Aroma mawar merah beradu dengan wangi maskulin Arick yang menyeruak, membuat indra Helena bekerja lembur. Tubuhnya membeku, terperangkap di antara dinding dan pemuda itu, jantungnya berdebar liar seolah ingin melompat keluar dari sangkarnya. Arick memegang mawar itu, tangannya yang lain kini menangkup dagu Helena, mengangkatnya perlahan. Mata Arick menatap lurus ke dalam mata Helena, gelap dan membius, penuh janji yang tak terucapkan.
"Bu Helena... cantiknya Ibu malam ini," bisiknya, suaranya serak dan dalam, seperti resonansi gitar akustik yang lembut. Jempolnya yang hangat bergerak perlahan, membelai garis rahang Helena yang tegang. Sensasi sentuhan itu menjalar seperti aliran listrik, membuat bulu kuduk Helena meremang, namun bukan karena takut.
*Ini salah. Ini sangat salah. Suamiku ada di kamar sebelah.* Suara hati Helena berteriak, namun teredam oleh hiruk pikuk gairah yang tiba-tiba meledak di seluruh tubuhnya. Aroma Arick semakin kuat, perpaduan mint, sedikit tembakau, dan musk alami tubuhnya yang muda. Itu memabukkan, menguasai seluruh indra Helena.
Arick tak mengatakan apa-apa lagi. Matanya tak pernah lepas dari mata Helena, seolah mencari izin yang tak perlu diucapkan. Perlahan, sangat perlahan, ia mendekatkan wajahnya. Hembusan napasnya yang hangat menerpa bibir Helena, membawa serta aroma kopi hitam yang baru saja ia minum. Sensasi itu begitu nyata, begitu intim, seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama.
Jempol Arick bergeser dari rahang, meluncur naik ke tulang pipi, lalu menyusuri lekuk hidung Helena. Gerakannya begitu hati-hati, seolah Helena adalah porselen rapuh yang akan pecah jika disentuh terlalu kasar. *Dia memperlakukanku seperti aku adalah sesuatu yang berharga.* Pikiran itu melintas, menyentuh relung hati Helena yang kering.
Kemudian, jempol Arick berhenti. Tepat di bibir bawah Helena. Sentuhan itu ringan, nyaris tak terasa, namun mampu membangkitkan setiap saraf di sana. Bibir Helena berdenyut, sensitif, seolah baru pertama kali merasakan sentuhan. Sensasi aneh menjalari tubuhnya, perpaduan antara ketegangan dan peleburan. Ia merasakan bibirnya sedikit terbuka, menghirup napas Arick yang tipis.
"Bibir Ibu... seperti kuncup mawar," Arick berbisik, suaranya nyaris tak terdengar, hanya untuk telinga Helena. Jempolnya kembali bergerak, mengusap pelan kontur bibir atas Helena, lalu turun lagi ke bibir bawah. Gerakan itu lambat, sensual, seperti ia sedang membaca peta, mempelajari setiap detailnya.
Tubuh Helena menegang. Ia merasakan gairah yang sudah lama terpendam kini bangkit, bergelora hebat. Ini bukan sekadar nafsu. Ini adalah sentuhan yang merangkul, sentuhan yang mengenali setiap kerinduan tersembunyi. Sentuhan Arick di bibirnya terasa begitu murni, namun pada saat yang sama, membakar gairah yang tak tertahankan. *Aku mendambakan ini. Sangat mendambakan ini.* Gumam hati Helena.
Matanya terpejam secara otomatis, membiarkan sensasi itu menguasainya sepenuhnya. Seluruh tubuhnya menegang, otot-ototnya mengeras, seolah berusaha menahan ledakan yang siap menghancurkannya dari dalam. Hembusan napas Arick di dekat bibirnya semakin cepat, semakin panas. Jempolnya terus bekerja, membelai bibir Helena dengan irama lambat, membangunkan setiap serat di sana. *Uhm...*
Sebuah desahan kecil lolos dari bibut Helena, tanpa ia sadari. Suara itu begitu samar, seperti bisikan angin malam, namun cukup untuk memancing senyum tipis di wajah Arick. Arick tahu. Ia selalu tahu. Ia tahu apa yang diinginkan Helena, bahkan sebelum Helena sendiri mengakuinya. Sentuhan di bibir itu adalah sebuah pengakuan, sebuah janji, sebuah pembebasan.
Jempol Arick berhenti bergerak. Ia menarik tangannya pelan, namun tidak menjauhkan wajahnya. Jarak mereka kini tak lebih dari dua sentimeter. Bibir Arick begitu dekat, Helena bisa merasakan panasnya, bisa mencium aroma kopinya, bisa membayangkan teksturnya. Arick menatap bibir Helena, tatapannya begitu intens, seolah ingin melahapnya habis.
*Cesss...* Napas Arick terdengar, seperti hembusan angin yang panas. Matanya kembali menatap mata Helena, mencari sisa-sisa perlawanan yang mungkin masih ada. Tapi Helena tak bisa melawan. Ia terlalu terbius, terlalu tenggelam dalam pusaran gairah yang diciptakan Arick. Waktu seolah berhenti, hanya ada mereka berdua, di tengah malam yang sunyi itu.
"Bu Helena..." bisik Arick lagi, kali ini dengan nada yang lebih dalam, lebih memohon. Tangannya kini terangkat lagi, bukan untuk menyentuh bibir Helena, melainkan untuk menyentuh pipinya, mengusapnya lembut. Jempolnya kembali ke bibir Helena, tapi kali ini ia tidak membelainya. Ia hanya menempelkan jempolnya di sana, menghalangi bibir mereka bertemu.
Sensasi jari Arick di bibirnya membuat Helena nyaris gila. Ia ingin Arick menyingkirkan jempolnya, ingin Arick menciumnya, ingin Arick mengambil semua yang Arick janjikan. *Ini adalah neraka yang manis. Aku ingin lebih.* Batinnya berteriak, meronta. Ia membuka matanya, menatap Arick dengan pandangan penuh kerinduan.
Senyum Arick melebar, penuh kemenangan, seolah ia bisa membaca setiap pikiran kotor yang melintas di benak Helena. Ia tahu ia telah berhasil. Ia tahu Helena menginginkannya sama seperti ia menginginkan Helena. Keberaniannya, pesonanya, dan sentuhan murninya telah menembus dinding pertahanan Helena yang paling dalam.
"Saya tahu Ibu menginginkannya," kata Arick, suaranya rendah, nyaris seperti geraman. Jempolnya kini bergerak, menekan bibir bawah Helena dengan lembut, seolah ingin membuka jalan. *Uhm...* Sebuah desahan lagi lolos, lebih jelas kali ini. Wajah Arick semakin dekat, ia menunduk, bibirnya mendekat ke bibir Helena.
"Boleh saya mencicipinya, Bu?"