Chapter 18 of 30

Chapter 18: Ciuman Terlarang, Dada Berdebar

1.6k words

Helena menerima mawar merah itu. Tangannya gemetar. Kelopak satinnya menyentuh kulit, terasa dingin sesaat, lalu hangat dari genggaman Arick yang masih melingkar di tangkainya. Arick mencondongkan tubuh. Napasnya menyapu pipi Helena, panas dan beraroma kopi. Jantung Helena berdetak liar. Ini nyata. Arick ada di sini, di rumahnya. "Ssshh..." Arick berbisik, suaranya serak. Jemarinya bergerak lembut, menyusuri garis rahang Helena, lalu turun ke lehernya. Sentuhan itu seperti listrik. Helena menahan napas. Matanya terpaku pada mata Arick, gelap dan penuh janji. "Aku tahu kau menunggu," katanya lagi, senyum tipis melengkung di bibirnya. Ibu jarinya menekan lembut di bawah telinga Helena, mengirimkan getaran halus ke seluruh tubuh. Tubuh Helena menegang. Dia ingin menyangkal, tapi lidahnya terasa kelu. Keinginannya jauh lebih kuat dari rasa malunya. Arick menarik napas dalam, matanya tak lepas dari wajah Helena. Seolah mencari izin, atau mungkin hanya ingin menikmati setiap detik keraguan yang kini berubah menjadi pasrah. Jari-jarinya menelusuri tepi kain blus, mendorongnya pelan ke samping. Bahu Helena terekspos. Kulitnya meremang. "Cantik," Arick berbisik, bibirnya nyaris menyentuh telinga Helena. Suaranya rendah, menggetarkan. Helena merasakan napasnya sendiri memburu. Dadanya naik turun dengan cepat. Dia bisa merasakan detak jantungnya memukul rusuk, memohon lebih. Tangan Arick meluncur ke belakang punggung Helena, menemukan sisa kancing. Satu gerakan cekatan, dan blus itu terlepas sepenuhnya. Kain sutra lembut itu melorot, jatuh ke lantai dengan suara desiran tipis. Arick memandanginya sesaat, lalu menendangnya dengan ujung kaki, seolah benda itu tak berarti. Hanya Helena yang penting. Kini Helena hanya mengenakan bra brokat hitam dan rok panjangnya. Area dadanya terasa sangat terekspos. Matanya berkeliling, mencari cermin, mencari jalan keluar, tapi pandangannya selalu kembali pada Arick. Pada mata yang memuja itu. Pada bibir yang basah dan sedikit terbuka. Arick tidak buru-buru. Dia menikmati pemandangan di depannya. Matanya menyapu dari bahu mulus Helena, turun ke lekuk dadanya yang sebagian tertutup bra. Bibirnya melengkung tipis. "Ssshh... jangan takut, Bu Helena," bisiknya lagi, seolah membaca pikirannya. "Ini hanya awal." Jari-jarinya kembali bergerak, kini pada tali bra. Dia tidak membukanya. Dia hanya menyentuhnya, membelai garis tipis kain itu. Sentuhan ringan, tapi cukup membuat seluruh tubuh Helena bergetar. Kulitnya terasa panas di bawah sentuhan Arick. Dia bisa merasakan darah mengalir deras di setiap nadinya. Arick mencondongkan tubuh lebih dekat. Hidungnya menyentuh leher Helena. Ia menghirup dalam aroma tubuhnya. Helena mencium aroma maskulin Arick, campuran kopi, keringat, dan sesuatu yang muda, memabukkan. Sebuah desah tertahan lolos dari bibirnya. "Wangimu..." Arick bergumam, suaranya tercekat. Lidahnya menyapu lembut kulit leher Helena, dari bawah telinga hingga ke klavikula. Sentuhan basah itu mengirimkan gelombang panas ke seluruh tubuh. Helena memejamkan mata, kepalanya sedikit mendongak, memberikan akses lebih. Dia tidak bisa berpikir. Sensasi ini menguasai segalanya. Rasa takut akan ketahuan, rasa bersalah pada suaminya, semua melebur. Hanya ada Arick. Hanya ada sentuhan ini. Hanya ada gairah yang membara, membangunkan sesuatu yang sudah lama mati dalam dirinya. Arick mengulum kulit leher Helena, menyesapnya pelan. Gigi-giginya bergesekan samar, mengirimkan getaran aneh yang menyenangkan. Helena merasakan denyutan di antara kedua kakinya. Tubuhnya merespons secara otomatis, keinginan murni, tanpa filters. "Mmm-hh..." Desahan itu keluar begitu saja. Dia tidak bisa mengendalikannya. Tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan Arick, meremas otot bisepnya yang keras. Kekuatan Arick terasa nyata, menenangkan sekaligus mengancam. Arick menarik bibirnya dari leher Helena, namun tidak menjauh. Hidungnya masih menempel di kulit, napasnya memburu. "Kau suka, Bu Helena?" bisiknya, suaranya parau. Pertanyaannya seperti bara api, membakar setiap sel di tubuh Helena. Dia tidak perlu menjawab. Respon tubuhnya sudah menjawab semuanya. Helena menggeleng pelan, lebih seperti refleks daripada penolakan. Dia tidak tahu apa yang dia suka. Dia hanya tahu dia menginginkan lebih. Dia ingin tenggelam dalam sensasi ini, melupakan dunia luar, melupakan siapa dia, dan siapa Arick. Hanya ada sekarang. Hanya ada sentuhan. Arick menggeser tubuhnya sedikit, memposisikan diri lebih dekat. Dadanya yang hangat kini menempel erat di dadanya. Dia bisa merasakan detak jantung Arick, cepat dan kuat, menyamai detak jantungnya sendiri. Sebuah simfoni gairah yang tak terucapkan. Jari-jarinya yang tadinya di tali bra kini merayap naik, menyentuh kulit di atas kain. Panas. Dingin. Basah. Kering. Semua sensasi campur aduk menjadi satu. Arick membelai lembut belahan dada Helena, seolah setiap sentuhan adalah sebuah janji. "Aku akan memberimu semua yang kau inginkan," Arick berbisik, bibirnya bergerak di dekat telinganya. "Semua yang tidak kau dapatkan." --- Arick tidak menunggu jawaban. Ia menekan tubuhnya lebih rapat, memangkas jarak hingga tak ada celah. Bibirnya kembali menemukan leher Helena, kini lebih agresif. Ia menyesap kulitnya, menghisapnya, meninggalkan jejak basah dan hangat. Lidahnya bermain-main di sana, menjilat perlahan, lalu menghisapnya lagi. "Ngh..." Helena mendesah keras. Seluruh tubuhnya menegang, punggungnya melengkung ke belakang. Sensasi ini membanjiri otaknya, menghapus segala pikiran logis. Hanya ada kenikmatan murni. Hanya ada sentuhan ini. Tangan Arick bergerak cepat. Satu tangannya menopang punggung Helena, menahannya agar tetap rapat dengannya. Tangan yang lain meluncur ke bawah, membelai pinggangnya, lalu menekan kuat. Helena merasakan ototnya menegang, pinggulnya bergerak sendiri, mencoba mencari gesekan lebih. Arick terus bekerja di lehernya. Ciumannya turun, melewati garis rahang, menyusuri lekuk bahu. Setiap jengkal kulit yang disentuh lidah dan bibirnya terasa terbakar. Ia bisa merasakan napas Arick memburu di dekat telinganya, deru napasnya sendiri tak kalah kencang. "Kau wangi sekali, Bu," Arick bergumam, suaranya semakin serak. Ia menggigit lembut kulit di dekat tulang selangka Helena, sensasi yang tajam dan manis secara bersamaan. Helena menjerit tertahan. Tangannya mencengkeram rambut Arick, menariknya, mengencangkan genggamannya. Gerakan lidah Arick semakin berani, berputar-putar di sekitar klavikula Helena, lalu menyapu ke bawah, mendekati area di atas bra. Helena merasa panas. Darah berdesir di telinganya. Dia tidak peduli lagi siapa yang bisa mendengar. Dia hanya ingin ini terus berlanjut. "Lebih..." bisiknya, entah pada siapa. Suaranya pecah, hampir tak terdengar. Tapi Arick mendengarnya. Ia selalu mendengarnya. Arick menarik blus Helena sepenuhnya. Blus sutra yang tersisa di bahunya kini benar-benar terlepas, jatuh lagi ke lantai dengan desiran pelan. Bra brokat hitamnya kini terekspos penuh. Helena merasakan semburan udara dingin menyentuh kulit dadanya, lalu langsung digantikan oleh panasnya tubuh Arick. Arick mengangkat kepalanya sejenak, menatap mata Helena. Tatapannya penuh gairah, liar, tapi juga ada kekaguman di sana. "Indah," bisiknya. Jari-jarinya membelai lembut tepi atas bra, lalu menyusuri lekuk dadanya yang membusung. Bibir Arick kembali menempel. Kali ini, ia tidak lagi fokus pada leher. Ciumannya turun, melewati tulang selangka, menuju ke puncak dadanya. Ia mencium lembut kulit di atas bra, menyesapnya, lalu menghirup dalam. Helena merasakan dadanya berdenyut-denyut. "Ssshh... manis sekali," Arick berbisik, bibirnya masih menempel di kulit Helena. Lidahnya bermain-main di sana, membasahi area di atas bra, seolah ingin mencicipi lebih. Helena merasakan sensasi basah dan hangat itu menjalar, membakar tubuhnya. Napas Arick semakin berat. Ia menekan tubuh Helena lebih dalam ke arahnya. Pinggul mereka bergesekan pelan. Helena merasakan tonjolan keras di selangkangan Arick, menekan roknya. Sensasi itu mengirimkan gelombang kenikmatan yang mendalam, mengingatkan tujuan utama mereka di sini. Helena merasakan dadanya berdebar kencang, sebuah kombinasi antara rasa takut dan ekstasi yang luar biasa. Ketakutan akan konsekuensi, ketakutan akan ketahuan. Tapi ekstasi yang jauh lebih besar, ekstasi dari sentuhan yang sudah lama ia rindukan, sentuhan yang kini menghidupkan kembali setiap sel dalam dirinya. Ia ingin mendorong Arick menjauh, tapi tangannya yang mencengkeram rambut Arick justru menariknya lebih dekat. Keinginan itu mengalahkan segalanya. Ia ingin tenggelam dalam lautan gairah ini, melupakan semua batasan, semua aturan. Arick mendongak lagi, wajahnya kini sangat dekat. Matanya berkilat-kilat. "Dadamu berdebar," bisiknya, suaranya penuh kemenangan. Ia tahu dia telah berhasil. Ia tahu Helena menginginkannya sama seperti dia menginginkannya. --- Debaran di dada Helena semakin menjadi-jadi, berdentum keras di telinganya. Bukan hanya karena gairah, tapi juga karena rasa malu yang meluap. Bagaimana bisa ia begitu pasrah? Bagaimana bisa ia membiarkan seorang pemuda semuda Arick menguasai dirinya sedemikian rupa? Tapi pada saat yang sama, rasa malu itu terasa menyenangkan, bagian dari sensasi terlarang yang memabukkan. Arick tersenyum tipis, membaca semua gejolak di mata Helena. Jemarinya yang tadi membelai kini meluncur ke bawah, meraih tali bra Helena. Tanpa ragu, ia menariknya perlahan. Tali itu melorot, membebaskan sebagian payudara Helena dari ikatan. "Ah..." Desahan panjang lolos dari bibir Helena. Jantungnya serasa melompat keluar. Matanya terpejam rapat. Ia merasakan kulitnya meremang. Udara dingin menyentuh puncak dadanya, lalu dengan cepat digantikan oleh panas napas Arick yang memburu. Arick menggeser tubuhnya sedikit lagi, memastikan ia bisa melihat dengan jelas. Matanya terpaku pada payudara Helena yang sebagian mulai terlihat. Ia tidak terburu-buru. Ia menikmati setiap detik, setiap tarikan napas Helena yang tersendat. "Bu Helena punya harta karun yang indah," bisiknya, suaranya kini terdengar berat, penuh hasrat. Bibirnya kembali turun, kini lebih rendah. Ia mencium lembut tepi atas bra, lalu menggeser kainnya sedikit demi sedikit dengan hidungnya, membuka lebih banyak area kulit. Helena merasakan tubuhnya gemetar hebat. Sebuah getaran halus dimulai di paha bagian dalamnya, menjalar ke seluruh tubuh. Ia merasa seluruh pertahanannya runtuh, hancur berkeping-keping di bawah tatapan dan sentuhan Arick. Arick tidak lagi menahan diri. Dengan satu gerakan cepat, ia menarik tali bra Helena yang lain, membebaskan seluruh payudaranya dari kungkungan kain. Bra brokat hitam itu kini hanya menutupi bagian bawahnya, sementara puncak payudaranya terekspos sepenuhnya. "Ngh... Arick..." Helena memanggil namanya, lebih seperti sebuah permohonan daripada teguran. Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Tangannya yang masih di rambut Arick kini meremas lebih kuat, menariknya lebih dekat, seolah ingin menyatukan tubuh mereka. Arick mencondongkan tubuh lebih jauh. Bibirnya menyapu leher Helena, turun ke tulang selangka, lalu ke puncak payudaranya yang kini telanjang. Ia menciumnya perlahan, merasakan kehangatan kulitnya, mencicipi aroma alaminya. Lidahnya bermain di sana, menyapu, menjilat, dan menghisap lembut. "Aah--!" Seruan tertahan lolos dari bibir Helena. Kepalanya mendongak, punggungnya melengkung dalam. Sensasi ini terlalu kuat, terlalu memabukkan. Ia bisa merasakan putingnya menegang, merespons setiap sentuhan basah dan hangat dari Arick. Arick mengulum putingnya, menyesapnya perlahan. Gerakan ritmis itu mengirimkan gelombang kenikmatan yang tak terlukiskan. Helena menggigit bibir bawahnya, menahan desahan yang lebih keras. Kakinya gemetar, seolah tak mampu menopang bobot tubuhnya sendiri. Napas Arick terdengar berat di atas kulitnya. Ia mengangkat kepala, menatap Helena dengan mata penuh gairah. "Bu Helena cantik sekali."

End of Chapter 18

Chapter 18: Chapter 18: Ciuman Terlarang, Dada Berdebar - SELINGKUH: Selingan Indah Keluarga Utuh | Novel AI Studio