Chapter 19 of 30

Sentuhan Halus, Jantung Berpacu

1.3k words

Jari-jari Arick menyentuh tali bra brokat hitamku. Sentuhannya sangat pelan, nyaris tak terasa, hanya berupa desiran ringan di kulit punggungku. Aku menahan napas, seluruh indraku terfokus pada titik kontak kecil itu. Ada sensasi panas yang menjalar perlahan, dari punggungku, melingkari tulang rusuk, hingga memenuhi dadaku. Jemari Arick terasa seperti bulu-bulu halus yang bergerak di atas kulitku, menelusuri tepi kain renda yang memeluk tubuhku. Gerakannya begitu hati-hati, seperti ia sedang memegang benda paling rapuh di dunia. Mataku terpejam rapat. Aku merasakan napas Arick di dekat telingaku, hangat dan memburu. Aroma maskulinnya, perpaduan mint dan musk, menyelimuti. Itu adalah wangi yang sama dengan yang menghantui mimpiku, yang kini menjadi nyata, mengikatku dalam pusaran gairah yang tidak terucapkan. Tangannya tidak langsung bergerak untuk melepaskan pengaitnya, melainkan bermain-main, mengusap lembut area di bawah tali, seolah ia ingin memastikan aku sepenuhnya siap, seolah ia mengizinkan ketegangan ini memuncak perlahan. Desah tertahan lolos dari bibirku. Aku tidak bisa mengendalikannya. Tubuhku sudah merespons jauh sebelum pikiranku bisa memerintah. Jemarinya terus menyusuri tali bra, naik turun, dari bahu hingga ke pengait yang tersembunyi. Setiap gerakan lambat itu adalah siksaan sekaligus kenikmatan. Aku merasakan otot-otot di perutku menegang, paha bagian dalamku bergesekan perlahan. Udara di sekitarku terasa menebal, membebani setiap tarikan napas. Arick mendekatkan bibirnya ke telingaku, bisikannya serak. “Kau suka ini, Helena?” Aku tidak menjawab. Hanya erangan pelan yang keluar, suara yang tidak kukenali sebagai suaraku sendiri. Aku hanya mengangguk kecil, terlalu takut untuk membuka mata, terlalu takut untuk memecah mantra yang telah ia ciptakan. Aku bisa merasakan senyum tipis di bibirnya, menempel di daun telingaku. Itu senyum kemenangan, senyum seorang pemuda yang tahu persis bagaimana memimpin tarian ini. Ujung jari Arick kini berdiam tepat di pengait braku. Aku bisa merasakan ujung kuku panjangnya yang menyentuh kulitku. Jantungku berdebar tak karuan, iramanya menghentak di telingaku, seolah ingin melompat keluar dari dadaku. Sensasi ini terlalu intens, terlalu nyata, terlalu berbeda dari apa pun yang pernah kurasakan. Rasanya seperti melangkah ke tepi jurang, tanpa jaring pengaman, namun anehnya, aku tidak ingin mundur. Aku ingin melompat. Aku ingin merasakan jatuh bebas. Aku ingin ia melepaskan pengait itu. Keinginan itu membakar dalam diriku, lebih kuat dari rasa takut atau rasa bersalah apa pun. Aku merasakan jari Arick bergerak, sangat, sangat perlahan. Jempol dan telunjuknya mulai mencari celah, merasakan mekanisme pengait kecil itu di antara kain brokat dan kulitku yang memanas. Ia tidak terburu-buru, setiap detiknya diperpanjang, setiap milimeternya disengaja. Napasnya menderu hangat di leherku, menimbulkan bulu kuduk meremang. Aku menggigit bibir bawahku, merasakan sedikit perih. Aku mencoba menahan diri, mencoba menekan desahan yang siap meluncur. Tubuhku bergetar halus. Aku bisa merasakan setiap serat ototku menegang, menanti momen pelepasan. Pengait itu terasa begitu dekat, dan sekaligus begitu jauh. Arick sengaja bermain-main, sengaja membangun ketegangan yang nyaris tak tertahankan ini. “Ssshh… sabar, sayang,” bisiknya lagi, suaranya seperti belati panas yang menembus pertahananku. Kata ‘sayang’ itu. Kata itu terasa asing, namun sekaligus menghangatkan, membakar. Aku belum pernah mendengarnya dari orang lain selain suamiku, dan dari Arick, kata itu terasa begitu intim, begitu pribadi. Aku merasakan tubuhku condong ke belakang, bersandar padanya, mencari topangan. Kakiku terasa lemas, tidak mampu menopang berat badanku sendiri. --- Aku menahan napas, menanti Arick melepasnya. Seluruh tubuhku menegang, menanti momen kunci itu. Aku bisa merasakan setiap sentuhan kecil, setiap tekanan lembut jemarinya di pengait bra. Rasanya seperti menunggu ledakan yang tak terhindarkan. Sensasi gemetar halus menjalari seluruh tubuhku, dari ujung kaki hingga ujung rambut. Otot-otot di punggungku menegang, bahuku tertarik ke belakang, dadaku membusung, seolah secara otomatis mempersembahkan diri padanya. Arick mengusap punggungku lagi, tepat di bawah garis branya, sentuhannya bagai bara api yang membakar. Ia seolah ingin membuatku gila dengan antisipasi ini. Aku merasakan jantungku berpacu lebih cepat, iramanya seperti drum yang dipukul bertubi-tubi di dalam rongga dadaku. Sebuah momen yang terasa seperti melompat dari tebing tanpa jaring pengaman. Namun, aku menikmati setiap detiknya, setiap denyut gairah yang memenuhi nadiku. Leherku mendongak, kepalaku jatuh ke belakang, bersandar nyaman di bahu kekar Arick. Mataku masih terpejam, menikmati kegelapan yang diisi oleh sensasi. Ia mencium ringan leherku, lalu menjilatnya perlahan. Lidahnya yang hangat menimbulkan gelombang kejutan di kulitku yang sensitif. Aku merinding, bulu-buluku berdiri tegak. Desahan panjang tak tertahankan keluar dari bibirku, suaraku terdengar parau dan penuh keinginan. “Aah….” Arick mendengus geli. “Kau sangat cantik, Helena. Terutama saat ini.” Pujiannya, yang diucapkan dengan suara rendah, menggetarkan seluruh diriku. Aku merasa terekspos, namun juga dipuja. Perasaan ini begitu asing, begitu mendalam. Dia melihatku, sungguh-sungguh melihatku, bukan hanya sebagai seorang istri atau ibu. Dia melihat wanita di balik semua peran itu, wanita yang merindukan sentuhan dan gairah yang telah lama mati. Jari-jarinya masih sibuk di pengait. Aku bisa merasakan sedikit gesekan, tanda ia sedang berusaha melepaskannya. Rasanya seperti setiap detik direntangkan menjadi menit, setiap menit menjadi jam. Aku ingin berbalik, meraih tangannya, dan memaksanya mempercepat. Tapi ada bagian dari diriku yang menikmati penyiksaan manis ini, menikmati kontrol penuh yang ia miliki atas diriku. Aku bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di antara payudaraku. Udara di kamar ini terasa tipis, membebani paru-paruku. Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri, namun setiap tarikan napas hanya membawa aroma Arick lebih dalam ke paru-paruku, memicu gairah yang lebih besar. Pinggulku bergerak kecil, tanpa sadar, menekan pantatku ke arah selangkangannya yang keras. Aku ingin lebih, ingin merasakan seluruh tubuhnya. Arick mengerti isyaratku. Ia menggerakkan pinggulnya, menekan balik, membuatku merasakan tonjolan keras miliknya melalui kain celana. “Nghh…,” desahku, lebih dari sekadar desahan, itu adalah erangan putus asa. Tubuhku merespons dengan sendirinya, mendamba kontak yang lebih intim. Perasaan ini, kombinasi antara gairah fisik yang tak tertahankan dan pengakuan emosional, sungguh memabukkan. --- Tali bra Helena terlepas. Sebuah bunyi klik lembut, nyaris tak terdengar, memecah kesunyian di antara kami. Seketika, aku merasakan sensasi kebebasan yang memabukkan sekaligus menakutkan. Beban yang selama ini menekan dadaku terasa terangkat. Bahuku terasa ringan. Aku membuka mata, terkejut melihat Arick sedang menatapku, matanya berkilat penuh hasrat. Dia telah berhasil. Dia telah melepas salah satu benteng terakhirku. Arick tidak langsung melepaskan branya. Ia membiarkan tali yang sudah longgar itu menggantung di bahuku, membiarkan kain brokat itu masih menutupi payudaraku. Namun, ia menyentuh tepi atas branya, jari-jarinya menyapu lembut kulit di atas lekukan dadaku. Sentuhannya ringan, namun membakar, mengirimkan gelombang panas ke seluruh payudaraku. Aku merasakan putingku mengeras, menegang di balik kain tipis itu, menuntut lebih. Arick memiringkan kepalanya, senyumnya melengkung nakal. “Sudah tidak sabar, Nyonya?” Aku tidak bisa menjawab, hanya gelengan kepala kecil yang kupaksakan. Rasanya aneh. Ada perasaan malu yang menyengat, namun juga kelegaan yang luar biasa. Seperti ada sesuatu yang telah kutahan selama bertahun-tahun, kini akhirnya menemukan jalan keluar. Aku merasakan hawa dingin yang menerpa kulit di punggungku yang terbuka, namun itu segera digantikan oleh kehangatan dari tubuh Arick yang menempel erat di belakangku. Dengan gerakan yang sangat perlahan, Arick menarik tali bra dari bahu kiriku. Kain brokat itu melorot, sedikit demi sedikit, menampakkan bahuku yang mulus. Ia menjilat bahu itu, bibirnya yang hangat dan basah meninggalkan jejak yang membakar. Aku terkesiap, “A-Arick….” Suaraku tertahan, serak, seperti aku baru saja berlari maraton. Arick tidak peduli. Ia terus menarik tali yang lain, dari bahu kananku. Gerakannya disengaja, ia ingin aku merasakan setiap milimeter kain yang menjauh dari kulitku. Setiap tarikan kecil itu adalah pengakuan, bahwa aku menyerah, bahwa aku membiarkannya mengambil alih. Aku menikmati setiap detik penyerahan diri ini. Kain bra itu akhirnya melorot hingga ke pinggangku, menutupi sebagian kecil celana dalamnya. Payudaraku terasa begitu bebas, namun masih tertutup oleh kain brokat hitam yang melingkar di perutku. Aku merasakan sentuhan udara pada kulit dadaku yang sensitif, sensasi yang memabukkan dan sedikit menggelitik. Arick tidak buru-buru menyingkirkan kain itu. Ia membiarkannya sebentar, menikmati pemandangan, menikmati ketegangan yang masih tersisa. Ia membiarkan pandangannya menelusuri lekuk tubuhku, dari bahu hingga pinggang. Kemudian, dengan kedua tangannya, ia meraih kedua tali bra yang kini melingkar di pinggangku. Tatapannya kembali ke mataku, intens dan penuh gairah. Tali bra Helena terlepas sepenuhnya, Arick menariknya perlahan hingga seluruh branya melorot.

End of Chapter 19