Chapter 3 of 6
Chapter 3: Teror dan Godaan Terukir
1.7k words
Udara di Paviliun Anggrek terasa menipis. Selir Mei melangkah mundur, kakinya menyentuh tepi permadani sutra, menciptakan suara gesekan halus yang nyaris tak terdengar. Matanya melebar, menatap Lin Feng yang berdiri di depannya, sosoknya menjulang di bawah cahaya rembulan yang samar menembus jendela. Jantungnya memompa, berdebar kencang di balik sangkar rusuknya, menabuh irama teror yang bercampur dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang asing dan mendesak.
Pria itu baru saja menghilang dan muncul kembali, seolah-olah dia adalah hantu atau dewa. Pikirannya berpacu, mencari penjelasan logis yang tak kunjung datang. Dia mengamati garis rahang tegas Lin Feng, bibirnya yang penuh, dan tatapan matanya yang dalam, yang kini terasa memaku dirinya di tempat.
"Siapa kau?" Suara Selir Mei bergetar, lebih seperti bisikan daripada pertanyaan. Dia meremas ujung jubah tidurnya, jari-jarinya memutih. Bau cendana dari luluran tubuhnya sendiri bercampur dengan aroma maskulin yang kuat, aroma yang bukan milik istana, bukan milik kaisar.
Lin Feng tidak langsung menjawab. Sepasang matanya menelusuri setiap inci wajah Selir Mei, dari dahi licinnya hingga bibir mungilnya yang sedikit terbuka. Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya, menambah aura misteri yang memikat.
"Bukankah aku sudah memberitahumu?" Lin Feng mengambil satu langkah maju. Udara di antara mereka bergetar, seolah energi tak terlihat sedang bergesekan. "Aku Hantu Asmara. Aku datang untukmu, Mei-fei."
"Untukku?" Selir Mei menggelengkan kepala, helai rambutnya yang panjang berayun tipis. "Ini gila. Aku... aku tidak mengerti." Otot-otot di lehernya menegang, menelan ludah terasa sulit.
"Kau tidak perlu mengerti," sahut Lin Feng, suaranya rendah dan penuh percaya diri. Langkahnya berhenti. Jarak di antara mereka kini hanya sejengkal. Aroma tubuhnya menerpa hidung Selir Mei, memabukkan, lebih intens dari sebelumnya. "Kau hanya perlu merasa."
Matanya mencari mata Selir Mei, menahannya, tidak membiarkannya berpaling. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang meruntuhkan benteng pertahanannya, sesuatu yang terlalu jujur dan terlalu berbahaya. Kehangatan memancar dari tubuh Lin Feng, memanaskan kulit Selir Mei meskipun mereka belum bersentuhan.
"Merasa apa?" tanya Selir Mei, suaranya hampir tak terdengar. Dia tahu dia seharusnya berteriak, memanggil pengawal, tetapi tubuhnya membeku, terpaku oleh daya pikat yang aneh ini. Keterkejutan awalnya telah tergantikan oleh desiran panas yang menjalari nadinya.
"Merasa apa yang selama ini kau inginkan," bisik Lin Feng, kata-katanya menggantung di udara seperti kelopak bunga melati. "Merasa utuh. Merasa diinginkan. Merasa... bahagia."
---
Lin Feng mendekat, satu langkah lagi, hingga ujung jubah tidurnya menyentuh ujung gaun sutra Selir Mei. Suara napasnya sendiri terasa terlalu keras di telinganya. Janji kebahagiaan itu, diucapkan dengan suara rendah yang mengalun, terasa begitu nyata, begitu membuai. Selir Mei mengangkat dagunya sedikit, seolah ingin menangkap setiap suku kata yang keluar dari bibir pria itu.
"Bahagia?" gumamnya, bibirnya sedikit bergetar. "Kata itu... sudah lama sekali tidak mengunjungiku." Sebuah kerudung kesepian menyelimuti suaranya, membiarkan kerentanan tersembunyi terpancar.
Lin Feng mengulurkan tangannya, telapak tangannya terbuka, jari-jarinya panjang dan ramping. Dia tidak menyentuh, hanya menahannya di udara, beberapa inci dari pipi Selir Mei. Kehangatan dari tangannya memancar, menembus kulitnya, mengirimkan gelombang panas ke seluruh tubuh.
"Kebahagiaan bukan sekadar kata, Mei-fei," bisiknya, suaranya lebih serak, lebih intim, seolah dia berbagi rahasia yang paling dalam. "Itu adalah sensasi. Sebuah sentuhan. Sebuah pelepasan dari belenggu yang mengikatmu."
Ujung ibu jarinya bergerak perlahan, seolah sedang mengukur jarak, menguji batasan. Selir Mei memejamkan mata sesaat, napasnya tertahan. Dia bisa merasakan hembusan napas Lin Feng di wajahnya, hangat dan memabukkan, beraroma seperti mint dan sesuatu yang lebih liar, lebih maskulin.
"Belenggu?" Dia membuka matanya, tatapannya kini lebih lembut, ketakutan mulai terkikis oleh keingintahuan dan hasrat yang tak dikenalnya. "Kau tahu tentang belengguku?"
"Aku tahu segalanya tentangmu, Mei-fei," jawab Lin Feng, senyumnya kini lebih tulus, lebih memikat. Kata-katanya menyelinap ke telinganya, membelai seperti sutra dingin, tetapi meninggalkan jejak panas di dalam dirinya. "Kesepianmu. Kekosonganmu. Hasrat tersembunyimu."
Dia memiringkan kepalanya sedikit, seolah ingin lebih dekat, ingin menyerap setiap kata yang diucapkan pria itu. Suara rendah Lin Feng adalah melodi yang asing dan memukau, sebuah simfoni yang membangunkan setiap saraf di tubuhnya. Itu adalah suara yang menjanjikan, yang membuai, yang mengikis pertahanannya sedikit demi sedikit.
"Bagaimana... bagaimana kau tahu?" desahnya, suaranya hampir tak terdengar, tenggelam dalam keheningan paviliun yang sepi itu. Dunia di luar, istana yang megah dan berbahaya, seolah lenyap, hanya menyisakan mereka berdua, terperangkap dalam gelembung intim yang rapuh.
---
Lin Feng melangkah lebih dekat, mengikis jarak terakhir di antara mereka. Sebuah getaran aneh menjalari tubuh Selir Mei, mulai dari telapak kakinya yang dingin hingga ujung mahkotanya yang terasa panas. Napasnya tertahan di tenggorokan, tidak berani menghirup terlalu dalam, takut mengganggu keajaiban momen ini. Dia bisa merasakan panas tubuh Lin Feng, bahkan tanpa sentuhan. Udara di sekeliling mereka terasa berdenyut, memanas dengan intensitas yang tak terkatakan.
"Karena aku melihatmu, Mei-fei," bisik Lin Feng, kepalanya sedikit menunduk, bibirnya kini hanya berjarak inci dari telinga Selir Mei. Suara seraknya mengirimkan gelombang kejut ke seluruh sarafnya, membuatnya merinding. <i>Ssst...</i>
Bulu-bulu halus di lengannya berdiri. Aroma tubuh Lin Feng, perpaduan mint dan musk yang kuat, kini memenuhi paru-parunya, memabukkan, membuat kepalanya pening. Dia tidak pernah merasakan kedekatan seperti ini, keintiman yang begitu mendalam, bahkan dari kaisar sekalipun.
"Melihat apa?" Selir Mei bertanya balik, suaranya nyaris tercekik. Matanya terpaku pada kerah jubah Lin Feng yang terbuka, memperlihatkan sedikit lengkung otot dadanya yang padat. Sebuah gambaran yang sangat asing bagi matanya yang terbiasa dengan kerapian jubah istana.
"Melihat jiwamu yang merana di balik dinding-dinding ini," jawab Lin Feng, suaranya menggetarkan daun telinga Selir Mei. Dia sedikit menggeser tubuhnya, posisi mereka kini nyaris tak berjarak. Lututnya hampir menyentuh paha Selir Mei, mengirimkan gelombang kehangatan yang tak terbantahkan.
"Melihat kerinduanmu akan sentuhan yang tulus, akan perhatian yang bukan karena gelar, melainkan karena dirimu." Tangannya terangkat lagi, kali ini menyentuh ujung rahang Selir Mei dengan lembut. Ibu jarinya membelai kulit di bawah telinganya, gerakan yang begitu perlahan, begitu hati-hati, namun begitu membakar.
Selir Mei merasakan otot di rahangnya mengencang, menahan erangan yang ingin lepas. Sensasi itu terlalu baru, terlalu kuat. Dia tidak tahu harus berbuat apa dengan gelombang panas yang kini berkumpul di perut bagian bawahnya. Matanya terpejam lagi, membiarkan sentuhan itu meresap, menghancurkan sisa-sisa pertahanannya.
"Apakah... apakah itu benar?" bisiknya, suaranya bergetar. Dia tidak tahu apakah dia bertanya pada Lin Feng atau pada dirinya sendiri. Kebenaran yang diungkapkan pria itu terasa sangat tepat, sangat telanjang.
"Kau tidak perlu menjawab dengan kata-kata, Mei-fei," bisik Lin Feng, suaranya kini semakin dalam. Tangannya bergerak turun dari rahangnya, melintasi lehernya yang jenjang, ke bahunya. Sebuah sentuhan ringan, namun terasa seperti api yang membakar.
---
Jemari Lin Feng terulur lebih jauh, perlahan, dengan sengaja, menyentuh pinggang Selir Mei. Sentuhan itu membakar, seolah jari-jari pria itu terbuat dari bara api yang membara. Selir Mei tidak bisa menahan erangan tertahan yang lolos dari bibirnya, sebuah suara kecil, lemah, dan penuh kerentanan. Tubuhnya menegang, punggungnya melengkung sedikit, menanggapi rangsangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dia merasakan panas menjalari setiap inci kulitnya di bawah sentuhan Lin Feng.
"Lihatlah," bisik Lin Feng, suaranya berat, penuh gairah yang tersembunyi. "Bahkan tubuhmu pun merindukan ini. Merindukan kebebasan untuk merasa."
Ibu jarinya bergerak melingkar di pinggangnya, perlahan mengikis kain sutra tipis yang membalut tubuh Selir Mei. Gerakan itu begitu halus, namun setiap putaran terasa seperti spiral yang menariknya lebih dalam ke pusaran hasrat yang berbahaya. Otot-otot di perutnya mengencang, bukan karena takut, melainkan karena antisipasi, karena desakan yang tak terbantahkan.
Selir Mei membiarkan kepalanya bersandar sedikit ke bahu Lin Feng, matanya masih terpejam rapat. Aroma maskulin pria itu kini benar-benar meliputi dirinya, memenuhi indra penciumannya hingga membuatnya pening. Dia bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu, mengalahkan irama normalnya, dan dia yakin Lin Feng bisa merasakannya juga.
"Aku... aku tidak pernah..." Dia mencoba bicara, tetapi kata-katanya tercekat di tenggorokan. Rasa malu bercampur dengan gairah yang membingungkan, menciptakan sensasi yang aneh dan memabukkan. Sentuhan Lin Feng di pinggangnya kini terasa lebih kuat, lebih menekan.
"Jangan coba melawan, Mei-fei," bisik Lin Feng, nadanya lembut namun tegas, penuh perintah yang tak terbantahkan. Jemarinya mulai menekan sedikit, memberikan pijatan kecil yang mengirimkan gelombang listrik ke seluruh tubuh Selir Mei. "Biarkan dirimu merasakan. Biarkan dirimu bebas."
Dia membuka matanya, menatap Lin Feng dengan tatapan berkabut. Ada kebingungan di sana, tetapi lebih banyak lagi adalah kerinduan yang tersembunyi. Bibirnya sedikit terbuka, mengambil napas pendek dan cepat. Lingkaran merah muda di pipinya semakin jelas, tanda dari gejolak emosi yang membara di dalam dirinya.
"Apa yang... apa yang akan kau lakukan?" tanyanya, suaranya hampir tak terdengar, sebuah bisikan yang penuh penyerahan. Dia tidak lagi mundur. Justru, tubuhnya sedikit condong, mencari lebih banyak dari sentuhan itu, dari kehangatan itu. Pinggangnya berdenyut di bawah jemari Lin Feng, memohon lebih.
---
Lin Feng tidak menjawab dengan kata-kata. Sebuah senyum tipis, penuh janji dan misteri, kembali menghiasi bibirnya. Tatapan matanya yang gelap menelusuri wajah Selir Mei, berhenti sejenak di bibir basahnya yang sedikit terbuka, kemudian turun ke leher jenjangnya, dan akhirnya terpaku pada lekukan dadanya yang samar terlihat di balik kain sutra tipis.
Jemari Lin Feng bergerak dari pinggang Selir Mei, naik perlahan, menyusuri lekuk tubuhnya. Sentuhan itu ringan, namun meninggalkan jejak panas yang membakar di setiap inci kulitnya. Selir Mei menahan napas, dadanya naik turun dengan cepat. Dia bisa merasakan setiap serat sutra yang bergesekan dengan kulitnya saat jemari pria itu naik.
Telapak tangan Lin Feng berhenti di bawah payudaranya, tepat di tepi kain yang melindunginya. Sebuah tarikan napas tertahan lolos dari bibir Selir Mei. Dia bisa merasakan ujung jari Lin Feng yang hangat menekan kain tipis itu, hampir menembus, membuat putingnya mengeras dengan sendirinya di bawah kain.
"Kau sangat indah, Mei-fei," bisik Lin Feng, suaranya serak, penuh kekaguman. Matanya memancarkan gairah yang tak tertahankan, gairah yang membuat Selir Mei merasa telanjang meskipun pakaiannya masih melekat.
Dia memiringkan kepalanya, matanya setengah terpejam, menyerah pada sensasi yang membanjiri tubuhnya. Sentuhan itu, tatapan itu, bisikan itu... semuanya adalah hal baru yang memabukkan. Dia belum pernah merasa begitu diinginkan, begitu diperhatikan, bahkan dalam mimpinya yang paling liar sekalipun.
Lin Feng menjentikkan pergelangan tangannya dengan gerakan terlatih. Sebuah bunyi <i>sreeet</i> halus terdengar saat pakaian sutra tipis yang membalut tubuh Selir Mei melesat terbuka, hanya dengan satu tarikan ringan. Kain itu meluncur dari bahunya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang memancing di bawah cahaya rembulan.