Chapter 14 of 30

Napas Panas, Tangan Bergerak

1.4k words

Helena's mind is a blur. The kiss deepens. Arick's lips are firm, demanding, yet exquisitely gentle. Her hands are around his neck, gripping the soft hairs at his nape. His scent, a mix of musk and something fresh, fills her lungs with every ragged breath. Arick's tongue sweeps into her mouth, claiming every corner. A soft moan escapes Helena’s throat, swallowed by his kiss. The world outside, her sleeping husband, her responsibilities—everything fades. Only this moment, this man, this raw, undeniable sensation exists. His free hand, the one not holding the wilting red rose, slides from her back. It traces the curve of her spine, a feather-light touch that sends shivers down her entire being. Helena leans into him, her body instinctively seeking more contact, more warmth. Sensasi panas menjalar dari titik-titik sentuhannya. Jari-jemari Arick berhenti di pinggangnya, tepat di atas kain tipis gaun tidurnya. Jempolnya mengusap lembut area itu, lingkaran-lingkaran kecil yang membakar kulitnya. Gerakan itu begitu disengaja, begitu menggoda, seolah dia tahu persis di mana harus menyentuh agar Helena merasa sepenuhnya miliknya. Helena merasakan napasnya sendiri tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. Ciuman Arick tak pernah putus, justru semakin intens. Dia memiringkan kepalanya, memperdalam sudut, menyesap bibir bawah Helena seolah itu adalah minuman paling lezat yang pernah dia rasakan. "Mmm-hh..." Helena mengerang, suaranya tercekat. Jari-jari Arick kini bergerak lebih berani, menyelipkan diri di bawah pinggang gaunnya. Kulitnya langsung merasakan sentuhan telapak tangan yang hangat, sedikit kasar, namun begitu memabukkan. Sentuhan itu membakar. Helena merasakan kulitnya meremang, bulu kuduknya berdiri. Ini gila. Ini sangat salah. Tapi tubuhnya tidak mau mendengarkan akal sehat. Setiap sentuhan Arick adalah perintah yang tak terbantahkan, memaksanya untuk menyerah. Pinggangnya diremas lembut. Tidak agresif, tapi cukup kuat untuk menegaskan kehadirannya, untuk menunjukkan kendali. Arick menarik tubuh Helena lebih dekat, sampai tak ada lagi ruang di antara mereka. Dia bisa merasakan setiap lekuk tubuh Arick menempel erat pada dirinya, otot-ototnya yang muda dan tegang. Ciuman itu mereda sejenak, hanya untuk memberi ruang bagi napas yang terengah-engah. Bibir Arick berpindah, mencium pipinya, rahangnya, lalu turun ke lehernya. Hembusan napas panasnya menerpa kulit sensitif Helena, menciptakan gelombang sensasi yang memabukkan. "Helena..." Suara Arick parau, bergetar. Dia berbisik tepat di telinganya. "Kamu cantik sekali malam ini." Pujian itu, di tengah gejolak gairah ini, terasa seperti mantra. Helena merasa pipinya memanas, jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Dia tidak pernah merasakan pujian seperti ini dari suaminya, tidak dalam suasana setegang ini, tidak dengan sentuhan semenggoda ini. Arick kembali mencium bibirnya, kali ini dengan kelembutan yang lebih dalam, seolah ingin meyakinkan bahwa pujiannya tulus. Tangannya terus meremas pinggang Helena, mengelus dengan ritme yang memabukkan, menaikkan suhu tubuh Helena ke tingkat yang tak terkendali. Helena memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran sensasi yang diciptakan Arick. Dia ingin lebih, selalu lebih dari apa pun yang Arick tawarkan. Ini adalah awal dari 'pekerjaan' mereka, pikir Helena, meskipun otaknya nyaris tidak bisa berfungsi lagi. Jika ini adalah 'pekerjaan', dia rela bekerja sampai pagi. --- Arick menjauhkan bibirnya perlahan, hanya sejengkal, cukup untuk melihat mata Helena yang setengah terpejam. Matanya gelap, penuh gairah yang sama dengan yang Helena rasakan. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya, senyum nakal yang membuat Helena merinding. "Kamu suka?" Arick berbisik, suaranya serak dan dalam. Dia tidak menunggu jawaban. Bibirnya kembali menyapu leher Helena, menghirup aroma tubuhnya. "Aku tahu kamu suka." Tangannya tak berhenti bekerja. Jari-jari lentiknya bermain-main di tepi gaun tidur Helena, kain satin tipis itu menjadi penghalang terakhir antara kulit mereka. Sentuhan ujung jarinya yang ringan namun konsisten itu terasa seperti sengatan listrik. Helena merasakan setiap serat tubuhnya menegang, menunggu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Napas Helena semakin memburu. Dia mendesah, erangan tertahan yang nyaris tak terdengar. Jari-jari Arick menyelinap lebih dalam, menarik ujung kain itu, seolah ingin mengungkap lebih banyak. Sensasi udara dingin yang menyentuh kulitnya yang hangat membuat Helena merinding. "Ssshh..." Arick mendesis lembut di telinga Helena, seolah membaca pikirannya. "Pelan-pelan, Sayang." Kata 'Sayang' itu. Itu adalah pukulan telak bagi Helena. Suaminya sudah lama tidak memanggilnya dengan sebutan sehangat itu. Dari bibir Arick, kata itu terasa begitu intim, begitu tulus, seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sudah lama terjalin. Helena merasa jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya. Dia merasakan panas menjalar di sekujur tubuh, terutama di area yang disentuh Arick. Jemarinya mencengkeram bahu Arick, kukunya menekan ringan melalui kain kemejanya yang tipis. Dia nyaris tidak bisa berdiri tegak lagi. Kekuatan di kakinya seolah menguap. Arick menopang pinggangnya dengan tangan lain, menekan lebih erat. Gerakan itu mengunci tubuh Helena agar tetap menempel padanya. Dia merasakan napas Arick yang hangat membelai daun telinganya, diikuti bisikan-bisikan nakal yang tak terucap penuh, namun maknanya jelas. "Kamu basah untukku, kan?" Arick berbisik, suaranya rendah dan menggoda. Ujung jarinya kini mulai mengikis kain di pinggang Helena, perlahan, membuka jalan bagi sentuhan yang lebih dalam. Helena tak mampu menjawab. Tenggorokannya tercekat, bibirnya hanya bisa mengeluarkan desahan putus-putus. Malu. Gairah. Ketakutan. Semua bercampur aduk, tapi gairah adalah yang paling dominan. Dia ingin Arick tahu bahwa dia memang menginginkannya. Jari-jemari Arick kini meluncur di bawah gaun tidurnya, menyentuh kulit pahanya yang lembut. Sensasi itu begitu mengejutkan, begitu intens. Helena terkesiap, tubuhnya menegang dan merinding hebat. Dia merasakan Arick tersenyum di lehernya, bibirnya menyapu kulit sensitifnya. "Mmm..." Arick bergumam, puas. Jempolnya mengusap perlahan kulit pahanya, naik turun, menguji batas kesabaran Helena. Setiap sentuhan adalah gelombang listrik yang menjalari tubuh Helena, membakar setiap saraf. Gaun satin itu kini tersingkap sebagian, memperlihatkan lebih banyak kulit Helena pada sentuhan Arick. Dia bisa merasakan suhu tubuh Arick yang panas menembus kain tipis, menjalar ke seluruh tubuhnya. Ini bukan lagi sekadar ciuman. Ini adalah invasi yang disambut, sebuah penyerahan total yang tak bisa ditolak. --- Arick menarik napas dalam, membenamkan wajahnya di lekuk leher Helena. Helena merasakan hembusan napasnya yang panas dan berat. Aroma maskulin Arick semakin pekat, memenuhi indra penciumannya, memabukkan. Setiap pori-pori kulitnya terasa hidup, menuntut lebih dari sentuhan Arick. "Helena," bisiknya, suaranya parau dan bergetar, "aku ingin kamu. Sangat ingin." Kata-kata itu, diucapkan dengan penuh hasrat, langsung menusuk ke inti hati Helena. Dia bisa merasakan kejujuran dalam setiap suku kata. Rasa malu yang tadi sempat menyergap kini digantikan oleh gelombang gairah yang mengganas. Dia menginginkannya juga. Sangat ingin. Jari-jari Arick yang tadi mengusap paha Helena kini bergerak semakin jauh, naik ke atas. Dia merasakan sentuhan jari-jari itu di punggung pahanya, kemudian di tepi celana dalamnya. Sensasi itu membuat Helena terkesiap. Dia menahan napas, matanya terpejam erat, menunggu. "Kamu siap?" Arick bertanya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Itu bukan pertanyaan sungguhan, lebih seperti pernyataan. Dia tahu Helena sudah siap. Tubuhnya sudah berteriak "ya" jauh sebelum mulutnya bisa mengucapkan sepatah kata pun. Helena hanya bisa mengangguk pelan, kepalanya bersandar di bahu Arick. Otot-ototnya menegang, lalu melemas secara bersamaan. Dia merasa seperti lilin yang meleleh di bawah panasnya sentuhan Arick, benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Arick tersenyum kecil di kulit lehernya, bibirnya menyapu lembut. Dia tahu dia menang. Dia tahu dia berhasil memecahkan pertahanan Helena. Dan Helena tidak peduli. Dia ingin pecah. Dia ingin hancur dalam pelukannya. "Bagus," Arick bergumam. Tangannya bergerak lebih berani, mengaitkan jemarinya pada karet celana dalamnya. Sentuhan itu ringan, namun intens. Helena merasakan setiap sarafnya berdenyut. Dia bisa merasakan detak jantungnya sendiri memompa darah dengan liar ke seluruh tubuh. Napas Arick semakin terengah-engah, helaan napasnya yang berat terasa di kulit telinganya. Dia menggesekkan tubuhnya sedikit, menegaskan gairahnya yang sama besarnya. Helena merasakan dorongan keras di area intimnya, sebuah janji akan kenikmatan yang akan segera datang. "Kamu akan menjerit namaku malam ini," Arick berbisik, suaranya penuh keyakinan. "Sampai pagi." Helena merinding, bukan karena dingin, tapi karena antisipasi yang membakar. Bisikan itu begitu nakal, begitu binal, dan Helena menyukainya. Dia membayangkan dirinya menjerit, nama Arick meluncur dari bibirnya, berulang kali, tanpa malu. Tangan Arick meluncur semakin jauh. Dia merasakan ujung jarinya menyentuh area yang paling sensitif, tepat di antara kedua pahanya, di balik kain tipis celana dalamnya. Kehangatan tubuh Arick, napasnya yang panas, bisikan-bisikan provokatifnya—semua berpadu menjadi satu serangan sensual yang tak tertahankan. Helena merasa kakinya gemetar. Dia mencengkeram bahu Arick lebih erat, kuku-kukunya memutih. Rasanya seperti ada sesuatu yang baru saja terlepas di dalam dirinya, sebuah bendungan yang akhirnya jebol. Arick menarik karet celana dalamnya sedikit, mengintip. Hembusan napasnya yang panas menerpa kulit Helena, membuat bulu kuduknya berdiri tegak. Sensasi itu terlalu intens, terlalu nyata. Dia merasakan sentuhan lembut, ujung jari yang menyapu. Sebuah tekanan ringan. Tubuhnya menegang. Tangan Arick meluncur ke bawah, menyentuh tepi celana Helena, dan Helena menahan napasnya.

End of Chapter 14

Chapter 14: Napas Panas, Tangan Bergerak - SELINGKUH: Selingan Indah Keluarga Utuh | Novel AI Studio