Chapter 8 of 8
Chapter 8: Perangkap Empat Mata
1.4k words
Jantung Ariel berpacu kencang, memukuli tulang rusuknya seolah ingin melarikan diri. Pesan anonim itu masih terngiang di benaknya, setiap kata menusuk seperti belati dingin. Foto itu. Foto dirinya dan Aya. Siapa yang mengirimnya? Dan apa yang mereka inginkan?
Panik mencengkeramnya. Ia butuh jawaban, butuh kepastian. Satu-satunya orang yang bisa memberinya itu adalah Aya.
Langkah-langkahnya terasa berat saat ia menyusuri koridor rumah. Pikirannya kalut, dipenuhi skenario terburuk. Skandal. Kehancuran. Keluarga mereka hancur berkeping-keping.
Sampai di depan pintu ruang kerja Aya, Ariel ragu sejenak. Ketukan di pintu terasa begitu asing, begitu formal, padahal ia sedang memegang rahasia terbesar dalam hidup mereka.
"Masuk," suara Aya terdengar dari dalam, tenang dan terkendali seperti biasa. Kontras sekali dengan badai yang berkecamuk di dada Ariel.
Memutar kenop, Ariel melangkah masuk. Ruangan itu diselimuti bayangan, hanya diterangi oleh lampu meja yang meredup. Aroma buku-buku lama dan kopi pahit menyambutnya, suasana yang selalu terasa menenangkan, namun kini terasa mencekik.
Aya duduk di kursinya, membelakanginya, menatap ke luar jendela yang gelap. Siluetnya tegas, elegan, dan entah mengapa, terasa begitu jauh. "Ada apa, Ariel?" tanyanya, tanpa menoleh.
"Aya," suara Ariel tercekat. Ia meraih ponselnya, menampilkan pesan anonim itu. "Aku… aku menerima ini."
Perlahan, Aya memutar kursinya. Tatapan matanya yang dingin menyapu wajah Ariel, lalu turun ke layar ponsel. Tidak ada kejutan, tidak ada ketakutan. Hanya ketenangan yang menakutkan.
"Begitu," bisiknya, suaranya datar. Ia mengambil ponsel dari tangan Ariel, melihat foto itu dengan seksama, seolah sedang menganalisis sebuah dokumen bisnis yang tidak penting.
"Begitu saja?" Ariel tidak percaya. "Aya, ini ancaman! Seseorang tahu tentang kita! Bagaimana bisa kau setenang ini?"
Senyum tipis, hampir tak terlihat, tersungging di bibir Aya. "Dan apa yang kau harapkan, Ariel? Aku panik? Berteriak? Menangis?" Ia menunjuk kursi di depan mejanya. "Duduklah."
Ariel menurut, lututnya lemas. Ia duduk di sana, merasa seperti seorang anak kecil yang sedang dimarahi. "Kita harus melakukan sesuatu. Kita tidak bisa diam saja. Ini bisa menghancurkan segalanya."
"Menghancurkan segalanya?" Aya mengulang, nadanya meremehkan. Ia bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mengitari meja. Setiap gerakannya anggun, namun penuh perhitungan. "Apa yang kau takutkan, Ariel? Kehilangan posisi? Kehilangan reputasi? Atau… kehilangan aku?"
Pertanyaan itu menusuk Ariel. "Bukan begitu, Aya. Aku takut… aku takut kita akan kehilangan semua yang kita miliki. Keluarga kita. Anak-anak kita."
"Keluarga kita?" Aya berhenti tepat di sampingnya, tangan kanannya meluncur lembut di bahu Ariel. Jemarinya yang panjang dan ramping menekan pelan, mengirimkan gelombang listrik yang familiar, meskipun kini terasa campur aduk dengan ketakutan. "Bukankah kita sudah punya keluarga, Ariel? Keluarga kecil kita, di sini. Berdua."
Napas Ariel tercekat. Ia menatap Aya, mencari jejak ketakutan di matanya, tetapi yang ia temukan hanyalah genangan kegelapan yang dalam dan menggoda. "Aya, ini serius. Siapa yang bisa melakukan ini? Kita harus mencari tahu."
"Mencari tahu apa?" Aya membungkuk, wajahnya mendekat. Aroma parfumnya yang memabukkan kini membanjiri indra Ariel, menghilangkan bau buku dan kopi. "Bahwa seseorang cemburu dengan apa yang kita miliki? Bahwa ada yang ingin melihatmu menderita?"
Jemarinya kini bergerak dari bahu ke leher Ariel, sentuhannya lembut namun tegas. "Tidak perlu mencari tahu, sayang. Yang penting adalah apa yang kita lakukan sekarang."
"Apa yang harus kita lakukan?" Ariel bertanya, suaranya hampir tidak terdengar. Pikiran rasionalnya mulai terkikis oleh kehadiran Aya yang begitu mendominasi, begitu dekat.
"Kita…" Aya berbisik, bibirnya menyentuh daun telinga Ariel. Sensasi itu membuat bulu kuduk Ariel meremang. "Kita harus memastikan bahwa tidak ada yang bisa menyentuhmu, kecuali aku."
Tangannya yang lain kini melingkar di pinggang Ariel, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Kemeja Ariel kusut, kerahnya sedikit tergeser. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Aya, lekuk tubuhnya yang pas di sampingnya.
"Tapi bagaimana dengan ancaman ini?" Ariel masih mencoba berpegangan pada realitas, pada masalah yang sebenarnya. Namun, setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa semakin lemah, semakin tidak penting.
"Ancaman?" Aya tertawa pelan, tawa yang merdu namun dingin. "Ancaman hanyalah pengingat, Ariel. Pengingat bahwa kau adalah milikku. Pengingat bahwa kau tidak bisa pergi kemana-mana."
Matanya menatap lurus ke mata Ariel, seolah mencoba menembus hingga ke dasar jiwanya. "Dan aku akan memastikan tidak ada yang berani mengusik milikku. Tidak ada yang berani menyakitimu."
Bibinya kini mencium rahang Ariel, lalu turun ke lehernya, meninggalkan jejak sensasi panas yang membuat Ariel menggigil. Kepalanya terasa pening, semua pikiran tentang bahaya dan konsekuensi mulai buyar, digantikan oleh gelombang hasrat yang familiar dan mematikan.
"Aku… aku tidak tahu," bisik Ariel, matanya terpejam. Ia mencoba melawan, mencoba menarik diri, tetapi tubuhnya seolah enggan bergerak. Ia merasa terjebak, terperangkap dalam jaring laba-laba yang cantik namun mematikan.
"Kau tahu, Ariel," Aya berbisik lagi, suaranya serak, penuh gairah yang tersembunyi. Ia mulai membuka kancing kemeja Ariel, satu per satu. Setiap sentuhan jarinya membakar kulit Ariel, membuatnya terkesiap.
"Kau tahu apa yang kau inginkan. Kau tahu siapa yang kau butuhkan." Kemeja Ariel kini terbuka sebagian, memperlihatkan kulit dadanya yang sedikit berkeringat. Aya mengusapnya pelan, jemarinya menjelajahi otot-otot di bawah kulit.
"Dan aku tahu bagaimana menjagamu." Aya mendorong Ariel hingga bersandar sepenuhnya pada sandaran kursi, lalu ia duduk di pangkuan Ariel, menghadapnya. Paha mereka saling menempel, panas dan intim.
Ariel bisa merasakan setiap lekuk tubuh Aya menekan tubuhnya. Gaun yang dikenakan Aya kini terasa begitu tipis, seolah tidak ada penghalang sama sekali di antara mereka. Desahan kecil keluar dari bibirnya.
"Bukankah ini yang kau cari, Ariel?" Aya berbisik, bibirnya kini menyapu bibir Ariel, nyaris menciumnya. "Ketenangan. Perlindungan. Kesempurnaan."
Ia membiarkan bibir mereka bergesekan sejenak, menggoda, menyiksa. Ariel bisa merasakan detak jantungnya sendiri bergemuruh di telinganya. Ia ingin mencium Aya, ingin menarik wanita itu lebih dekat, tetapi di saat yang sama, ia merasakan cengkraman ketakutan semakin erat.
"Aya, kita… kita tidak bisa melupakan pesan itu." Ariel berusaha menyatukan pikirannya, berusaha fokus pada bahaya yang mengancam.
"Lupakan saja," Aya memotong, suaranya tegas. Bibirnya akhirnya menempel pada bibir Ariel, sebuah ciuman yang dalam dan berkuasa, mengklaim, mencuri semua udara dari paru-paru Ariel. Lidahnya menyusup masuk, menjelajahi setiap sudut mulut Ariel, mengajaknya dalam tarian yang memabukkan.
Ciuman itu intens, panas, dan berbahaya. Ariel meresponsnya tanpa sadar, tangannya melingkar di pinggang Aya, menariknya semakin dekat. Ia mencengkeram kain gaun Aya, seolah itu adalah satu-satunya jangkar yang bisa ia pegang di tengah badai emosi dan hasrat.
---
Aya menarik diri sejenak, napasnya terengah. Matanya berkilat dalam cahaya remang. "Lihat? Semuanya baik-baik saja, bukan?" Ia menelusuri garis rahang Ariel dengan ibu jarinya, sentuhan yang kini terasa seperti rantai, bukan belaian.
"Aku…" Ariel tidak bisa berkata-kata. Ia merasa kosong, sekaligus penuh. Pikirannya kosong dari ancaman, tetapi tubuhnya kini dibanjiri sensasi dan hasrat yang Aya pancing.
"Jangan biarkan hal-hal kecil mengganggu kita, sayang." Aya kini membuka kemeja Ariel sepenuhnya, lalu melucuti kancing-kancing gaunnya sendiri dengan gerakan cepat dan mahir. Gaun itu melorot, memperlihatkan kulit porselennya yang mulus, serta lingerinya yang hitam dan transparan, membingkai lekuk tubuhnya yang sempurna.
Ariel menelan ludah. Pemandangan itu memabukkan, menghilangkan semua sisa akal sehat yang ia miliki. Ketakutan akan ancaman itu mereda, digantikan oleh nafsu yang membakar.
"Hanya ada kita di sini, Ariel," bisik Aya, suaranya merayu. Ia melingkarkan lengannya di leher Ariel, merapatkannya lagi. Payudaranya yang kenyal menekan dada Ariel, mengirimkan sensasi yang membuat Ariel merinding.
"Tidak ada yang bisa melihat kita. Tidak ada yang bisa mendengar kita. Hanya kita, di dalam perlindungan ruang kerja ini." Kata-kata Aya terdengar seperti mantra, mengikat Ariel dalam pesona gelapnya.
Tangannya kini bergerak ke belakang leher Ariel, memijat lembut tengkuknya. "Aku akan menjagamu." Bisikannya penuh janji, namun juga ancaman yang samar.
Ia mencium Ariel lagi, lebih dalam, lebih menuntut. Ariel membalasnya dengan putus asa, seolah mencoba mencari perlindungan dalam ciuman itu, meskipun jauh di lubuk hatinya ia tahu bahwa perlindungan itu adalah jebakan yang paling berbahaya.
"Biarkan aku menunjukkan betapa amannya kau bersamaku," desah Aya di sela ciuman mereka. Tangannya kini merayap turun ke bawah, menyentuh ereksi Ariel yang sudah menegang. Sensasi itu membuat Ariel mendesah keras.
Ia tidak bisa berpikir lagi. Semua kekhawatiran tentang pesan anonim, tentang konsekuensi, tentang kehancuran, sirna ditelan oleh gelombang gairah yang menggelegak. Aya menguasai tubuhnya, pikirannya, dan bahkan ketakutannya.
"Kau adalah milikku, Ariel," Aya berbisik, suaranya penuh kepemilikan. Ia mencium leher Ariel, meninggalkan jejak basah dan panas yang membuat Ariel gemetar. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu."
Aya mengangkat kepalanya, menatap Ariel dengan mata yang berkilat tajam, dingin, namun penuh hasrat yang membara. "Aku akan melindungimu dari semua bahaya. Dari semua ancaman."
Jemarinya yang ramping melingkar di leher Ariel, mencengkeramnya erat namun lembut. "Jangan khawatir, sayang. Hanya aku yang bisa menjagamu tetap aman. Percayalah padaku."