Chapter 6 of 8
Chapter 6: Jealousy: Bayangan di Balik Cinta
1.5k words
Hangat. Rasa panas masih merayap di kulitnya, seperti jejak bara yang baru padam. Ariel membuka mata, pandangannya kabur, menatap langit-langit kamar yang asing. Aroma tubuh Aya, manis dan musky, memabukkan indranya. Napas Aya teratur, membuai di sampingnya, tangan wanita itu melingkar erat di pinggang Ariel, seolah tak ingin melepaskan. Kepala Aya bersandar nyaman di dadanya, rambutnya menggelitik dagu Ariel. Dada Ariel bergemuruh, bukan hanya karena detak jantungnya sendiri, tapi juga karena gelombang sensasi yang masih beriak dalam dirinya. Kenangan malam tadi menyerbu, tanpa permisi, dengan segala kebrutalan dan kenikmatannya.
Desahan Aya, lenguhan liarnya, cengkeramannya yang kuat pada punggung Ariel. Suara 'plak-plak-plak' kulit bertemu kulit yang memekakkan telinga. Bagaimana tubuhnya sendiri merespons, liar, tanpa kendali. Setiap inci kulitnya terasa sensitif, mengingatkannya pada sentuhan mematikan Aya. Ariel bisa merasakan gairah yang masih membara, bara api yang siap menyala lagi hanya dengan sedikit pemicu. Ini salah. Sangat salah.
Seketika, rasa bersalah menindihnya, berat, seolah batu besar diletakkan di dadanya. Dadanya sesak. Sinta. Wajah kekasihnya melintas di benak, senyum manisnya, tatapan penuh cintanya. Ariel adalah bajingan. Pria paling menjijikkan di muka bumi. Bagaimana bisa ia melakukan ini? Bagaimana bisa ia menikmati setiap detik pengkhianatan ini?
Perlahan, Ariel menggerakkan lengannya, mencoba melepaskan pelukan Aya tanpa membangunkannya. Gerakannya kaku, takut. Jantungnya berdebar kencang, menggema di telinganya. Aya menggeliat sedikit, mengeratkan pelukannya, bibirnya menyentuh kulit dada Ariel. "Hmm..." desahnya pelan, suaranya serak karena tidur. Gairah yang sempat meredup, kini memercik kembali, menghantam Ariel dengan kekuatan penuh.
"Aya..." bisik Ariel, suaranya parau. Ia tahu ia harus pergi. Harus menjauh. Tapi tubuhnya menolak. Otaknya berteriak bahaya, namun setiap sel di tubuhnya berteriak ingin lebih. Sebuah konflik batin yang mengerikan. Ini adalah godaan iblis.
Melepaskan diri dari Aya terasa seperti memotong bagian dari dirinya. Ariel berhasil bergeser, duduk di tepi ranjang. Punggungnya terasa nyeri, tubuhnya pegal, namun itu bukan apa-apa dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya. Pakaiannya berserakan di lantai, bercampur dengan pakaian Aya. Bau *eau de parfum* Aya yang khas menempel di semua kain itu. Juga, bau *mereka*.
Menjijikkan. Ariel merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia buru-buru memungut celana dalamnya, lalu celana panjangnya. Gerakannya serba salah, canggung. Ia harus cepat-cepat keluar dari sini. Sebelum Aya terbangun sepenuhnya. Sebelum ia melakukan kesalahan lebih besar lagi. Atau, sebelum ia menyerah pada godaan sekali lagi.
Ponselnya. Bergetar di nakas, di bawah tumpukan pakaiannya. Ariel meraihnya, jantungnya mencelos saat melihat nama di layar. Sinta. Panggilan tak terjawab. Lima kali. Dan ini adalah panggilan keenam. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Tenggorokannya tercekat.
Ia menelan ludah, berusaha menenangkan diri. Harus mengangkatnya. Sekarang. Atau Sinta akan curiga. Ariel menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia harus terlihat normal. Suaranya harus normal. Tidak boleh ada sedikit pun jejak kepanikan.
"Halo, Sayang..." Suaranya terdengar lebih serak dari yang ia harapkan. Firasat buruk mulai menggelayuti. Bibirnya terasa kering, pahit. Ia melirik ke arah Aya yang masih pulas. Terlalu pulas. Syukurlah.
"Ariel! Kamu ke mana aja sih?! Aku teleponin dari tadi kenapa nggak diangkat?" Suara Sinta, biasanya lembut dan manja, kini terdengar tegang dan penuh kekhawatiran. Bahkan sedikit marah. "Aku khawatir tahu! Kamu baik-baik aja kan?" Ariel bisa mendengar nada cemas yang tulus dalam suara kekasihnya itu.
"Maaf, Sayang... Aku ketiduran," Ariel berbohong, suaranya serendah mungkin, mencoba agar Aya tidak terbangun. Bohong, Ariel, bohong lagi. Hatinya mencelos. "Semalam aku lembur banget, jadi pas sampai rumah langsung tepar. Nggak sempat lihat ponsel." Penjelasan yang terdengar masuk akal, ia harap.
Sinta mendengus, namun Ariel bisa merasakan ketegangan di ujung sana sedikit melunak. "Lembur lagi? Ya ampun, kasihan banget pacarku ini. Makanya aku khawatir. Kamu nggak apa-apa kan? Jangan sampai sakit lho, Sayang. Aku jadi mau ke sana sekarang, masakin kamu." Oh, Sinta. Sinta yang begitu peduli. Ariel merasa ingin menangis.
"Nggak usah, Sayang. Aku baik-baik aja. Kamu istirahat aja. Ini aku baru mau bangun, mau siap-siap ke kantor," Ariel berusaha terdengar ceria, walau hatinya remuk redam. "Nanti malam kita ketemu ya? Aku jemput kamu setelah pulang kantor." Ia harus memperbaikinya. Harus meyakinkan Sinta bahwa semuanya baik-baik saja.
"Oke deh kalau gitu. Janji ya, nanti malam jemput aku. Jangan sampai nggak! Aku kangen banget sama kamu, Sayang." Suara Sinta kembali manja, nada ancaman ringan terselip di sana. Ariel tersenyum hambar. Janji. Janji yang terasa hampa.
"Iya, janji. Nanti aku telepon lagi kalau sudah sampai kantor. Sekarang aku siap-siap dulu ya." Ariel buru-buru mengakhiri panggilan. Pipinya terasa panas, jantungnya berpacu seperti kuda lepas. Ia nyaris ketahuan. Nyaris.
Menghela napas panjang, Ariel meraih kemejanya. Otaknya memutar ulang setiap kata, setiap nada suara Sinta. Bagaimana ia bisa terus menipu wanita sebaik itu? Rasa takut kehilangan Sinta, wanita yang selama ini menjadi jangkarnya, mendadak begitu nyata. Ia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Sinta. Sinta adalah masa depannya. Aya... Aya hanyalah badai. Badai yang manis, mematikan, dan menghancurkan.
Namun, di balik rasa takut itu, ada desiran gairah yang masih membekas. Sentuhan Aya. Lenguhan Aya. Cara Aya memanggil namanya. Kenikmatan yang belum pernah ia rasakan, yang masih menari-nari di ujung sarafnya. Konflik emosional ini mengoyak batinnya, membelahnya menjadi dua. Ariel adalah pecundang. Pria munafik yang menikmati buah terlarang sambil berpegangan pada janji suci.
Melangkah keluar dari apartemen Aya, napas Ariel terasa lega namun berat. Beban di pundaknya terasa berkali-kali lipat. Ia menyetir mobilnya, pikirannya berkecamuk. Setiap lampu merah terasa seperti jeda tanpa akhir, memberinya waktu lebih banyak untuk berpikir, untuk menyiksa diri. Bagaimana ia akan menghadapi Sinta malam nanti? Bisakah ia melihat mata Sinta tanpa merasa bersalah?
Sesampainya di kantor, suasana bising namun teratur sedikit mengalihkan perhatiannya. Rekan-rekan kerja menyapa, namun Ariel hanya membalas dengan senyum tipis, pikirannya masih jauh. Ia melewati lorong, menuju mejanya. Setiap langkah terasa hampa. Ia butuh kopi. Butuh sesuatu yang bisa menjernihkan otaknya.
"Pagi, Ri! Tumben agak telat?" sapa Hendra, rekan kerjanya, sambil menepuk bahu Ariel. "Habis lembur lagi ya? Muka lo pucat banget." Ariel hanya mengangguk, tidak sanggup bicara banyak. Ia tidak ingin membahas apapun. Tidak ingin ada yang curiga.
Duduk di kursinya yang empuk, Ariel merasakan punggungnya nyeri. Ia menggosok pelipisnya, pening melanda. Kepalanya terasa penuh dengan bayangan Aya, bayangan Sinta, dan bayangan dirinya yang tercabik. Ia menyalakan komputer, mencoba fokus pada pekerjaan yang menumpuk. Mungkin kesibukan bisa membantunya melupakan sejenak.
Tangannya meraih tumpukan berkas di mejanya. Ada laporan, memo, dan... sebuah amplop. Warna cokelat kusam, tanpa nama pengirim, tanpa perangko. Hanya tergeletak begitu saja di antara kertas-kertas kerja. Dahi Ariel berkerut. Ini aneh. Ia tidak ingat melihat amplop ini sebelumnya. Siapa yang menaruhnya di sini?
Jantungnya mulai berdebar kencang lagi. Ada firasat aneh, dingin, merayapi tulang punggungnya. Ariel mengambil amplop itu. Beratnya normal, seperti berisi beberapa lembar kertas. Ia membalik-baliknya, mencari petunjuk. Tidak ada. Benar-benar kosong dari identitas.
Perlahan, Ariel menyobek sisi amplop, merasakan kertasnya yang kasar di ujung jarinya. Tangannya sedikit bergetar. Apa ini? Surat dari klien? Sebuah peringatan? Ia menarik isinya keluar. Beberapa lembar foto jatuh ke mejanya, menghadap ke bawah.
Satu. Dua. Tiga. Empat. Empat lembar foto. Ariel mengambil salah satu. Matanya terbelalak. Nafasnya tercekat. Itu dirinya. Dan Aya. Tertawa, saling menatap, di tengah keramaian sebuah kafe. Itu diambil beberapa hari yang lalu. Sebelum malam itu.
Tangannya meraih foto berikutnya. Di sana, mereka sedang berjalan berdampingan, tangan Aya menyentuh lengan Ariel. Terlalu dekat. Terlalu intim. Ariel mengingat kejadian itu. Mereka baru saja makan siang, membicarakan proyek baru. Tapi dari sudut pandang foto ini, terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Itu adalah momen yang sangat pribadi.
Foto ketiga. Ariel membeku. Ini adalah foto dirinya dan Aya, di depan apartemen Aya, tepat saat mereka masuk semalam. Tangan Aya melingkar di pinggangnya, kepalanya bersandar manja. Ariel bisa melihat ekspresi di wajahnya sendiri, campuran antara gairah dan antisipasi. Foto itu diambil dari sudut tersembunyi, seolah dari balik semak-semak atau gedung di seberang. Sebuah bayangan samar terlihat di pojok foto, seperti lensa kamera yang mengintip dari kejauhan.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Ariel. Otaknya berputar, mencoba memahami. Siapa? Siapa yang mengambil foto-foto ini? Bagaimana mereka bisa sampai di mejanya? Sebuah perasaan tidak nyaman, horor, merayap dalam dirinya. Ini bukan kebetulan. Ini adalah peringatan. Atau ancaman.
Foto terakhir. Ariel mengangkatnya, tangannya gemetar hebat. Ini adalah foto yang paling jelas. Dirinya dan Aya, berciuman, di dalam mobil, di parkiran apartemen. Bibir mereka saling melumat, tangan Ariel membelai pipi Aya. Sebuah ciuman yang penuh gairah, liar, tanpa malu. Cahaya lampu jalan menyoroti adegan itu dengan brutal. Foto ini diambil dari jarak yang sangat dekat, melalui kaca jendela mobil yang sedikit terbuka, mungkin dari mobil lain yang diparkir di sebelahnya. Wajah Ariel jelas terlihat, ekspresi terlarangnya terpampang nyata.
Pandangan Ariel terpaku pada foto-foto itu, pada bukti visual pengkhianatannya. Seseorang tahu. Seseorang melihat. Seseorang memotret. Dan sekarang, seseorang telah mengirimkannya padanya. Sebuah firasat buruk menancap dalam dirinya, lebih dalam dari rasa bersalah atau ketakutan akan Sinta. Ada yang mengawasi. Ada yang tahu tentang rahasia kotornya. Bayangan kelam melingkupi, dingin, mencekam. Amplop itu, foto-foto itu, adalah pesan. Sebuah pesan dari seseorang yang bersembunyi di balik kegelapan, menunggu untuk menyerang. Ariel menatap foto-foto itu, tenggorokannya tercekat, membuat bulu kuduk Ariel merinding.