Chapter 13 of 30

Ciuman Terlarang, Api Gila

1.1k words

Udara di antara mereka menipis. Helena menahan napas, jantungnya berpacu seperti kuda lepas. Ibu jari Arick masih membelai bibirnya, sensasinya membakar, memabukkan. Sentuhan itu terasa murni, namun juga begitu nakal, menjanjikan sesuatu yang lama hilang. Helena memejamkan mata, membiarkan desahan tertahan lolos begitu saja. "Bolehkah saya mencicipinya, Bu Helena?" Suara Arick rendah, serak, berbisik di atas bibirnya. Aroma mint dari napasnya bercampur dengan wangi maskulin khas kulitnya, memenuhi indra Helena, menariknya lebih dalam ke pusaran hasrat yang berbahaya ini. *Tidak, ini salah. Ini tidak boleh terjadi. Suamiku ada di kamar sebelah.* Pikiran itu menjerit, tapi tubuh Helena tidak mau patuh. Semua ototnya menegang, namun ia tidak mundur. Sebaliknya, ia sedikit memajukan wajahnya, respons tanpa kata yang begitu gamblang. Arick membaca sinyal itu. Senyum tipis terukir di bibirnya sesaat, sebelum matanya kembali menyorot tajam, penuh gairah yang tak sabar. Perlahan, sangat perlahan, ia menunduk. Jarak antar bibir mereka menyempit, hingga Helena bisa merasakan embusan napas Arick yang hangat. *Deg.* Jantung Helena memukul rusuknya. Udara terasa begitu berat, membebani setiap sel kulitnya. Bibir Arick akhirnya menyentuh bibirnya. Sebuah sentuhan yang begitu lembut, seperti bulu, hanya bersentuhan ringan, mengeja permulaan sebuah janji. *Uhm...* Helena mengerang pelan, tenggelam dalam sensasi yang anehnya terasa begitu akrab, seperti rumah yang telah lama ia lupakan. Bibir Arick bergeser, menggesek perlahan, menggoda, seolah menunggu Helena sepenuhnya membuka diri. Arick tidak terburu-buru. Ia membiarkan ciuman itu tumbuh, bersemi dalam keheningan yang dipenuhi detak jantung ganda. Jemarinya yang tadi membelai dagu Helena kini bergerak naik, menyelipkan diri ke sela rambut di belakang telinga, menangkup sisi wajah Helena dengan kelembutan yang tak terduga. Ibu jarinya membelai tulang pipi Helena, sementara bibirnya makin mendesak. Kelembutan itu mulai berubah, menjadi tuntutan yang lebih dalam. Ciuman Arick kini terasa lebih bertenaga, bibir atasnya menghisap perlahan bibir bawah Helena, lalu berganti, menarik bibir atasnya. Arick menciumnya seolah ia adalah harta paling berharga yang pernah ia temukan, dengan rasa hormat namun juga hasrat yang membara. Helena merasakan bibirnya basah, hangat, dan gemetar. Kakinya lemas, tubuhnya condong ke arah Arick, seolah ingin melebur dalam dekapan itu. *Ini gila. Benar-benar gila.* Suara hati kecilnya memudar, tenggelam di bawah gelombang kenikmatan yang membanjiri otaknya. Tangannya yang sempat memegang mawar merah kini menjatuhkannya tanpa sadar. Kelopak mawar itu bergeser di lantai, tanpa suara, tenggelam dalam keheningan yang tersisa. Arick mendesah pelan, dan desahan itu seolah memberi izin pada ciuman mereka untuk berubah. Bibirnya kini tidak lagi hanya bermain. Arick membuka mulutnya sedikit, memberi isyarat, sebuah undangan yang tak perlu kata-kata. Lidahnya menyentuh garis bibir Helena, lembut dan ragu, sebelum mendesak masuk lebih dalam. --- Helena terkesiap. Sebuah kejutan listrik mengalir dari bibirnya, menembus setiap saraf di tubuhnya. Ia tidak lagi bisa menahan diri. Semua tembok pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh dalam sekejap. Tanpa sadar, bibirnya membuka, memberi Arick akses penuh. Lidah Arick menyelinap masuk, hangat, lembut, namun juga penuh hasrat. Ia mengeksplorasi setiap lekuk dalam mulut Helena, seolah sedang memetakan sebuah wilayah baru yang indah. Helena membalas. Lidahnya menyambut, beradu, menari dengan irama yang tak terduga, intensitas yang mengejutkan dirinya sendiri. *Hahh...* Napas Helena terputus, bercampur dengan desahan Arick yang dalam. Ciuman itu bukan lagi sekadar sentuhan bibir. Itu adalah ledakan. Sebuah letupan gairah yang terpendam, kini menemukan jalannya keluar setelah sekian lama terkunci dalam sangkar. Tangan Helena yang awalnya terkulai di sisi tubuh kini terangkat. Jemarinya mencengkeram erat bahu Arick, meremas kain kemejanya yang tipis. Ia membalas ciuman itu dengan seluruh jiwanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi yang begitu baru, begitu memabukkan. Arick balas memeluk. Tangannya yang semula menangkup wajah Helena kini meluncur turun, menelusuri lehernya, lalu bahunya, hingga akhirnya memeluk erat pinggang Helena. Jemarinya yang kuat menekan, menarik tubuh Helena lebih dekat, menempelkan setiap inci kulit mereka yang terhalang kain tipis. Tubuh mereka kini berhimpitan rapat. Helena bisa merasakan panasnya tubuh Arick, detak jantungnya yang berpacu kencang, dan otot-ototnya yang tegang. Aroma Arick semakin kuat, perpaduan keringat tipis, sabun, dan parfum yang kini melebur menjadi satu, menciptakan wangi yang membuat Helena makin hilang kendali. Ciuman itu makin dalam, makin menuntut. *Srrk...* Suara gesekan bibir mereka terdengar jelas di tengah keheningan kamar. Lidah Arick membelit lidah Helena, mengulum, menyesap, seolah ingin mengambil semua rasa yang ada. Helena memejamkan mata makin erat, membiarkan otaknya kosong, hanya ada sensasi. Hanya ada Arick. Ia bisa merasakan setiap gerakan bibir Arick, setiap desakan lidahnya, setiap tarikan napasnya yang berat. Ia membiarkan Arick membimbingnya, menunjukkan padanya seperti apa gairah yang seharusnya. Tubuhnya bergetar, lututnya nyaris ambruk jika bukan karena pelukan erat Arick di pinggangnya. *Ini yang kuinginkan. Ini yang selalu kubutuhkan.* Pikiran itu melintas begitu cepat, sebuah pengakuan jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam. Rasa bersalah masih ada, samar-samar, tapi ia terlalu kecil, terlalu jauh, untuk bisa menembus dinding kenikmatan yang begitu pekat. --- Ciuman itu berlanjut, intens, liar, tanpa henti. Namun, Arick perlahan melonggarkan pelukannya, menarik bibirnya sedikit menjauh dari Helena. Sebuah putusan yang begitu mendadak, membuat Helena hampir merengek protes. Ia ingin lebih. Ia butuh lebih. Mereka berdua terengah-engah. Napas Arick memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Helena merasakan pipinya memerah, bibirnya bengkak dan basah, dan seluruh tubuhnya terasa panas, seolah baru saja berlari maraton. Rambutnya berantakan, beberapa helai menempel di dahi Arick, basah oleh keringat. Arick masih memeluk pinggangnya, mendekapnya begitu erat hingga ia bisa merasakan setiap otot Arick yang tegang. Mata Arick menatapnya. Sorot mata itu kini dipenuhi gairah yang lebih dalam, lebih gelap, seperti bara api yang siap membakar kapan saja. Namun, ada juga tatapan yang menyelidik, seolah ingin memastikan sesuatu. Helena menatap balik, matanya sayu, bibirnya sedikit terbuka, memburu oksigen yang terasa menipis. Tenggorokannya kering. Tubuhnya terasa begitu ringan dan berat di saat yang bersamaan, seperti melayang di awang-awang namun terikat pada gravitasi Arick. *Api gila.* Itu adalah satu-satunya deskripsi yang bisa Helena temukan untuk menggambarkan apa yang kini membakar dirinya. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, ia merasakan panas yang membara, sebuah hasrat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan di masa mudanya. Arick telah membangunkannya. "Bu Helena..." Suara Arick serak, rendah, hampir seperti geraman. Ia menunduk, bibirnya mendekat ke telinga Helena, lalu berbisik, "Saya bisa merasakan betapa laparnya Ibu." Perkataan itu membuat tubuh Helena bergetar. Ia merasa telanjang, terekspos semua hasrat tersembunyinya. Arick melihatnya, Arick merasakannya. Dan yang lebih menakutkan, Arick mengerti. Jemarinya mengusap lembut punggung Helena, mengirimkan gelombang kejut yang membuat bulu kuduknya berdiri. Sentuhan itu adalah janji, sebuah konfirmasi bahwa ini hanyalah permulaan. Helena ingin membalas, ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata tercekat di tenggorokannya. Arick menarik diri sedikit, tatapan matanya kembali mengunci mata Helena. Wajahnya serius, namun bibirnya masih sedikit bengkak karena ciuman mereka. Ia melihat ke dalam mata Helena yang sayu, seolah membaca setiap pikiran dan hasrat yang bergejolak di sana. "Apakah ini yang Ibu inginkan, Bu Helena?"

End of Chapter 13

Chapter 13: Ciuman Terlarang, Api Gila - SELINGKUH: Selingan Indah Keluarga Utuh | Novel AI Studio