Chapter 16 of 30

Chapter 16: Kancing Terlepas, Kulit Terbuka

1.3k words

Udara di antara kami terasa tebal, dipenuhi gairah yang berdenyut. Arick mengunci pintu kamar dengan suara "klik" pelan, sebuah isyarat final yang mengikat takdir. Langkahnya santai, namun matanya menatapku lekat, penuh intensitas. Aku terpaku pada dinding, punggungku terasa dingin, tapi seluruh tubuhku memanas di bawah tatapannya. Aroma maskulinnya, perpaduan mint dan musk, menyelimuti indraku, melumpuhkan segala perlawanan yang tersisa. Aku menelan ludah, tenggorokanku mendadak kering. Arick mendekat, langkahnya seperti predator yang yakin akan mangsanya. Ujung jemarinya menyentuh kerah blusku, bergerak perlahan, seolah setiap sentuhan adalah janji. Matanya masih mengunci mataku, seolah mencari izin, atau mungkin hanya ingin melihat pantulan gairah di sana. Jantungku berdebar kencang, memukul rusukku seperti genderang perang. Aku tahu ini akan terjadi, aku menginginkannya, namun ketegangan ini sungguh memabukkan. "Kau cantik sekali, Helena," bisiknya, suaranya serak dan rendah, menggetarkan saraf-saraf di telingaku. Nafasnya hangat, menerpa kulit leherku yang kini merinding. Jemari panjangnya mulai bekerja, dengan kehati-hatian yang membuatku merasa sangat rentan. Kancing pertama terlepas, bunyi "klep" kecilnya terdengar sangat jelas di kesunyian kamar. Angin dingin dari AC terasa di kulit leherku yang terbuka, namun tubuhku malah semakin membara. Kancing kedua, lalu ketiga, Arick melakukannya dengan irama yang disengaja. Gerakannya presisi, lembut, namun penuh maksud. Setiap kancing yang lepas seperti membuka satu lapis lagi dari pertahananku, dari diriku yang selama ini tersembunyi. Aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari matanya, sepasang mata yang kini tampak lebih gelap, lebih dalam, memancarkan hasrat yang sama ganasnya dengan yang kurasakan. "Apakah ini nyata?" bisikku, suaraku nyaris tidak terdengar, pertanyaan itu lebih untuk diriku sendiri. Jemari Arick terus bergerak, melepaskan kancing keempat. Blusku mulai terasa longgar, memberikan ruang bagi udara dan sentuhan untuk merayap masuk. Aku bisa merasakan ujung jemarinya menyapu kulit halus di antara kancing, meninggalkan jejak panas yang merambat. Dia tersenyum tipis, senyum yang mematikan. "Sangat nyata, Helena. Kau dan aku, di sini, sekarang." Arick menarik napas panjang, dadanya membusung, lalu menghembuskannya perlahan, menempelkan dahinya ke dahiku. Hembusan napasnya yang panas menggelitik kulitku, membuatku memejamkan mata sesaat. Rasanya seperti mimpi, mimpi yang terlalu indah untuk kupercayai. Mataku terbuka lagi, menatapnya, mencari kebohongan. Tapi yang kudapati hanyalah kejujuran gairah. Kancing kelima terlepas, lalu keenam. Jemarinya yang cekatan menyapu sisi blusku yang kini terbuka lebar, seolah mengukir jalan di kulitku. Aku merasakan dorongan kuat untuk meraih tangannya, untuk menghentikan atau mempercepat. Tapi tubuhku membeku, menikmati setiap detik penyiksaan manis ini. Bibirku sedikit terbuka, napas mulai memburu. Aku menginginkan lebih, lebih dari sekadar sentuhan ini. "Kau tahu apa yang aku inginkan, kan?" bisiknya lagi, suaranya terdengar berat, penuh godaan. Jemarinya menyentuh kulit dadaku yang kini terekspos, bergerak melingkar di area sensitif, nyaris menyentuh lekuk payudaraku. Sebuah erangan tertahan keluar dari bibirku, tanpa sadar. Sensasi listrik menjalar, membuat otot-otot di perutku menegang. Aku tidak bisa bicara, hanya bisa merespons dengan bahasa tubuh yang jujur. Arick menggeser tubuhnya sedikit, membiarkan blusku semakin terbuka di bagian depan. Matanya menelusuri leherku, turun ke area bahu, dan berhenti sejenak di puncak dadaku. Aku merasakan pipiku memerah, panas menjalar hingga ke telinga. Perasaan telanjang ini begitu kuat, begitu membebaskan. Aku merasa setiap lapisan kepura-puraan terkelupas satu per satu, meninggalkan Helena yang murni, Helena yang penuh hasrat, Helena yang sudah lama terkubur. --- Aku menutup mataku sejenak, membiarkan sensasi kancing yang lepas satu per satu meresap ke dalam kulitku. Sentuhan Arick begitu lembut, namun penuh kekuatan yang tak terbantahkan. Jemarinya seperti penari lincah di atas kain, melepas setiap pengikat dengan irama yang melenakan. Setiap kali satu kancing terbuka, aku merasakan embusan udara AC menyentuh kulitku yang kini semakin peka, diikuti oleh panasnya jemari Arick yang mengusap. Sensasi itu, perpaduan dingin dan panas, membuat bulu romaku berdiri. Napas Arick terasa berat di puncak kepalaku, rambutku seolah bisa merasakan embusan hangatnya. Aku bisa mencium aroma maskulinnya yang kini semakin kuat, bercampur dengan wangi mawar merah yang ia bawa. Perpaduan itu memabukkan, membuat kepalaku pening dan pikiranku melayang. Kancing terakhir terlepas, dan blusku kini sepenuhnya terbuka di bagian depan. Aku merasakan tarikan lembut pada bahuku, Arick mulai mendorong kain itu ke belakang. "Lihat aku, Helena," bisiknya lagi, suaranya kini lebih mendesak, lebih dalam. Aku membuka mataku perlahan, menatapnya. Matanya memancarkan nyala api, seolah dia ingin membakarku dengan tatapannya. Tangannya menyelinap masuk ke dalam blus, menyentuh punggungku. Kulitku meremang hebat, merasakan kehangatan telapak tangannya yang besar dan kuat. Jemarinya merayap naik, menyentuh area bahu, lalu turun perlahan ke tengah punggung. Aku melengkungkan punggungku sedikit, merespons sentuhan yang memicu gelombang gairah di sekujur tubuh. "Kau gemetar," Arick berbisik, senyumnya kini lebih lebar, menunjukkan kepuasan. "Ini baru permulaan." Dia menarik blusku perlahan ke samping, membiarkan kain itu melorot dari bahu kiriku. Udara dingin menyentuh kulit bahuku yang mulus, namun panas dari tubuhku sendiri sudah cukup untuk menghangatkan. Aku merasakan detak jantungku berpacu, menggedor-gedor di dada, di leher, bahkan di ujung jari-jariku. Telapak tangannya yang besar kini mengusap lembut tulang selangkaku yang terekspos, gerakannya naik turun, membelai. Sensasi itu sungguh luar biasa, membuatku nyaris terhuyung. Aku mencengkeram erat lengan Arick, mencari tumpuan. Bibirku sedikit terbuka, napas terengah. Aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri, seolah ingin melompat keluar dari dadaku. Arick menunduk, bibirnya mendekati telingaku. "Kau menginginkannya, bukan?" bisiknya, lalu menjilat daun telingaku. Ssshh... sensasi panas menjalar ke seluruh tubuhku. Aku menggeleng lemah, lalu mengangguk, tidak yakin lagi mana yang benar. Aku ingin, sangat ingin, namun ada secuil rasa takut yang tersisa, rasa takut akan kehancuran yang tak terhindarkan. Tapi gairah itu terlalu kuat untuk dilawan. Arick terkekeh pelan, tawa yang dalam, seksi. "Jangan khawatir, Helena. Aku akan memberimu semua yang kau inginkan. Semua yang kau butuhkan." Jemarinya kini menyelinap di bawah tali bra-ku, menyentuh kulitku yang basah oleh keringat halus. Aku merasakan gejolak aneh di perutku, seperti kupu-kupu yang berterbangan liar. Aku mengangkat tanganku, memeluk leher Arick, menariknya lebih dekat, ingin merasakan bibirnya di bibirku. Ingin menenggelamkan diri dalam semua ini. --- Blusku kini terbuka sepenuhnya, menggantung longgar di lenganku. Aku bisa merasakan kulit bahuku yang memerah karena gairah, terekspos penuh di bawah tatapan Arick. Bibirnya sedikit terpisah, matanya menelusuri setiap inci kulitku yang kini terbuka. Aku merasa begitu telanjang, begitu rentan, namun pada saat yang sama, ada kekuatan aneh yang membakar di dalam diriku. Gairah ini, seperti api liar, melahap habis semua keraguanku. Aku mendambakan setiap sentuhannya, setiap pandangannya. Arick mengangkat tangannya, jemarinya yang hangat menyentuh bahu kananku. Gerakannya sangat perlahan, seolah dia sedang memahat patung dari es. Ujung jemarinya menyapu kulitku, bergerak turun dari bahu, menyusuri lengan. Aku merasakan getaran halus di seluruh tubuhku, respons naluriah terhadap sentuhan yang begitu intim. Napasku tercekat di tenggorokan, suara "Ngh..." kecil lolos dari bibirku. "Begitu indah," bisiknya, suaranya parau, penuh hasrat yang tak tertahankan. Matanya tak sedikit pun berpaling, terpaku pada kulitku yang kini memerah. Aku bisa merasakan tatapannya membakar, meninggalkan jejak panas di mana pun ia memandang. Tangannya yang satu lagi bergerak, menyentuh bahu kiriku, melakukan gerakan serupa. Jemarinya menari di kulitku, menciptakan sensasi geli yang bercampur dengan kenikmatan yang mendalam. Arick menarik napas tajam, lalu menghembuskannya perlahan. Dia menunduk, mencium lembut puncak bahu kananku. Ciumannya singkat, namun meninggalkan jejak panas yang membara. Aku memejamkan mata, merasakan gejolak di perutku semakin menjadi. Sentuhan bibirnya, napasnya yang hangat, semua itu membanjiri indraku, membuatku kehilangan orientasi. Aku menggerakkan pinggulku sedikit, merespons kebutuhan yang membakar. Jemarinya kini menekan lembut tulang bahuku, lalu meluncur turun lagi, menyentuh bagian atas dadaku yang mulai terekspos. Aku merasakan sensasi dingin dari udara yang masuk, namun dengan cepat digantikan oleh panas dari jemari Arick. Otot-otot di tubuhku menegang, lalu melemas dalam siklus yang memabukkan. Aku mencengkeram erat kemejanya, menariknya lebih dekat, seolah ingin menyatu dengannya. "Jangan ditahan, Helena," bisiknya di telingaku, suaranya rendah dan menguasai. "Lepaskan semuanya." Dia menarik blusku lebih jauh ke bawah, memperlihatkan lebih banyak lagi kulit bahuku yang putih mulus. Kain itu melorot hingga ke siku, memamerkan bahu dan tulang selangka yang jelas. Aku bisa merasakan tatapan Arick yang terpaku pada area itu, dan aku melihatnya menelan ludah dengan susah payah, gairah di matanya semakin membara. Arick menarik blus Helena ke bawah, memperlihatkan bahu putih mulus yang membuatnya menelan ludah.

End of Chapter 16

Chapter 16: Chapter 16: Kancing Terlepas, Kulit Terbuka - SELINGKUH: Selingan Indah Keluarga Utuh | Novel AI Studio