Chapter 1 of 6
Bisikan Sutra Tengah Malam
1.5k words
Udara gang sempit di belakang pasar gelap Shanghai terasa menusuk kulit, lembap dan berbau samar limbah serta asap rokok basi. Lin Feng menarik napas dalam, membiarkan dinginnya malam mengisi paru-parunya. Di tangannya, sepotong giok berukir rumit terasa dingin, namun ada getaran halus yang berdenyut di dalamnya, seperti jantung purba yang baru saja terbangun.
Kilatan lampu neon dari kejauhan menembus celah bangunan kumuh, menyapu dinding bata yang ditumbuhi lumut. Lin Feng tidak lagi melihat ke arah sana. Matanya terpaku pada giok yang kini mulai berpendar, cahayanya memutih, seolah menyedot segenap kegelapan di sekelilingnya.
Sentuhan giok itu di kulitnya terasa menghisap, menarik energinya dengan lembut namun tak terhindarkan. Otot-otot di rahangnya mengencang. Ini bukan kali pertama, namun sensasi tarikan ruang dan waktu selalu memicu adrenalin yang pekat.
Sebuah desis meluncur dari bibirnya, nyaris tak terdengar di antara dengung kota yang tak pernah tidur. Dia memejamkan mata, memusatkan pikirannya pada citra paviliun anggun yang selama ini hanya ada dalam mimpinya. Aroma melati, kain sutra, dan keheningan yang mematikan.
_Hoomph_.
Udara di sekelilingnya tiba-tiba berputar, bukan lagi dingin yang lembap, melainkan sensasi seperti terpecah menjadi partikel-partikel kecil. Perutnya bergejolak, seolah jiwanya ditarik paksa dari raganya, lalu dilempar kembali dengan kecepatan tak masuk akal. Bau limbah lenyap, terganti oleh sesuatu yang lebih eksotis, lebih kuno.
Dunia di sekelilingnya melengkung, seperti kaca yang dilelehkan, lalu mengeras kembali dalam sekejap. Tekanan di telinganya membuat kepalanya berdenyut singkat. Bulu roma di lengannya meremang, respons naluriah tubuhnya terhadap gangguan dimensi.
Ia membuka mata. Gang sempit, lampu neon, dan bau busuk menghilang tanpa jejak. Kini, ia berdiri di atas lantai kayu yang dipoles mengilap, memantulkan cahaya rembulan yang samar-samar menembus jendela berukir indah. Aroma melati yang lembut menusuk hidungnya, jauh lebih menyenangkan.
Di sekelilingnya, tirai sutra berwarna lavender bergoyang pelan, seolah menyambut kehadirannya yang tak diundang. Lin Feng menarik napas perlahan, membiarkan partikel-partikel udara yang berbeda ini mengisi paru-parunya. _Dinasti Song._ Sebuah senyum tipis terukir di sudut bibirnya.
---
Lin Feng berdiri tegak di tengah ruangan, matanya menyapu sekeliling. Ia berada tepat di dalam kamar tidur. Sebuah ranjang besar dengan tiang-tiang ukiran naga dan tirai brokat tebal mendominasi bagian tengah. Di atas ranjang itu, tergeletak sosok mungil yang kini tampak bergerak gelisah.
Sosok itu, Selir Mei, terperanjat dari tidurnya. Kelopak matanya terbuka lebar, memancarkan kengerian yang murni. Napasnya tercekik, tercekat di tenggorokan. Ia mencoba bersuara, namun hanya erangan tertahan yang keluar dari bibir merahnya yang sedikit terbelah.
Daster sutra tipis berwarna merah muda yang membalut tubuhnya menempel erat, memperlihatkan lekuk feminin yang rapuh di bawah cahaya rembulan. Rambut hitamnya tergerai acak di atas bantal sutra, sebagian menutupi wajahnya yang pucat pasi.
Lin Feng mengamati setiap detail. Mata yang membelalak sempurna, otot rahang yang menegang, jemari lentik yang mencengkeram erat selimut brokat. Kengerian yang nyata terpancar dari setiap gerak-gerik wanita itu. Dia adalah mangsa yang sempurna, haus akan perhatian dan sentuhan.
Dia tidak bergerak. Hanya berdiri, membiarkan sang selir mengamatinya, memproses kehadirannya yang tiba-tiba. Wajah Lin Feng tetap tenang, tatapan matanya yang gelap memancarkan aura misterius yang mematikan. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, melengkung di bibirnya.
_Sreeet_.
Suara gesekan kain terdengar saat Selir Mei mencoba menarik selimut lebih tinggi, seolah ingin menyembunyikan diri dari pandangan. Namun, sorot matanya yang tidak berkedip menunjukkan bahwa ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Lin Feng. Ada daya tarik aneh yang mengunci dirinya di tempat.
Jantung Selir Mei berdebar kencang, suaranya nyaris terdengar di tengah keheningan mencekam ruangan. Tenggorokannya bergerak saat menelan ludah, mencoba membasahi kerongkongan yang terasa kering. Matanya memohon, tanpa suara, untuk sebuah penjelasan.
Lin Feng merasakan tarikan energi dari wanita itu, hasrat tersembunyi yang bersembunyi di balik kengeriannya. Dia adalah kanvas kosong yang menunggu untuk dilukis, hati yang menunggu untuk dihangatkan. Ini adalah misinya.
---
Lin Feng memecah keheningan yang mencekik. Suaranya rendah, serak, namun mengandung melodi yang membius, seperti bisikan angin di malam hari.
“Jangan takut, Mei-fei,” ia memulai, langkahnya begitu pelan, nyaris tak bersuara di atas lantai kayu. “Aku datang bukan untuk menyakitimu.”
Selir Mei tidak menjawab. Bibirnya bergetar, matanya masih membelalak, namun kini ada kerutan samar di antara kedua alisnya, sebuah tanda kebingungan yang mulai menyusup menggantikan teror murni. Siapa pria ini? Bagaimana ia tahu namanya?
“Si-siapa kau?” suaranya pecah, nyaris tak lebih dari desisan napas yang tertahan. “Bagaimana kau bisa…?”
Lin Feng tersenyum, senyum tipis yang memancarkan pesona. “Namaku… bukan sesuatu yang bisa kau ucapkan di dunia ini. Panggil saja aku Hantu Asmara.”
_Hantu Asmara?_
Rasa takut di wajah Mei-fei perlahan melunak, tergantikan oleh rasa takjub yang aneh. Otot-otot di bahunya sedikit mengendur, meskipun jemarinya masih mencengkeram erat selimut. Tatapan matanya masih penuh kewaspadaan, namun ada secercah rasa ingin tahu yang mulai berkilat di kedalamannya.
“Aku datang dari tempat yang sangat jauh, Selir Mei,” lanjut Lin Feng, suaranya kini terdengar seperti janji, lembut dan menggoda. “Khusus untukmu. Untuk menghapus kesepianmu yang membebani.”
Kata ‘kesepian’ itu menyentuh inti terdalam hatinya. Mata Mei-fei sedikit mengecil, kerutan di alisnya semakin dalam. Bagaimana pria asing ini tahu tentang kesepiannya yang ia sembunyikan rapat-rapat? Sebuah sensasi aneh, antara ketakutan dan rasa tertarik, mulai menjalar di sepanjang tulang punggungnya.
“Kau… kau bukan manusia,” bisik Mei-fei, lebih kepada dirinya sendiri. Namun, sorot matanya yang kini menatap Lin Feng tidak lagi dipenuhi kengerian, melainkan campuran antara keraguan dan sebuah harapan yang tak terdefinisi.
Kilatan di mata Lin Feng semakin pekat. Dia membiarkan kata-kata itu menggantung di udara, membiarkan benih rasa penasaran tumbuh di benak sang selir. Ini adalah permainan yang ia kuasai dengan sempurna. Permainan meruntuhkan pertahanan.
---
Lin Feng mengambil satu langkah lagi, kali ini lebih disengaja, lebih lambat. _Tap._ Suara kecil sepatunya di lantai kayu terdengar jelas dalam keheningan yang tegang. Seketika, tubuh Selir Mei tersentak, bahunya menegang kembali, refleks naluriah untuk menjauh.
Namun, ia tidak bisa mundur. Terkunci. Matanya menatap lurus ke arah Lin Feng, memantulkan cahaya rembulan yang kini jatuh tepat di wajah pria itu, menonjolkan garis rahangnya yang tegas dan bibirnya yang sedikit melengkung.
Aura Lin Feng terasa memancar kuat di bawah cahaya rembulan, daya tarik yang mematikan, seperti magnet yang tak terlihat. Bau parfum modern yang maskulin, bercampur aroma kulitnya yang hangat, perlahan menyusup ke indra penciuman Mei-fei, menggantikan wangi melati yang dominan.
Ia menelan ludah lagi, tenggorokannya bergerak kasar. Matanya menyapu setiap inci wajah Lin Feng, mencari tanda-tanda kebohongan, namun hanya menemukan ketenangan yang mengganggu. Pria ini… begitu tampan. Begitu asing. Begitu berbahaya.
“Kau tidak perlu tahu bagaimana aku tahu, Mei-fei,” Lin Feng berbisik, suaranya serak dan intim, seolah hanya mereka berdua yang ada di dunia ini. “Cukup kau tahu, aku di sini. Untukmu.”
Kata-kata itu, sederhana namun penuh makna tersembunyi, menembus dinding pertahanan yang telah Mei-fei bangun selama bertahun-tahun. Jantungnya berdenyut lebih cepat, bukan karena ketakutan lagi, tapi karena sebuah sensasi yang asing, sebuah debaran yang nyaris terasa menyenangkan.
“Apa… apa yang kau inginkan?” tanya Mei-fei, suaranya lebih berani kali ini, meskipun masih ada getaran halus di dalamnya. Tangannya perlahan melonggar dari cengkeraman selimut, bergerak naik untuk menyentuh lehernya sendiri.
Lin Feng hanya membalas dengan senyuman tipis, matanya berkilat penuh janji. Janji akan pelukan, kehangatan, dan kelegaan dari kesepian yang membelenggu. Sebuah janji yang terlalu manis untuk ditolak, terlalu berbahaya untuk diterima.
Dia mengangkat tangannya, perlahan, seolah ingin menyentuh pipi Mei-fei. Gerakan yang begitu halus, penuh perhitungan. Mata Mei-fei mengikuti gerakan tangannya, napasnya tertahan di tenggorokan, menunggu sentuhan yang mungkin tidak akan pernah datang.
---
_Tap… tap… tap…_
Suara langkah kaki yang berat, berirama, tiba-tiba terdengar dari koridor di luar paviliun. Mei-fei tersentak, seluruh tubuhnya menegang seperti busur panah yang ditarik maksimal. Matanya membelalak sempurna lagi, kengerian yang sesungguhnya kini kembali dengan kekuatan penuh.
“Patroli…” bisiknya, suaranya nyaris hilang. Punggungnya menempel erat pada kepala ranjang, seolah ingin menyatu dengan dinding. Wajahnya yang semula pucat kini memutih, bibirnya bergetar tak terkendali.
Lin Feng segera menarik kembali tangannya. Gerakannya cepat, namun tatapannya tetap tenang, nyaris dingin. Ia menoleh ke arah jendela, mendengarkan. Langkah kaki itu semakin dekat, suara baju zirah yang bergesekan terdengar samar. Patroli malam. Rutinitas yang mematikan bagi kekasih terlarang.
“Mereka akan lewat,” Lin Feng berbisik, suaranya tetap terkendali. “Kau harus tenang, Mei-fei.”
Namun, ketenangan adalah hal terakhir yang bisa ia rasakan. Jantung Mei-fei berdebar di telinganya, memompa darah dengan liar. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Kehadiran pria ini, Hantu Asmara, adalah hukuman mati jika ketahuan.
“Kau… kau harus bersembunyi!” Mei-fei mencoba mendorongnya, namun tangannya tak punya kekuatan. Matanya memohon, menatap Lin Feng, seolah berharap pria itu memiliki keajaiban lain selain muncul secara tiba-tiba.
Langkah kaki itu kini terdengar tepat di luar paviliun, diikuti suara bisikan rendah para pengawal. Suara mereka jelas, nyaris menembus tirai sutra yang tipis. Mereka berhenti. Mungkin sedang mengamati, atau hanya beristirahat.
Lin Feng menatap Mei-fei, senyum tipisnya menghilang, digantikan ekspresi serius. Namun, di matanya, ada kilatan tekad yang membara. Dia tidak akan membiarkan ini berakhir. Belum.
_Jleb!_
Suara pintu yang terbuka dari paviliun lain terdengar, diikuti suara obrolan singkat. Para pengawal mungkin sedang berbicara dengan kasim. Waktu semakin menipis.
Kilatan di mata Lin Feng semakin pekat, sebuah janji terlarang yang tergantung di udara, saat suara langkah kaki patroli istana terdengar semakin mendekat dari koridor luar.