BAB 2 — PANGGILAN DARI MASA LALU
Pagi datang tanpa membawa kehangatan.
Celestia berdiri di depan jendela apartemennya, menatap kota yang perlahan mulai dipenuhi aktivitas. Kendaraan melayang memenuhi jalur udara. Hologram iklan bermunculan di antara gedung-gedung tinggi.
Namun pikirannya masih tertinggal pada penglihatan malam tadi.
Alana.
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, ia mendengar suara adiknya.
"Dia belum mati."
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Celestia menggenggam kalung Sapphire yang tergantung di lehernya.
Batu biru itu kembali terlihat normal.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun Celestia tahu apa yang ia lihat bukan sekadar mimpi.
Penglihatan Sapphire tidak pernah salah.
Jika Alana benar-benar masih hidup, maka selama ini ia telah mencari jawaban di tempat yang salah.
Celestia mengambil jaket hitamnya.
Ia membuka layar holografis kecil di meja.
Sebuah berkas lama muncul.
PROYEK CHIMERA.
Celestia menatap nama itu beberapa saat.
Proyek yang seharusnya sudah dihentikan lima tahun lalu.
Proyek yang berkaitan dengan penelitian energi antardimensi.
Dan proyek terakhir yang pernah disentuh ayahnya.
Ia membuka berkas tersebut.
Sebagian besar data sudah rusak.
Namun satu lokasi masih bisa dibaca.
Fasilitas Penelitian Bawah Tanah — Sektor 7.
Celestia mengernyit.
Sektor 7.
Ia pernah mendengar nama itu.
Namun setiap kali ia mencoba mencari informasi, semua data tentang tempat tersebut telah dihapus.
"Kenapa sekarang?"
Sapphire tiba-tiba berdenyut.
Celestia terdiam.
Cahaya biru tipis muncul di permukaan batu.
Kemudian sebuah simbol muncul di layar.
Simbol yang sama seperti yang ia lihat dalam penglihatannya.
Lingkaran hitam dengan garis biru di tengah.
Celestia mendekat.
"Penumbra..."
Sebuah suara terdengar dari belakang.
Celestia langsung berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.
Tangannya meraih senjata kecil yang tersimpan di pinggang.
"Aku tahu kau di sana."
Hening.
Kemudian layar holografis di depannya berkedip.
Sebuah pesan muncul.
JANGAN PERGI KE SEKTOR 7.
Celestia menatap tulisan itu.
"Siapa yang mengirimnya?"
Pesan kedua muncul.
MEREKA SUDAH MENUNGGUMU.
Kemudian layar mati.
Celestia berdiri diam.
Ada seseorang yang mengetahui tentang dirinya.
Dan lebih buruk lagi—
seseorang mengetahui bahwa ia akan pergi ke Sektor 7.
Ia mengambil tas kecil dan memasukkan beberapa peralatan.
Sebelum keluar, Celestia berhenti di depan sebuah foto lama.
Foto dirinya bersama Alana.
Mereka masih kecil.
Alana tersenyum lebar sambil memegang tangan Celestia.
Celestia menyentuh foto itu.
"Aku akan menemukanmu."
Kemudian ia pergi.
---
Beberapa jam kemudian, kendaraan Celestia meninggalkan pusat kota.
Bangunan-bangunan tinggi perlahan menghilang di belakangnya.
Jalan berubah menjadi kawasan industri tua.
Tidak ada lagi hologram.
Tidak ada kendaraan melayang.
Hanya bangunan-bangunan kosong dan mesin-mesin yang telah lama berhenti bekerja.
Celestia menghentikan kendaraannya di depan sebuah kompleks pabrik tua.
Sebuah papan berkarat masih tergantung di gerbang.
SEKTOR 7 — AKSES TERBATAS.
Celestia turun.
Angin dingin menyapu wajahnya.
Ia menatap bangunan di depannya.
Sesuatu terasa salah.
Sapphire berdenyut semakin kuat.
Celestia berjalan menuju pintu utama.
Pintu itu terkunci.
Ia mengeluarkan perangkat kecil dan memasukkannya ke panel keamanan.
Beberapa detik kemudian—
klik.
Pintu terbuka.
Udara dingin keluar dari dalam.
Celestia menyalakan lampu kecil di pergelangan tangannya.
Lorong panjang terbentang di hadapannya.
Dinding-dindingnya dipenuhi karat.
Beberapa lampu berkedip tidak stabil.
Celestia melangkah masuk.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian pintu di belakangnya menutup sendiri.
Celestia langsung berbalik.
"Bagus..."
Ia mencoba membuka pintu.
Tidak bergerak.
Terkunci.
Sapphire kembali berdenyut.
Namun kali ini—
sebuah suara terdengar dari jauh.
Langkah kaki.
Celestia mengangkat senjatanya.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Langkah kaki semakin dekat.
Kemudian seorang pria muncul dari balik lorong.
Seragam militer hitam.
Wajahnya sebagian tertutup bayangan.
Celestia mengenal wajah itu.
Matanya melebar.
"Kael..."
Pria itu berhenti beberapa meter di depannya.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Kemudian Kael tersenyum tipis.
"Kau akhirnya datang."
Celestia mengarahkan senjatanya.
"Di mana Alana?"
Senyum Kael menghilang.
"Jadi kau masih mencarinya."
"Aku bertanya, di mana adikku?"
Kael menatap Sapphire di dada Celestia.
"Kalau kau ingin menemukan Alana..."
Ia berhenti sejenak.
"...kau harus terlebih dahulu memahami apa yang terjadi lima tahun lalu."
Celestia menggertakkan gigi.
"Aku tidak datang untuk mendengar teka-teki."
Kael melangkah mendekat.
"Sayangnya, Celestia..."
Lampu di lorong tiba-tiba padam.
Dalam kegelapan, suara Kael terdengar jelas.
"...kebenaran tentang Alana jauh lebih buruk daripada yang pernah kau bayangkan."
Sapphire menyala terang.
Dan dari kedalaman fasilitas—
terdengar suara sesuatu yang sangat besar bergerak.
Celestia menahan napas.
Perjalanan menuju masa lalu baru saja dimulai.