dan entah mengapa, aroma maskulin yang begitu polos, begitu jujur, meresap sempurna di serat kain, di pori-pori kulitnya. Wangi itu bukan parfum mahal suaminya, bukan aroma ruangan ber-AC dingin tempat ia biasa beraktivitas. Ini wangi kehidupan, wangi perjuangan, wangi yang entah bagaimana, terasa begitu memikat.
Sebuah sentuhan kecil dari Arick tadi, hanya sapuan punggung tangan, sudah cukup untuk menyulut api. Jemarinya masih terasa berdenyut, seolah kenangan sentuhan itu belum mau pergi. Helena menelan ludah, tenggorokannya kering. Kepalanya terasa pening, dipenuhi gambaran mata Arick yang gelap, bibir tipisnya yang melengkung menggoda, dan bisikan-bisikan nakalnya yang berani.
Dia membuka pintu apartemennya. Suasana hening dan mewah langsung menyambut. Vas kristal berisi bunga lili putih di meja konsol, lukisan abstrak mahal di dinding, sofa kulit impor di ruang keluarga. Semua adalah simbol kemapanan, keutuhan. Keutuhan yang sekarang terasa rapuh, bahkan hampa.
Arick telah menjatuhkan bom kecil di hatinya, dan kini Helena merasakan dampaknya. Ledakan hasrat yang sudah lama terkubur di bawah tumpukan rutinitas dan pernikahan tanpa gairah, kini meletup. Itu adalah hasrat yang ia sangka sudah mati, terkubur bersama impian masa mudanya.
Helena melewati ruang tamu, matanya terpaku pada potret pernikahan mereka yang terpampang besar. Ia dan suaminya tersenyum, berpose sempurna. Kesenjangan antara potret itu dengan Arick yang lusuh namun penuh daya hidup, terasa begitu mencolok. Seolah-olah dua dunia yang berbeda baru saja bertabrakan di dalam dirinya.
Setiap serat pakaiannya terasa memanggil nama Arick. Wanita itu memejamkan mata sejenak, menghirup aroma yang melekat kuat di bajunya. Ini aneh, sekaligus memabukkan. Ia tidak seharusnya merasa seperti ini. Ia seorang istri. Seorang ibu. Perempuan terhormat.
Namun, Arick menawarkan sesuatu yang suaminya tidak pernah berikan: gairah yang membakar, perhatian yang memanjakan, dan sebuah janji yang begitu vulgar namun juga begitu jujur. Janji untuk menghidupkan kembali bagian dirinya yang telah lama mati.
Helena mempercepat langkah menuju kamarnya. Ia harus segera mandi, segera membersihkan diri dari jejak-jejak Arick. Atau setidaknya, mencoba. Sensasi hangat masih menjalar di sekujur tubuhnya, seolah Arick masih berada di sampingnya, memegang tangannya, menatapnya dengan intensitas yang tidak bisa ia lupakan.
---
Air hangat menyentuh kulit Helena, mengalir dari ujung kepala hingga ujung kaki. Uap memenuhi kamar mandi marmernya, menciptakan kabut tipis yang seharusnya menenangkan. Namun, bagi Helena, kabut itu justru terasa seperti tirai yang menyembunyikan Arick, membuatnya semakin nyata di benaknya.
Helena memejamkan mata, membiarkan air membasahi wajahnya. Ia menggosok lengannya, seolah ingin mengikis setiap jejak aroma Arick. Tapi air, sabun beraroma mawar mahal, bahkan spons lembutnya, tidak mampu menghapus sensasi yang ditinggalkan pemuda itu. Sebaliknya, air justru terasa seperti tangan Arick, membelai kulitnya, membangunkan setiap pori yang selama ini tertidur.
Jantungnya berdebar kencang. Ia bisa merasakannya, detak jantungnya sendiri yang menggila di balik riuhnya suara air. Tubuhnya menegang, lalu mengendur, menikmati setiap tetes air yang merambat. Bayangan Arick muncul lagi, tanpa diundang. Matanya yang tajam, senyumnya yang sedikit miring, bisikan kotornya tentang benih yang akan ditanam di rahimnya. Itu semua berputar di kepalanya, menjadi melodi yang mengganggu sekaligus memikat.
Helena meraih sampo, menuangkannya ke telapak tangan. Aroma buah-buahan tercium, kontras dengan aroma maskulin yang masih melekat kuat di memorinya. Ia memijat kulit kepalanya perlahan, gerakannya kaku. Selama ini, mandi adalah rutinitas yang ia lakukan tanpa berpikir, sebuah cara untuk membersihkan tubuh. Kini, mandi terasa seperti ritual pembersihan jiwa yang gagal total.
Semakin ia mencoba melupakan, semakin kuat ingatan itu menyerangnya. Suara Arick yang renyah saat tertawa, cara matanya berbinar saat berbicara tentang impian sederhana anaknya kelak. Semua terasa begitu nyata, begitu dekat, seolah Arick masih berdiri di luar kamar mandi, menunggunya.
Ia menyentuh payudaranya yang penuh, lalu turun ke perutnya yang datar. Perut ini, yang suatu hari nanti akan menampung benih Arick. Sebuah perjanjian gila, transaksi yang tidak masuk akal, namun kini terasa begitu menggoda. Helena membiarkan air mengalir di sana, membayangkan sensasi sentuhan Arick yang jauh lebih dalam, lebih intim. Jemarinya sendiri terasa asing di kulitnya, tidak seperti sentuhan Arick yang begitu jujur, begitu berani.
Ia membalik badan, membiarkan air menghantam punggungnya. Punggung yang baru saja Arick sentuh, begitu lembut, begitu hati-hati, namun berhasil memicu badai di dalam dirinya. Sebuah desahan lolos dari bibirnya, desahan yang tak ia sadari. Ini bukan desahan kesedihan, melainkan desahan frustrasi, dan di baliknya, hasrat yang tak terpuaskan.
Helena mematikan keran. Suara air mereda, meninggalkan keheningan yang lebih pekat, lebih menekan. Ia mengambil handuk, menggosok kulitnya dengan kasar, seolah ingin menggosok Arick keluar dari setiap selnya. Tapi itu tidak berhasil. Bayangan Arick justru semakin menancap. Helena keluar dari kamar mandi, tubuhnya terasa berat, pikirannya masih penuh dengan wangi Arick, dengan janji-janji Arick.
---
Helena melangkah ke kamar tidurnya yang luas, suasana remang-remang dari lampu samping tempat tidur. Sprei satin putih terasa dingin di bawah sentuhannya. Dia duduk di tepi ranjang, merasakan kelembutan kain di pahanya. Keheningan kamar terasa mencekik, hanya suara hujan yang samar-samar masih terdengar di luar jendela, seolah menjadi latar musik melankolis bagi pergolakan hatinya.
Dia membuka gaun tidurnya yang tipis, membiarkannya meluncur jatuh ke lantai. Cermin di dinding memantulkan tubuhnya yang telanjang. Siluet seorang wanita paruh baya yang masih terawat, namun di matanya, ia melihat kelelahan. Kelelahan dari tahun-tahun tanpa gairah, tanpa sentuhan yang tulus, tanpa kehangatan yang berarti.
Helena berbaring telentang di ranjang, menatap langit-langit kamar yang tinggi. Jemarinya tanpa sadar terangkat, menyentuh bibirnya sendiri. Bibirnya terasa sedikit bengkak, seolah masih menahan napas yang tertahan, menahan kata-kata yang tak terucap. Bibir Arick. Begitu dekat. Hampir menyentuh. Hanya seutas udara tipis yang memisahkan mereka di dalam mobil tadi.
Bagaimana rasanya? Pertanyaan itu berputar di benaknya, membakar setiap sudut pikirannya. Bagaimana rasanya dicium oleh Arick? Dicium oleh pemuda lugu itu, dengan bibir yang polos namun penuh janji. Apakah ciumannya akan sedalam tatapannya? Sekasar bisikannya, atau selembut sentuhan tangannya?
Angin dingin menyusup dari celah jendela, membuat bulu romanya meremang. Tapi itu bukan dingin dari angin, melainkan sensasi yang menjalar di sekujur tubuhnya, sebuah antisipasi. Helena membalikkan badan, meringkuk di bawah selimut, namun kehangatan selimut tidak mampu menghalau sensasi panas yang justru semakin membakar dari dalam.
Dia menarik napas dalam, memejamkan mata. Otaknya memutar ulang setiap adegan, setiap kata. Arick yang mendekat, mata yang membius, bibir yang mengambang begitu dekat. Itu bukan sekadar godaan, itu adalah sebuah janji. Sebuah janji yang kini menggantung di udara, menuntut untuk dipenuhi.
Helena membayangkan sentuhan Arick yang lebih jauh. Jemari Arick yang besar, kasar, namun entah mengapa terasa begitu lembut dan presisi saat menyentuh punggung tangannya. Bagaimana jika jemari itu kini merambat naik, menyusuri lengan, melewati bahu, lalu berhenti di lehernya? Bagaimana jika bibirnya yang tadi hanya mengambang, kini menempel erat, menghisap, melumat bibirnya sendiri?
Dia bisa merasakan getaran di dadanya, denyutan di area paling intimnya. Setiap sel tubuhnya terasa hidup kembali, merindukan sentuhan yang belum pernah ia alami, sentuhan yang dijanjikan Arick. Gelombang panas itu mengalir ke seluruh tubuhnya, dimulai dari pusat hasratnya, lalu menyebar ke seluruh anggota badan, membuatnya sesak, membuatnya menginginkan lebih, jauh lebih banyak.
Helena memejamkan mata, membayangkan sentuhan Arick yang lebih jauh, memicu gelombang panas yang mengalir ke seluruh tubuhnya.