Chapter 15 of 30

Pintu Terkunci, Dunia Berhenti

1.5k words

Bibir Arick masih menempel pada miliknya, panas dan menuntut, lidahnya menelusuri celah lembut bibirnya, mendorong lebih dalam. Pikiran Helena berkabut, koktail memabukkan antara ketakutan dan kerinduan murni yang tak tertahankan. Tangan Arick, yang sebelumnya membelai pinggang dan pahanya, bergerak perlahan namun pasti, menariknya lebih dekat hingga dadanya menekan dada keras Arick. Kain tipis gaun tidurnya sama sekali bukan penghalang, hanya bisikan menggoda di kulitnya. Ia merasakan panas tubuh Arick, kekuatan yang tersembunyi di tubuh muda itu, dan getaran menjalari tubuhnya, bukan karena dingin, melainkan karena hasrat yang begitu dalam hingga membuat lututnya lemas. Napas Arick, hangat dan beraroma mint, bercampur dengan napasnya saat ia memiringkan kepala, memperdalam ciuman itu. Jari-jari Helena, yang tadinya mengepal dalam perjuangan untuk mengendalikan diri, kini terentang di bahu Arick, mencengkeram otot-otot kencang di balik kemejanya. Desahan lembut lolos dari tenggorokannya, tertelan oleh bibir Arick yang lapar. Setiap ujung saraf di tubuhnya bernyanyi, terbangun oleh simfoni sensasi terlarang. Inilah dia. Inilah ‘kesenangan’ yang Arick janjikan, ‘kehangatan’ yang telah lama hilang dari hidupnya, meledak di dalam dirinya, sengit dan tak terkendali. Arick melepaskan ciuman itu hanya untuk berbisik di bibirnya, “Kamu cantik sekali, Helena.” Suaranya serak, berat karena kekaguman yang membuat Helena merona hebat dalam cahaya remang. Ia menekan ciuman lembut, yang bertahan lama, ke rahang Helena, lalu menelusuri mulutnya ke lehernya, menyebarkan ciuman yang terasa seperti percikan api di kulitnya yang sensitif. Kepala Helena mendongak, memperlihatkan lehernya, sebuah persembahan yang tidak ia sadari telah ia berikan tetapi tak bisa ia tarik kembali. Sebuah tarikan napas tertahan di dadanya. Arick mencicipi kulitnya, lalu menghisapnya dengan lembut, sebuah cupang kecil merekah tepat di bawah telinganya. “Mmm-hh,” Arick mendesah, suara rendah dan puas yang bergetar menembus tubuh Helena. Tangannya meluncur dari pinggangnya, merayap lebih rendah, menangkup bokong Helena melalui kain. Ia meremasnya dengan lembut, lalu mengangkatnya, menekan pinggulnya ke pinggul Arick, membiarkan Helena merasakan kekerasan tak terbantahkan yang berdenyut di sana. Helena kembali terkesiap, tarikan napas tajam yang mengungkapkan keterkejutan dan pengakuan yang mendebarkan. Arick mundur selangkah, lalu selangkah lagi, matanya terkunci pada mata Helena, sebuah pertanyaan tanpa suara dan janji membara di kedalamannya. Helena, terpikat oleh tatapan Arick, menemukan dirinya bergerak bersamanya, langkahnya canggung, keseimbangannya hilang dalam gelombang pasang hasrat. Arick terus mendorongnya mundur, tarian lambat dan sensual, hingga dinding plester dingin kamar tamu bertemu dengan punggungnya. Suara ‘buk’ lembut menggema di ruangan yang sunyi, tanda baca untuk penyerahannya. Dinding itu menawarkan jenis dukungan baru, menahannya saat dunianya berputar. Napas Helena datang dalam embusan pendek, dangkal. Tubuh Arick adalah sangkar hangat yang tak bisa dihindari di sekelilingnya, pahanya menekan pinggulnya dengan intim. Aroma tubuh Arick—muda, musky, dengan sedikit sesuatu yang bersih dan segar—memenuhi hidungnya, mengaburkan penilaiannya. Ia merasa benar-benar tenggelam, ketakutannya akan terbongkar kini menjadi gema yang jauh, tenggelam oleh deru indranya sendiri yang terbangun. Jari-jarinya menggenggam kemeja Arick, menarik kainnya, ingin merobeknya, untuk merasakan lebih banyak lagi dari Arick. Tubuhnya merindukan kontak penuh, tanpa hambatan yang dijanjikan oleh kehadiran Arick. “Tidak ada jalan kembali,” bisik Arick, bibirnya menyentuh telinganya, napas panasnya mengirimkan getaran ke tulang punggung Helena. “Dan kamu tahu itu, kan, Helena?” Arick sedikit menarik diri, matanya masih membakar miliknya, menantangnya, mengajaknya untuk menyangkal kebenaran yang kini menguasai mereka berdua. Jantung Helena berdebar kencang di dadanya, detak drum yang panik di dinding. Ia hanya bisa mengangguk, gerakan kecil yang hampir tak terlihat, tetapi itu sudah cukup. Itu segalanya. --- Arick melihat anggukan Helena, senyum lambat dan penuh pengertian menyebar di wajahnya, kilasan kemenangan di mata gelapnya. Tatapannya turun ke bibir Helena, yang masih bengkak karena ciuman mereka, lalu lebih rendah, ke naik turunnya dadanya yang cepat di balik kain tipis. Ia mengangkat tangan, jari-jarinya menelusuri lekuk rahang Helena, lalu melayang ke rambutnya, dengan lembut menyelipkan sehelai rambut yang lepas di belakang telinganya. Sentuhannya seringan bulu, namun membawa muatan listrik yang meninggalkan benjolan merinding di belakangnya. “Bagus,” Arick berbisik, suaranya serak, berat dengan janji. “Itu yang ingin aku dengar.” Arick mendekat, menangkap bibir Helena lagi dalam ciuman lembut yang mencari. Kali ini lebih lambat, lebih manis, klaim lembut yang melarutkan sisa-sisa terakhir perlawanan Helena. Tangan Helena, yang tadinya mencengkeram kemeja Arick, kini meluncur ke lehernya, jari-jarinya membelit rambut lembut di tengkuk Arick. Helena membalas ciumannya dengan urgensi yang ia tidak tahu ia miliki, tubuhnya melengkung ke arah Arick, mencari gesekan, kehangatan, koneksi yang intens. Arick melepaskan ciuman itu, matanya masih menahan tatapan Helena, sebuah pertanyaan tanpa suara melintas di antara mereka. Kemudian, dengan gerakan yang luwes, hampir tak terlihat, ia menggeser berat badannya, membebaskan satu tangan. Lengannya meraih ke belakang, mengulur ke arah pintu. Mata Helena mengikuti gerakannya, sentakan kesadaran tiba-tiba melesat dalam dirinya. Pintu itu. Masih sedikit terbuka, celah kegelapan mengingatkannya pada dunia di luar, dunia tempat suaminya tidur nyenyak. Gelombang panik, dingin dan tajam, mengancam untuk menembus kabut hasrat. *Ini salah. Ini sangat salah.* Pikirannya menjeritkan kata-kata itu, tetapi terasa jauh, lemah, seperti bisikan melawan badai. Tubuhnya, bagaimanapun, tetap terpaku, menempel di dinding, terperangkap oleh kehadiran magnetis Arick. Ia ingin menarik diri, memprotes, menemukan suaranya, tetapi tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. Tenggorokannya terasa tercekat, napasnya tertahan. *Klik.* Suara logam kecil itu menggema di ruangan yang sunyi, jelas dan definitif. Kuncinya terkunci. Dunia di luar, dunia konsekuensi, benar dan salah, suaminya, tiba-tiba terasa bermil-mil jauhnya, tersegel oleh suara kecil itu. Itu adalah suara penghalang, batas yang terlampaui, titik tanpa kembali. Mata Helena melebar, menatap pintu, lalu melesat kembali ke wajah Arick. Ekspresi Arick tenang, tak tergoyahkan, sedikit sesuatu yang primal dan posesif dalam tatapannya. Ia tidak meminta izin. Ia hanya bertindak, menegaskan kehendaknya, niatnya. Dan pada saat itu, Helena mengerti. Tidak ada jalan kembali. Pilihan, jika memang pernah ada, telah dibuat saat ia setuju untuk bertemu Arick di sini, di rumahnya sendiri, sementara suaminya tidur. Pintu samping yang tidak terkunci, masuknya yang diam-diam, mawar merah itu—semuanya adalah langkah-langkah menuju tindakan terakhir yang tak bisa diubah ini. Getaran menjalari tubuhnya, campuran ketakutan dan sensasi yang aneh, mendebarkan. Ia terperangkap, ya, tetapi tidak sepenuhnya bertentangan dengan keinginannya. Sebagian dari dirinya, bagian yang paling dalam, paling haus, mendambakan kurungan ini, penyerahan mutlak ini. Jantungnya berdebar, ritme panik di dinding, di dada Arick. Udara semakin kental, berat dengan hasrat yang tak terucapkan dan aroma tubuh mereka yang bercampur. Arick mendekat lagi, pinggulnya menekan pinggul Helena, deklarasi diam-diam atas niatnya yang teguh. Ia menundukkan kepala, bibirnya melayang tepat di atas bibir Helena, matanya mencari, intens. “Sekarang,” Arick berbisik, suaranya seperti beludru gelap. “Tidak ada yang bisa mengganggu kita.” --- Tatapan Helena terpaku pada Arick, napasnya tertahan di dadanya, terjebak antara terkesiap dan erangan. Suara kunci yang terkunci masih bergema di telinganya, sebuah kepastian yang mengerikan sekaligus mendebarkan. Pikirannya berlomba, pusaran emosi yang bertentangan: teror, rasa bersalah, kegembiraan, dan rasa lapar yang membakar, luar biasa. Ia sangat menyadari dinding di belakangnya, kokoh dan tak tergoyahkan, sama seperti kenyataan yang baru saja menghantamnya. Tidak ada jalan keluar, tidak ada kembali, tidak ada berpura-pura ini hanya rayuan. Mata Arick, gelap dan tak terduga, menahan tatapan Helena. Mata itu intens, membara dengan kepercayaan diri yang tak tergoyahkan, sebuah pengetahuan tentang apa yang akan terjadi. Ia tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Kehadirannya, tubuhnya yang menempel pada Helena, kehangatan yang memancar darinya, berbicara banyak. Arick telah mengklaimnya, tidak hanya dengan sentuhan dan ciumannya, tetapi dengan bunyi klik kunci yang tegas itu. Ia telah menciptakan dunia pribadi untuk mereka, gelembung terlarang di mana hanya hasrat mereka yang penting. Kehangatan perlahan menyebar melalui pembuluh darah Helena, mengatasi sisa-sisa ketakutannya. Itu adalah kehangatan yang dimulai jauh di intinya, menyebar keluar, membuat kulitnya merinding karena antisipasi. Otot-ototnya, yang tadinya tegang karena ketakutan, kini mulai melunak, menyerah. Jari-jarinya, yang masih melingkar di leher Arick, mengencang hampir tak terasa, sebuah permohonan diam-diam untuk lebih, untuk segalanya. Ia menatap mata Arick, mencari keraguan, untuk keraguan, tetapi tidak menemukan apa pun. Hanya hasrat mentah, tanpa penyesalan yang mencerminkan hasratnya sendiri, diperbesar dan diperkuat. Arick melihatnya, benar-benar melihatnya, bukan sebagai seorang istri, bukan sebagai seorang ibu, tetapi sebagai seorang wanita yang mendambakan sensasi, gairah. Dan Arick ada di sini untuk memberikannya padanya, dengan keberanian yang mengejutkan sekaligus memikatnya. Ibu jari Arick mulai mengelus garis rahang Helena, ritme lembut dan hipnotis. Tatapannya turun ke bibir Helena lagi, lalu ke denyut nadi yang berdebar kencang di pangkal tenggorokannya. Helena menelan ludah, mulutnya tiba-tiba kering, jantungnya berdebar kencang di dadanya. Udara terasa tebal, dipenuhi janji-janji yang tak terucapkan, dengan aroma berat tubuh mereka yang bercampur. Mawar merah, yang masih tergenggam di tangannya, tiba-tiba terasa berat, kelopaknya lembut di telapak tangannya, kontras yang halus dengan intensitas sengit yang menyelimuti mereka. Ia merasakan getaran menjalari tubuhnya sendiri, dengungan dalam yang beresonansi yang dimulai di perutnya dan menyebar keluar. Setiap ujung saraf hidup, berdenyut, sangat menginginkan sentuhannya, untuk pemenuhan yang Arick janjikan. Pikiran tentang suaminya, yang tertidur di kamar sebelah, melintas di benaknya, bayangan singkat dan cepat yang dengan cepat tertutup oleh cahaya menyilaukan kehadiran Arick. Rasa bersalah ada di sana, rasa sakit yang tumpul, tetapi jauh, tertutup oleh dorongan primal yang tak tertahankan. Arick mendekat, bibirnya hanya sehelai rambut dari bibir Helena, napas panasnya membelai bibirnya. “Kamu milikku malam ini, Helena,” bisik Arick, suaranya geraman rendah yang mengirimkan gelombang getaran baru ke tulang punggung Helena. “Dan aku milikmu.” Helena memejamkan mata sesaat, mengakui kebenaran dalam kata-kata Arick, beratnya penyerahannya yang mendalam. Ketika ia membukanya lagi, tatapannya bertemu dengan Arick, tak tergoyahkan, menerima. Mata Arick menatap tajam ke dalam mata Helena, sebuah janji kenikmatan terlarang yang tak dapat ditolak.

End of Chapter 15