Chapter 17 of 30
Bahu Mulus, Kecupan Panas
1.4k words
Arick menarik blus Helena ke bawah, kain lembut itu meluncur di kulitnya. Bahu putihnya kini telanjang, memantulkan cahaya remang kamar tamu. Arick menatap area itu, pandangannya membakar, membuat Helena merinding. Sebuah tarikan napas berat keluar dari Arick, mengisi keheningan yang tegang. Jemarinya yang panjang menyentuh pelan kulit bahu Helena, sebuah sentuhan ringan yang seperti percikan api. Kulit Helena langsung bereaksi, meremang halus, seakan dialiri listrik. Matanya terpejam sesaat, merasakan sensasi asing namun memabukkan itu.
"Mulus sekali," bisik Arick, suaranya serak dan dalam. Ibu jarinya membelai area itu, menyapu perlahan dari puncak bahu menuju pangkal leher Helena. Helena menahan napas. Sensasi itu menguasai seluruh indranya, mengunci fokusnya pada titik kontak kulit mereka. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya dengan irama liar. Ini adalah hal yang sudah lama tak ia rasakan, sentuhan yang penuh gairah, bukan sekadar kebiasaan.
Arick mendekat, napas hangatnya menerpa daun telinga Helena. Aroma maskulin tubuh Arick, campuran parfum tipis dan keringat samar, membanjiri hidung Helena. Bau itu memabukkan, mengingatkannya pada mimpi semalam, pada sentuhan yang nyaris nyata. Helena merasa kepalanya pening, bukan karena mabuk, tapi karena ledakan sensasi yang menyerbu. Bibirnya sedikit terbuka, mencari udara seolah oksigen di ruangan itu menipis tiba-tiba.
Kemudian, bibir Arick menyentuh bahu Helena. Sebuah kecupan lembut, seperti kupu-kupu yang hinggap. Sensasi itu menyengat, menjalar dari titik sentuhan menyebar ke seluruh tubuhnya. Helena merasakan gelombang panas membakar, dimulai dari bahunya, kemudian naik ke lehernya, lalu menuruni tulang punggungnya. Otot-ototnya menegang tanpa sadar. Ini adalah api yang telah lama padam dalam dirinya, kini dinyalakan kembali oleh seorang pemuda yang baru ditemuinya.
Arick mengecup lagi, lebih dalam, lebih lama. Lidahnya menyapu sedikit kulit basah dari ciumannya. Sebuah erangan tertahan lolos dari bibir Helena. Tangannya terangkat, gemetar, mencengkeram lengan Arick yang kekar. Cengkeraman itu refleks, sebuah respons tak sadar dari tubuh yang merindukan, tubuh yang kini sepenuhnya menyerah pada sensasi. Ia menginginkan lebih. Ia menginginkan Arick membakar seluruh tubuhnya. Desiran darah di telinganya begitu kencang, menenggelamkan suara lain.
Kecupan itu meluncur turun, menuruni garis bahunya yang ramping. Bibir Arick bergerak perlahan, sangat perlahan, seolah ingin menikmati setiap inci kulit Helena. Gigi-giginya sesekali menyentuh kulitnya, bukan menggigit, hanya menekan lembut, menambah gejolak di perut Helena. Perutnya terasa melilit, sebuah rasa sakit yang aneh, namun menyenangkan. Helena memejamkan mata, membiarkan Arick membimbingnya dalam tarian sentuhan ini. Pikirannya kosong, hanya ada sensasi. Hanya ada Arick. Hanya ada api.
Arick terus bergerak, bibirnya menjejakkan jejak basah di kulit Helena. Ia mencium tulang selangka, kemudian sedikit ke dada atas, sangat dekat dengan belahan yang masih tersembunyi. Helena merasa napasnya tersendat. Ia tahu apa yang Arick lakukan, dan ia menyukainya. Ia sangat menyukainya. Tangan Arick kini berpindah, menyelipkan jemarinya di bawah tali blus yang tersisa, menariknya sedikit ke samping, membuka lebih banyak akses.
Gerakannya begitu halus, namun penuh maksud. Setiap sentuhan memicu reaksi yang lebih kuat. Helena menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan desahan yang ingin meluncur keluar. Namun, tubuhnya mengkhianati. Sebuah suara tercekat keluar dari tenggorokannya, setengah erangan, setengah tarikan napas yang dalam. Arick tersenyum tipis di bahunya, sebuah senyuman yang Helena rasakan, bukan lihat. Ia tahu Arick menikmati setiap reaksinya.
---
Kecupan Arick semakin intens, lidahnya menjilat ringan kulit leher Helena yang sensitif. Sensasi itu meresap, membuat Helena mendongak, kepalanya terlempar ke belakang, matanya terpejam erat. Sebuah desahan keras keluar dari bibirnya, tak lagi bisa ditahan. Ia merasakan denyut nadi di lehernya sendiri berdetak kencang, seolah ingin meledak di bawah sentuhan Arick. Hangat napas Arick di kulitnya, basah lidahnya, dan lembut bibirnya, semuanya menciptakan badai kenikmatan yang belum pernah ia alami.
Arick terus mengecup, menelusuri setiap lekuk lehernya. Dari belakang telinga, turun ke rahang, lalu kembali ke area cekungan leher. Setiap kecupan adalah janji, setiap sentuhan adalah undangan. Helena merasa kakinya lemas, tubuhnya mulai bergetar pelan. Ia bersandar sepenuhnya pada Arick, membiarkan pemuda itu menopang bobotnya. Ini bukan lagi sekadar godaan, ini adalah penyerahan diri total pada hasrat yang membara.
"Ssshh..." Arick berbisik pelan, suaranya bergetar. Jemarinya yang bebas bergerak naik, membelai rambut Helena, menariknya sedikit ke samping agar ia bisa memiliki akses penuh ke leher jenjang itu. Helena merasakan rambutnya ditarik pelan, sebuah sensasi minor yang justru menambah gairah. Ia mendesah lagi, lebih dalam, lebih lepas. Pikirannya dipenuhi kabut, hanya menyisakan gambaran Arick, sentuhannya, dan janji kenikmatan.
Ia menginginkan Arick melepas semua pakaiannya. Pikiran itu muncul begitu saja, jelas dan tak terbantahkan, membanjiri benaknya. Bukan hanya blus ini, tapi semuanya. Ia ingin merasakan kulit Arick menempel langsung pada kulitnya, tanpa penghalang. Ia ingin dibakar habis-habisan oleh sentuhan pemuda itu. Keinginan itu begitu kuat, begitu murni, hingga membuatnya tercengang pada dirinya sendiri. Betapa jauhnya ia telah melangkah, hanya dalam waktu singkat.
Arick merasakan respons tubuh Helena. Sebuah senyuman puas tersungging di bibirnya. Ia tahu persis apa yang Helena rasakan, apa yang diinginkan wanita itu. Ia adalah maestro dari perasaan ini, dan Helena adalah orkestranya yang merespons setiap nada. Lidahnya membasahi titik-titik sensitif di leher Helena, menghisap pelan, kemudian melepaskannya dengan bunyi 'plup' yang basah. Helena terlonjak, tarikan napasnya menjadi cepat, terengah-engah.
"Kau sangat cantik, Nyonya Helena," bisik Arick di dekat telinganya, suaranya dipenuhi kekaguman yang tulus. "Dan kau sangat... manis." Jemarinya kini menyentuh ujung kancing rok Helena, sebuah isyarat yang jelas. Helena merasakan panas menjalar ke area bawah perutnya, sebuah sensasi yang membakar lebih dalam, lebih intens. Ini adalah titik tanpa kembali. Ia sudah melewati batas, dan ia tidak ingin kembali.
"Arick..." desahnya, nama pemuda itu keluar dari bibirnya seperti permohonan, seperti doa. Ia memutar kepalanya, mencoba mencari bibir Arick, ingin menciumnya, merasakan sensasi bibir penuh itu pada bibirnya sendiri. Namun Arick tidak memberinya akses. Ia terus menempelkan bibirnya di leher Helena, menghisap, menjilat, mengecup, seolah area itu adalah satu-satunya tujuan. Helena merasa frustrasi, namun di saat yang sama, ia juga sangat menikmati penyiksaan manis ini.
Tangannya yang mencengkeram lengan Arick kini bergerak, naik ke bahu pemuda itu, lalu ke tengkuk. Jari-jarinya menyusup ke rambut Arick yang lembut, menariknya pelan. Sebuah tarikan halus, namun cukup untuk menunjukkan betapa ia menginginkan Arick. Arick menggeram pelan, suara itu bergetar di tenggorokannya, membuat dada Helena ikut bergetar. Ia bisa merasakan otot-otot di bahu Arick menegang, sebuah tanda bahwa pemuda itu juga sedang menahan diri.
---
Arick menggeser tubuhnya sedikit, memposisikan dirinya di belakang Helena. Pinggulnya menempel pada punggung Helena, dan Helena bisa merasakan kekerasan di antara kedua paha Arick yang menekan dirinya. Sensasi itu mengalirkan getaran baru ke seluruh tubuhnya. Ia menelan ludah, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Napas Arick menjadi lebih berat, lebih cepat, menyapu leher Helena dengan intensitas yang meningkat.
"Kau gemetar, Nyonya," bisik Arick, suaranya parau dan nakal. Jemarinya kini menyelip ke bagian depan, menyentuh tepi kain blus yang sudah melorot, bermain-main dengan kain itu. Helena menunduk, matanya terpejam rapat. Ia tidak bisa menyembunyikan respons tubuhnya. Getaran itu nyata, tak terkendali. Ia merasa malu, namun di saat yang sama, ia juga merasa sangat bergairah. Ini adalah permainan yang Arick kuasai dengan sempurna.
Arick menarik blusnya lebih jauh ke bawah, hingga kain itu hanya menutupi sebagian kecil dadanya. Punggung Helena kini sepenuhnya terbuka. Bibir Arick kembali menempel, kali ini di punggungnya, mencium tulang punggungnya satu per satu, perlahan-lahan menuruni ke bawah. Sensasi itu seperti tetesan api yang membakar setiap inci kulitnya. Helena mengerang, suara itu kini lebih seperti rintihan, penuh hasrat dan kepasrahan.
"Bagaimana rasanya, hmm?" bisik Arick, suaranya terdengar begitu dekat di telinganya. "Apakah Nyonya menyukai sentuhan dari pelayan kecil ini?" Ada nada menggoda dalam suaranya, sebuah tantangan yang Helena tidak bisa tolak. Tangannya yang masih di rambut Arick menariknya lebih kencang, sebuah respons tanpa kata. Ini adalah caranya mengatakan 'iya'. Ini adalah caranya mengatakan 'lebih'.
Arick tersenyum, merasakan tarikan di rambutnya. Ia tahu ia telah memenangkan permainan ini. Ia tahu Helena sudah sepenuhnya berada dalam genggamannya. Lidahnya menjilat cuping telinga Helena, lalu menghisapnya pelan. Sensasi itu begitu mengejutkan, begitu intens, membuat Helena terkesiap. Sebuah gelombang panas meledak di tubuhnya, membuat kepalanya pening, kakinya benar-benar lemas. Ia merasa seperti akan jatuh jika Arick melepaskannya.
"Nyonya benar-benar haus, ya?" bisik Arick lagi, bibirnya menempel di daun telinga Helena. Kata-kata itu begitu vulgar, begitu berani, namun di saat yang sama, begitu jujur. Helena tidak bisa membantah. Ia memang haus, sangat haus. Haus akan sentuhan, haus akan gairah, haus akan pengakuan bahwa ia adalah wanita yang diinginkan, bukan sekadar ibu atau istri. Mata Arick terbuka, menatap punggung Helena, tangannya kini melingkari pinggangnya.
Arick menggigit pelan cuping telinga Helena, bisikannya membuat Helena gemetar hebat.