Pintu lift telah mulai menutup, lapisan krom steril itu memantulkan tatapan terkejut Helena. Tangan Arick, yang masih hangat dari sentuhan tak sengaja mereka, berdiam di dekat lengannya. Ia tidak menekan tombol penthouse. Sebaliknya, ia menyandarkan tubuhnya, sebuah senyum kecil penuh arti terukir di bibirnya.
"Tidak usah ke atas," Arick berkata pelan, suaranya serak, matanya menelusuri wajah Helena. "Kita bicarakan di tempat yang lebih... terang."
Helena menahan napas. Sebagian dari dirinya merasakan kelegaan, sebagian lain, anehnya, justru kecewa. Lift berhenti di lantai dasar. Pintu perak bergeser terbuka, menampakkan lobi hotel yang masih ramai meskipun hujan di luar belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Aroma kopi dan kue-kue manis dari kafe di sudut menyeruak masuk, menggantikan bau dingin metal.
Arick memberi isyarat dengan dagunya. "Kafe itu," katanya, suaranya rendah, nyaris seperti sebuah konspirasi.
Helena mengangguk, kakinya terasa sedikit goyah saat melangkah keluar. Ia merasa semua mata di lobi tertuju pada mereka, pada dirinya yang mengenakan busana elegan dan Arick yang, meskipun sudah sedikit mengering, masih tampak seperti baru saja keluar dari kolam renang. Kemejanya menempel di tubuh atletisnya, menonjolkan setiap lekuk otot yang tak sengaja. Helena memalingkan muka, berupaya menyembunyikan pipinya yang terasa panas.
Mereka memilih meja di sudut, dekat jendela besar yang memperlihatkan tetesan hujan membasahi kaca. Helena duduk tegak di kursi beludru berwarna gelap, tangannya saling menggenggam di atas meja marmer dingin. Ia berusaha terlihat tenang, padahal jantungnya berdebar seperti genderang pesta yang mendadak dipukul.
Seorang pelayan muda mendekat. Arick memesan teh hangat, katanya, "untuk menghangatkan badan." Helena hanya meminta air mineral, suaranya sedikit tercekat. Ia butuh kejernihan pikiran, bukan kehangatan yang bisa memicu lebih banyak hal gila.
"Jadi..." Helena memulai, suaranya nyaris berbisik saat pelayan pergi. "Apa yang barusan kamu katakan di lobi?" Ia tahu persis apa yang Arick katakan, tetapi ia butuh mendengarnya lagi, dalam konteks yang lebih 'normal', untuk meyakinkan dirinya bahwa ini bukan sekadar halusinasi aneh.
Arick menyesap tehnya yang baru tiba, matanya mengerling ke arah Helena. "Saya bilang, saya ingin menitipkan benih saya di rahim Ibu." Ia mengatakannya dengan begitu polos, begitu blak-blakan, seolah sedang meminta gula.
Helena terbatuk, tersedak air mineralnya. Beberapa pasang mata di meja sebelah menoleh, lalu cepat-cepat kembali ke urusan mereka. Helena merutuk dalam hati. Arick benar-benar tidak tahu malu, atau ia memang sengaja membuatnya malu?
"Arick," desis Helena, suaranya menekan. "Kamu tidak bisa mengatakan hal seperti itu di tempat umum."
Arick mengangkat bahu, senyumnya tak goyah. "Lalu di mana, Bu? Di lift? Bukannya Ibu sendiri yang bilang itu terlalu riskan?"
Sarkasme tipis dalam suaranya membuat Helena tersentak. Ia menatap mata Arick, mata cokelat bening yang menantang sekaligus memikat. Ada percikan kenakalan di sana, tetapi di baliknya, ada semacam kejujuran yang menelanjangi.
"Kenapa saya?" tanya Helena, suaranya lebih pelan, lebih rapuh dari yang ia inginkan. "Kenapa harus saya?"
Arick meletakkan cangkir tehnya. "Karena Ibu Helena," katanya, nadanya berubah serius, tetapi masih ada kelembutan yang aneh. "Ibu punya segalanya. Keluarga yang mapan, kekayaan, masa depan yang terjamin." Ia berhenti sejenak, mencondongkan tubuh sedikit. "Dan... Ibu cantik."
Pujian itu, diucapkan begitu langsung, dari seorang pemuda dua puluh tahun lebih muda, membuat semburat merah menjalar di leher Helena. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, ke rintik hujan yang menari di kaca. "Itu tidak menjawab pertanyaan saya," bisiknya.
"Itu justru jawaban utamanya, Bu," Arick bersikeras, suaranya kini lebih rendah, lebih intim. "Saya ingin anak saya nanti lahir ke dunia ini dengan awal yang terbaik. Bukan seperti saya, yang harus berjuang dari nol. Saya ingin dia punya kesempatan, Bu."
Helena kembali menatapnya, ada kerutan di dahinya. "Kamu ingin menggunakan saya, Arick?"
Arick menggeleng pelan. "Bukan menggunakan, Bu. Ini kesepakatan. Saya menawarkan sesuatu, dan saya yakin Ibu juga butuh sesuatu." Matanya mengunci mata Helena, seolah ia bisa membaca semua kekosongan di dalam diri Helena. "Bukan begitu, Bu?"
Helena merasa kulit kepalanya merinding. Bagaimana bisa anak ini tahu? Bagaimana bisa ia melihat menembus fasad yang selama ini ia bangun begitu kokoh? Pernikahannya dingin, tanpa gairah, sudah bertahun-tahun lamanya. Ia menolak bercerai demi "keutuhan keluarga", sebuah frasa yang kini terasa hampa di lidahnya.
"Apa yang kamu tawarkan?" Helena bertanya, suaranya nyaris tak terdengar. Ini adalah langkah pertama, langkah yang tak bisa ditarik kembali.
Arick tersenyum, senyum yang begitu memikat, begitu penuh janji. "Sesuatu yang membuat Ibu merasa hidup lagi, Bu. Sesuatu yang membuat Ibu... bahagia."
Helena menarik napas dalam, merasakan aroma teh melati Arick bercampur dengan bau hujan dari rambutnya yang basah. Ia tahu ia sedang bermain api, tapi godaan akan kehangatan, akan api itu sendiri, begitu kuat.
---
Helena menatap Arick, mencari celah dalam kejujurannya yang nekat. Ia mencari tanda-tanda penipuan, manipulasi, atau sekadar lelucon konyol. Namun, ia hanya menemukan sepasang mata yang tulus, meskipun ada kilatan ambisi di sana. Ia melihat seorang pemuda yang berani, yang tidak takut meminta apa yang ia inginkan, seaneh apa pun itu.
"Bahagia?" ulang Helena, suaranya skeptis, namun ada nada penasaran yang tak bisa disembunyikan. "Kamu pikir kamu bisa memberikan itu?"
Arick mengangguk perlahan, tatapannya tak lepas dari wajah Helena. "Saya tidak tahu apa yang hilang dari hidup Ibu, tapi saya bisa memberikan sebagian kecil dari apa yang saya punya. Kehangatan, Bu. Perhatian. Dan... kesenangan." Kata terakhir itu diucapkan dengan nada rendah, sensual, membuat bulu kuduk Helena meremang.
Ia membiarkan hening menggantung di antara mereka, membiarkan Arick merasakan keraguannya, tetapi juga ketertarikannya. Di sekeliling mereka, obrolan pengunjung kafe terdengar seperti bisikan jauh, seolah dunia di luar meja mereka berhenti berputar.
"Bagaimana dengan anak itu?" Helena akhirnya bertanya, mencoba mengalihkan fokus dari godaan pribadi ke aspek yang lebih praktis dan gila. "Bagaimana rencanamu?"
Arick menyesap tehnya lagi, lalu meletakkan cangkirnya dengan gerakan tenang. "Anak itu," Arick memulai, suaranya kini lebih mantap, lebih meyakinkan. "Akan lahir sebagai anak Ibu dan suami Ibu."
Helena terkesiap. "Maksudmu... dia akan menjadi anak suami saya juga?"
"Tentu saja," Arick menjawab enteng, seolah itu adalah rencana paling masuk akal di dunia. "Secara hukum, dia akan jadi anak mereka. Dia akan tumbuh di lingkungan yang stabil, di bawah nama besar keluarga Ibu. Mendapatkan pendidikan terbaik, fasilitas terbaik. Semua yang tidak akan pernah bisa saya berikan."
Arick menjelaskan visinya dengan detail yang mengejutkan. Bagaimana anak itu akan memiliki semua privilese yang pernah ia impikan untuk dirinya sendiri. Bukan hanya sekadar "hidup mewah", tapi juga akses ke jaringan sosial, peluang bisnis, dan masa depan yang sudah terjamin sejak lahir. Ia berbicara tentang warisan, tentang nama baik, tentang fondasi yang kuat. Helena mendengarkan, merasa anehnya tergugah.
Bukan karena ia setuju dengan ide gila ini, tetapi karena Arick menyampaikan impiannya dengan gairah yang begitu membara. Ia melihat di mata Arick betapa dalamnya keinginan pemuda ini untuk memberikan yang terbaik bagi keturunannya, bahkan jika itu berarti mengorbankan ikatan biologisnya sendiri demi kehidupan yang lebih baik. Ada semacam kemuliaan yang aneh dalam kepolosannya, dalam keberaniannya untuk mengakui ambisi seperti itu.
"Bagaimana denganmu?" Helena bertanya, suaranya melembut. "Apa yang kamu dapatkan?"
Arick tersenyum tipis. "Saya akan tahu bahwa darah daging saya punya kesempatan yang jauh lebih baik dari saya. Itu sudah cukup, Bu." Ia berhenti, lalu mencondongkan tubuh lagi, matanya berkelana ke bibir Helena. "Dan saya akan mendapatkan... selingan indah itu."
Kata "selingan indah" itu terucap bagai bisikan mesra, menghantarkan sengatan listrik ke seluruh tubuh Helena. Ia tahu persis apa yang dimaksud Arick. Itu adalah janji akan gairah, akan keintiman yang telah lama mati dalam pernikahannya.
Helena menelan ludah, tenggorokannya kering. Ia membayangkan sentuhan Arick, tubuhnya yang muda dan kuat. Membayangkan bagaimana rasanya disentuh dengan hasrat, bukan sekadar kebiasaan. Sebuah fantasi yang selama ini hanya berani ia impikan dalam tidur, kini terhampar di depannya, ditawarkan dengan begitu vulgar oleh seorang pemuda yang nyaris tidak ia kenal.
"Ini gila, Arick," bisik Helena, namun suaranya tidak memiliki kekuatan untuk menolak.
"Gila, tapi jujur," Arick membalas, senyumnya semakin lebar, semakin menggoda. "Dan jujur itu kadang lebih baik daripada berpura-pura normal, Bu."
Tatapan Arick begitu intens, seolah ia bisa melihat semua lapisan kepura-puraan yang Helena kenakan selama ini. Semua senyum palsu, semua 'baik-baik saja' yang ia ucapkan setiap hari. Ia merasa telanjang di hadapan pemuda ini, namun anehnya, ia tidak merasa malu. Justru ada sensasi kebebasan yang menakutkan.
Helena menyadari bahwa ia tidak hanya tertarik pada tubuh muda Arick, tetapi juga pada keberaniannya. Pada kejujuran mentahnya. Pada pandangan matanya yang seolah berkata, "Saya tahu rahasiamu, dan itu tidak apa-apa." Ini adalah daya tarik yang jauh lebih dalam, jauh lebih berbahaya.
---
Jeda itu terasa begitu panjang, tebal dengan segala ketegangan yang menggantung di udara. Helena bisa merasakan tatapan Arick membakar kulitnya, menuntut jawaban. Di benaknya, ia melihat wajah suaminya, wajah yang selalu datar, tanpa gairah. Ia membandingkannya dengan kilatan di mata Arick, dengan senyum menggoda yang menjanjikan seluruh dunia.
Ini adalah keputusan yang akan mengubah segalanya. Sebuah pengkhianatan, ya, tapi juga sebuah kesempatan untuk hidup, untuk merasakan sesuatu yang nyata.
"Dan kamu yakin..." Helena memulai lagi, suaranya serak. "...bahwa kamu tidak akan pernah mengklaim anak ini?"
Arick mengangguk tanpa ragu. "Saya bersumpah, Bu. Anak itu akan jadi milik Ibu sepenuhnya. Saya hanya ingin dia punya awal yang baik. Itu saja." Ada kesungguhan dalam suaranya yang membuat Helena sedikit goyah. Ia ingin mempercayainya, entah mengapa.
"Ini bukan lelucon, kan?" Helena bertanya lagi, mencoba mencari celah terakhir.
Arick tertawa kecil, suara tawa yang renyah dan tulus, membuat beberapa pasang mata di meja lain melirik lagi. "Menurut Ibu, saya terlihat sedang melawak, Bu?" tanyanya balik, matanya memancarkan keseriusan yang tidak bisa dibantah.
Helena menelan ludah. Ia menatap Arick yang masih tersenyum, senyum yang kini terasa lebih seperti kemenangan. Ada keberanian liar dalam dirinya yang selama ini terpendam, mendesak untuk keluar. Sebuah kesempatan untuk menjadi seseorang yang berbeda, walau hanya untuk sesaat.
"Baiklah," bisik Helena, kata itu terasa asing di lidahnya, namun juga membebaskan. "Saya setuju."
Senyum Arick melebar, menampilkan deretan giginya yang putih bersih. Kilatan puas di matanya tak bisa disembunyikan. Ia mencondongkan tubuh lebih dekat, begitu dekat hingga Helena bisa merasakan kehangatan napasnya di pipinya. Aroma hujan, teh, dan sesuatu yang murni maskulin dari tubuh Arick menyeruak, membanjiri indranya. Detak jantung Helena berpacu, menggelegar di telinganya. Ia seharusnya menjauh, mendorongnya, tetapi tubuhnya membeku, terpaku oleh daya pikat Arick yang berbahaya. Bibir Arick nyaris menyentuh telinganya, bisikannya membuat seisi tubuhnya meremang. "Kalau begitu... bersiaplah, Bu, untuk selingan indah yang akan mengubah segalanya."
Mata Arick berkilat penuh makna saat bibirnya nyaris menyentuh telinga Helena, bisikannya memicu debaran jantung tak terkontrol.