Chapter 9 of 26

Chapter 9: LABIRIN

1.0k words

BAB 9 — LABIRIN Pintu baja menutup di belakang Celestia. Suara mekanisnya menggema di lorong panjang yang gelap. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam. Di hadapannya terbentang sebuah koridor yang tampaknya tidak memiliki ujung. Dinding-dindingnya terbuat dari logam hitam. Tidak ada jendela. Tidak ada tanda arah. Hanya lampu putih kecil yang menyala setiap beberapa meter. Celestia melangkah maju. Satu langkah. Kemudian langkah berikutnya. Suara sepatunya menggema. Namun beberapa detik kemudian, suara itu berubah. Bukan lagi satu langkah. Melainkan dua. Celestia berhenti. Suara kedua ikut berhenti. Ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Celestia menyipitkan mata. "Jangan bermain-main denganku." Hening. Ia kembali berjalan. Kali ini suara langkah kedua tidak muncul. Namun perasaan bahwa seseorang mengikutinya tetap ada. Celestia menyentuh Sapphire. Batu itu tidak berdenyut. Aneh. Biasanya Sapphire akan memberikan peringatan ketika ada energi asing di dekatnya. Namun sekarang— tidak ada apa pun. Celestia terus berjalan. Lorong pertama berakhir pada sebuah persimpangan. Kiri. Kanan. Lurus. Tidak ada tanda. Ia memilih kiri. Beberapa menit kemudian, ia kembali menemukan persimpangan yang sama. Celestia berhenti. Ia menatap dinding. Ada goresan kecil di permukaannya. Ia mengenali goresan tersebut. Ia membuatnya sendiri beberapa menit sebelumnya. Celestia terdiam. "Mustahil." Ia kembali ke arah semula. Belok kanan. Lima menit. Sepuluh menit. Kemudian— persimpangan yang sama. Goresan yang sama. Celestia mengepalkan tangan. "Labirin." Sebuah suara terdengar dari pengeras suara. "Benar." Celestia menatap ke atas. "Siapa kau?" Tidak ada jawaban. Hanya suara tawa kecil. Celestia mengangkat tangannya. Cahaya biru muncul. Ia menyentuh dinding. Energi mengalir melalui logam. Untuk sesaat, struktur fasilitas terlihat di dalam pikirannya. Lorong-lorong. Ruang-ruang. Tangga. Semuanya membentuk pola yang tidak masuk akal. Fasilitas ini bukan sekadar labirin fisik. Ruang di dalamnya telah dilipat. Satu lorong bisa membawa seseorang ke tempat yang berbeda tergantung dari arah energi yang mengalir. Celestia memejamkan mata. Ia mengingat penglihatannya. Sapphire memperlihatkan sesuatu. Sebuah pintu. Kemudian sebuah ruangan. Dan di dalamnya— Alana. Celestia membuka mata. "Ketemu." Ia berlari. Kali ini ia tidak mengikuti lorong. Ia mengikuti energi. Belok kiri. Naik tangga. Turun lagi. Melewati pintu yang seharusnya tidak ada. Kemudian tiba di sebuah ruangan besar. Ruangan itu kosong. Hanya sebuah kursi yang berdiri di tengahnya. Celestia berhenti. "Alana?" Tidak ada jawaban. Namun sebuah layar menyala di dinding. Wajah Alana muncul. "Kak..." Celestia langsung mendekat. "Di mana kamu?" Alana menatapnya. "Aku tidak tahu." "Kamu masih di fasilitas ini?" Alana menggeleng. "Aku berada di antara." "Antara apa?" "Antara dunia." Celestia terdiam. Alana menunduk. "Mereka menggunakan tubuhku untuk menjaga portal." "Siapa mereka?" Alana menatap kamera. "Orang-orang yang percaya bahwa Penumbra bisa dikendalikan." Celestia mengepalkan tangan. "Mereka salah." "Aku tahu." Alana tersenyum kecil. "Tapi mereka tidak mau mendengarkan." Tiba-tiba gambar bergetar. Alana terlihat ketakutan. "Kak, waktuku sedikit." Celestia mendekat. "Apa yang harus kulakukan?" "Temukan inti Janus." "Di mana?" "Di bawah fasilitas." Celestia mengangguk. "Aku akan datang." Alana menggeleng. "Jangan datang sendirian." "Kenapa?" "Karena ada seseorang yang sudah menunggumu." Layar mati. Celestia berdiri diam. Kemudian terdengar suara langkah dari belakang. Ia berbalik. Kael berdiri di ambang pintu. Celestia langsung mengangkat senjata. "Kau mengikuti aku." Kael tidak menyangkal. "Aku harus memastikan kau tidak mati." "Aku tidak membutuhkan perlindunganmu." "Ini bukan tentang perlindungan." Kael menatap lorong di belakangnya. "Tempat ini mulai berubah." Celestia menurunkan senjata sedikit. "Apa maksudmu?" Kael menunjuk dinding. Retakan hitam mulai muncul. "Penumbra sedang membuka jalan." Celestia menatap retakan itu. Sebuah mata putih muncul di dalamnya. Kemudian menghilang. Kael berkata pelan. "Kita harus menemukan inti Janus sebelum mereka menemukannya." Celestia menatapnya. "Dan setelah itu?" Kael diam. Celestia menyipitkan mata. "Kael." "Ada kemungkinan kita tidak bisa kembali." Celestia mengingat Alana. "Aku tidak peduli." Mereka berjalan bersama. Namun semakin jauh mereka masuk, labirin semakin berubah. Lorong-lorong bergeser. Pintu berpindah. Dinding menutup lalu terbuka kembali. Sebuah ruangan tiba-tiba muncul di depan mereka. Di dalamnya terdapat puluhan kapsul kaca. Sebagian kosong. Sebagian berisi cairan hitam. Celestia berhenti. "Tempat apa ini?" Kael menjawab dengan suara rendah. "Tempat eksperimen." Celestia melihat salah satu kapsul. Di permukaannya terdapat tulisan. SUBJECT L-01 Jantung Celestia berdegup keras. "Alana pernah ada di sini." Kael mengangguk. Celestia menatap kapsul itu. Kemudian sesuatu bergerak di dalam cairan hitam. Celestia mundur. Sebuah tangan menempel pada kaca. Jari-jari panjang. Bukan tangan manusia. Kael langsung mengangkat senjata. "Jangan bergerak." Kaca kapsul retak. KRAK. Retakan menyebar. Kemudian— BRAK! Kapsul pecah. Cairan hitam menyembur ke lantai. Sesuatu keluar. Tubuhnya tinggi dan kurus. Kulitnya seperti bayangan. Matanya putih. Celestia mengangkat tangan. Cahaya biru menyambar. Makhluk itu terpental. Namun sebelum jatuh— tubuhnya menghilang. Kael menoleh. "Di belakang!" Celestia berbalik. Makhluk itu sudah berada tepat di belakangnya. Cakarnya terangkat. Celestia membentuk perisai. Benturan keras membuatnya terpental. Kael menembak. Makhluk itu menghindar. Celestia berdiri. Energi Sapphire meningkat. "Aku tidak punya waktu untuk ini." Cahaya biru memenuhi ruangan. Makhluk itu menjerit. Tubuhnya pecah menjadi asap. Hening kembali. Celestia menarik napas. Kael menatapnya. "Kemampuanmu berkembang." Celestia menatapnya dingin. "Karena aku tidak punya pilihan." Mereka melanjutkan perjalanan. Di ujung laboratorium terdapat sebuah lift. Pintunya terbuka. Di dalam hanya ada satu tombol. LEVEL -13 Kael menatapnya. "Ini tidak ada di denah." Celestia masuk. "Berarti kita berada di jalur yang benar." Pintu lift menutup. Lift mulai turun. Level -1. -2. -3. Angka terus berubah. -8. -9. -10. Kemudian layar berkedip. LEVEL -13 Lift berhenti. Pintu terbuka. Udara dingin menerpa wajah mereka. Di depan terbentang sebuah ruangan raksasa. Di tengahnya berdiri inti energi berbentuk bola. Energi biru dan ungu berputar di dalamnya. Celestia menatapnya. "Inti Janus." Kael mengangguk. Namun kemudian Celestia melihat sesuatu di balik inti tersebut. Sebuah kapsul. Dan di dalamnya— Alana. Celestia membeku. "Alana..." Gadis itu terbaring dengan mata tertutup. Puluhan kabel terhubung ke tubuhnya. Energi ungu mengalir dari inti Janus menuju tubuhnya. Celestia melangkah maju. "Jangan sentuh dia." Suara itu terdengar dari belakang. Seorang pria keluar dari bayangan. Pria yang sama dari layar Project Janus. Ia tersenyum. "Selamat datang, Celestia." Celestia mengangkat senjatanya. "Jika kau menyakitinya—" Pria itu tertawa kecil. "Justru aku yang membuatnya tetap hidup." Celestia terdiam. Pria itu menunjuk inti Janus. "Dan sekarang, waktunya kau melihat kebenaran." Lampu ruangan menyala. Energi Penumbra mulai berdenyut. Dum. Dum. Dum. Kemudian seluruh fasilitas berbunyi. JANUS CORE: 100% SYNCHRONIZED Pria itu tersenyum. "Gerbang akan segera terbuka." Celestia menatap Alana. Matanya menyala. "Tidak akan." Dan untuk pertama kalinya— inti Janus mulai retak.

End of Chapter 9

Chapter 9: Chapter 9: LABIRIN - Perjalanan mistis | Novel AI Studio