BAB 6 — PESAN DARI KEGELAPAN
Hujan turun tanpa suara.
Bukan hujan biasa.
Tetes-tetes air yang jatuh dari langit terasa dingin, hampir seperti serpihan es. Kabut tipis menggantung rendah di antara reruntuhan kota, menutupi jalan-jalan yang sudah lama tidak dilalui.
Celestia berdiri di tengah jalan.
Liontin milik Alana masih berada di genggamannya.
Cahaya biru yang tadi muncul telah menghilang.
Namun pesan itu masih terngiang di kepalanya.
"Jangan percaya bintang-bintang."
Celestia mengangkat wajahnya ke langit.
Retakan yang muncul sebelumnya telah menghilang.
Tetapi perasaan bahwa sesuatu sedang mengawasinya tidak ikut menghilang.
Ia memasukkan liontin ke dalam saku.
Kemudian berjalan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tidak jauh dari sana, sebuah lampu jalan berkedip.
Kemudian mati.
Celestia berhenti.
Sapphire di lehernya berdenyut.
Duk.
Duk.
Duk.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun di antara kabut, sebuah bayangan bergerak.
Celestia mengangkat tangannya.
"Cukup."
Bayangan itu berhenti.
Kemudian sebuah suara terdengar.
"Kau tidak seharusnya berada di sini."
Celestia mengenali suara itu.
"Kael."
Sosok pria itu keluar dari kabut.
Seragamnya masih sama.
Namun kali ini wajahnya terlihat lebih pucat.
"Aku sudah bilang jangan kembali."
Celestia menatapnya tajam.
"Alana masih hidup."
Kael diam.
Celestia mengeluarkan liontin.
"Dia meninggalkan ini."
Tatapan Kael langsung berubah.
"Di mana kau mendapatkannya?"
"Dari Alana."
Kael melangkah mendekat.
"Dia berbicara?"
Celestia mengangguk.
"Dia mengatakan sesuatu."
"Apa?"
Celestia menatapnya.
"Jangan percaya bintang-bintang."
Kael membeku.
Untuk pertama kalinya, Celestia melihat ketakutan di wajahnya.
"Kau tahu maksudnya."
Kael tidak menjawab.
"Kael."
Hening.
Kemudian Kael berkata pelan.
"Ikut aku."
---
Mereka berjalan menuju sebuah bangunan tua di pinggir kota.
Dari luar, tempat itu terlihat seperti gudang yang telah lama ditinggalkan.
Namun di balik pintu baja terdapat fasilitas kecil yang masih aktif.
Kael membuka pintu menggunakan kode akses.
Lampu menyala satu per satu.
Celestia masuk.
"Tempat apa ini?"
"Pos pemantauan."
"Untuk apa?"
"Untuk mengawasi retakan."
Celestia menatap layar-layar yang memenuhi dinding.
Puluhan grafik bergerak.
Beberapa menampilkan pola energi.
Yang lain menunjukkan peta Bumi 12.
Namun ada satu layar yang membuat Celestia berhenti.
Sebuah peta langit.
Bintang-bintang terlihat seperti titik-titik kecil.
Namun beberapa titik berwarna hitam.
"Ini..."
Kael berdiri di sampingnya.
"Retakan."
Celestia mengerutkan kening.
"Di antara bintang?"
Kael mengangguk.
"Penumbra tidak berasal dari luar angkasa."
Celestia menatapnya.
"Jadi dari mana?"
Kael menjawab.
"Dari dimensi yang berada di balik realitas kita."
Celestia mengingat penglihatannya.
"Dan bintang-bintang?"
Kael terdiam cukup lama.
Kemudian ia berkata.
"Bukan semuanya adalah bintang."
Celestia menatap layar.
"Apa maksudmu?"
Kael menunjuk salah satu titik hitam.
"Beberapa dari mereka adalah mata."
Celestia merasakan hawa dingin.
"Mata?"
"Pengawas."
"Untuk siapa?"
Kael tidak menjawab.
Tiba-tiba layar berkedip.
Sebuah pesan muncul.
SINYAL DITEMUKAN.
Celestia langsung mendekat.
"Alana?"
Kael memeriksa data.
"Belum tentu."
Sinyal itu bergerak.
Koordinat berubah.
Kemudian berhenti di satu lokasi.
Celestia mengenal tempat tersebut.
"Sektor 7."
Kael mengangguk.
"Kita harus kembali."
Celestia mengambil senjatanya.
"Kalau begitu kita pergi sekarang."
Kael menahannya.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena ada sesuatu yang menunggu di sana."
Celestia menatapnya.
"Penumbra?"
Kael menggeleng.
"Lebih buruk."
Sebelum Celestia sempat bertanya—
seluruh ruangan tiba-tiba gelap.
Layar-layar mati.
Kemudian satu titik cahaya muncul di tengah ruangan.
Biru.
Sangat kecil.
Cahaya itu perlahan membesar.
Sebuah suara terdengar.
"Kak..."
Celestia membeku.
"Alana?"
Cahaya membentuk wajah samar.
Wajah Alana.
Namun kali ini wajahnya tampak ketakutan.
"Kakak harus pergi."
Celestia melangkah maju.
"Di mana kamu?"
Alana tidak menjawab.
"Alana!"
"Jangan datang ke Sektor 7."
Celestia menatap Kael.
"Tapi sinyalmu berasal dari sana."
Alana menggeleng.
"Itu bukan aku."
Celestia terdiam.
"Kalau bukan kamu, lalu siapa?"
Wajah Alana mulai terdistorsi.
Suara lain muncul di belakangnya.
Suara yang lebih dalam.
Lebih tua.
Lebih dingin.
"Kami menunggumu."
Cahaya padam.
Celestia berdiri terpaku.
Kael langsung mematikan sistem utama.
"Kita harus pergi."
Celestia menatapnya.
"Ke mana?"
Kael mengambil senjatanya.
"Ke Sektor 7."
Celestia mengerutkan kening.
"Barusan Alana menyuruh kita jangan ke sana."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa?"
Kael menatapnya.
"Karena kalau sinyal itu bukan Alana..."
Ia berhenti.
"...berarti seseorang sengaja menggunakannya untuk memancingmu."
Celestia menggenggam liontin.
"Dan kita akan masuk perangkap itu?"
Kael mengangguk.
"Ya."
Celestia menatap layar yang sudah mati.
"Kalau begitu kita pastikan mereka menyesal telah membuat perangkap."
Di luar bangunan, langit kembali berubah.
Bintang-bintang mulai terlihat.
Namun satu per satu—
titik-titik cahaya itu berubah menjadi hitam.
Seolah-olah sesuatu sedang membuka matanya.
Dan jauh di luar jangkauan manusia—
sesuatu tersenyum.