Chapter 11 of 30

Chapter 11: Mawar Merah, Senyuman Nakal

1.7k words

Arick melangkah masuk. Cahaya remang dari lampu tidur Helena menyambutnya, memperlihatkan siluet tubuh tegapnya di ambang pintu. Aroma bunga mawar yang dibawanya bersaing dengan wangi sabun mandi Helena yang masih samar menguar dari tubuhnya. Helena menahan napas, dadanya bergemuruh seperti genderang perang. Arick berdiri di ambang pintu, bingkai tubuh mudanya mengisi penuh celah itu. Sebuah mawar merah mencolok di genggamannya, tangkainya terbungkus pita hijau sederhana. Kontras. Sederhana, tapi mematikan. Helena merasa kakinya lunglai. Jantungnya memukul rusuk, seperti ingin melarikan diri dari sangkarnya. Matanya terkunci pada Arick, pada senyum tipis yang merekah di bibir pemuda itu. Senyum yang begitu percaya diri, seolah ia tahu persis kekacauan apa yang sedang ia timbulkan di dalam diri Helena. Arick melangkah masuk, perlahan, sepatu ketsnya tidak mengeluarkan suara sama sekali di atas karpet beludru kamar tamu. *Ini gila.* Helena berbisik dalam hati. *Ini sangat gila. Suamiku tidur beberapa meter dari sini. Bagaimana bisa aku membiarkan ini terjadi?* Tapi pikiran rasional itu segera terenggut oleh gelombang hasrat yang menerjang. Aroma Arick semakin pekat, perpaduan wangi maskulin muda dan sedikit bau tanah, mungkin dari mawar yang baru dipetiknya. Itu memabukkan, lebih kuat dari parfum termahal suaminya. Arick tidak langsung mendekat. Ia membiarkan jarak itu bekerja, membiarkan ketegangan mengumpul di udara. Matanya menelusuri Helena dari ujung kaki hingga rambutnya yang tergerai. Tatapannya bukan tatapan genit kosong, melainkan tatapan yang menghargai, menimbang, dan seolah melihat langsung ke dalam jiwanya. Helena mengenakan gaun tidur satin berwarna krem yang memeluk tubuhnya. Ia tahu gaun itu menonjolkan lekuk-lekuk yang selama bertahun-tahun diabaikan. “Helena,” Arick memanggilnya, suaranya pelan, seperti bisikan yang nyaris tak terdengar. Namun, bisikan itu menghantam telinga Helena seperti guntur. Nama itu terdengar asing dari bibir Arick, lebih intim, lebih personal daripada yang pernah ia dengar dari siapa pun. Helena tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat. Ia hanya bisa menatap, membiarkan dirinya tenggelam dalam tatapan Arick. Lelaki itu tidak membawa tas, tidak ada barang lain selain mawar merah itu. Ia datang hanya untuk Helena, hanya untuk ‘pekerjaan’ mereka. Ia mengingat janji Arick: kehangatan, perhatian, dan kenikmatan. Sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya, mungkin tak pernah benar-benar ada. Suaminya, Danang, adalah pria baik, penyedia yang hebat. Tapi kehangatan? Perhatian personal seperti ini? Tidak pernah. Hanya rutinitas, sentuhan yang diprogram, gairah yang mati. Arick mengambil satu langkah lagi. Lalu satu lagi. Langkah-langkahnya mantap, setiap gerakan tubuhnya memancarkan keyakinan yang menggetarkan. Helena merasa seperti mangsa yang terpaku, tidak mampu bergerak, tidak ingin bergerak. Sebuah sensasi aneh, antara ketakutan dan antisipasi, membelit perutnya. Mawar merah itu tampak begitu hidup di tangan Arick, kelopaknya yang lembut dan berduri kecil memantulkan cahaya remang. Mawar itu kontras dengan kaos oblong putih polos yang Arick kenakan dan celana jins gelapnya. Kesederhanaan yang tak terduga, namun entah mengapa justru menambah daya tariknya. *Dia terlalu muda untuk mengerti ini. Terlalu polos untuk tahu apa yang dia lakukan padaku.* Tetapi Arick jelas tahu. Senyum di bibirnya semakin lebar, memperlihatkan sedikit kerutan di sudut matanya yang bening. Ia bukan polos. Ia adalah predator yang tahu bagaimana memikat. Dan Helena, sang mangsa, telah menyiapkan sarangnya sendiri. “Saya datang,” kata Arick lagi, suaranya kini sedikit lebih jelas, masih rendah, tapi dipenuhi nada keyakinan. “Seperti yang dijanjikan.” Janji. Sebuah kata yang seharusnya menenangkan, tetapi justru mempercepat detak jantung Helena. Ia sudah setuju. Tidak ada jalan mundur. Malam ini, Arick akan menunaikan janjinya. Dan Helena, akan menerima semua yang ia inginkan, semua yang diam-diam ia dambakan. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Arick. Pemuda itu kini hanya berjarak beberapa langkah darinya. Aroma mawar itu semakin kuat, bercampur dengan aroma tubuh Arick yang membius. Helena bisa merasakan panas merambat di pipinya, darah mengalir deras di setiap pembuluh darahnya. Ia tahu ini salah, dosa. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa hidup. Arick menghentikan langkahnya tepat di depannya. Matanya yang gelap memancarkan kilau, seolah cermin dari hasrat yang bergejolak di hati Helena. Mawar merah di tangannya diangkat sedikit, seolah mempersembahkan sebuah trofi. Sebuah persembahan dari seorang pemuda kepada seorang wanita yang sudah lama haus. “Untukmu,” Arick berbisik, suaranya kini begitu dekat, menerpa telinga Helena. Kehangatan napasnya membuat bulu kuduk Helena meremang. --- Tangan Arick terulur, perlahan. Mawar merah itu seperti menyala di bawah cahaya redup. Helena menatapnya, lalu mengangkat pandangannya ke mata Arick. Senyum nakal itu masih bertengger di bibirnya, sebuah lengkungan manis yang menjanjikan lebih dari sekadar persahabatan. *Pipi Arick yang tirus, matanya yang tajam tapi hangat, semua detail itu kini begitu dekat.* Helena mengangkat tangannya. Jari-jarinya gemetar. Ia merasakan desiran aneh menjalar dari ujung sarafnya. Saat jemarinya menyentuh tangkai mawar, sentuhan kulit mereka tak terhindarkan. *Srrk…* Gesekan kulitnya dengan Arick bagai percikan api dingin yang menyengat, mengirimkan getaran listrik ke seluruh lengannya, lalu merambat cepat ke jantungnya. Jantung itu berdegup semakin kencang, menabuh irama tak beraturan yang membuat napasnya tertahan. *Ya Tuhan, ini dia.* Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata. Berbeda dengan sentuhan rutin suaminya yang hambar, sentuhan Arick adalah ledakan, pengingat akan apa yang telah lama mati dalam dirinya. Mawar itu, sederhana, tapi penuh makna. Sebuah gestur yang tidak pernah Helena dapatkan dari Danang, suaminya. Danang mungkin memberinya perhiasan mahal, mobil mewah, atau perjalanan ke luar negeri, tetapi tidak pernah setangkai mawar merah yang dipersembahkan dengan tatapan mata seperti ini. Tatapan yang mengatakan, ‘Aku melihatmu. Aku menginginkanmu.’ “Ambil, Bu Helena,” Arick berbisik lagi, suaranya sedikit serak, seolah ia juga merasakan intensitas sentuhan mereka. “Untuk wanita tercantik di rumah ini.” Pujian itu, begitu langsung, begitu berani, membuat pipi Helena memanas. Ia merasakan darahnya berdesir kencang, membanjiri wajahnya dengan warna merah muda yang memalukan. *Uhm...* Ia menunduk sedikit, menyembunyikan wajahnya di balik kelopak mawar. Aroma lembut kelopak bunga itu, bercampur dengan wangi maskulin Arick, memenuhi indra penciumannya. Helena mencengkeram tangkai mawar itu, duri kecilnya bahkan tidak terasa menusuk. Sensasi sentuhan Arick masih melekat di ujung jarinya, menghantui, membakar. Mawar itu kini ada di tangannya, bukti nyata dari kehadiran Arick, dari kesepakatan gila yang telah ia buat. *Apa yang aku lakukan? Ini gila. Aku benar-benar melangkah lebih jauh. Tapi… rasanya begitu hidup.* Ia mendongak lagi, mencari mata Arick. Pemuda itu masih tersenyum nakal, matanya berkilat geli, seolah tahu persis badai emosi yang berkecamuk di dalam diri Helena. Ia melihat kekaguman, hasrat, dan sedikit rasa puas di mata Arick. Ia tahu Arick berhasil, berhasil memikatnya sepenuhnya, berhasil menariknya ke dalam pusaran ini. “Terima kasih,” Helena berhasil mengucapkan satu kata, suaranya nyaris tak terdengar, serak. Ia merasa seperti seorang remaja yang baru pertama kali menerima bunga dari gebetannya. Sebuah perasaan yang sudah puluhan tahun tidak ia rasakan, sebuah kebaruan yang menyegarkan sekaligus menakutkan. Arick menggeser posisinya sedikit lebih dekat. Kini, tubuh mereka nyaris bersentuhan. Kehangatan tubuh Arick memancar, menembus gaun tidur tipis Helena. Ia bisa merasakan tarikan gravitasi yang tak terlihat, menariknya lebih dekat ke pemuda itu. “Mawar ini, sama sepertimu, Bu Helena,” kata Arick, suaranya kini lebih dalam, lebih mantap. “Indah, tapi punya duri. Aku suka durinya.” Pernyataan itu membuat napas Helena tercekat. *Duri? Apa maksudnya? Apakah ia melihat ketakutanku, keraguanku, sisi gelapku?* Ia menatap mawar di tangannya. Duri-duri kecil memang ada di sana, tersembunyi di antara keindahan kelopaknya. *Dia membaca aku seperti buku terbuka.* Arick mengangkat tangannya lagi, bukan untuk menyentuh Helena, melainkan untuk menyentuh udara di dekat pipinya. Gerakannya lambat, disengaja, membangun ketegangan yang nyaris tak tertahankan. Helena tidak berkedip, menunggu sentuhan yang ia tahu akan datang. “Tidak banyak orang yang berani menerima duri,” Arick melanjutkan, tatapannya lekat, penuh intensitas. “Tapi aku suka tantangan.” *Tantangan? Apakah aku tantangannya? Atau ini hanya bagian dari rayuannya?* Apapun itu, Helena merasa terpikat. Ia merasa Arick benar-benar melihatnya, bukan hanya sebagai ibu rumah tangga, istri, atau objek. Tapi sebagai seorang wanita dengan segala kompleksitasnya. Ia memutar mawar di tangannya, kelopaknya yang merah gelap begitu lembut di bawah sentuhannya. Arick tidak berhenti menatapnya, senyum nakalnya semakin dalam, seolah ia menikmati setiap detiknya. --- Senyum nakal Arick tidak pudar, justru semakin dalam, seperti ia sedang membaca setiap pikiran binal yang melintas di benak Helena. Matanya yang gelap memancarkan kilau, seolah cermin dari hasrat yang tak lagi bisa Helena sembunyikan. Helena merasakan pipinya memanas, terbakar oleh tatapan intens Arick. Ini bukan sekadar rasa malu, tapi rasa malu yang dicampur dengan gejolak gairah yang kuat. “Kamu terlihat luar biasa malam ini, Bu Helena,” Arick berbisik, suaranya rendah dan berat, seperti melodi yang menghipnotis. “Jauh lebih cantik dari yang saya bayangkan.” Pujian itu, sederhana namun tulus, menghantam Helena seperti gelombang kejut. *Jauh lebih cantik dari yang saya bayangkan.* Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya. Bertahun-tahun, ia terbiasa dengan pujian basa-basi dari suaminya, pujian yang terasa seperti kewajiban, tanpa gairah di baliknya. Tapi dari Arick, pujian itu terasa seperti pengakuan, sebuah validasi atas kecantikan yang ia pikir telah lama memudar. *Uhm...* Helena hanya bisa bergumam, menunduk, jantungnya berpacu semakin kencang. Ia memegang mawar itu erat-erat, seolah tangkainya bisa memberinya pegangan pada kenyataan yang mulai goyah. Aroma mawar itu kini terasa begitu manis, memabukkan, mengiringi setiap detak jantungnya. Arick mengambil satu langkah lagi, menutup jarak di antara mereka sepenuhnya. Kini, tubuh mereka begitu dekat, Helena bisa merasakan kehangatan Arick yang memancar. Udara di sekitar mereka terasa menebal, dipenuhi oleh ketegangan yang menggoda dan janji-janji yang tak terucap. Helena mengangkat kepalanya, matanya bertemu dengan mata Arick. “Jangan malu, Bu Helena,” Arick berkata, suaranya kini hampir tak terdengar, sebuah bisikan yang hanya ditujukan untuk Helena. Jemarinya terangkat, perlahan, dan kali ini ia benar-benar menyentuh pipi Helena. Sentuhannya ringan, lembut, namun mampu membakar seluruh kulit Helena. *Cesss...* Panas menjalari pipinya, lalu menyebar ke seluruh tubuhnya. *Ini dia. Sentuhan yang kurindukan.* Sentuhan itu seperti kembang api yang meledak di dalam dirinya, melepaskan segala kerinduan yang selama ini terpendam. Arick membelai lembut pipinya, ibu jarinya mengusap kulitnya dengan gerakan memutar yang membuat Helena ingin bersandar ke sentuhan itu, menyerahkan diri sepenuhnya. Ia tahu, di balik sentuhan ini ada janji yang lebih besar, janji akan kenikmatan yang ia dambakan. Helena merasakan setiap serat tubuhnya menegang, mendambakan lebih dari sekadar sentuhan di pipi. Matanya terpaku pada bibir Arick, bibir yang terlihat begitu lembut, begitu menggoda, dan ia tahu, bibir itu akan segera menyentuhnya. Nafasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat, mengkhianati ketenangan yang berusaha ia pertahankan. “Kamu memang cantik, Bu Helena,” Arick berbisik lagi, suaranya serak karena kedekatan, membuat bulu kuduk Helena meremang. Ia menatap Helena dengan tatapan memuja, seolah Helena adalah satu-satunya wanita di dunia ini. Tatapan itu menembus pertahanan Helena, melumerkan segala rasa bersalah dan keraguan yang masih tersisa. Arick mendekat, napasnya menerpa wajah Helena, “Cantik seperti Bu Helena.”

End of Chapter 11