Chapter 5 of 6
Rintihan di Bawah Rembulan
1.8k words
Bibir Lin Feng meluncur turun dari daun telinga Selir Mei, napasnya yang hangat menerpa kulit leher sang selir. Sebuah sentuhan lembut, nyaris seperti belaian kupu-kupu, mengawali perjalanannya menyusuri lekukan lembut di bawah dagu. Mei Lian merasakan sensasi merinding menjalar dari tengkuknya, menyebar ke seluruh lengan hingga ujung jemarinya yang kini terasa kaku. Udara di sekelilingnya menipis, seolah semua oksigen tersedot ke dalam pusaran gairah yang mulai terbentuk. Ia menahan napas, dadanya naik turun dengan irama tidak beraturan.
“Kau begitu indah, Mei Lian,” bisik Lin Feng, suaranya serak, memenuhi rongga telinganya dengan resonansi yang memabukkan. Setiap kata seperti tetesan madu panas yang menuruni kerongkongannya, meluluhkan setiap lapis pertahanan yang ia bangun selama ini. Bibirnya menyentuh kulitnya, sebuah kecupan ringan di dekat urat nadi yang berdenyut cepat. *Chup.* Suara itu begitu intim, begitu pribadi, hingga membuat Selir Mei merasa telanjang jiwa, tidak hanya raga.
Sebuah erangan halus, *ngghh*, lolos dari celah bibirnya yang sedikit ternganga. Ia tidak bermaksud melakukannya, namun tubuhnya bereaksi di luar kendali. Tulang-tulangnya terasa meleleh di bawah sentuhan Lin Feng. Aroma maskulin dari kulit pria itu, bercampur dengan wangi rempah samar yang entah dari mana, menginvasi indra penciumannya, membanjiri otaknya hingga ia tidak bisa berpikir jernih. Ia memejamkan mata, membiarkan kegelapan merangkul sensasi-sensasi baru ini.
Lin Feng mengisap perlahan kulit lehernya, sebuah gerakan yang begitu lembut namun sarat akan janji. *Schhlup.* Kehangatan basah itu menciptakan sengatan tajam, seolah ribuan jarum kecil menusuk dan menarik bersamaan, memicu getaran yang lebih dalam di pusat perutnya. Mei Lian merasa kakinya melemas, nyaris tidak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri. Ia ingin menjauh, namun kakinya seolah terpaku pada lantai marmer yang dingin. Ia ingin bicara, namun suaranya tercekat di kerongkongan, hanya menyisakan desah napas pendek yang tertahan.
“Lepaskan saja, Mei Lian. Biarkan aku… menunjukkan apa yang selalu kau inginkan,” bisik Lin Feng, kata-katanya penuh bujukan, diucapkan tepat di dekat bibir Mei Lian. Tangannya yang besar kini mengusap lembut punggungnya, sensasi hangat dari telapak tangannya menembus kain daster tipis, membakar kulit di bawahnya. Mei Lian bisa merasakan panasnya menjalar, membakar jalur-jalur saraf yang belum pernah tersentuh. Ia tanpa sadar menjatuhkan kepalanya ke bahu Lin Feng, menyerahkan lehernya lebih jauh pada sentuhan pria itu, sebuah penyerahan yang ia sesali namun juga ia dambakan.
---
Selir Mei meremas daster tipisnya, jemarinya mencengkeram kain sutra dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Gairah yang belum pernah ia kenal, sebuah gelombang panas yang membakar dari dalam, membanjiri seluruh tubuhnya. Rasanya seperti dibanjiri arus sungai yang deras, menyeretnya menjauh dari tepi akal sehat dan setiap pelajaran tentang kesopanan istana. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rintihan yang terus mendesak keluar, namun gigitannya tidak cukup untuk membendung desah napasnya yang kini semakin memburu.
“Ngh… a-apa ini?” Suaranya tercekat, nyaris tidak terdengar, seperti bisikan angin di antara dedaunan. Ia mencoba menarik napas dalam, namun paru-parunya seolah menolak, hanya menyisakan tarikan napas pendek yang patah-patah. Kepala Mei Lian terasa pening, dipenuhi oleh sensasi berputar dan denyutan di setiap ujung saraf. Pikirannya melayang, mencoba mencari alasan, mencoba melawan, namun tubuhnya menolak untuk patuh. Ia merasa begitu lemah, begitu rapuh dalam pelukan pria asing ini.
Lin Feng merasakan getaran tubuh Selir Mei. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma wangi melati dari rambut Mei Lian memenuhi indra penciumannya. Wangi itu memabukkan, bercampur dengan aroma kulit yang mulai memanas. Bibirnya menyentuh lagi kulit Mei Lian, kini di bawah tulang selangka, sebuah kecupan yang lebih lama, lebih menghanyutkan. *Chup… slurp.* Sebuah suara basah yang begitu intim, seolah sedang menghirup sari dari bunga terlarang.
“Ini… kebebasan, Mei Lian. Kebebasan yang telah lama kau kunci di balik dinding-dinding ini,” bisik Lin Feng, suaranya kini terdengar seperti mantra kuno yang menghipnotis. Jemarinya yang ramping namun kuat menelusuri lekuk pinggang Mei Lian, mengusap perlahan kulit di bawah kain sutra yang menipis. Setiap sentuhan itu begitu terukur, begitu disengaja, seolah tahu persis di mana harus menyentuh untuk membangkitkan badai di dalam dirinya. Mei Lian merasakan otot-otot perutnya menegang, sebuah sensasi baru yang asing namun tidak ia benci.
Ia memutar kepalanya, mencoba mencari udara segar, mencoba menatap Lin Feng, namun pandangan matanya kabur oleh selubung gairah. Wajah tampan Lin Feng kini begitu dekat, mata hitamnya memancarkan gairah yang sama dengan yang ia rasakan. Bibir pria itu sedikit terbelah, mengundang. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering kerontang. *Haruskah ia menyerahkan diri sepenuhnya? Apakah ini yang ia dambakan selama ini?* Hatinya berdebar begitu keras, mengalahkan suara akalnya. Ia merasa dirinya berada di tepi jurang, dan Lin Feng adalah satu-satunya pegangan, sekaligus pendorongnya.
---
Lin Feng tiba-tiba membalikkan tubuh Selir Mei, sebuah gerakan halus namun tegas, menjepit tubuh mungilnya di antara dinding kamar yang dingin dan tubuh atletisnya yang memancarkan panas. Sensasi punggung telanjang Mei Lian yang menempel pada permukaan dinding yang keras dan dingin menciptakan kontras tajam dengan hangatnya tubuh Lin Feng yang kini menempel erat di belakangnya. Ia terkesiap, sebuah suara *agh!* terlepas dari bibirnya yang terbuka.
“Biarkan aku melihatmu, Mei Lian,” Lin Feng berbisik, suaranya kini lebih dalam, lebih memerintah, namun tetap dengan nada yang membuai. Tangannya bergerak, mengusap bahu telanjang Mei Lian, jemarinya yang panjang dan kuat menekan lembut, membuat Selir Mei menggeliat tidak nyaman. Namun, rasa tidak nyaman itu bercampur dengan sensasi aneh yang tidak bisa ia definisikan. Tubuhnya bergetar hebat, seperti daun yang diterpa angin kencang.
Selir Mei bisa merasakan setiap otot Lin Feng yang menempel pada punggungnya, panasnya kulit pria itu menembus kain tipis daster yang tersisa, membakar titik-titik di sepanjang tulang punggungnya. Ia merasa terperangkap, namun bukan dengan rasa takut yang mematikan seperti sebelumnya. Kali ini, ada sensasi lain, sebuah magnet tak terlihat yang menariknya lebih dalam. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa kabur, dan anehnya, ia tidak sepenuhnya ingin melakukannya. Punggungnya melengkung sedikit, refleks dari sentuhan yang terlalu intim.
“Tidak… ini salah,” ia berusaha berbisik, namun suaranya terlalu lemah, nyaris tidak terdengar di antara detak jantungnya sendiri yang bergemuruh di telinga. Kata-kata itu lebih merupakan pertanyaan pada dirinya sendiri, sebuah pertahanan terakhir yang rapuh. Lin Feng hanya tertawa kecil, tawa serak yang lebih terasa di kulit leher Mei Lian daripada terdengar oleh telinganya. Tawa itu mengandung ejekan lembut, seolah ia tahu persis betapa sia-sianya penolakan Mei Lian.
Lin Feng membenamkan wajahnya di antara rambut Selir Mei, menghirup aroma melati yang kini terasa semakin pekat, bercampur dengan wangi kulit yang mulai berkeringat. *Hnnghh…* Bibirnya bergerak ke bawah, menelusuri lagi lehernya, sebuah jalur yang kini terasa begitu akrab. Ia merasakan panas dari napas Lin Feng di kulitnya, kelembaban dari bibir pria itu yang kini menyentuh area yang lebih sensitif. Mei Lian menggeliat, tubuhnya melengkung seperti busur, kedua tangannya mencengkeram erat udara kosong di depannya, mencari pegangan yang tidak ada. Sensasi ini terlalu kuat, terlalu baru, dan ia mulai tenggelam di dalamnya.
---
Sentuhan Lin Feng semakin berani. Jemarinya menjelajahi punggung telanjang Selir Mei, naik perlahan dari pinggang, menyusuri lekukan tulang belakang hingga ke pangkal leher, lalu turun lagi. Setiap gerakan jemarinya meninggalkan jejak panas, seolah kulitnya dilukis dengan api. Mei Lian menggeliat, sebuah rintihan panjang, *ahhh…*, terlepas dari bibirnya. Geliatnya bukan lagi penolakan, melainkan respons refleks dari tubuhnya yang kini sepenuhnya diselimuti gairah.
“Kau menyukainya, kan, Mei Lian? Sentuhan ini… yang selama ini kau dambakan,” bisik Lin Feng, suaranya rendah, nyaris seperti geraman di telinga Mei Lian. Jari-jarinya kini berhenti di cekungan punggung bagian bawah, memijat lembut. Sensasi itu begitu memabukkan, begitu kuat, hingga Mei Lian merasakan lututnya nyaris goyah. Ia tidak bisa menyangkal lagi. Setiap sentuhan Lin Feng membangkitkan kerinduan yang tersembunyi, sebuah lubang kosong yang kini mulai terisi.
Bibir Lin Feng kembali menempel di leher Mei Lian, lebih intens kali ini. Ia mengisap kuat kulit di bawah daun telinga, menciptakan suara *slurp… chup…* yang memekakkan di tengah keheningan kamar. Mei Lian merasakan kulitnya tertarik, sebuah sensasi perih yang nikmat. Kepalanya terayun ke belakang, bibirnya terbelah, dan sebuah erangan panjang, *a-ah… ngh-hh!*, keluar tanpa bisa ia tahan. Itu adalah suara penyerahan, pengakuan atas hasrat yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
“Ya… ya ampun…” ia tercekat, kata-katanya hancur menjadi desah napas. Tangannya mengepal di samping tubuhnya, kukunya menancap di telapak tangan. Seluruh tubuhnya tegang, namun pada saat yang sama, ia merasakan relaksasi yang aneh, seolah semua beban yang ia pikul selama ini mendadak terangkat. Ini adalah momen yang paling menakutkan, sekaligus paling membebaskan dalam hidupnya. Ia tidak lagi peduli dengan aturan, dengan istana, dengan kaisar. Hanya ada Lin Feng, dan sentuhannya yang membakar.
Lin Feng meresapi setiap respons Selir Mei. Ia mencium leher Selir Mei dengan intensitas yang tak tertahankan, sebuah kecupan yang dalam dan rakus, menghisap kulitnya seolah ingin menarik sari pati dari tubuh mungil itu. *Slurp… schhlup… mmm-ngh.* Mei Lian merasa otaknya kosong, hanya menyisakan gelombang sensasi yang membanjiri dirinya. Ia merintih, menyerahkan diri sepenuhnya pada gelora asing yang memabukkan itu, menyadari betapa laparnya ia akan sentuhan seorang pria, betapa kosongnya ia selama ini. Ia membiarkan dirinya tenggelam, tanpa perlawanan, ke dalam jurang kenikmatan yang belum pernah ia bayangkan.
---
Paha Lin Feng bergesek kuat dengan paha Selir Mei. Sebuah gerakan yang tiba-tiba, disengaja, namun begitu menghentak. Kain daster tipis Selir Mei yang basah oleh keringat bergeser, memperlihatkan lebih banyak kulit. Ia merasakan serat-serat kainnya bergesekan dengan kain celana Lin Feng, menciptakan desis *sreeet* yang tajam di antara desahan napasnya. Sensasi itu menjalar dari paha bagian dalamnya, langsung ke pusat tubuhnya, memicu denyutan tajam yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Mei Lian terkesiap, tubuhnya menegang, punggungnya menempel erat ke dinding dingin.
“Mei Lian…” Lin Feng berbisik, suaranya kini begitu dalam, begitu berat, penuh dengan gairah yang tak terbendung. Jemarinya yang tadi bermain di punggung, kini melingkari pinggang Selir Mei, menarik tubuhnya lebih dekat, merapatkan setiap inci kulit mereka. Mei Lian bisa merasakan panasnya tubuh Lin Feng yang kini menempel penuh pada punggungnya, paha belakangnya, hingga ke pantatnya. Panas itu menembus setiap serat kain, membakar kulitnya.
Ia merasakan sesuatu yang keras, panjang, dan tebal, menonjol kuat di balik kain celana Lin Feng, tepat menekan di antara kedua belah paha bagian dalamnya. Sensasi itu begitu jelas, begitu nyata, hingga Selir Mei membelalakkan matanya, napasnya tercekat di kerongkongan. Ini adalah… ini adalah milik pria. Sebuah bagian tubuh yang hanya pernah ia lihat, namun tidak pernah ia rasakan sedekat ini. Sebuah kejutan listrik menjalari seluruh tubuhnya, membuatnya menggigil tak terkendali.
“A-apa… ini?” ia tergagap, suaranya nyaris tidak keluar. Otot-ototnya menegang, tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Antara takut, malu, dan sesuatu yang lain, sesuatu yang asing namun memanggil. Lin Feng hanya menekan lebih kuat, menggerakkan pinggulnya sedikit, membuat benda keras itu bergesek semakin intens. *Grrr…* sebuah geraman rendah keluar dari Lin Feng, menandakan betapa ia juga merasakan gejolak yang sama.
Kejantanannya yang tebal dan berurat bergesek pada paha bagian dalam Selir Mei yang gemetar, menghasilkan sensasi kejutan yang mengguncang dunia sang selir.