Chapter 5 of 26

Chapter 5: JEJAK DI BALIK KEGELAPAN

1.1k words

BAB 5 — JEJAK DI BALIK KEGELAPAN Retakan menjalar di sepanjang aspal, bercabang seperti urat pada tubuh dunia yang sedang sekarat. Debu memenuhi udara, mengubah cahaya bulan menjadi abu-abu kusam. Celestia berusaha mempertahankan keseimbangan. Sepatu botnya tergelincir di atas kerikil ketika bumi mengerang di bawah kakinya. Reruntuhan teknologi tinggi Bumi 12 mengelilinginya—monumen bisu dari peradaban yang pernah percaya bahwa manusia akhirnya berhasil menaklukkan masa depan. Papan-papan iklan holografik masih berkedip di antara bangunan yang hancur. Produk-produk yang telah lama dilupakan muncul dalam warna biru dan merah muda sebelum mati satu per satu, ditelan kegelapan yang semakin mendekat. Di atas sana, langit tampak lebam keunguan. Tidak lagi seperti langit. Lebih menyerupai luka raksasa yang baru saja terbuka di tubuh dunia. Dentuman menggelegar dari kejauhan. Getarannya merambat melalui telapak kaki Celestia hingga ke tulang-tulangnya. Kemudian— KRAAAK! Jalan di hadapannya terbelah. Aspal pecah dan tanah amblas, membuka sebuah jurang bergerigi yang menganga seperti mulut raksasa. Di dalamnya tidak ada batu. Tidak ada tanah. Hanya kegelapan. Kegelapan yang begitu pekat hingga terasa hidup. Celestia mengangkat kepalanya. Di seberang jurang berdiri seseorang. Seseorang yang seharusnya sudah tidak mungkin ada. Alana. Adiknya melayang beberapa sentimeter di atas tanah. Kabut hitam keunguan berputar di sekeliling tubuhnya seperti makhluk hidup yang sedang melindungi sesuatu yang telah menjadi miliknya. Cahaya dingin membakar kedua matanya. Tidak ada lagi kehangatan yang Celestia kenal. Wajah itu masih milik Alana. Namun sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih mengerikan sedang memakainya sebagai topeng. Sebuah boneka. Dan Penumbra adalah tangan yang menarik talinya. "Alana!" Teriakan Celestia pecah di tengah angin. Namun suaranya lenyap ditelan gemuruh. Tanah kembali berguncang. Alana menatapnya. "Celestia..." Suara itu begitu lemah. Begitu rapuh. Namun Celestia mengenalnya. Ia telah menunggu suara itu selama lima tahun. "Alana!" Harapan menyambar dadanya. "Itu aku!" Celestia melangkah maju. Cahaya perak membentuk pijakan di udara di bawah kakinya. "Aku di sini!" Ia mengulurkan tangan. "Aku tidak akan meninggalkanmu lagi." Alana menatapnya. Bibirnya bergetar. "Aku..." Ia menutup mata. "...takut." Celestia merasa dadanya diremas. "Aku tahu." "Aku tidak bisa mengendalikannya..." "Alana, dengarkan aku." Celestia terus mendekat. "Jangan dengarkan suara itu." Alana mencengkeram kepalanya. Tubuhnya mulai gemetar hebat. "Dia ada di dalam kepalaku..." Suaranya berubah menjadi isakan. "Dia tidak mau pergi." Celestia mengulurkan tangannya lebih jauh. "Aku akan mengeluarkanmu." Untuk sesaat, Alana menatapnya dengan mata penuh harapan. Kemudian— garis-garis hitam kembali muncul di pelipisnya. Berdenyut. Sekali. Dua kali. Semakin cepat. Alana menjerit. "AHHH!" "Alana!" Celestia mempercepat langkah. "Tahan!" "Tolong aku!" Teriakan itu menghancurkan hati Celestia. Itu suara yang sama. Suara yang pernah memanggilnya bertahun-tahun lalu. Namun kali ini— Celestia tidak akan membeku. "Aku datang!" Ia mengulurkan tangan. Cahaya celestial memanjang dari telapak tangannya, membentuk benang-benang perak yang menjembatani jurang. Namun tiba-tiba— suhu udara jatuh drastis. Napas Celestia berubah menjadi kabut tebal. Angin dingin menerjang dari dasar jurang, membawa aroma belerang dan sesuatu yang busuk. Tekanan berat turun ke seluruh kawasan. Celestia terhuyung. "Tidak..." Dari tanah di sekitar Alana, sesuatu muncul. Sulur hitam. Panjang dan kurus. Seperti tangan kerangka yang terbuat dari bayangan. Mereka melilit kedua kaki Alana. Alana tersentak. "Celestia!" Tubuhnya terseret ke belakang. Celestia langsung bergerak. "Tahan!" Ia mendorong seluruh energi celestial ke depan. Cahaya perak menyambar melewati jurang. Namun sulur-sulur itu semakin kuat. Mereka menarik Alana menuju rift. "Jangan!" Alana mencengkeram aspal dengan kedua tangannya. Jari-jarinya mencakar permukaan jalan. "Celestia!" Tubuhnya terseret beberapa meter. "LARI!" Celestia menggeleng. "Tidak!" "LARI, CELESTIA!" "Aku tidak akan meninggalkanmu!" "Pergi!" Suara Alana pecah. Air mata mengalir dari matanya. Namun cairan hitam mulai merembes dari sudut matanya, mengalir di pipinya seperti tinta. Kabut violet-hitam kembali meledak dari tubuhnya. Menelan cahaya yang tadi sempat muncul. Celestia terus maju. Ia memaksa tubuhnya terbang menyeberangi jurang. "Alana!" Tangannya hampir mencapai tangan adiknya. Hanya beberapa sentimeter. Jari mereka hampir bersentuhan. Kemudian— WHOOOOM! Rift mengamuk. Gelombang energi menghantam seluruh plaza. Debu, batu, pecahan kaca, dan potongan logam tersedot ke dalam pusaran. Celestia berjuang mempertahankan posisinya. Cahaya celestial di tubuhnya berkobar. Namun kekuatan Penumbra jauh lebih besar. Alana terseret semakin jauh. Tubuhnya mulai berubah menjadi bayangan. Pecahan-pecahan gelap terlepas dari tubuhnya seperti serpihan realitas yang hancur. "ALANA!" Celestia mengulurkan tangan sekuat tenaga. Benang-benang cahaya keluar dari telapak tangannya. Satu. Dua. Puluhan. Mereka berusaha membentuk jaring di sekitar tubuh Alana. Namun kekuatan Celestia masih terlalu mentah. Benang-benang itu bergetar. Retak. Kemudian— PRAAAK! Seluruh jaring cahaya pecah menjadi ribuan percikan. Celestia terdiam. "Tidak..." Alana berhenti melawan. Ekspresinya kembali kosong. Kabut hitam menutupi tubuhnya sepenuhnya. Hanya matanya yang masih terlihat. Untuk sesaat— Celestia melihat sesuatu di sana. Bukan kebencian. Bukan Penumbra. Melainkan kesedihan. Alana menatapnya untuk terakhir kali. Kemudian tubuhnya perlahan mundur ke dalam rift. Celestia berteriak. "ALANA!" Namun kegelapan menelannya. Rift mulai menyusut. Dinding realitas yang tadi terbuka perlahan menutup. Cahaya violet padam satu demi satu. Angin berhenti. Debu mulai turun. Dan kemudian— semuanya sunyi. Celestia berdiri di tepi jurang. Napasnya tersengal. Air mata mengalir tanpa ia sadari. "Lima tahun..." Suaranya nyaris tidak terdengar. "Aku menemukanmu..." Tangannya gemetar. "...dan kehilanganmu lagi." Tidak ada jawaban. Hanya suara kecil yang terdengar di antara reruntuhan. Ting. Celestia menunduk. Sebuah benda kecil tergeletak di atas aspal tepat di depan kakinya. Sebuah liontin. Perak. Sederhana. Namun Celestia langsung mengenalinya. Liontin itu adalah hadiah yang pernah ia berikan kepada Alana bertahun-tahun lalu. Hadiah kecil dari seorang kakak kepada adiknya. Satu-satunya benda yang tetap utuh dari masa lalu mereka. Celestia berlutut dan mengambilnya dengan tangan gemetar. Air mata jatuh di permukaan logamnya. "Alana..." Ia menggenggam liontin itu erat. Namun ketika jarinya menyentuh bagian belakang liontin— Celestia berhenti. Ada sesuatu yang terasa aneh. Sebuah getaran kecil. Hampir tidak terasa. Duk. Celestia membuka mata. Duk. Sekali lagi. Sebuah cahaya biru samar muncul dari dalam liontin. Mata Celestia melebar. Cahaya itu berdenyut seperti detak jantung. Dan energi yang dipancarkannya— terasa sangat familiar. Energi Alana. "Alana...?" Cahaya tersebut perlahan membentuk sebuah simbol kecil di permukaan liontin. Celestia mengenali simbol itu. Simbol yang sama yang pernah ia lihat pada tubuh makhluk yang keluar dari rift. Simbol Penumbra. Wajah Celestia berubah. Ini bukan sekadar kenang-kenangan. Liontin itu adalah sebuah petunjuk. Mungkin Alana tidak benar-benar hilang. Mungkin masih ada bagian dari dirinya yang tertinggal di balik rift. Dan jika itu benar— maka masih ada kesempatan. Celestia menggenggam liontin itu di depan dadanya. "Aku akan menemukanmu." Matanya kembali menyala dengan cahaya celestial. "Aku akan membawamu pulang." Namun sebelum ia sempat berdiri— sebuah suara berbisik dari dalam liontin. Sangat pelan. Hampir seperti suara seorang anak kecil. "Kak..." Celestia membeku. Air mata kembali memenuhi matanya. Itu suara Alana. Benar-benar suara Alana. Kemudian bisikan kedua terdengar. "Jangan percaya bintang-bintang." Cahaya liontin padam. Celestia menatap benda itu dengan napas tertahan. Di atasnya, langit kembali bergetar. Jauh di balik awan ungu, sebuah retakan baru mulai terbuka. Dan kali ini— retakan itu muncul tepat di atas kota. Celestia berdiri sendirian di tengah reruntuhan. Namun untuk pertama kalinya sejak lima tahun terakhir, ia tidak hanya memiliki kenangan. Ia memiliki jejak. Dan jejak itu mengarah langsung kepada Penumbra.

End of Chapter 5