Chapter 7 of 26
Chapter 7: SEKTOR 7
665 words
BAB 7 — SEKTOR 7
Pintu baja tua terbuka perlahan dengan suara berderit panjang.
Celestia berdiri di ambang pintu.
Di depannya terbentang fasilitas yang pernah menjadi bagian dari Proyek Chimera.
Udara di dalam terasa jauh lebih dingin daripada di luar.
Bau logam tua dan ozon memenuhi lorong.
Kael berjalan lebih dulu.
Senjatanya terangkat.
"Jangan terlalu jauh dariku."
Celestia mengikutinya.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Aku tahu."
Kael menatap lorong di depan.
"Masalahnya bukan apa yang bisa kau lakukan."
Celestia menatapnya.
"Lalu apa?"
Kael berhenti.
"Masalahnya adalah apa yang ada di sini."
Mereka terus berjalan.
Lampu-lampu di sepanjang lorong menyala satu per satu ketika mereka lewat.
Sebagian berkedip.
Sebagian lainnya mati total.
Di dinding terdapat simbol lama Proyek Chimera.
Beberapa sudah tergores.
Yang lain tertutup noda hitam.
Celestia menyentuh salah satu simbol.
Sapphire di dadanya berdenyut.
"Ada energi di sini."
Kael mengangguk.
"Sudah sejak lima tahun lalu."
Celestia menatapnya.
"Jadi fasilitas ini tidak pernah benar-benar mati."
"Tidak."
Mereka tiba di sebuah ruangan besar.
Di tengah ruangan berdiri sebuah mesin berbentuk lingkaran.
Cincin logam besar mengelilingi ruang kosong.
Celestia mengenalinya dari penglihatannya.
"Portal."
Kael mengangguk.
"Gerbang antar-dimensi."
Celestia mendekat.
"Ini yang digunakan untuk mengirim Alana?"
Kael diam.
Celestia menoleh.
"Jawab."
"Ya."
Celestia mengepalkan tangan.
"Kenapa?"
Kael menatap mesin itu.
"Karena saat eksperimen gagal, Alana menjadi satu-satunya manusia yang mampu bertahan di dalam resonansi."
Celestia terdiam.
"Dan kalian membiarkannya di sana."
"Kami tidak punya pilihan."
"Kalian selalu punya pilihan."
Suara Celestia bergetar.
"Dia masih anak-anak."
Kael menundukkan kepala.
"Aku tahu."
Hening.
Kemudian mesin itu tiba-tiba menyala.
Lampu biru muncul di sepanjang cincin.
Kael langsung mengangkat senjata.
"Jangan mendekat."
Celestia tidak bergerak.
Sebuah suara terdengar dari dalam mesin.
"Kak..."
Celestia membeku.
"Alana?"
Kabut biru mulai memenuhi ruang kosong di tengah portal.
Siluet seseorang muncul.
Seorang gadis.
Rambut panjang.
Wajah pucat.
Alana.
Celestia melangkah maju.
"Alana!"
Kael menahannya.
"Tunggu."
Namun sosok itu mengangkat kepalanya.
Mata birunya menatap Celestia.
"Kak..."
Celestia hampir menangis.
"Alana, aku di sini."
Sosok itu mengulurkan tangan.
"Kakak harus pergi."
"Kenapa?"
"Karena mereka sudah menemukan jalan."
Tiba-tiba suara keras terdengar dari belakang.
BRAK!
Pintu baja tertutup.
Celestia dan Kael menoleh.
Lorong di belakang mereka dipenuhi kegelapan.
Kael mengangkat senjata.
"Kontak."
Sesuatu bergerak di dalam bayangan.
Satu.
Dua.
Kemudian puluhan.
Makhluk-makhluk hitam mulai keluar dari lorong.
Tubuh mereka tidak memiliki bentuk yang jelas.
Hanya bayangan dengan mata putih.
Celestia mengangkat tangannya.
Cahaya celestial menyala.
"Penumbra."
Kael mengangguk.
"Ya."
Makhluk pertama melompat.
Celestia menghindar.
Cakar hitam menghantam lantai.
Ia mengayunkan tangannya.
Ledakan cahaya menghantam makhluk itu.
Tubuhnya terpental.
Kael menembak makhluk lain.
Namun jumlah mereka semakin banyak.
"Celestia!"
"Aku tahu!"
Sapphire bersinar semakin terang.
Energi biru mengalir di sepanjang tubuh Celestia.
Ia mengangkat kedua tangannya.
Cahaya membentuk lingkaran besar di depan tubuhnya.
"Pergi!"
Gelombang energi menghantam seluruh ruangan.
Makhluk-makhluk Penumbra terpental.
Beberapa menghilang menjadi asap.
Namun dari dalam portal—
sesuatu yang jauh lebih besar mulai muncul.
Celestia menatapnya.
"Apa itu?"
Kael mundur satu langkah.
"Wujud utama."
Bayangan raksasa muncul dari dalam portal.
Tentakel hitam menjulur ke seluruh ruangan.
Suhu turun drastis.
Alana menjerit.
"KAK!"
Celestia menatapnya.
"Alana!"
"Jangan biarkan dia keluar!"
Celestia berlari menuju portal.
Kael berteriak.
"Celestia, jangan!"
Namun Celestia tidak berhenti.
Ia berdiri tepat di depan portal.
Cahaya biru dan hitam bertabrakan.
Tubuh Celestia terdorong mundur.
Namun ia tetap bertahan.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil adikku lagi!"
Energi celestial meledak dari tubuhnya.
Portal bergetar.
Alana menatap Celestia.
"Kak..."
Air mata mengalir dari matanya.
"Terima kasih."
Kemudian portal pecah.
Ledakan cahaya memenuhi ruangan.
Celestia menutup mata.
Dan ketika ia membukanya kembali—
Alana telah menghilang.
Namun portal juga telah tertutup.
Di lantai, hanya tersisa sebuah benda.
Sebuah pecahan kristal biru.
Celestia mengambilnya.
Di dalam kristal itu terdapat sebuah pesan.
Satu kalimat.
JANGAN BIARKAN KAEL MEMBUKA PINTU KEDUA.
Celestia perlahan menoleh kepada Kael.
Wajah pria itu berubah.
"Celestia..."
Ia menggenggam kristal itu.
"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?"
Kael tidak menjawab.
Dan untuk pertama kalinya—
Celestia mulai menyadari bahwa mungkin bukan hanya Penumbra yang harus ia takuti.
Mungkin orang yang berdiri di sampingnya juga menyimpan rahasia yang jauh lebih gelap.