Chapter 6 of 6

Gairah Terlarang di Balik Daster

1.7k words

Udara hangat napas Lin Feng menggelitik daun telinga Selir Mei, membiaskan bisikan yang menusuk langsung ke relung hati. Lidahnya masih membelai lembut, melukiskan jalur basah yang memicu getaran tak kasat mata di sekujur kulitnya. Bulu roma Selir Mei meremang, bukan karena dingin, melainkan karena gelombang panas yang mendadak melanda. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan kaku. "Kau tahu, Mei Lian," suara Lin Feng berbisik parau, penuh janji yang memabukkan, "tubuhmu ini adalah puisi yang belum dibaca. Setiap lekuknya menyimpan melodi yang mendamba sentuhan." Jemari panjangnya yang tadi membelai leher kini meluncur turun, menjejak punggung Selir Mei dengan gerakan lambat, menekan lembut pada garis tulang belakang. Daster sutra tipis itu seolah tak mampu lagi menahan panas sentuhan itu, melebur, menjadi kulit kedua yang hanya menambah kepekaan. Selir Mei menahan napas, dadanya naik turun dengan ritme tak beraturan. Jantungnya berdentum kencang, memukul-mukul rusuk seolah ingin mendobrak keluar. Aroma musk maskulin Lin Feng memenuhi indranya, mengalahkan wangi melati yang selalu ia kenakan. Wangi itu bukan sekadar parfum, melainkan esensi seorang pria yang begitu dekat, begitu nyata, dan begitu berbahaya. Lin Feng melingkarkan lengannya di pinggang ramping Selir Mei, mendekapnya erat dari belakang. Hangat tubuhnya langsung meresap, menembus daster tipis itu, menyatukan setiap inci punggung mereka. Selir Mei terkesiap, punggungnya menegang sesaat sebelum melengkung lembut mengikuti kontur Lin Feng. Jemari Lin Feng meremas pinggangnya dengan lembut, seolah ingin memastikan setiap lekuk tubuh Selir Mei adalah miliknya untuk digenggam. "Apakah kau merasakannya, Mei Lian?" bisiknya lagi, bibirnya menyentuh tepi telinga sang selir, "Sensasi yang sudah lama kau dambakan ini?" Selir Mei tidak menjawab. Ia hanya bisa memejamkan mata, merasakan tubuhnya sendiri berkhianat. Otot-ototnya melonggar, bahunya meluruh, dan napasnya memburu tak karuan. Pelukan itu, remasan lembut itu, adalah janji yang tak terucapkan, sebuah kebebasan yang kini terasa begitu dekat. Lin Feng menarik pinggang Selir Mei lebih dekat, memastikan tak ada lagi jarak tersisa di antara mereka. Sebuah erangan tertahan lolos dari bibir sang selir, terdengar tipis, nyaris tak terdengar. Namun, Lin Feng mendengarnya. Ia tersenyum tipis, merasakan kemenangan kecil di balik setiap respons tubuh wanita di dekapannya. Daster tipis Selir Mei kini terasa basah, menempel lengket di kulitnya, seolah ikut merasakan suhu tubuh yang terus meningkat. --- Getaran halus menjalar di sekujur tubuh Selir Mei. Ia merasakan sebuah tonjolan padat menempel di punggungnya, sensasinya menembus daster tipisnya, mengalirkan panas yang membakar. *Nngghh…* desahan pelan itu keluar begitu saja, tanpa izin, tanpa bisa ia tahan. Tubuhnya merespons dengan cara yang tak pernah ia alami sebelumnya, seperti dawai kecapi yang dipetik, bergetar di setiap sentuhan Lin Feng. Kejantanan Lin Feng, yang kini ia rasakan begitu nyata, begitu besar, menempel sepenuhnya di punggung bawahnya. Sensasi itu mengalir seperti arus listrik, membakar dari dalam, menuju pusat kewanitaannya yang kini terasa berdenyut, basah. Selir Mei menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan suara-suara lain yang ingin keluar. Namun, tubuhnya memiliki pikirannya sendiri. "Kau merasakannya, bukan?" Lin Feng berbisik, suaranya serak namun penuh godaan. "Bagian dari diriku yang haus akan dirimu, Mei Lian. Ia merindukan kehangatanmu, kelembutanmu." Ia menggerakkan pinggulnya sedikit, hanya sedikit, namun cukup untuk memperjelas dan memperdalam sensasi yang menembus daster. Selir Mei terlonjak kecil, punggungnya melengkung lebih dalam, dadanya membusung seolah mencari udara. Daster sutra tipis itu kini terasa seperti tak ada apa-apanya. Kain itu hanya memisahkan kulitnya dari Lin Feng, namun tidak dari panas yang memancar, dari tekanan yang menggetarkan. Selir Mei merasakan panas di pipinya, menyadari betapa jauh ia telah melangkah, betapa berani tubuhnya merespons seorang pria asing di kamarnya. Namun, ia tak bisa berhenti. Kaki-kakinya terasa lemas, lututnya mengunci, ia bersandar sepenuhnya pada Lin Feng. Pelukan Lin Feng mengencang, seolah ingin menyerap setiap inchi tubuh Selir Mei ke dalam dirinya. Jemarinya yang tadi meremas pinggang kini bergerak naik, menyentuh tepi tulang rusuknya, kemudian turun lagi. Gerakannya lambat, disengaja, mengukur setiap respons tubuh Selir Mei. Setiap sentuhan Lin Feng seperti memecahkan segel yang telah lama terkunci, melepaskan aliran gairah yang tak pernah ia duga ia miliki. *Ah...* bisikan ini lebih jelas, sebuah erangan pasrah yang mengisyaratkan bahwa pertahanan terakhirnya telah runtuh. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan respons tubuhnya. Kejantanan Lin Feng yang terus menempel di punggungnya adalah jangkar yang menahannya, sekaligus api yang membakarnya. Ia merasa seperti lilin yang meleleh, perlahan namun pasti, di bawah panas yang tak tertahankan. --- Bibir Lin Feng mendekat ke telinga Selir Mei, mengirimkan embusan napas hangat yang beraroma mint bercampur maskulin. "Dengar, Mei Lian," bisiknya, suaranya seperti mantra yang menghipnotis, "kau bukan hanya selir yang diabaikan. Kau adalah seorang wanita yang utuh, yang berhak merasakan setiap sentuhan, setiap debaran, setiap puncak gairah." Kata-katanya melayang, mengukir janji-janji yang Selir Mei tak pernah berani ia bayangkan. Selir Mei menelan ludah, berusaha menenangkan napasnya yang terputus-putus. Bisikan Lin Feng bukan sekadar kata-kata. Itu adalah sebuah pengakuan, sebuah validasi atas segala kerinduan yang selama ini ia pendam dalam diam. Ia merasakan otaknya seperti terhubung langsung dengan sentuhan Lin Feng, merasakan setiap sarafnya berdenyut, menuntut lebih dari sekadar janji-janji manis. "Kaisarmu mungkin melihatmu sebagai permata di balik sangkar emas," Lin Feng melanjutkan, suaranya rendah dan meyakinkan, "tapi aku melihatmu sebagai api yang menyala, menunggu untuk membakar." Jemarinya membelai bahu Selir Mei, turun ke lengan, lalu kembali ke pinggang. Gerakan itu lambat, namun penuh intensitas, seolah Lin Feng sedang memetakan setiap inci tubuh sang selir dalam ingatannya. Selir Mei merasakan pusing. Bukan pusing karena takut, melainkan pusing karena terbuai, karena kerinduan yang kini meledak dalam dirinya. Kata-kata Lin Feng seolah memberikan izin, membebaskannya dari belenggu etika istana yang selama ini mencekiknya. Sebuah getaran kuat menjalari tubuhnya, bibirnya sedikit terbelah, mengizinkan napasnya keluar dengan ritme yang lebih cepat. "Kau berhak dicintai, Mei Lian. Dicintai dengan seluruh jiwa dan raga," Lin Feng berbisik lagi, penekanan pada kata ‘dicintai’ itu menusuk dalam. "Bukan hanya dengan gelar atau status, tapi dengan sentuhan tulus yang membuatmu melupakan segalanya." Ia menarik tubuh Selir Mei lebih dekat lagi, hingga daster tipis itu bergeser, memperlihatkan sedikit punggung mulusnya di bawah cahaya rembulan yang samar. Setiap bisikan Lin Feng adalah racun yang memabukkan, meruntuhkan benteng terakhir dalam pikirannya. Selir Mei tahu ini salah, ini terlarang, ini bisa berarti hukuman mati. Namun, tubuhnya menolak untuk peduli. Hatinya yang selama ini kering, kini terasa seperti disiram air, tumbuh tunas-tunas gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia bersandar sepenuhnya pada Lin Feng, menyerahkan diri pada kehangatan dan janji-janji yang tak mungkin ia tolak lagi. --- Tangan Lin Feng yang besar dan hangat kini meluncur lebih jauh. Dari pinggang, jemarinya bergerak turun, membelai paha Selir Mei yang gemetar. Daster sutra tipis itu terangkat sedikit, memperlihatkan kulit paha yang seputih pualam di bawah remang cahaya. Sentuhan itu seperti percikan api yang langsung menyambar, membuat Selir Mei terkesiap, otot-otot pahanya menegang secara refleks. Ia merasakan panas jemari Lin Feng yang menempel di kulitnya. Kontras antara hangat sentuhan itu dengan udara malam yang sedikit sejuk memicu sensasi aneh yang menyenangkan. Kaki-kakinya terasa lemah, namun sekaligus ingin merapat, seolah mencari perlindungan dari sentuhan yang begitu berani itu. Namun, Lin Feng tidak mengizinkannya. Jemarinya menekan lembut, sedikit memisahkan kedua pahanya. "Lihatlah dirimu, Mei Lian," bisik Lin Feng, suaranya kini lebih dalam, lebih mengikat, "bahkan pahamu pun merespons. Mereka gemetar, bukan karena takut, tapi karena menanti." Ia mengusap perlahan bagian luar paha Selir Mei, naik turun dengan gerakan ritmis. Daster yang menutupi bagian itu kini terangkat, sedikit tergulung, membiarkan lebih banyak kulitnya terpapar sentuhan Lin Feng. Selir Mei merasakan seluruh tubuhnya berdenyut. Setiap saraf di pahanya seolah hidup, merespons setiap usapan Lin Feng. Sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya, lebih jelas dari sebelumnya, sebuah pengakuan tanpa kata. Ia tahu apa yang Lin Feng lakukan, ke mana arah sentuhan itu, dan ia tidak bisa menghentikannya. Atau, lebih tepatnya, ia tidak *ingin* menghentikannya. Panas tubuhnya memancar, terasa di kulit Lin Feng yang menempel di punggungnya. Ia bisa merasakan jantungnya sendiri berdetak lebih cepat, darahnya mengalir deras, memompa gairah ke setiap sudut tubuhnya. Jemari Lin Feng kini membelai lebih dalam, mendekati area terlarang yang selama ini hanya ia ketahui dalam khayalan. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan penuh kelembutan yang mematikan, yang melucuti setiap pertahanan diri Selir Mei. "Tubuhmu begitu jujur, Mei Lian," bisik Lin Feng, suaranya kini terdengar seperti lolongan serigala yang siap menerkam mangsanya, namun tetap lembut, "ia tidak bisa berbohong tentang hasrat yang kau pendam." Paha Selir Mei semakin gemetar, menanggapi setiap sentuhan Lin Feng yang semakin berani. Ia memejamkan mata, membiarkan sensasi panas itu mengambil alih, membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran gairah yang memabukkan. --- Jemari Lin Feng yang panas tidak berhenti di situ. Dengan gerakan yang lebih yakin, lebih berani, ia mulai merayap ke sela paha Selir Mei, mencari kehangatan yang basah dan berdenyut. Daster tipis itu kini tersingkap sepenuhnya di area itu, membuka akses langsung ke kulit Selir Mei yang paling sensitif. Selir Mei terkesiap, tubuhnya menegang, namun ia tidak menarik diri. Sebaliknya, ia sedikit membuka kakinya, seolah memberikan izin tak terucapkan. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa, diikuti oleh kelembapan yang semakin nyata. Jari-jari Lin Feng yang panjang dan ramping bergerak perlahan, menjelajahi setiap lekukan, setiap lipatan kulit yang selama ini tersembunyi. Sebuah rintihan panjang, *ah... ngghh...*, keluar dari bibir Selir Mei, terdengar seperti suara wanita yang baru saja menemukan sesuatu yang hilang dari hidupnya. Kepalanya mendongak, bersandar pada bahu Lin Feng. "Di sini, Mei Lian," bisik Lin Feng, suaranya kini sarat gairah, "di sinilah letak kebahagiaanmu yang sesungguhnya. Kebahagiaan yang selama ini kau ingkari." Jemarinya menekan lembut, merasakan respons tubuh Selir Mei yang semakin intens. Otot-otot di sekitar area itu berdenyut, mengencang dan melonggar, seolah menyambut sentuhan yang telah lama dirindukan. Selir Mei tidak bisa lagi berpikir jernih. Otaknya dipenuhi oleh sensasi panas, basah, dan denyutan yang semakin kuat. Ia tahu jari-jari Lin Feng sedang mencari intinya, mencari sumber gairah yang kini meluap-luap dalam dirinya. Sebuah desahan berat keluar dari bibirnya, diikuti oleh embusan napas yang terputus-putus. Kaki-kakinya semakin terbuka, pahanya gemetar tak terkendali, menunjukkan betapa ia merindukan sentuhan ini. Lin Feng merasakan panas yang memancar dari tubuh Selir Mei, kelembapan yang menyelimuti jemarinya. Ia tersenyum puas, menyadari bahwa Selir Mei telah sepenuhnya menyerahkan diri pada hasratnya. Ia membelai perlahan, menggerakkan ibu jarinya di tepi area sensitif itu, membuat Selir Mei menggeliat dalam dekapannya. Wanita itu kini sepenuhnya di bawah kendalinya, tubuhnya tunduk pada setiap sentuhannya. Selir Mei terkesiap, jari-jari Lin Feng yang panas melesat, merayap ke sela pahanya, mencari sesuatu yang kini basah dan berdenyut tak sabar.

End of Chapter 6