Chapter 10 of 26
Chapter 10: TANGAN DIBALIK BAYANGAN
749 words
BAB 10 — TANGAN DI BALIK BAYANGAN
Celestia tidak bergerak.
Pasukan itu berdiri di laboratorium bawah.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Namun perangkat di tangan pemimpin mereka terus berdengung.
Cahaya ungu mengalir seperti urat di permukaannya.
Celestia menatapnya melalui kaca observasi.
Ia merasakan energi yang sama dengan yang selama ini ia lihat dalam rift.
Penumbra.
Namun kali ini energi tersebut berada di tangan manusia.
Sebuah suara terdengar dari terminal di belakangnya.
BEEP.
Celestia menoleh.
Sebuah komunikasi masuk.
Layar menampilkan satu kalimat.
SUBJECT L-01 STATUS: ACTIVE
Jantung Celestia serasa berhenti.
Alana.
Nama itu kembali muncul.
Ia segera membuka terminal.
Data Project Janus memenuhi layar.
Struktur perangkat dimensional.
Jaringan fasilitas.
Stabilization Array.
Dan sebuah diagram besar.
Celestia memperbesarnya.
Matanya bergerak mengikuti jalur energi.
Ia akhirnya memahami semuanya.
Project Janus bukan satu proyek.
Ia terdiri dari beberapa sistem.
Fasilitas-fasilitas seperti tempat ini berfungsi sebagai node.
Stabilization Array menjaga kestabilan jaringan.
Dan di pusat semuanya terdapat satu fungsi utama:
DIMENSIONAL CONVERGENCE
Mereka tidak ingin sekadar membuka gerbang.
Mereka ingin membuat gerbang tersebut permanen.
Jika berhasil, batas antara Bumi 12 dan dimensi Penumbra akan runtuh.
Dua dunia akan bertabrakan.
Celestia menarik napas panjang.
"Dan Alana..."
Ia melihat data Subject L-01.
"...adalah penghubungnya."
Sebuah file terbuka secara otomatis.
Rekaman lama.
Tanggalnya lima tahun lalu.
Malam ketika Alana menghilang.
Celestia membeku.
Ia memutar rekaman.
Gambar kamera keamanan muncul.
Api.
Asap.
Orang-orang berlari.
Kemudian Alana.
Seorang gadis muda berdiri di tengah ruang eksperimen.
Energi ungu mengelilingi tubuhnya.
Para ilmuwan berteriak.
Sistem kehilangan kendali.
Celestia menutup mulut.
Ia akhirnya melihat apa yang terjadi malam itu.
Alana tidak sekadar terseret ke dalam rift.
Ia dibawa ke sana.
Rekaman berakhir.
Celestia menatap layar.
Tangannya mengepal.
Selama lima tahun ia menyalahkan dirinya sendiri.
Mengira ia terlambat.
Mengira ia gagal menyelamatkan adiknya.
Namun kenyataannya jauh lebih buruk.
Alana telah dipilih.
Dipilih sebagai bagian dari Project Janus.
Sebagai penghubung antara dua dunia.
Celestia menarik napas dalam-dalam.
Ia mencoba membuka data tambahan.
Namun sistem menolak.
ACCESS DENIED
Celestia menggunakan energi celestial.
Cahaya biru mengalir dari telapak tangannya ke terminal.
Sistem terbuka.
Sebuah file lain muncul.
PRIMARY NODE LOCATION
Koordinat muncul di layar.
Celestia menatapnya.
"Jadi ini pusatnya..."
Tiba-tiba alarm berbunyi.
WARNING.
STABILIZATION ARRAY DESTABILIZING.
Celestia menoleh ke laboratorium bawah.
Perangkat di tangan pemimpin pasukan mulai menyala semakin terang.
Cahaya ungu memenuhi ruangan.
Para prajurit mundur.
Kemudian sebuah suara terdengar dari pengeras suara.
"Mulai prosedur."
Celestia membeku.
"Prosedur apa?"
Tidak ada jawaban.
Kemudian layar utama berubah.
SUBJECT L-01 TRANSFER INITIATED
Celestia menatap tulisan itu.
"Tidak."
Ia berlari menuju pintu.
Namun pintu tertutup.
Ia menghantam panel.
Tidak bergerak.
"Cepat!"
Celestia mengalirkan energi celestial ke sistem.
Pintu terbuka.
Ia berlari keluar.
Lorong di depan mulai berubah.
Dinding bergetar.
Lampu berkedip.
Energi Penumbra mengalir melalui celah-celah logam.
Celestia berlari secepat mungkin.
Ia harus menemukan Alana.
Namun ketika ia tiba di laboratorium utama—
Alana sudah tidak ada.
Hanya tersisa sebuah kapsul kosong.
Cairan hitam menetes dari bagian bawahnya.
Celestia berdiri terpaku.
"Alana..."
Suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Celestia berbalik.
Kael berdiri di sana.
Wajahnya serius.
"Kita terlambat."
Celestia menatapnya.
"Kau tahu?"
Kael tidak menjawab.
"Kau tahu mereka akan memindahkannya."
"Aku menduga."
Celestia berjalan mendekat.
"Kau seharusnya memberitahuku."
Kael menatapnya.
"Kalau kuberitahu, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan menyelamatkannya."
Kael menggeleng.
"Dan mereka akan membunuhmu."
Celestia menatapnya tajam.
"Aku tidak peduli."
Kael diam.
Celestia menggenggam liontin Alana.
"Dia adikku."
"Aku tahu."
"Kalau begitu bantu aku."
Kael menatapnya beberapa detik.
Kemudian ia mengambil tablet holografik.
Sebuah koordinat muncul.
"Ini jalur transfer."
Celestia melihatnya.
"Ke mana?"
"Primary Node."
Celestia mengangkat kepala.
"Jadi mereka membawanya ke pusat Project Janus."
Kael mengangguk.
"Ya."
Celestia menatap koordinat itu.
Kemudian sesuatu muncul di layar.
TRANSFER INITIATED
00:09:47
Celestia menatap angka tersebut.
Sembilan menit.
Ia tersenyum tipis.
Bukan senyum bahagia.
Senyum seseorang yang akhirnya menemukan arah.
"Jadi begitu."
Ia mengepalkan tangan.
"Kalian ingin aku datang."
Energi Sapphire menyala lebih terang.
"Baik."
Celestia menatap titik utama di peta.
"Aku akan datang."
Namun kali ini bukan sebagai subjek uji coba.
Bukan sebagai korban.
Dan bukan sebagai seseorang yang masih berusaha memahami apa yang telah terjadi pada adiknya.
Ia akan datang sebagai ancaman.
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, Celestia memiliki sesuatu yang selama ini telah direnggut darinya.
Harapan.
Alana masih hidup.
Dan selama adiknya masih hidup—
Celestia tidak akan berhenti.
Di balik dinding, energi Penumbra kembali berdenyut.
Dum.
Dum.
Dum.
Seperti jantung raksasa yang mulai terbangun.
Celestia menatap kegelapan di hadapannya.
"Bertahanlah, Alana."
Suaranya rendah.
Namun penuh keyakinan.
"Aku akan menemukanmu."
Dan jauh di bawah Bumi 12—
sesuatu membuka mata.
Project Janus telah memasuki fase berikutnya.