Langkah kaki para penjaga istana semakin mendekat. Suara denting baju zirah dan bisikan samar mereka menembus dinding paviliun, membelah keheningan malam yang pekat. Lin Feng merasakan getaran halus di udara, sebuah firasat yang familiar saat patroli rutin melintas. Di samping ranjang, Selir Mei terkesiap, tubuhnya menegang seperti dahan rapuh yang diterpa angin. Matanya yang indah melebar sempurna, pupilnya memantulkan kegelapan, bibirnya terbuka sedikit, namun tidak ada suara yang keluar. Wanita itu membeku, ketakutan jelas menguasai setiap serat tubuhnya.
Sebuah kilatan tajam muncul di mata Lin Feng. Ia menatap Selir Mei, seolah ingin menyampaikan sesuatu tanpa kata, sebuah jaminan yang tak terucapkan di tengah ancaman yang membayangi. Jemarinya secara refleks menyentuh liontin giok yang tergantung di lehernya. Permukaannya yang dingin memberikan sensasi menenangkan, sebuah pengingat akan kekuatannya. Lin Feng tahu persis apa yang harus ia lakukan. Ini bukan kali pertama ia menghadapi situasi seperti ini, dan ia selalu berhasil.
Suara langkah kaki kini terdengar tepat di luar dinding, lebih dekat dari sebelumnya. Lin Feng bisa merasakan hembusan napas Selir Mei yang tertahan, hampir tidak ada. Daster tipis sutra yang ia kenakan bergetar halus mengikuti setiap debaran jantungnya yang menggila. Aroma melati dari tubuhnya menguar lebih kuat, bercampur dengan bau ketakutan yang samar. Lin Feng menciumnya, sebuah aroma yang hanya akan muncul saat seseorang berada di ambang kepanikan.
"Mereka di sini," bisik Selir Mei, suaranya nyaris tak terdengar, serak seperti daun kering yang saling bergesekan. Ia bahkan tidak berani menoleh, matanya terpaku pada pintu kayu berukir yang seolah-olah akan terbuka kapan saja. Tubuhnya sedikit beringsut, seolah ingin menyatu dengan bantal sutra di belakangnya. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, tampak berkilauan di bawah cahaya remang lentera.
Lin Feng merasakan tarikan kuat di perutnya, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang mulai mengalir deras. Ia tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya, namun terlihat begitu tenang. "Jangan takut," katanya, suaranya rendah dan penuh keyakinan, "Aku akan kembali." Sebelum Selir Mei sempat mencerna kalimat itu, atau bahkan berkedip, tubuh Lin Feng mulai memudar. Dimulai dari ujung jari kakinya, lalu perlahan naik, seperti bayangan yang tertelan kegelapan. Ia menghilang tanpa jejak, hanya menyisakan getaran halus di udara dan aroma maskulin yang samar.
Selir Mei terkesiap lagi, kali ini lebih keras, nyaris menjadi erangan. Ia melihat tempat Lin Feng berdiri kini kosong. Matanya frantically memindai sekeliling kamar, mencari sosok yang baru saja ada di sana. Apakah ia bermimpi? Apakah sosok pria itu hanya fatamorgana yang muncul dari kesepiannya? Namun, ranjangnya masih terasa hangat di sisi yang baru saja diduduki pria itu. Aroma tubuhnya masih tertinggal, sebuah bukti nyata akan kehadirannya.
Di luar, suara patroli perlahan menjauh, langkah kaki yang berat kini hanya menyisakan gaung samar. Ketegangan di dalam kamar tidak berkurang sedikit pun. Malah bertambah. Selir Mei sendirian, dan ia baru saja menyaksikan sesuatu yang mustahil. Ia meraih selimut sutranya, menariknya erat hingga menutupi dagu, seolah ingin bersembunyi dari kenyataan yang baru saja terjadi. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seperti genderang perang. Setiap otot di tubuhnya menegang, menunggu, tanpa tahu apa yang ia tunggu.
---
Getaran di udara itu mereda, dan Lin Feng merasakan sensasi familiar dari kain sutra Selir Mei yang kembali membelai kulitnya. Ia muncul kembali, tepat di samping ranjang, pada posisi yang sama saat ia menghilang. Matanya langsung tertuju pada Selir Mei. Wanita itu masih gemetar, tangannya memegang erat selimut, buku-buku jarinya memutih. Matanya terbelalak, menatap lurus ke arahnya, seolah ia adalah hantu yang baru saja keluar dari alam kubur. Sebuah tarikan di sudut bibir Lin Feng, senyum kecil, meyakinkan.
"Sudah kubilang, aku akan kembali," bisiknya, suaranya tenang, memecah keheningan yang menyesakkan. Lin Feng bisa melihat butiran keringat di dahi Selir Mei, membasahi beberapa helai rambut hitamnya yang lepas dari sanggul. Napasnya masih terputus-putus, dadanya naik turun dengan cepat di bawah balutan daster lavendernya. Wanita itu tidak menjawab, hanya menatap, seolah otaknya masih memproses apa yang baru saja terjadi. Kehadirannya, lenyapnya, dan kembalinya, semua di luar nalar.
"Kau... kau benar-benar..." Selir Mei tergagap, suaranya tercekat. Ia mencoba merangkai kata, namun hanya suara napas berat yang keluar. Lin Feng merasa kasihan, sekaligus tertarik. Ketakutan wanita ini begitu murni, begitu nyata. Ini bukan kepura-puraan seorang selir istana, melainkan respons alami dari seseorang yang dihadapkan pada hal yang tidak bisa dijelaskan. Sebuah tantangan baginya untuk mengubah ketakutan itu menjadi sesuatu yang lain.
Lin Feng sedikit memiringkan kepalanya, senyumnya kini sedikit lebih lembut, lebih menghipnotis. "Kau melihatnya, bukan? Aku bukan makhluk biasa. Aku datang untukmu." Ia mendekat selangkah, gerakannya begitu halus sehingga hampir tak terdengar. Udara di antara mereka menipis. Aroma melati yang tadi bercampur ketakutan, kini lebih dominan, lebih manis, seolah Selir Mei secara tidak sadar mulai melepaskan sedikit pertahanannya. Namun, getaran di tubuh wanita itu belum hilang sepenuhnya.
"Untukku?" Selir Mei akhirnya berhasil mengucapkan satu kata, nadanya penuh keraguan, juga sedikit rasa ingin tahu yang terselip di sana. Alisnya sedikit berkerut, tatapan matanya masih bercampur antara rasa takut dan kebingungan. Ia tidak beringsut mundur, namun juga tidak mendekat. Sebuah dilema yang jelas terlihat di wajah cantiknya. Lin Feng bisa membaca gejolak batin itu, sebuah celah kecil yang bisa ia manfaatkan. Ia tahu bagaimana meruntuhkan dinding-dinding itu.
"Ya, untukmu," Lin Feng menegaskan, suaranya seperti bisikan yang membelai. "Untuk menghapus kesepianmu, untuk mengisi kekosongan yang tak seorang pun berani sentuh." Ia menatap dalam ke mata Selir Mei, seolah ingin menyelami setiap sudut jiwanya. Wanita itu menelan ludah, tenggorokannya bergerak naik turun. Lin Feng mengamati setiap detail mikro dari reaksi tubuhnya. Ia tahu ia mulai mendapatkan perhatian wanita ini, perlahan-lahan.
---
Lin Feng mencondongkan tubuh sedikit, memberinya kesan intim yang intens. Matanya tidak pernah lepas dari Selir Mei, memastikan setiap gerakannya terpantau dan diinterpretasikan dengan benar. Ia tidak ingin terburu-buru. Sentuhan pertama adalah kuncinya, harus tepat, harus meyakinkan. Aroma melati Selir Mei kini memenuhi indra penciumannya, memabukkan, lebih manis daripada sebelumnya, seolah ketakutan yang tersisa kini hanya menjadi latar belakang dari rasa ingin tahu yang lebih besar.
"Kau terlihat... begitu rapuh," Lin Feng berbisik, suaranya mengalir seperti air di telinga Selir Mei. Ia mengamati bagaimana bulu kuduk di lengan wanita itu sedikit meremang saat ia berbicara. Sebuah respons yang begitu jujur, begitu murni. Ini adalah tanda. Tanda bahwa pertahanan Selir Mei mulai menipis, digantikan oleh kerentanan yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Ia melihat wanita itu menarik napas pelan, mencoba menenangkan debaran jantungnya.
"Aku... aku tidak mengerti," Selir Mei membalas, suaranya masih sedikit serak, namun kini tidak lagi tergagap. Ia mulai menatap balik Lin Feng, meskipun ada sedikit keraguan di matanya. Lin Feng mengerti. Ia tidak perlu mengerti dengan logika. Ia hanya perlu merasa. Dan itulah yang akan ia berikan pada wanita ini: perasaan yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun di istana ini. Perasaan yang akan membuatnya lupa akan bahaya, lupa akan segalanya.
"Kau tidak perlu mengerti, hanya perlu merasakan," Lin Feng berkata, senyum tipisnya kini semakin dalam, menyimpan janji yang memabukkan. Ia mengangkat tangannya perlahan, gerakannya begitu lembut, begitu terkontrol, seolah ia sedang menggapai kupu-kupu yang ringkih. Matanya fokus pada reaksi Selir Mei, pada setiap perubahan mikro di wajahnya. Ia melihat Selir Mei menahan napas, dadanya tidak bergerak. Wanita itu tidak menghindar, tidak mundur. Sebuah kemenangan kecil.
Jemari Lin Feng mendekat ke pipi Selir Mei, nyaris menyentuhnya. Udara di antara kulit mereka terasa berdesir, dipenuhi dengan ketegangan yang manis, antisipasi yang mendebarkan. Selir Mei memejamkan mata sesaat, seolah mempersiapkan diri untuk sentuhan yang akan datang, atau mungkin untuk menolak kenyataan yang akan dihadapinya. Wajahnya yang seputih pualam kini sedikit merona, rona merah muda yang begitu halus, nyaris tak terlihat, namun nyata.
"Kau sendirian di sini, bukan?" Lin Feng bertanya, suaranya penuh empati yang dipaksakan, namun terasa begitu tulus. "Seorang wanita cantik seperti dirimu, terperangkap dalam sangkar emas ini." Ia melihat kelopak mata Selir Mei sedikit bergetar. Sebuah tetesan air mata mengumpul di sudut matanya, namun tidak jatuh. Lin Feng tahu ia telah menyentuh inti dari kesepian wanita itu. Ia telah menemukan kuncinya.
---
Jemari Lin Feng melesat, tidak menyentuh pipi, melainkan membelai garis rahang Selir Mei dengan sentuhan selembut bulu. Sebuah sentuhan yang begitu ringan, hampir tidak terasa, namun cukup untuk mengirimkan gelombang kejut ke seluruh tubuh wanita itu. Selir Mei menarik napas tajam, kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena sensasi yang asing dan mendebarkan. Matanya yang baru saja terpejam kini terbuka lebar, menatap lurus ke mata Lin Feng.
Kulit Selir Mei terasa selembut sutra di bawah ujung jari Lin Feng. Dingin pada awalnya, namun perlahan menghangat seiring dengan respons tubuhnya. Lin Feng bisa merasakan denyut nadi di bawah kulit tipis rahangnya, berdetak lebih cepat, lebih kuat. Wanita itu tidak bergerak, seolah takut sentuhan itu akan menghilang jika ia berani bernapas terlalu keras. Keheningan di antara mereka begitu pekat, hanya diisi oleh suara napas Selir Mei yang tertahan.
"Dingin... tapi begitu indah," bisik Lin Feng, suaranya nyaris seperti desahan. Ia menggerakkan ibu jarinya sedikit, membelai garis rahang Selir Mei, merasakan lekuk tulang pipinya yang anggun. Wanita itu tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan yang kini bercampur antara kebingungan dan sesuatu yang lain, sesuatu yang mulai membakar di kedalaman matanya yang sayu. Sebuah gairah yang tersembunyi, yang kini perlahan mulai terbangun.
Sentuhan Lin Feng begitu hati-hati, begitu perlahan, seolah ia sedang memegang benda paling rapuh di dunia. Ia mengamati bagaimana bibir merah merekah Selir Mei sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tidak menemukan kata-kata. Lehernya sedikit mendongak, tanpa sadar memberikan akses yang lebih mudah untuk sentuhan Lin Feng. Wanita itu benar-benar menyerah pada sensasi, membiarkan dirinya tenggelam dalam keasingan yang memabukkan ini.
"Belum pernah ada yang menyentuhku... seperti ini," Selir Mei akhirnya berhasil berbisik, suaranya nyaris pecah, penuh dengan kerentanan yang belum pernah ia ungkapkan. Kilatan kesepian di matanya kini tampak lebih jelas, sebuah cerminan dari bertahun-tahun tanpa sentuhan yang tulus. Lin Feng merasakan dorongan untuk menghapus kesedihan itu, untuk menggantinya dengan kebahagiaan yang jauh lebih dalam, jauh lebih memuaskan.
Lin Feng tersenyum, senyum yang kini lebih tulus, lebih mengancam. "Dan tidak akan ada yang bisa," janjinya, suaranya penuh keyakinan yang menghipnotis. Jemarinya bergerak perlahan, naik dari rahang ke telinga, menyelip di antara helai rambut hitamnya yang halus. Selir Mei memejamkan mata lagi, kali ini bukan karena takut, melainkan karena menikmati sensasi yang mengalir di sekujur tubuhnya. Wajahnya kini benar-benar merona, memerah seperti buah persik yang matang.
---
Pandangan mata mereka terkunci, begitu dalam, begitu intens, seolah seluruh alam semesta berhenti berputar pada momen itu. Lin Feng menatap Selir Mei, membiarkan matanya berbicara, mengungkapkan janji-janji yang tak terucapkan, hasrat yang tersembunyi. Bibirnya membentuk senyum tipis yang penuh misteri, sebuah senyum yang mengatakan, 'Ada lebih banyak lagi yang akan datang.' Ia melihat Selir Mei terkesiap, dadanya naik turun dengan ritme yang lebih cepat. Wanita itu membaca tatapannya, merasakan energinya.
Selir Mei menelan ludah lagi, matanya yang sayu kini memancarkan kilatan rasa ingin tahu yang membara. Jemari Lin Feng yang tadi membelai rahangnya kini bergerak turun, menyentuh dagu Selir Mei dengan ujung jarinya. Gerakannya begitu halus, begitu presisi, seolah ia adalah pematung yang sedang menyentuh karya seninya. Selir Mei tidak bergerak, hanya mengikuti setiap sentuhan, setiap isyarat yang diberikan Lin Feng.
"Kau tahu, Mei-fei," Lin Feng berbisik, suaranya rendah dan serak, seolah kata-kata itu diucapkan hanya untuk telinganya. "Kecantikanmu terlalu berharga untuk dibiarkan layu dalam kesendirian." Ia melihat pipi Selir Mei semakin memerah, rona merah itu kini menjalar hingga ke lehernya. Wanita itu membasahi bibirnya dengan ujung lidahnya, sebuah gerakan kecil yang begitu sensual, begitu mengundang.
Jemari Lin Feng perlahan mengangkat dagu Selir Mei, memaksanya untuk mendongak, untuk menatap lebih dalam ke matanya. Posisi mereka begitu dekat, napas Lin Feng menerpa wajah Selir Mei, membawa aroma maskulin yang memabukkan. Selir Mei tidak bisa mengalihkan pandangan. Matanya terpaku pada Lin Feng, pada kedalaman tatapannya yang seolah menariknya ke dalam pusaran hasrat yang belum ia kenali.
"Biarkan aku menunjukkan padamu... apa arti kebahagiaan sejati," Lin Feng berbisik lagi, janji itu kini menggantung di udara, begitu nyata, begitu menggiurkan. Ia melihat Selir Mei menghela napas, sebuah desahan panjang yang penuh dengan pelepasan. Kilatan di mata Lin Feng semakin terang, sebuah janji akan sesuatu yang jauh lebih gelap, jauh lebih memabukkan. Selir Mei menatapnya, bibirnya terbuka sedikit, seolah ingin mengatakan 'ya', namun tidak ada suara yang keluar. Hanya tatapan yang penuh dengan kerinduan dan kepasrahan, sebuah undangan tanpa kata yang Lin Feng terima dengan senyum tipis di bibirnya.