Chapter 4 of 26
Chapter 4: PINTU YANG TERBUKA
541 words
BAB 4 — PINTU YANG TERBUKA
Celestia berdiri terpaku di depan retakan cahaya hitam.
Wajah Alana masih terlihat di balik kegelapan.
"Kak..."
Suara itu begitu lemah.
Namun Celestia mengenalnya.
Itu suara adiknya.
"Alana!"
Ia mencoba melangkah maju.
Kael mencengkeram lengannya.
"Jangan!"
"Lepaskan aku!"
"Kalau kau mendekat, kau tidak akan kembali."
Celestia menatapnya tajam.
"Aku sudah kehilangan dia sekali."
Ia melepaskan tangan Kael.
"Aku tidak akan kehilangan dia lagi."
Sapphire di dadanya menyala.
Cahaya biru menyebar ke seluruh ruangan.
Retakan dimensi bergetar.
Kemudian—
sebuah ledakan energi menghantam mereka.
Celestia terlempar ke belakang.
Kael jatuh menghantam lantai.
Alarm berbunyi semakin keras.
RESONANSI DIMENSI KRITIS.
Dinding mulai runtuh.
Kael bangkit.
"Kita harus keluar!"
Celestia tidak bergerak.
Matanya masih tertuju pada retakan.
"Alana..."
Tidak ada jawaban.
Wajah gadis itu telah menghilang.
Yang tersisa hanya kegelapan.
Celestia menggenggam Sapphire.
"Kau akan kembali."
Kael menariknya.
"Celestia!"
Mereka berlari keluar dari ruang kontrol.
Di belakang mereka, suara ledakan terdengar berkali-kali.
Lorong mulai runtuh.
Batu dan logam berjatuhan dari langit-langit.
Celestia berlari secepat mungkin.
Namun tiba-tiba ia berhenti.
Sebuah cahaya biru muncul di lantai.
Simbol aneh terbentuk.
Kael menatapnya.
"Jangan menginjak itu."
Terlambat.
Celestia sudah berdiri tepat di atas simbol tersebut.
Cahaya menyelimuti tubuhnya.
Dunia berputar.
Kael berteriak.
"Celestia!"
Kemudian semuanya menjadi putih.
---
Celestia membuka mata.
Ia berada di sebuah tempat yang asing.
Langit berwarna hitam.
Tanah di bawah kakinya berwarna abu-abu.
Tidak ada matahari.
Tidak ada bulan.
Hanya kabut tipis yang bergerak perlahan.
Celestia berdiri.
"Kael?"
Tidak ada jawaban.
Ia menoleh ke belakang.
Tidak ada pintu.
Tidak ada fasilitas.
Tidak ada jalan pulang.
Hanya kehampaan.
Celestia memegang Sapphire.
Batu itu masih menyala.
Kemudian suara terdengar dari kejauhan.
"Kak..."
Celestia membeku.
"Alana?"
Suara itu kembali.
"Kak..."
Celestia berlari.
Ia melewati kabut.
Sebuah sosok terlihat di kejauhan.
Seorang gadis berdiri membelakanginya.
Rambut panjang.
Pakaian putih.
Celestia mempercepat langkah.
"Alana!"
Gadis itu berhenti.
Perlahan ia berbalik.
Celestia berhenti.
Wajah itu memang wajah Alana.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Matanya berwarna biru bercahaya.
"Alana..."
Gadis itu tersenyum.
"Kakak datang."
Celestia hampir menangis.
Ia berlari dan memeluknya.
Tubuh Alana terasa dingin.
Sangat dingin.
Celestia menggenggam tubuh adiknya erat.
"Maafkan kakak."
Alana tidak menjawab.
Celestia menarik diri.
"Aku mencarimu selama lima tahun."
Alana menatapnya.
"Aku tahu."
"Siapa yang membawamu ke sini?"
Alana menunduk.
"Mereka."
"Siapa?"
Alana melihat ke langit.
"Mereka yang tinggal di balik bayangan."
Celestia merasakan hawa dingin menjalar ke tubuhnya.
"Penumbra?"
Alana mengangguk.
"Mereka sudah melihat dunia kita."
Celestia menggenggam tangan adiknya.
"Kita akan pulang."
Alana menatapnya dengan sedih.
"Kak..."
"Apa?"
"Aku tidak bisa."
Celestia mengerutkan kening.
"Kenapa?"
Alana menatap Sapphire.
"Karena aku adalah pintunya."
Celestia membeku.
"Apa maksudmu?"
Alana mundur satu langkah.
Tanah di bawah mereka mulai bergetar.
Kabut berubah menjadi hitam.
Kemudian suara ribuan bisikan terdengar dari segala arah.
"Pintu telah ditemukan."
Celestia menarik Alana mendekat.
"Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu lagi."
Namun Alana menggeleng.
"Kakak harus pergi."
"Tidak."
"Kalau kakak tetap di sini..."
Mata Alana mulai dipenuhi air mata.
"...mereka akan menemukan jalan menuju Bumi 12."
Celestia menatapnya.
Kemudian sesuatu muncul di langit.
Sebuah mata raksasa terbuka di antara awan hitam.
Celestia merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Alana berbisik.
"Penumbra sudah bangun."
Dan untuk pertama kalinya—
Celestia menyadari bahwa menemukan Alana mungkin bukan akhir dari perjalanannya.
Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.