Chapter 3 of 26

Chapter 3: JEJAK YANG HILANG

547 words

BAB 3 — JEJAK YANG HILANG Suara sesuatu yang berat bergerak dari kedalaman fasilitas membuat lantai bergetar. Celestia tetap mengarahkan senjatanya kepada Kael. "Jelaskan." Kael tidak menjawab. Ia justru menoleh ke lorong gelap di belakangnya. "Kalau ingin tetap hidup, ikut aku." Celestia tidak bergerak. "Aku tidak mempercayaimu." "Aku juga tidak meminta kepercayaanmu." Suara dentuman kembali terdengar. Kali ini lebih dekat. Kael berbalik dan berjalan. Setelah beberapa detik, Celestia akhirnya mengikutinya. Mereka menyusuri lorong sempit yang dipenuhi kabel-kabel tua. Beberapa panel keamanan masih menyala. Namun hampir semuanya rusak. "Tempat ini seharusnya sudah ditinggalkan," kata Celestia. "Memang." "Lalu siapa yang mengaktifkannya?" Kael berhenti. Ia menatap sebuah pintu baja besar. "Orang yang sama yang membawamu ke sini." Celestia mengerutkan kening. "Aku datang sendiri." Kael menoleh. "Tidak." Ia menunjuk Sapphire. "Sejak kau menerima batu itu, perjalananmu sudah bukan lagi milikmu." Celestia menggenggam Sapphire. "Jangan bicara seolah kau tahu semuanya." "Aku tahu cukup banyak." Kael membuka pintu. Di baliknya terdapat ruang kontrol. Puluhan layar tua memenuhi dinding. Sebagian menampilkan data yang tidak dapat dibaca. Namun satu layar masih aktif. Sebuah rekaman video muncul. Celestia membeku. Wajahnya berubah pucat. Di layar terlihat seorang gadis kecil. Alana. Ia berdiri di dalam sebuah ruangan putih. Beberapa kabel terhubung ke tubuhnya. Celestia melangkah mendekat. "Alana..." Kael diam. Rekaman itu terus berjalan. Seorang ilmuwan berdiri di belakang kaca. "Subjek LYRA-07 menunjukkan respons energi yang stabil." Celestia menatap layar. "Subjek?" Suara ilmuwan terdengar lagi. "Resonansi dengan inti Sapphire mencapai delapan puluh tujuh persen." Celestia menoleh kepada Kael. "Apa maksudnya ini?" Kael tidak menjawab. Rekaman berlanjut. Alana terlihat ketakutan. "Kakak akan datang?" Tidak ada yang menjawab. Celestia menutup mulutnya. Air mata mulai memenuhi matanya. "Aku tidak pernah tahu..." Kael menatapnya. "Kau memang tidak seharusnya tahu." Celestia menoleh tajam. "Kenapa?" "Karena ayahmu menyembunyikan semuanya." Celestia terdiam. "Ayahku?" Kael mengangguk. "Dia adalah salah satu peneliti utama Proyek Chimera." Celestia menatap kembali layar. Rekaman menunjukkan sebuah eksperimen. Cahaya biru memenuhi ruangan. Alana berteriak. Kemudian layar menjadi hitam. Rekaman berhenti. Celestia berdiri tanpa bergerak. "Dia mati karena eksperimen itu?" Kael menjawab pelan. "Tidak." Celestia menatapnya. "Alana tidak mati." Jantung Celestia berdegup keras. "Kalau begitu di mana dia?" Kael menunjuk sebuah layar lain. Data koordinat muncul. Namun sebagian besar terdistorsi. "Dia dikirim ke tempat lain." "Tempat lain?" "Dimensi lain." Celestia menggeleng. "Itu tidak mungkin." "Menurut ilmu pengetahuan manusia, mungkin memang tidak." Kael menatap Sapphire. "Tapi Sapphire bukan berasal dari dunia ini." Celestia terdiam. Tiba-tiba alarm berbunyi. Lampu merah berkedip. PERINGATAN. RESONANSI DIMENSI MENINGKAT. Kael langsung bergerak. "Kita harus pergi." Celestia masih menatap layar. "Alana..." "Celestia!" Suara Kael membuatnya tersadar. Ia berbalik. Dinding di belakang mereka mulai retak. Sebuah cahaya hitam muncul dari celah. Celestia merasakan tekanan aneh memenuhi ruangan. Sapphire berdenyut keras. Dum. Dum. Dum. Kemudian sebuah suara terdengar. Bukan suara manusia. Suara itu seperti bisikan dari ribuan mulut sekaligus. "Celestia..." Tubuh Celestia membeku. Kael menatapnya. "Kau mendengarnya?" Celestia mengangguk perlahan. Suara itu kembali terdengar. "Bawa Sapphire..." Cahaya hitam semakin besar. "...dan buka pintunya." Kael mengangkat senjatanya. "Jangan dengarkan." Celestia menatap retakan tersebut. Untuk sesaat ia melihat sesuatu di balik kegelapan. Sebuah tangan. Kemudian wajah. Wajah seorang gadis. Alana. "Kak..." Celestia melangkah maju. "Alana!" Kael menarik lengannya. "Jangan!" Namun Celestia sudah merasakan sesuatu. Sesuatu yang selama lima tahun tidak pernah ia rasakan. Kehadiran adiknya. Alana masih hidup. Dan entah bagaimana— ia sedang mencoba pulang.

End of Chapter 3

Chapter 3: Chapter 3: JEJAK YANG HILANG - Perjalanan mistis | Novel AI Studio