Chapter 7 of 8

Chapter 7: Ancaman di Balik Foto

1.3k words

Ponsel bergetar di meja makan. Sebuah notifikasi asing. Ariel meraihnya, jantungnya berdebar tanpa sebab. Jemarinya membuka pesan itu, dan seketika, udara di sekitarnya terasa menipis. Sebuah foto. Jelas. Tidak buram. Itu dia, di taman belakang rumah, tertawa dengan Aya. Tangan Aya melingkar manja di lengannya, kepala wanita itu bersandar di bahunya. Senyum Ariel lebar, matanya memancarkan kebahagiaan yang tak pernah ia tunjukkan pada Sinta dalam waktu lama. Gambar itu adalah bukti tak terbantahkan, sebuah pengkhianatan yang dibekukan dalam piksel. Napasnya tercekat. Warna kulitnya memucat, darah seolah ditarik paksa dari wajahnya. Tenggorokannya terasa kering, kerongkongan perih seperti baru saja menelan pasir. Siapa? Siapa yang mengirim ini? Otaknya berputar cepat, mencari jawaban di antara puing-puing kekagetan. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan, meskipun ia tahu tidak ada siapa pun di sana selain dirinya. Rasanya seperti ada mata yang mengawasi, sebuah kehadiran tak terlihat yang mengintai dari balik bayangan. Jantungnya berpacu brutal di dalam dadanya, memukul-mukul rusuknya seolah ingin melarikan diri. "Sialan!" desisnya, suaranya serak. Jemarinya gemetar saat menekan tombol telepon, berusaha mencari tahu dari mana pesan itu berasal. Nomor tak dikenal. Pengirim anonim. Kepalanya berdengung, dipenuhi kebingungan dan ketakutan yang menusuk. Matahari masih bersinar cerah di luar jendela, namun bagi Ariel, dunianya tiba-tiba saja gelap gulita. Foto itu, sebuah bom waktu yang baru saja diaktifkan, siap meledak dan menghancurkan semua yang telah ia bangun. Pernikahannya, reputasinya, segalanya. --- Semalam suntuk, Ariel tak bisa memejamkan mata. Bayangan foto itu terus berputar di benaknya, menghantuinya setiap kali ia mencoba terlelap. Setiap suara kecil di luar, setiap hembusan angin yang menyentuh jendela, membuatnya tersentak. Paranoia mencengkeramnya erat. Siapa yang tahu? Apakah ini hanya peringatan, ataukah langkah awal dari kehancuran yang tak terhindarkan? Ariel membayangkan Sinta melihat foto itu, matanya dipenuhi luka dan amarah. Bayangan Aya, terjerat dalam skandal ini, wajahnya yang polos ternoda oleh perbuatan mereka. Rasanya seperti sebuah pisau dingin menghujam ulu hatinya. Pagi datang, namun tidak membawa ketenangan. Wajah Ariel kusam, matanya bengkak. Ia turun ke dapur, Sinta sudah menyiapkan sarapan. Aroma kopi dan roti panggang yang biasanya menenangkan, kini terasa hambar, bahkan menyesakkan. "Kau baik-baik saja, Mas?" tanya Sinta, suaranya terdengar khawatir. Ia mendekat, tangannya terulur untuk menyentuh dahi Ariel. "Wajahmu pucat sekali. Tidak tidur semalam?" Ariel menepis tangannya, sedikit terlalu cepat. "Aku baik-baik saja, Sayang. Hanya sedikit pusing. Banyak pekerjaan di kantor." Bohong. Dusta itu terasa pahit di lidahnya, namun ia harus mempertahankannya. Sinta tidak boleh tahu. Sinta menarik tangannya, ekspresinya sedikit terluka. "Kalau begitu, makanlah. Jangan sampai sakit." Ia berbalik, kembali ke kompor. Keheningan menggantung di antara mereka, tebal dan penuh arti yang tak terucap. Setiap gigitan roti terasa seperti karet di mulut Ariel. Ia memaksakan diri menelan, namun makanannya terasa hambar. Perutnya mual, kepalanya pening. Perasaannya campur aduk antara takut, marah, dan jijik pada dirinya sendiri. --- Di kantor, konsentrasinya buyar. Dokumen-dokumen di mejanya tampak seperti deretan huruf tanpa makna. Pikirannya melayang, kembali ke foto itu. Ia memeriksa ponselnya setiap beberapa menit, berharap tidak ada pesan baru, namun juga takut jika tidak ada. Si pengirim itu bisa menyerang kapan saja, dari arah mana saja. Suara ketukan di pintu membuatnya terlonjak. "Masuk!" serunya, suaranya sedikit terlalu keras. Itu Rina, sekretarisnya, membawa setumpuk berkas. "Ini laporan keuangan bulan ini, Pak. Perlu tanda tangan Bapak," kata Rina, meletakkan berkas-berkas itu di meja Ariel. Ia menatap Ariel dengan tatapan aneh, seolah menyadari ada yang tidak beres. "Baik, terima kasih, Rina," jawab Ariel, berusaha terdengar normal. Ia mengambil pena, namun tangannya gemetar. Tanda tangannya sedikit berantakan. Rina masih berdiri di sana, tatapannya lekat. "Ada yang ingin Bapak sampaikan? Bapak terlihat tidak enak badan," ujar Rina, suaranya lembut. Terlalu lembut, pikir Ariel. Apakah ia sudah tahu? Apakah Rina juga bagian dari ini? "Tidak ada. Aku hanya kurang tidur," Ariel berbohong lagi. Ia memaksakan senyum tipis. "Kau bisa kembali bekerja, Rina." Rina mengangguk, namun tatapan curiga di matanya tidak hilang sepenuhnya saat ia berbalik dan keluar ruangan. Ariel menghela napas panjang. Bahkan Rina pun terasa mencurigakan sekarang. Siapa pun bisa menjadi dalang di balik semua ini. Tetangga? Rekan kerja? Teman Sinta? Atau bahkan... keluarga? --- Sepanjang hari, ia merasa seperti diintai. Setiap kali ada orang yang menatapnya sedikit lebih lama, ia langsung merasa panik. Setiap bisikan dari sudut ruangan, ia mengira itu tentang dirinya. Kepalanya berdenyut-denyut, otot lehernya menegang. Pulang kerja, ia mengendarai mobil dengan kecepatan di bawah rata-rata. Matanya terus-menerus melirik kaca spion, memeriksa apakah ada mobil yang mengikutinya. Rasanya seperti hidup dalam film thriller, di mana ia adalah target utama. Memasuki rumah, ia merasa sedikit lega, namun ketegangan itu tak pernah benar-benar hilang. Sinta menyambutnya dengan senyum, dan seperti biasa, ia berusaha keras membalas senyum itu. Namun, kebahagiaan itu terasa palsu, seperti topeng yang ia kenakan. "Bagaimana harimu, Mas?" tanya Sinta, mengambil tas kerjanya. Ariel hanya mengedikkan bahu, tidak ingin memberikan detail apa pun. Semakin sedikit ia berbicara, semakin kecil kemungkinan ia akan melakukan kesalahan. "Biasa saja," jawabnya singkat. Ia berjalan ke ruang tamu, menjatuhkan diri di sofa. Sinta menatapnya dengan ekspresi kecewa, namun tidak berkomentar lebih lanjut. Keheningan kembali menyelimuti mereka. Ariel meraih ponselnya, lagi. Masih belum ada pesan baru. Rasa lega sesaat berganti dengan kecemasan yang mendalam. Ketenangan ini terasa seperti badai yang tertunda, menunggu saat yang tepat untuk menerjangnya. --- Malam itu, setelah Sinta tertidur, Ariel menyelinap keluar kamar. Ia membutuhkan udara segar, sesuatu untuk menjernihkan pikirannya yang kusut. Di teras belakang, ia menyalakan sebatang rokok, asap mengepul ke udara malam yang dingin. Pikirannya kembali ke Aya. Wanita itu. Kecantikannya, tawanya, sentuhannya. Itu semua terasa seperti jebakan yang manis. Ariel tahu ia telah melakukan kesalahan besar, namun saat itu, setiap sentuhan Aya terasa seperti surga. Sekarang, surga itu berubah menjadi neraka. Ia merindukan Aya, pada saat yang sama membenci Aya karena telah menyeretnya ke dalam kekacauan ini. Atau membenci dirinya sendiri karena tidak bisa menahan diri? Ariel tidak yakin. Yang jelas, ia terperangkap. "Bodoh!" umpatnya pada dirinya sendiri. Ia menghisap rokok dalam-dalam, paru-parunya terasa sesak. Aroma nikotin tidak bisa menenangkan kegelisahan yang menggerogotinya dari dalam. --- Beberapa hari berlalu tanpa ada kabar baru dari pengirim anonim itu. Ariel mulai sedikit bernapas lega. Mungkin itu hanya gertakan? Mungkin pengirimnya hanya ingin menakutinya? Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun, bayangan itu tetap ada. Kecurigaan tetap mengikutinya. Ia menjadi lebih waspada, lebih hati-hati dalam setiap gerak-geriknya. Ia bahkan menghindari kontak mata dengan Aya di kantor, membuat Aya merasa bingung dan sedikit terluka. "Ada apa denganmu, Mas? Kau menghindariku," tanya Aya suatu sore, mencegatnya di koridor yang sepi. Mata Aya memancarkan kesedihan, bibirnya sedikit cemberut. Ariel menatapnya. Ingin sekali ia memeluk wanita itu, menjelaskan semuanya. Tapi ia tidak bisa. Risiko itu terlalu besar. "Tidak ada apa-apa, Aya. Aku hanya sibuk," jawabnya dingin, mencoba menjaga jarak. Aya mengerutkan kening. "Jangan bohong, Mas. Aku tahu ada sesuatu. Kau terlihat seperti sedang memikul beban berat. Apa yang terjadi?" Tangannya terulur, mencoba menyentuh lengan Ariel. Ariel mundur selangkah. "Aku bilang tidak ada apa-apa. Tolong, jangan dekati aku dulu. Aku butuh waktu." Suaranya terdengar lebih kasar dari yang ia inginkan. Aya terdiam, tangannya jatuh ke sisi tubuhnya, ekspresi wajahnya berubah menjadi kekecewaan yang mendalam. "Baiklah, jika itu maumu," kata Aya, suaranya pelan, hampir tak terdengar. Ia berbalik, bahunya terkulai, dan berjalan menjauh. Ariel melihat punggungnya yang menjauh, rasa bersalah menggerogoti hatinya. Namun, ia tidak punya pilihan. --- Ketenangan itu hanya sementara. Sebuah jeda yang menyesatkan. Ariel tahu itu tidak akan bertahan lama. Badai itu akan datang, cepat atau lambat. Malam itu, ia duduk di ruang kerja, mencoba fokus pada beberapa berkas yang harus ia selesaikan. Sinta sudah tidur. Rumah itu sunyi, hanya suara tik-tok jam dinding yang memecah keheningan. Ponselnya bergetar lagi, kali ini dengan nada dering khusus yang ia atur untuk pesan teks. Jantungnya mencelos. Ia merasakan firasat buruk yang menusuk. Ia meraih ponselnya, jemarinya gemetar saat membuka layar. Sebuah pesan baru. Dari nomor yang sama. Anonim. Dingin. Mengancam. Ariel membuka pesan itu, matanya melebar membaca barisan kalimat yang muncul di layar. Darah di tubuhnya seolah berhenti mengalir, membeku di tempat. Udara di ruangan itu terasa menghilang, membuatnya sulit bernapas. Keringat dingin membasahi punggungnya. Pesan teks tanpa nomor pengirim itu muncul di ponsel Ariel: "Aku tahu apa yang kau lakukan. Dan aku akan melihatmu membayar."

End of Chapter 7