Chapter 1 of 30
Bisikan Arick, Gairah Terlarang
1.7k words
Udara lobi hotel bintang lima ini dingin sekali, menusuk pori-pori Helena meskipun blazer sutra tipis membalut tubuhnya. Di luar sana, hujan deras menggila. Rintik-rintik besar beradu dengan kanopi kaca, menciptakan simfoni gaduh yang nyaris memekakkan telinga. Helena menatap ke luar, ke jalanan basah yang memantulkan lampu neon seperti cermin pecah. Sopirnya belum juga tiba. Lima belas menit ia menunggu, rasa frustrasi perlahan merayap naik, menggerogoti ketenangan yang susah payah ia bangun setelah rapat panjang. Kemeja putihnya terasa sedikit lembap di bahu, meski ia sudah berlindung penuh di bawah atap. Sebuah tanda kecil bahwa hujan itu lebih dari sekadar rintik biasa.
Helena menghela napas. Aroma kopi mahal dan parfum desainer bercampur di udara, menciptakan bau khas kemewahan yang selalu terasa hampa baginya akhir-akhir ini. Ia melirik jam tangan Rolex-nya. Pukul lima sore. Suaminya mungkin sudah di rumah, menanti makan malam yang disiapkan asisten rumah tangga mereka, tanpa peduli seberapa lelah ia. Dinginnya pernikahan mereka terasa lebih menusuk dari udara lobi ini.
Sebuah siluet tiba-tiba muncul di ambang pintu putar. Tubuh tegap, berbalut kemeja katun tipis yang kini basah kuyup, menempel di kulit. Rambutnya hitam legam, sebagian menempel di dahi, sebagian lagi meneteskan air ke lantai marmer yang licin. Helena menoleh, tertarik pada pemandangan yang kontras itu. Seorang pemuda, Arick, sepertinya. Ia pernah melihatnya di sekitar kompleks rumahnya, kadang membantu tukang kebun atau mengantar barang.
Arick tampak tak terpengaruh oleh tatapan orang-orang di sekitarnya, yang jelas-jelas menganggapnya sedikit aneh di tengah kemewahan hotel itu. Kemejanya yang basah membentuk garis-garis otot di lengannya, menampilkan lekuk tubuh yang muda dan atletis. Ia berjalan santai, air menetes dari ujung rambutnya, membasahi lantai di setiap langkah. Pandangannya menyapu lobi, seolah mencari seseorang. Lalu, bola matanya yang hitam pekat menangkap sosok Helena. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Senyum yang terlalu berani untuk seorang pemuda sepertinya, yang seharusnya tahu batasan.
Jantung Helena berdesir tipis. Bukan karena ketertarikan, melainkan karena sedikit terkejut melihat Arick di tempat ini, dalam keadaan seperti ini. Ia merasa canggung, seolah kehadiran Arick adalah anomali yang tak seharusnya ada di dunianya. Arick melangkah mendekat, langkahnya mantap, seolah tak ada yang salah dengan penampilannya yang basah kuyup. Aroma hujan dan tanah basah, bercampur dengan bau tubuh maskulin yang muda, tiba-tiba memenuhi indra penciuman Helena. Bau yang asing, namun entah mengapa terasa begitu hidup dan nyata di antara aroma parfum artifisial.
Udara lobi hotel bintang lima ini dingin sekali, menusuk pori-pori Helena meskipun blazer sutra tipis membalut tubuhnya. Di luar sana, hujan deras menggila. Rintik-rintik besar beradu dengan kanopi kaca, menciptakan simfoni gaduh yang nyaris memekakkan telinga. Helena menatap ke luar, ke jalanan basah yang memantulkan lampu neon seperti cermin pecah. Sopirnya belum juga tiba. Lima belas menit ia menunggu, rasa frustrasi perlahan merayap naik, menggerogoti ketenangan yang susah payah ia bangun setelah rapat panjang. Kemeja putihnya terasa sedikit lembap di bahu, meski ia sudah berlindung penuh di bawah atap. Sebuah tanda kecil bahwa hujan itu lebih dari sekadar rintik biasa.Helena menghela napas. Aroma kopi mahal dan parfum desainer bercampur di udara, menciptakan bau khas kemewahan yang selalu terasa hampa baginya akhir-akhir ini. Ia melirik jam tangan Rolex-nya. Pukul lima sore. Suaminya mungkin sudah di rumah, menanti makan malam yang disiapkan asisten rumah tangga mereka, tanpa peduli seberapa lelah ia. Dinginnya pernikahan mereka terasa lebih menusuk dari udara lobi ini.Sebuah siluet tiba-tiba muncul di ambang pintu putar. Tubuh tegap, berbalut kemeja katun tipis yang kini basah kuyup, menempel di kulit. Rambutnya hitam legam, sebagian menempel di dahi, sebagian lagi meneteskan air ke lantai marmer yang licin. Helena menoleh, tertarik pada pemandangan yang kontras itu. Seorang pemuda, Arick, sepertinya. Ia pernah melihatnya di sekitar kompleks rumahnya, kadang membantu tukang kebun atau mengantar barang.Arick tampak tak terpengaruh oleh tatapan orang-orang di sekitarnya, yang jelas-jelas menganggapnya sedikit aneh di tengah kemewahan hotel itu. Kemejanya yang basah membentuk garis-garis otot di lengannya, menampilkan lekuk tubuh yang muda dan atletis. Ia berjalan santai, air menetes dari ujung rambutnya, membasahi lantai di setiap langkah. Pandangannya menyapu lobi, seolah mencari seseorang. Lalu, bola matanya yang hitam pekat menangkap sosok Helena. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Senyum yang terlalu berani untuk seorang pemuda sepertinya, yang seharusnya tahu batasan.Jantung Helena berdesir tipis. Bukan karena ketertarikan, melainkan karena sedikit terkejut melihat Arick di tempat ini, dalam keadaan seperti ini. Ia merasa canggung, seolah kehadiran Arick adalah anomali yang tak seharusnya ada di dunianya. Arick melangkah mendekat, langkahnya mantap, seolah tak ada yang salah dengan penampilannya yang basah kuyup. Aroma hujan dan tanah basah, bercampur dengan bau tubuh maskulin yang muda, tiba-tiba memenuhi indra penciuman Helena. Bau yang asing, namun entah mengapa terasa begitu hidup dan nyata di antara aroma parfum artifisial.Arick berhenti dua langkah di depannya. Matanya menelusuri wajah Helena, seolah memindai setiap detail. Ada sesuatu yang nakal dan mengganggu dalam tatapannya. Ia tidak menunduk, tidak menunjukkan rasa hormat yang biasa ia berikan saat bertemu di kompleks rumah. Justru, ia berdiri tegak, memancarkan aura percaya diri yang tak terduga. Sebuah tetesan air meluncur dari ujung rambutnya, melewati pelipisnya, dan jatuh ke lantai di antara kaki mereka. Helena menelan ludah, tenggorokannya mendadak kering.“Menunggu siapa, Bu?” Suara Arick rendah, serak, seolah ia baru saja berlari menembus hujan. Ada nada geli yang samar dalam pertanyaannya. Helena bisa merasakan pandangan orang-orang di sekitar mereka, bisikan-bisikan halus yang mungkin bertanya-tanya mengapa seorang wanita seperti dirinya berbicara dengan pemuda basah kuyup itu.Ia mengeratkan pegangan pada tas tangannya. “Sopir saya. Kenapa kamu di sini, Arick?” Arick mengangkat bahu, gerakan yang santai, yang membuat otot-otot di bawah kemeja basahnya bergerak. Sebuah pemandangan yang seharusnya tidak ia perhatikan, tapi matanya terpaku begitu saja. “Hanya ingin mampir. Kebetulan sekali, Bu. Saya melihat Ibu sendirian.” Kalimat itu menggantung di udara, ambigu dan penuh makna tersembunyi. Senyumnya semakin lebar, menampilkan deretan gigi putih. Helana merasakan firasat aneh, seperti ada sesuatu yang akan pecah dari batas-batas normal.Arick melangkah satu tapak lebih dekat. Aroma hujan dan dirinya semakin pekat. “Atau mungkin, saya memang datang untuk Ibu.” Ia berbisik, nadanya terdengar seperti sebuah rahasia yang hanya mereka berdua pahami. Alis Helena terangkat, kaget. Matanya melebar sedikit, menangkap kilatan serius, nyaris liar, di mata hitam Arick. Ini bukan sekadar candaan. Ini adalah sebuah pernyataan, sebuah niat. Niat yang tak seharusnya ada, tak seharusnya diucapkan, apalagi oleh seorang Arick kepada Helena.Tubuh Helena menegang, otaknya berteriak untuk menjauh, untuk memarahi pemuda lancang ini. Tapi pada saat yang sama, ada sesuatu di dalam dirinya yang berdesir, sebuah percikan kecil yang terang dan berbahaya. Rasa terkejut itu bercampur dengan semacam getaran aneh yang menjalar di kulitnya. Seolah sebuah tabu sedang dilanggar, dan bagian tersembunyi dari dirinya menyukainya. Ia tidak bisa bergerak, hanya menatap Arick, terperangkap dalam tatapan mata pemuda itu. Rasa takut dan penasaran beradu kencang di dadanya, seperti dua burung yang berusaha keluar dari sangkar yang sama. Ia tahu ini salah, tapi ada bagian dirinya yang bertanya, *bagaimana jika?*---“Sopir saya tidak akan datang dalam waktu dekat,” ucap Helena, suaranya sedikit lebih kencang dari yang ia maksudkan, berusaha menutupi kekacauan di dalam dirinya. Kalimat Arick masih berdengung di telinganya. Arick mengangguk, seolah sudah tahu. “Saya bisa mengantar Ibu pulang,” katanya, suaranya kembali ke nada santai yang membuat segalanya terdengar seperti ajakan biasa, bukan sebuah pelanggaran batas. Helena menatapnya, ragu. Bagaimana mungkin? Ia tidak bisa membayangkan duduk di mobil Arick, yang mungkin adalah sebuah motor tua atau angkutan umum. Sebuah mobil mewah warna hitam berhenti di depan pintu putar, tapi bukan mobilnya. Sebuah keluarga kaya raya turun dengan terburu-buru, menghindari hujan.Arick menunjuk ke arah bar di sudut lobi. “Atau, kita bisa menunggu hujan reda. Minum sesuatu?” Sebuah proposal yang semakin melenceng dari batas-batas yang ia kenal. Helena membuka mulutnya, ingin menolak, tapi Arick sudah berbalik dan berjalan menuju lift, seolah ia sudah tahu jawaban Helena. Ini aneh, ini gila, tapi kakinya entah mengapa mengikuti langkah Arick.Ia melangkah cepat, blazer sutranya berdesir. Arick sudah menunggu di depan pintu lift, tombol panah ke atas sudah menyala. Helena tidak tahu ke mana ia akan pergi, ke lantai berapa, atau mengapa ia mengikutinya. Pintu lift terbuka dengan desis pelan. Ruangan kecil itu kosong. Arick melangkah masuk, lalu menunggunya. Helena ragu sejenak, menatap ke arah pintu lobi lagi, seolah mencari jalan keluar. Tapi sopirnya tidak ada. Dunia Arick, yang kasar dan penuh hujan, terasa lebih nyata daripada dunianya yang dingin dan hampa.Helena masuk. Ruangan itu terasa sempit, aroma Arick semakin kuat, membungkusnya. Bau hujan, tanah, dan sesuatu yang lebih dalam. Arick menekan tombol lantai teratas, untuk area *penthouse*. Mata Helena membelalak. Ia tidak bertanya, ia tidak mengatakan apa-apa. Pintu lift tertutup. Cermin di belakang mereka memantulkan dua siluet yang berdekatan. Arick berdiri terlalu dekat. Jarak satu jengkal, mungkin kurang. Jantung Helena berpacu liar. Udara di dalam lift mendadak menipis.Tangan Arick terangkat. Helena menegang, membayangkan ia akan menyentuhnya. Tapi Arick hanya menyentuh dinding lift di samping kepala Helena, telapak tangannya menekan permukaan logam yang dingin. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, memblokir sebagian kecil ruang di antara mereka. Wajahnya begitu dekat hingga Helena bisa melihat tetesan air kecil yang masih menempel di bulu matanya. Matanya hitam kelam, menatap lurus ke dalam mata Helena.Helena merasakan panas menjalar di pipinya. Napas Arick yang hangat menyapu telinganya. Ia bisa merasakan hangatnya tubuh Arick, panas yang berbeda dari dinginnya udara lobi. Panas yang membakar, mengancam, dan entah kenapa, memanggil. Seluruh tubuhnya menegang, setiap serabut sarafnya terasa dialiri listrik. Ini salah. Ini sangat salah. Tapi ia tidak bisa bergerak. Ia ingin mendorong Arick menjauh, tapi tangannya terasa lumpuh. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan.Ia hanya bisa menatap mata Arick, tenggelam dalam tatapan itu. Arick tersenyum tipis, senyum yang tahu persis efek apa yang ia timbulkan. Lift berderit pelan saat naik, membawa mereka semakin tinggi, semakin jauh dari mata dunia. Aroma Arick semakin pekat, memenuhi paru-paru Helena, memabukkan. Sebuah getaran aneh, tak terkendali, menjalari tulang punggungnya. Getaran itu bukan ketakutan murni, melainkan campuran antara bahaya, ketertarikan yang mematikan, dan sebuah janji tak terucapkan yang siap menghancurkan segalanya. Tubuh mereka nyaris bersentuhan, hanya terpisah oleh lapisan udara tipis, dan Helena bisa merasakan panas yang memancar dari Arick, menembus blazernya, menjanjikan kehancuran yang sangat ia takuti namun juga damba.