Chapter 3 of 30

Chapter 3: Sentuhan Pertama, Dunia Berputar

1.5k words

“Sudah berjanji akan memberikan kehangatan, perhatian, dan kesenangan, kan?” bisik Arick, suaranya renyah dan rendah, mengalir lembut di antara embusan napasnya sendiri yang terasa hangat di pipi Helena. Jantung Helena berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya dengan irama tak beraturan. Dia menahan napas, matanya terkunci pada bibir Arick yang begitu dekat, begitu merah, dan mengundang. Aroma sabun mandi maskulin Arick bercampur dengan sedikit wangi tanah basah, menciptakan kombinasi aneh yang justru terasa memabukkan. Sebuah sensasi baru merayap di bawah kulit Helena, sesuatu yang asing dan sekaligus familiar dari masa lalu yang terkubur dalam. Ini adalah gairah yang telah lama mati. Ini adalah rasa takut yang bercampur dengan rasa ingin tahu yang mematikan. Helena meneguk ludah, tenggorokannya terasa kering, kerongkongannya tercekat. Dia ingin mundur, menarik diri dari kedekatan yang berbahaya ini, tetapi tubuhnya enggan bergerak. Seolah ada magnet tak kasat mata yang menahan dirinya tetap di tempat, terperangkap dalam aura Arick yang begitu kuat. Matanya masih bergetar, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi—kesepakatan gila yang baru saja mereka ukir di antara janji dan hasrat terlarang. Sebuah persetujuan yang akan mengubah segalanya, menghancurkan fondasi kehidupannya yang sempurna di permukaan. “Bagaimana, Nyonya?” Arick kembali berbisik, kali ini lebih lembut, lebih dekat, membuat bulu kuduk Helena meremang. “Apa Nyonya sudah siap menerima semua itu?” Helena tidak menjawab. Tenggorokannya terlalu sakit untuk mengeluarkan suara. Matanya berkelana ke sekeliling kafe yang mulai sepi, mencari-cari celah untuk melarikan diri dari tatapan intens Arick. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan hujan di luar masih menggila. Butiran air memukul-mukul jendela kaca dengan beringas, seolah ingin ikut campur dalam ketegangan yang menyesakkan antara mereka berdua. Kafe remang-remang ini, dengan alunan musik jazz yang melenakan, seolah menjadi saksi bisu atas keputusan yang diambil Helena malam ini. Dia akhirnya menyingkirkan pandangannya dari Arick, memaksakan diri untuk berdiri. Kakinya terasa sedikit goyah, seperti agar-agar. “Aku harus pulang,” ucapnya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. “Sopirku pasti sudah menunggu.” Arick mengangguk, senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang penuh arti, seolah dia tahu persis apa yang berkecamuk di benak Helena. Dia mengikuti Helena keluar dari kafe, langkahnya santai dan percaya diri, bertolak belakang dengan langkah Helena yang terasa kaku. Mereka berjalan menyusuri koridor hotel yang sepi, lantai marmer memantulkan cahaya lampu gantung dengan indah. Aroma karpet mewah dan semerbak bunga lily yang diletakkan di sudut-sudut lorong, semua terasa hambar di indra penciuman Helena. Pikirannya hanya dipenuhi oleh janji-janji Arick, dan gema bisikannya yang terus berputar di kepalanya. Ketika mereka tiba di lobi, pemandangan di luar jendela semakin kelabu. Hujan masih deras, membasahi jalanan aspal hingga menciptakan genangan di mana-mana. Helena memicingkan mata, mencoba mencari mobil Land Cruiser hitam miliknya, atau setidaknya sosok Pak Budi, sopirnya yang setia. Tapi tidak ada. Hanya beberapa taksi hotel yang berjajar rapi, dan beberapa mobil pribadi yang terparkir tanpa penghuni. Sebuah kekecewaan kecil menusuk hati Helena. Dia selalu mengandalkan Pak Budi, dan malam ini, dia benar-benar membutuhkannya. “Sepertinya sopir Nyonya belum tiba,” ujar Arick, suaranya memecah keheningan lobi. Helena menoleh, mendapati Arick berdiri begitu dekat di sampingnya, jaket denimnya sedikit basah oleh gerimis yang entah sejak kapan menerpa. Dia tidak menyadari Arick sedekat itu. Helena menghela napas, rasa frustrasinya sedikit terungkap. “Mungkin terjebak macet. Hujan seperti ini…” kalimatnya menggantung di udara. Dia mengutuk dalam hati. Suaminya akan bertanya mengapa dia pulang larut. Suaminya akan menanyakan keberadaan Pak Budi. Alasan apa yang harus dia berikan? Otaknya berputar cepat mencari alibi yang paling masuk akal. Arick tersenyum lagi, senyum yang kali ini lebih hangat, lebih tulus. “Kalau begitu, bagaimana kalau Nyonya ikut denganku saja?” Helena mengerutkan kening. “Ikut denganmu? Ke mana?” “Pulang. Aku akan mengantar Nyonya pulang,” jawab Arick, matanya menatap Helena lurus, tanpa keraguan sedikit pun. “Tidak ada gunanya menunggu sopir di tengah hujan badai seperti ini. Biar aku saja yang mengantar.” Sebuah gelombang kebingungan melanda Helena. Tawaran Arick terdengar logis, dan di sisi lain, sangat tidak masuk akal. Mengapa dia harus pergi dengan Arick? Pria yang baru saja membuat kesepakatan terlarang dengannya? Pria yang seharusnya dia hindari sebisa mungkin. Namun, di tengah keputusasaan karena sopirnya tak kunjung datang, dan rasa lelah yang mulai melanda, tawaran itu terasa seperti sebuah penyelamat. Sebuah jalan keluar yang, entah kenapa, terasa sangat menggoda. Helena ragu, pandangannya bergeser dari Arick ke hujan di luar. Angin kencang menggoyangkan pepohonan di pinggir jalan, membuat dedaunan basah beterbangan. Dia tahu dia seharusnya menolak. Dia tahu ini salah. Tapi sesuatu dalam dirinya, sebuah dorongan liar yang baru saja terbangun, justru berbisik untuk menerima. Untuk merasakan sensasi baru, untuk menjelajahi batas-batas yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia mengangguk pelan, nyaris tak terlihat. “Baiklah,” bisiknya, suaranya pasrah. “Tapi hanya sampai rumahku.” Arick tersenyum lebar, senyum yang menerangi wajah polosnya. Dia meraih tangan Helena, jemarinya yang hangat dan kuat menggenggam punggung tangan Helena. Genggaman itu bukan sekadar sentuhan biasa. Jemari Arick, entah bagaimana, mulai menari di punggung tangannya, membelai lembut kulitnya dengan gerakan melingkar yang pelan namun penuh makna. Sebuah gelombang kejut menjalari lengan Helena, langsung menuju ke jantungnya. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, hingga membuat napasnya tertahan. Sudah berapa lama dia tidak merasakan sentuhan seperti ini? Sentuhan yang begitu membuai, begitu mendalam, yang mampu membangkitkan sesuatu yang telah lama terlelap di dalam dirinya. Suaminya, Bram, tidak pernah menyentuhnya seperti itu. Sentuhan Bram selalu terburu-buru, fokus pada tujuan akhir, tanpa kelembutan atau eksplorasi. Ini berbeda. Ini adalah sentuhan yang menjanjikan sebuah perjalanan, sebuah penemuan. Setiap gesekan ibu jari Arick di punggung tangannya terasa seperti percikan api, membakar gairah yang telah lama membeku. Helena merasa hidup kembali, setiap sel di tubuhnya berteriak nyaring, menuntut lebih. Namun, bersamaan dengan kebangkitan gairah itu, rasa bersalah yang menusuk pun ikut menyertai, melingkari hatinya seperti ular berbisa. Helena menarik napas dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila. Dia menarik tangannya perlahan, tetapi Arick tidak melepaskan. Justru, jemarinya semakin erat menggenggam, seolah berkata bahwa dia tidak akan membiarkan Helena lari. Tatapan mata Arick, yang sebelumnya polos dan lugu, kini berubah menjadi lebih dalam, lebih intens, seolah dia bisa membaca semua pikiran dan hasrat tersembunyi Helena. Mereka berjalan menuju area parkir bawah tanah, suara langkah kaki mereka bergaung di lorong sepi. Hujan masih setia di luar, menjadi latar suara yang dramatis bagi pertemuan yang tak terduga ini. Ketika mereka tiba di sebuah sedan tua berwarna biru gelap, Arick membuka pintu penumpang untuk Helena. Aroma jok kulit lama bercampur dengan wangi parfum maskulin Arick yang samar, menyergap indra penciuman Helena begitu dia masuk. Udara di dalam mobil terasa hangat, berbanding terbalik dengan udara dingin di luar. Arick memutari mobil, masuk ke kursi pengemudi, lalu menyalakan mesin. Suara mesin mobil yang sedikit berisik memecah keheningan yang canggung. Dia tidak langsung menjalankan mobil. Tangannya yang besar dan hangat kembali meraih tangan Helena, jemarinya menari-nari di punggung tangan Helena dengan gerakan hipnotis. “Dingin ya, Nyonya?” Arick bertanya, suaranya rendah, matanya menatap lurus ke depan, tetapi jemarinya terus bekerja, mengirimkan gelombang-gelombang kehangatan ke seluruh tubuh Helena. “Tangan Nyonya sedikit dingin.” Helena tidak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa merasakan setiap sentuhan Arick, setiap gesekan lembut yang membuat kulitnya merinding. Dia menatap jemari Arick yang bergerak di tangannya, memperhatikan setiap garis dan lekukan. Tangannya terasa begitu kecil di dalam genggaman Arick yang besar dan kuat. Otaknya memerintahkan untuk menarik tangan, untuk menghentikan permainan berbahaya ini, tetapi tubuhnya membangkang. Dia ingin merasakan lebih. Dia ingin sentuhan ini berlanjut, selamanya jika bisa. Rasa bersalah berteriak nyaring di kepalanya, tetapi bisikan hasrat jauh lebih memabukkan. Arick kemudian menoleh ke arah Helena, tatapannya lembut namun penuh arti. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang membuat Helena merasa jantungnya melompat dari tempatnya. “Apa Nyonya tidak suka aku sentuh seperti ini?” tanyanya, suaranya bergetar dengan nada menggoda. Jemarinya berhenti sejenak, membuat Helena merasa kehilangan, lalu kembali bergerak, lebih berani, lebih presisi, seperti sengaja mencari titik-titik peka di kulitnya. “A-aku…” Helena tergagap, tenggorokannya tercekat. Dia tidak bisa berbohong. Sentuhan ini terasa begitu benar, begitu lama dinanti. Dia tidak bisa mengingat kapan terakhir kali dia merasakan sentuhan sesensitif ini, sentuhan yang membangkitkan setiap saraf di tubuhnya. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu, mungkin sejak awal pernikahannya, sebelum gairah itu mati dan terkubur dalam-dalam di bawah tumpukan rutinitas dan kebisuan. Sebuah desahan kecil lolos dari bibirnya, tak sengaja, tak terkontrol, membuat Arick tersenyum semakin lebar. Arick mendekatkan wajahnya, gerakannya lambat, disengaja, seolah ingin memberi Helena kesempatan untuk menghindar. Tapi Helena tidak bergerak. Dia terpaku, matanya terpaku pada mata Arick yang gelap dan penuh rahasia. Napas Arick yang hangat menerpa wajahnya, aroma permen mint bercampur dengan aroma tubuhnya yang maskulin, memenuhi paru-paru Helena. Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar, hanya ada mereka berdua di dalam mobil yang sunyi ini, di tengah parkiran bawah tanah yang temaram. Detak jantungnya berpacu semakin kencang, menggema di telinganya. Helena terengah-engah, merasakan dunia berputar, tidak stabil di bawah kakinya. Kepalanya terasa pening, tubuhnya panas dingin. Matanya memejam sejenak, mencoba meresapi sensasi yang begitu kuat ini. Dia membuka mata lagi, dan Arick sudah jauh lebih dekat. Hidung mereka hampir bersentuhan, napas mereka beradu, saling mencari kehangatan. Helena bisa merasakan panas tubuh Arick memancar, membakar setiap inci kulitnya. Bibir Arick sedikit terbuka, seolah siap melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar sentuhan tangan. Sebuah hasrat membara muncul di dalam diri Helena, begitu kuat, begitu mendesak. Logikanya berteriak untuk menjauh, untuk menghentikan kegilaan ini, tetapi tubuhnya menginginkan Arick lebih dari apa pun. Tatapan Arick yang intens menembus pertahanan Helena, membuat seluruh inderanya berteriak memohon lebih dari sentuhan tangan sederhana.

End of Chapter 3

Chapter 3: Chapter 3: Sentuhan Pertama, Dunia Berputar - SELINGKUH: Selingan Indah Keluarga Utuh | Novel AI Studio