Chapter 8 of 26

Chapter 8: PROJECT JANUS

1.7k words

BAB 8 — PROJECT JANUS Getaran menjalar melalui telapak sepatu Celestia. Debu berjatuhan dari langit-langit beton yang retak. Aroma ozon dan tanah tua memenuhi udara. Jauh di bawah permukaan Bumi 12, sesuatu berdenyut dengan ritme yang terlalu teratur untuk disebut sebagai gempa. Dum. Celestia berhenti. Dum. Ia menempelkan telapak tangannya pada dinding bangunan yang lembap. Getaran itu bukan berasal dari aktivitas tektonik. Ia mengenalinya. Ada energi dimensional di bawah sana. Dan energi itu sedang bergerak dalam pola yang teratur. Seperti jantung. Seperti sesuatu yang sedang hidup. Celestia mempererat mantel gelap di sekitar tubuhnya dan melangkah keluar dari gang sempit menuju distrik penelitian lama. Dahulu, kawasan itu merupakan salah satu pusat teknologi terbesar di Bumi 12. Menara-menara krom dan kaca menjulang ke langit, sementara laboratorium penelitian bekerja tanpa henti di bawahnya. Kini semuanya menjadi bangkai. Jendela-jendela pecah. Jalanan retak. Tanaman liar tumbuh melalui celah beton. Tidak ada kendaraan. Tidak ada manusia. Hanya cahaya ungu samar yang merembes dari retakan aspal. Celestia memejamkan mata. Energi Sapphire di dalam tubuhnya berdenyut. Ketika ia membuka mata kembali, dunia tampak berbeda. Benang-benang energi berwarna keemasan muncul di udara, mengalir seperti urat cahaya yang tak terlihat oleh manusia biasa. Namun di antara jaringan itu terdapat sesuatu yang lain. Energi ungu. Gelap. Tidak stabil. Penumbra. Celestia mengikuti alirannya. Semakin jauh ia berjalan, semakin berat udara terasa. Kemudian sebuah bangunan muncul di balik kabut. Sebagian besar strukturnya telah runtuh, tetapi logo logam yang tergantung di bagian depan masih dapat dibaca. KEMENTERIAN FISIKA LANJUTAN Celestia menatapnya. Energi itu berasal dari bawah bangunan. Bukan rift alami. Terlalu teratur. Terlalu terkontrol. Ia menemukan pintu masuk di antara reruntuhan. Pintu baja tua. Tidak terkunci. Celestia mengangkat alis. "Seharusnya tidak semudah ini." Ia mendorong pintu. KREEEK. Lorong gelap terbentang di bawah tanah. Lampu-lampu tua menyala satu demi satu. Seolah-olah fasilitas tersebut tahu bahwa seseorang baru saja masuk. Celestia menarik napas. Kemudian melangkah masuk. --- Lorong itu jauh lebih dalam daripada yang ia perkirakan. Tangga menurun. Satu lantai. Dua. Tiga. Semakin dalam ia berjalan, semakin kuat energi Penumbra terasa. Pada lantai keempat, Celestia menemukan pintu kaca tebal. Di baliknya terdapat laboratorium. Ruangan itu kosong. Namun peralatan masih aktif. Monitor berkedip. Mesin berdengung. Dan di tengah ruangan berdiri sebuah cincin logam raksasa. Celestia mendekat. Ia mengenali bentuknya. Perangkat dimensional. "Project Janus..." Tulisan itu muncul pada layar. PROJECT JANUS DIMENSIONAL RESEARCH PROGRAM Celestia membaca data yang tersedia. Program tersebut dibuat lebih dari sepuluh tahun lalu. Tujuan resminya: Mempelajari dimensional rift. Namun semakin ia membaca, semakin banyak hal yang tidak masuk akal. Beberapa dokumen telah dihapus. Beberapa bagian sengaja dikunci. Celestia menyentuh terminal. Sapphire di dalam tubuhnya merespons. Cahaya biru menyebar ke layar. Sistem terbuka. Sebuah file muncul. PENUMBRA ENERGY EXTRACTION Celestia membaca halaman berikutnya. Mereka tidak menganggap Penumbra sebagai ancaman. Mereka menyebutnya— sumber energi dimensional tak terbatas. Celestia menutup mata. Jadi selama ini manusia tidak hanya menemukan Penumbra. Mereka mencoba memanfaatkannya. Menciptakan teknologi dari sesuatu yang bahkan tidak mereka pahami. Kemudian sebuah terminal menyala. BEEP. Celestia menoleh. Sistem lama mulai aktif. Data mengalir di layar. Ia mendekat. Energi sedang ditarik dari sebuah rift yang terletak jauh di bawah fasilitas. Bukan sekadar pengambilan energi. Ada sesuatu yang lebih besar. SYNCHRONIZATION SEQUENCE Celestia membeku. "Sinkronisasi...?" Seluruh laboratorium bergetar. DUM! Cincin hitam di tengah ruangan mulai menyala. Cahaya biru muncul di dalamnya. Sebuah micro-portal terbentuk. Bayangan di sekeliling ruangan bergerak menuju portal seperti makhluk hidup yang tertarik oleh aroma darah. Celestia mundur. Penumbra merespons keberadaannya. Ia tahu dirinya berada di sini. Celestia menyentuh terminal. Barisan kode muncul. Ia memasukkan perintah pengambilalihan. Sistem menolak. Energi Sapphire mengalir ke sirkuit. SYSTEM OVERRIDE Kunci keamanan terbuka. Satu demi satu. Kemudian sebuah logo muncul. UNITED BUMI COUNCIL Di bawahnya terdapat direktori berwarna merah. PROJECT JANUS Celestia membuka file. Sebuah peta Bumi 12 muncul. Satu titik merah. Dua. Lima. Sepuluh. Puluhan. Titik-titik itu tersebar di seluruh benua. Celestia memperbesar peta. Semua titik terhubung. Jaringan fasilitas bawah tanah. Jaringan rift. Jaringan energi. Semuanya bekerja sebagai satu sistem. "Ini bukan satu laboratorium." Suaranya melemah. "Ini jaringan." Ia menemukan catatan teknis. Jika satu node kehilangan fungsi, node lainnya akan mengambil alih beban energi. Jika terlalu banyak node runtuh— resonansi Penumbra akan meningkat secara eksponensial. Celestia menatap peta. Mereka bukan sekadar mengambil energi. Mereka sedang membangun sesuatu. Sebuah sistem untuk menghubungkan Bumi 12 dengan dimensi Penumbra. Celestia mengepalkan tangan. Ia mencari pusat jaringan. Jika jaringan ini memiliki tubuh, pasti ada jantungnya. Namun sebelum ia menemukannya— sebuah pintu sekunder menarik perhatiannya. Ia membukanya. Ruangan kecil di baliknya tampak seperti kantor pribadi. Dokumen berserakan. Sebuah foto keluarga tergeletak di atas meja. Seorang ilmuwan. Seorang perempuan. Dan seorang anak perempuan. Semuanya tersenyum. Celestia menatap foto itu. Selama beberapa detik, amarahnya mereda. Kemudian layar kecil di meja menyala. Sebuah hologram muncul. Diagram cincin dimensional berputar perlahan. Di bagian bawah tertulis: PROJECT JANUS PRIMARY FUNCTION: DIMENSIONAL CONVERGENCE Celestia membaca istilah itu sekali lagi. Konvergensi dimensional. Bukan membuka rift. Bukan mengambil energi. Melainkan— menyatukan dua dimensi. Napasnya tercekat. Kemudian gambar hologram berubah. Seorang manusia muncul. Tubuhnya dipenuhi kabel. Simbol Penumbra menutupi kulit. Cahaya ungu mengalir melalui pembuluh darah. Celestia berhenti bernapas. Wajah itu hanya muncul selama beberapa detik. Namun ia mengenalnya. Terlalu baik. "Alana..." Tulisan merah muncul di bawah gambar. SUBJECT L-01 STATUS: ACTIVE Dunia Celestia seolah berhenti. Lima tahun. Lima tahun ia percaya bahwa ia telah kehilangan adiknya. Ternyata tidak. Alana masih hidup. Dan seseorang telah menjadikannya bagian dari Project Janus. Celestia menatap layar dengan mata berkaca-kaca. "Di mana kau...?" Hologram mati. Kemudian seluruh fasilitas berguncang. DUM! Celestia mengangkat kepala. Lampu berubah merah. Suara alarm memenuhi ruangan. Dan sebuah pesan muncul di terminal. UNAUTHORIZED SUBJECT DETECTED Celestia membeku. Satu detik kemudian— CONTAINMENT PROTOCOL ACTIVATED. --- Pintu-pintu di seluruh fasilitas mulai menutup. Celestia berlari keluar dari ruangan. Alarm terus berbunyi. Lampu merah berkedip di sepanjang koridor. Ia mencoba membuka pintu pertama. Terkunci. Pintu kedua. Terkunci. Kemudian suara mekanis terdengar dari pengeras suara. "Subjek terdeteksi." Celestia menatap langit-langit. "Siapa kau?" Tidak ada jawaban. Sebuah turret otomatis keluar dari dinding. Celestia langsung berguling. Tembakan energi menghantam tempat ia berdiri beberapa detik sebelumnya. BRAK! Celestia mengangkat tangan. Perisai cahaya muncul. Tembakan kedua menghantam perisai. Kemudian ketiga. Keempat. Celestia menggerakkan tangannya. Gelombang energi biru menghantam turret. Mesin itu hancur. Celestia berlari. Ia melewati koridor demi koridor. Namun semakin jauh ia berjalan— semakin jelas ia menyadari sesuatu. Fasilitas ini bukan sekadar tempat penelitian. Tempat ini masih aktif. Dan seseorang sedang mengawasinya. Seseorang telah mengamati setiap gerakannya. Mengubah jalur. Menganalisis foresight-nya. Menguji kemampuannya. "Kenapa?" Tidak ada jawaban. Kemudian sebuah layar menyala. OBSERVATION PROTOCOL Di bawahnya: SUBJECT RESPONSE: EXCEEDS EXPECTATIONS Celestia membeku. Mereka tidak sekadar mencoba membunuhnya. Mereka sedang mengujinya. Ia menatap layar. "Siapa kalian?" Tidak ada jawaban. Hanya sebuah getaran yang mengguncang ruangan. BRUUUM! Celestia menoleh. Cahaya ungu muncul dari balik kaca observasi. Ia mendekat. Di bawah sana terdapat laboratorium lain. Lebih bersih. Lebih modern. Dan jauh lebih besar. Di tengah ruangan berdiri sebuah perangkat stabilisasi. Energi Penumbra berdenyut di sekelilingnya. Kemudian pintu dek bawah terbuka. Satu sosok masuk. Lalu dua. Tiga. Empat. Mereka mengenakan seragam hitam dan perlengkapan tempur. Bukan penjaga biasa. Pasukan khusus. Pemimpin mereka berjalan paling depan. Di tangannya terdapat perangkat berbentuk silinder. Energi ungu mengalir di permukaannya. Celestia merasakan energi itu dari balik kaca. Jantungnya berdetak keras. Ia mengenalinya. Energi Penumbra. Namun sesuatu yang lebih buruk menyertai kesadaran itu. Manusia telah belajar menggunakannya. Pemimpin pasukan mengangkat perangkat tersebut. Cahaya ungu memenuhi laboratorium. Celestia mundur perlahan. "Tidak..." Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa Project Janus tidak hanya bersembunyi di bawah tanah. Project Janus memiliki orang-orang yang masih menjalankannya. Dan mereka tahu ia datang. Pemimpin pasukan menurunkan perangkat. Kemudian pengeras suara di ruangan Celestia menyala. Suara yang sama seperti sebelumnya terdengar. Dingin. Tenang. Tidak manusiawi. "Subjek Celestia." Celestia menatap speaker. "Kenapa kalian mengawasiku?" Hening. Kemudian suara itu menjawab. "Karena kami perlu mengetahui apakah kemampuanmu dapat bertahan terhadap resonansi Penumbra." Celestia mengepalkan tangan. "Siapa kau?" "Pertanyaan yang salah." Layar di belakangnya menyala. Sebuah wajah muncul. Wajah seorang pria yang lebih tua. Mata tajam. Rambut memutih. Tatapan yang terlalu tenang. Celestia tidak mengenalnya. Namun sesuatu dalam data Project Janus membuatnya sadar. Pria itu adalah salah satu arsitek utama proyek. "Pertanyaan yang seharusnya kau ajukan," katanya, "adalah mengapa kami membiarkanmu masuk." Celestia terdiam. Pria itu tersenyum. "Karena kami ingin melihat apa yang akan kau lakukan ketika menemukan kebenaran." Layar mati. Celestia berdiri sendirian. Kini semuanya masuk akal. Pintu yang terbuka. Sistem keamanan. Jalur yang berubah. Perangkap. Gas. Turret. Mereka tidak pernah kehilangan kendali atas fasilitas. Mereka sengaja membiarkannya masuk. Mereka sedang mengujinya. Dan mungkin— sejak awal— mereka ingin Celestia menemukan Project Janus. Karena mereka ingin melihat apakah dia akan menuju langkah berikutnya. Menuju pusat jaringan. Menuju Alana. Celestia menatap layar yang gelap. "Kalau begitu kalian membuat satu kesalahan." Ia mengambil napas. Energi Sapphire berputar di sekeliling tubuhnya. "Kalian menunjukkan jalan kepadaku." Ia berbalik menuju pintu. Namun sebelum sempat melangkah, seluruh fasilitas kembali bergetar. DUM. Kali ini jauh lebih kuat. Cahaya ungu merembes dari celah-celah dinding. Kemudian semua layar menyala bersamaan. Sebuah peta Bumi 12 muncul. Puluhan titik merah. Kemudian satu titik terbesar muncul di tengahnya. PRIMARY NODE Koordinat mulai ditampilkan. Celestia menatapnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Itulah pusat jaringan. Jantung Project Janus. Dan entah mengapa, di samping koordinat tersebut terdapat satu label tambahan. SUBJECT L-01 — TRANSFERRED Celestia membeku. Alana dipindahkan. Sekarang. Bukan lima tahun lalu. Sekarang. Sebuah hitungan mundur muncul di layar. TRANSFER INITIATED 00:09:47 Celestia menatap angka tersebut. Sembilan menit. Ia tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia. Senyum seseorang yang akhirnya menemukan arah. "Jadi begitu." Ia mengepalkan tangan. "Kalian ingin aku datang." Energi Sapphire menyala lebih terang. "Baik." Celestia menatap titik utama di peta. "Aku akan datang." Namun kali ini bukan sebagai subjek uji coba. Bukan sebagai korban. Dan bukan sebagai seseorang yang masih berusaha memahami apa yang telah terjadi pada adiknya. Ia akan datang sebagai ancaman. Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, Celestia memiliki sesuatu yang selama ini telah direnggut darinya. Harapan. Alana masih hidup. Dan selama adiknya masih hidup— Celestia tidak akan berhenti. Di balik dinding, energi Penumbra kembali berdenyut. Dum. Dum. Dum. Seperti jantung raksasa yang mulai terbangun. Celestia menatap kegelapan di hadapannya. "Bertahanlah, Alana." Suaranya rendah. Namun penuh keyakinan. "Aku akan menemukanmu." Dan jauh di bawah Bumi 12— sesuatu membuka mata. Project Janus telah memasuki fase berikutnya.

End of Chapter 8