Chapter 4 of 6

Lekuk Tubuh di Balik Sutra

2.0k words

Udara di Paviliun Anggrek terasa menipis, memadat di antara mereka. Cahaya rembulan yang menembus jendela ukir jatuh tepat di atas lantai marmer, menyoroti Lin Feng yang berdiri tegak, beberapa langkah di hadapan Selir Mei. Sepasang matanya menelusuri setiap inci kulit sang selir. Tatapan itu bukan tatapan serigala lapar, melainkan sorot mata seorang seniman yang memandang mahakaryanya, penuh gairah yang tulus, tanpa cela. Kulit Selir Mei memutih seperti pualam di bawah temaram. Pakaian sutra yang tadi membalut kini tergeletak di kakinya, membentuk genangan kain lembut. Lekuk pinggangnya yang ramping, tonjolan tulang selangka yang halus, serta gundukan payudara yang mungil namun indah, semuanya terekspos dalam keheningan malam. Napas Selir Mei tertahan di kerongkongan. Ujung-ujung jemarinya terasa dingin, meskipun seluruh tubuhnya memanas seperti bara. Sensasi telanjang di hadapan seorang pria asing adalah hal yang belum pernah ia alami, bahkan dari Kaisar sekalipun. Perasaan itu bercampur aduk: ada rasa malu yang menusuk hingga ke ulu hati, namun juga ada getaran aneh yang menjalar, seperti senar kecapi yang baru saja dipetik. Perutnya terasa digelitik, dan dadanya naik turun dengan ritme yang tak beraturan. Ia mencoba mengalihkan pandangannya dari sorot mata Lin Feng yang membakar, mencari perlindungan pada bayang-bayang di sudut ruangan. Namun, seolah ada magnet tak kasat mata, matanya selalu kembali pada sosok pria itu. Lin Feng begitu nyata, begitu dekat, namun terasa seperti mimpi yang baru saja ia sadari. Bibir Lin Feng sedikit terangkat di satu sudut, senyum tipis yang bukan meremehkan, melainkan penuh pengertian. Ia tahu persis apa yang berkecamuk di dalam benak Selir Mei. Pria itu mengangkat satu tangannya, bergerak sangat pelan, seolah takut mengganggu kupu-kupu yang baru saja keluar dari kepompongnya. Jari-jarinya yang panjang dan ramping berhenti di udara, sejajar dengan mata Selir Mei. "Kau begitu… indah," Lin Feng berbisik, suaranya serak dan rendah, seperti alunan melodi Guzheng yang dimainkan di tengah malam. Setiap suku kata mengalir lembut, membelai indra pendengaran Selir Mei. Kata-kata itu tidak terdengar seperti pujian kosong. Ada kedalaman di sana, sebuah pengakuan yang membuat kulit Selir Mei meremang. Selir Mei tidak tahu harus menjawab apa. Otaknya terasa kosong, hanya menyisakan sensasi kulit yang terasa terekspos. Pipi pucatnya perlahan dihinggapi warna merah jambu yang samar, menjalar hingga ke lehernya. Ia ingin sekali menutupi diri, bersembunyi di balik kain sutra tipis yang kini tak berdaya di lantai. Namun, kakinya terasa terpaku, dan seluruh tubuhnya seperti patung yang rapuh, menunggu sentuhan yang akan menghancurkannya atau justru menghidupkannya. Lin Feng menurunkan tangannya, tetapi tatapannya tetap terkunci padanya. Pancaran matanya memancarkan rasa kagum yang tak terbantahkan. Ia melihat lebih dari sekadar fisik. Ia melihat jiwa yang terperangkap, merindukan kebebasan, haus akan sentuhan yang berarti. Lin Feng telah berjanji untuk mengisi kekosongan itu, dan kini, di bawah tatapan jujurnya, janji itu terasa begitu nyata. --- Insting Selir Mei berteriak. Sebuah dorongan kuat untuk melindungi diri membuat tangannya terangkat, menyilang di depan dadanya, seolah ingin menciptakan perisai dari tatapan Lin Feng yang begitu intens. Gerakan itu terjadi begitu cepat, refleks alami dari seorang wanita yang terbiasa hidup dalam batasan dan etiket istana. Namun, sebelum jemarinya sempat menutupi sepenuhnya, sebuah sentuhan lembut menghentikannya. Jemari panjang Lin Feng menyentuh pergelangan tangannya, sangat ringan, namun cukup kuat untuk menghentikan niatnya. Kehangatan kulit pria itu menembus dinginnya kulit Selir Mei, mengirimkan gelombang kejutan yang merambat naik ke bahunya. Sebuah desahan tertahan lolos dari bibirnya, nyaris tak terdengar. "Jangan," Lin Feng berbisik lagi, suaranya kini lebih dekat, mengalir seperti madu ke telinga Selir Mei. Ia tidak meminta, ia menahan. Jari-jemarinya tidak mencengkeram, melainkan membelai perlahan, seolah sedang memegang porselen paling berharga. Sensasi itu, sentuhan lembut yang menghalangi, terasa jauh lebih kuat daripada paksaan fisik. Sebuah teguran tanpa kata, sebuah permohonan yang tak bisa ditolak. Selir Mei merasakan jantungnya berdebar, memukul-mukul rusuknya seperti genderang perang. Darah mengalir deras ke seluruh tubuhnya, membuatnya terasa seperti terbakar dari dalam. Ia mencoba menarik tangannya, namun sentuhan Lin Feng terasa seperti belenggu yang manis. Pertarungan batinnya begitu nyata: antara rasa malu yang mengakar kuat dan getaran aneh yang baru saja ia rasakan, yang menariknya ke arah pria ini. "Biarkan aku melihatmu," Lin Feng melanjutkan, suaranya kali ini lebih dalam, sarat akan otoritas yang lembut. Jemarinya perlahan mengelus bagian dalam pergelangan tangan Selir Mei, naik ke lengan atas. Sensasi gesekan kulit yang begitu intim itu membuat bulu-bulu halus di lengan sang selir meremang. Ia bahkan tidak berani bernapas terlalu dalam, takut merusak momen yang begitu rapuh ini. Matanya mencari mata Lin Feng, mencoba membaca niat di balik tatapan itu. Tidak ada nafsu belaka, tidak ada kekasaran. Hanya ada rasa kagum yang murni, seolah ia adalah patung dewi yang baru saja ditemukan. Tatapan itu menelanjanginya lebih dari sekadar fisik, menembus hingga ke inti jiwanya. Pertahanan yang dibangunnya selama bertahun-tahun di istana, kini terasa goyah, runtuh satu per satu. Aliran napasnya menjadi cepat dan dangkal. Tubuhnya sedikit bergetar, bukan karena dingin, melainkan karena gejolak yang hebat di dalam dirinya. Telapak tangan Lin Feng kini menangkup siku Selir Mei, dengan perlahan ia menurunkan tangannya dari dada Selir Mei. Gerakan itu sangat halus, nyaris tidak terasa seperti paksaan, lebih seperti sebuah ajakan untuk membuka diri. Dan Selir Mei, entah mengapa, membiarkannya. Ia membiarkan tangannya diturunkan, membiarkan tubuhnya kembali terekspos sepenuhnya di hadapan Lin Feng. --- Lin Feng melangkah maju, perlahan, seperti predator yang bergerak dalam keheningan total. Setiap gerakannya dihitung, penuh kesadaran. Jarak di antara mereka menyusut, memakan habis sisa-sisa keberanian yang masih dipegang Selir Mei. Udara dingin di antara mereka kini menghilang, digantikan oleh kehangatan tubuh Lin Feng yang memancar. Satu langkah lagi. Lalu satu langkah lagi. Selir Mei tidak bergerak, tidak mundur. Kakinya terasa mengeras di tempatnya, menolak untuk patuh pada naluri yang berteriak untuk melarikan diri. Ia hanya bisa menatap Lin Feng, matanya yang sayu kini sedikit melebar, memantulkan bayangan pria itu yang semakin dekat. Saat Lin Feng berhenti, ujung hidungnya nyaris menyentuh pelipis Selir Mei. Hembusan napas hangatnya menerpa sisi leher sang selir, lembut namun membakar. Aroma tubuh Lin Feng—campuran musk maskulin yang kuat, sentuhan rempah yang eksotis, dan sesuatu yang segar seperti hutan setelah hujan—menguar, memenuhi indra penciumannya. Wangi itu memabukkan, mengusir aroma melati yang biasa ia kenakan. Bulu kuduk di sepanjang punggung Selir Mei langsung meremang, menjalar hingga ke kulit kepala. Sebuah getaran halus melintas di tulang belakangnya, seolah ada sesuatu yang baru saja terbangun dari tidur panjang. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kini terasa seperti dentuman guntur di dalam dadanya. Suara detak jantungnya sendiri terasa terlalu keras di telinganya. Lin Feng mencondongkan tubuhnya sedikit, bibirnya yang tipis berada tepat di samping daun telinga Selir Mei. Kehangatan napasnya begitu nyata, begitu mendalam, hingga Selir Mei merasa seluruh sarafnya ditarik kencang. Ia bisa merasakan setiap embusan udara dari paru-paru pria itu, getaran lembut saat Lin Feng bernapas. "Kau begitu rapuh," Lin Feng berbisik, nadanya begitu rendah hingga nyaris tak terdengar. Kata-kata itu menembus langsung ke hatinya, mengakui kelemahannya yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Selir Mei menggigit bibir bawahnya, menahan rintihan yang nyaris lolos. Ia tidak tahu apakah ia harus marah, atau justru merasa lega karena ada yang akhirnya melihat dirinya yang sebenarnya. Sebuah sentuhan lembut, sehalus sayap kupu-kupu, mendarat di bahu telanjangnya. Jemari Lin Feng meluncur perlahan dari bahu, menyusuri tulang leher, lalu berhenti di cekungan di dasar lehernya. Kulitnya bereaksi seketika, membakar di bawah sentuhan itu. Sensasi ini begitu baru, begitu intens, membuat seluruh tubuhnya tegang dan menegang dalam penantian. --- Mulut Lin Feng bergerak, kata-kata pujian mengalir dari bibirnya seperti air yang mengalir di sungai yang tenang. Namun, alih-alih menenangkan, setiap kata justru membakar, mengobarkan bara api di dalam diri Selir Mei. Suaranya serak, rendah, dan penuh keyakinan. Tidak ada keraguan, tidak ada basa-basi. Ini adalah pengakuan dari seorang pria yang tahu apa yang ia lihat. "Kulitmu sehalus sutra termahal, Mei-er," bisik Lin Feng, menggunakan nama panggilan yang begitu intim, seolah mereka sudah saling mengenal selama berabad-abad. Sebuah nama yang belum pernah ia dengar dari siapa pun, bahkan dari dayang-dayangnya. Nama itu terasa begitu manis di lidah Lin Feng, dan lebih manis lagi saat masuk ke telinga Selir Mei. Pipi sang selir, yang tadinya hanya merah jambu samar, kini memerah lebih dalam, menjalar hingga ke dada bagian atasnya. Sensasi panas ini tidak seperti demam, melainkan seperti bara api yang membakar dari dalam. "Bentuk tubuhmu, lekuk-lekuk ini…" Lin Feng melanjutkan, jeda sejenak, seolah mencari kata yang paling tepat. Jari-jemarinya yang hangat masih di cekungan leher Selir Mei, kini mengelus perlahan, mengirimkan gelombang listrik yang membuat napas Selir Mei tercekat. "Adalah karya seni, ciptaan dewa yang paling indah. Tidak ada cacat, tidak ada kekurangan." Setiap pujian itu terasa seperti sentuhan fisik, membelai setiap inci tubuhnya yang kini terekspos. Selir Mei merasa malu yang menusuk. Selama ini, tubuhnya hanyalah wadah, sebuah objek yang diharapkan akan memberikan pewaris bagi kaisar. Tidak pernah ada yang memujinya dengan cara seperti ini, dengan gairah dan penghormatan yang begitu tulus. Perasaan itu bercampur aduk, aneh, dan membingungkan. Ia ingin menyangkal, ingin mengatakan bahwa semua ini adalah kebohongan. Namun, ada bagian dari dirinya yang sangat merindukan kata-kata itu, yang haus akan pengakuan seperti ini. Air matanya nyaris menetes, bukan karena kesedihan, melainkan karena gejolak emosi yang terlalu kuat. Sebuah sensasi baru, gairah yang belum pernah ia alami, kini bergejolak di dasar perutnya, perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya. Kepalanya sedikit mendongak, matanya menatap Lin Feng, mencari kebenaran di balik setiap kata. Lin Feng membalas tatapannya, sorot matanya begitu dalam, seolah ia bisa melihat semua rahasia yang tersembunyi. Pipi merahnya terasa semakin panas, namun anehnya, ia tidak lagi ingin menutupi diri. Ada semacam kebebasan, sebuah pelepasan dari belenggu yang tidak terlihat, yang baru saja ia rasakan. "Kau bukan sekadar selir di istana ini, Mei-er," Lin Feng berbisik, suaranya kini lebih berat, lebih intim. "Kau adalah Mei Lian, wanita yang haus akan keindahan, haus akan sentuhan yang nyata. Wanita yang pantas dicintai, dipuja, dan dinikmati setiap inci keindahannya." --- Lin Feng menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat, hingga Selir Mei bisa merasakan kehangatan dadanya yang bidang. Bibirnya bergerak, menempel erat di daun telinga Selir Mei, mengirimkan sensasi geli dan panas yang menjalar. Udara yang keluar dari mulut Lin Feng terasa begitu lembap, begitu intim, menyelimuti telinganya. "Dengar detak jantungmu, Mei-er," bisik Lin Feng, suaranya rendah dan parau, nyaris seperti geraman. Kata-kata itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan. Ia bisa merasakan getaran itu, merasakan ritme yang memburu di dalam diri Selir Mei. Sentuhan bibirnya di telinga begitu ringan, namun dampaknya terasa seperti gelombang kejut yang melanda seluruh tubuh sang selir. Selir Mei memejamkan matanya, napasnya tersengal. Detak jantungnya memang menggila, memukul-mukul gendang telinganya sendiri. Ia tidak bisa menyangkalnya. Semua ini terlalu nyata, terlalu intens. Ujung jemarinya terasa kebas, namun sekaligus sensitif, merindukan sentuhan yang lebih dalam. Kemudian, sebuah sensasi basah dan hangat menyentuh daun telinganya. Ujung lidah Lin Feng menyapu perlahan, sangat lembut, namun begitu kuat dalam efeknya. Sensasi basah yang tiba-tiba itu membuat Selir Mei tersentak, seluruh tubuhnya menegang. Sebuah rintihan kecil lolos dari bibirnya, nyaris tak terdengar, tenggelam dalam keheningan malam. Lidah Lin Feng bergerak naik turun di lekukan daun telinganya, menjelajahi setiap inci. Sebuah sentuhan yang begitu intim, begitu provokatif, belum pernah ia alami seumur hidupnya. Selir Mei merasakan getaran liar di seluruh tubuhnya. Sensasi itu dimulai dari telinganya, merambat cepat ke leher, turun ke dada, dan akhirnya berpusat di dasar perutnya. Seluruh ototnya menegang, dan napasnya semakin tercekik. "Kau tahu apa yang kau inginkan," Lin Feng berbisik lagi, suaranya kini terdengar basah, menyatu dengan sentuhan lidahnya. "Kau menginginkan ini, semua ini, Mei-er. Jangan bohongi dirimu sendiri. Aku datang untuk memberikan apa yang jiwamu rindukan." Selir Mei tidak bisa lagi berpikir. Otaknya terasa kosong, hanya menyisakan sensasi yang melanda indranya. Ia merasakan getaran liar di seluruh tubuhnya, sebuah gejolak hasrat yang tidak bisa lagi ia kendalikan. Lidah Lin Feng terus bermain di telinganya, membisikkan janji-janji terlarang, memancing respon yang belum pernah ia bayangkan. Ia hanya bisa memejamkan mata, merasakan getaran liar di seluruh tubuhnya.

End of Chapter 4

Chapter 4: Lekuk Tubuh di Balik Sutra - Sang Hantu Asmara: Penjelajah Waktu dari Masa Depan | Novel AI Studio