Chapter 24 of 26
Chapter 24: Dr. Aris's Madness
1.4k words
Udara dingin menusuk kulit Celestia yang terbuka. Laboratorium steril itu, sangat kontras dengan kekacauan di luar, berdengung dipenuhi energi yang terasa jahat. Tatapannya menyapu sosok-sosok tak berdaya yang terikat di atas meja-meja logam dingin. Kulit mereka yang dahulu sehat kini berubah menjadi abu-abu pucat dan mengerikan, mata cekung, sementara ekspresi mereka membeku dalam jeritan bisu. Perut Celestia terasa mual.
Lucas muntah ke tangannya sambil memalingkan wajah. Kian, yang selalu tenang dan tabah, menekan tangannya ke dahi, buku-buku jarinya memutih karena tegang. Kengerian terasa begitu nyata, seperti bau keputusasaan yang menggantung berat di udara. Ini sudah jauh melampaui penelitian ilmiah. Ini adalah sesuatu yang mengerikan.
“Mahakarya, bukan begitu?”
Sebuah suara yang halus dan terdengar klinis membelah keheningan mengerikan itu. Kepala Celestia langsung menoleh. Dr. Aris berdiri di dekat panel kendali, membelakangi mereka. Ia berbalik perlahan, senyum lebar yang mengganggu membentang di bibirnya. Matanya, yang biasanya tajam karena kecerdasannya, kini memancarkan kilatan demam yang mengerikan—perpaduan antara kejeniusannya dan obsesi yang telah berubah menjadi kegilaan.
Rasa dingin menjalar di sepanjang tulang belakang Celestia. Pria yang memancarkan ketenangan seperti itu berbicara tentang kekejaman yang tak terbayangkan. Jas laboratoriumnya yang putih bersih justru membuat kedua tangannya, yang ternoda samar oleh sesuatu yang tampak seperti darah kering, terlihat semakin mengerikan.
“Puncak dari kerja keras selama bertahun-tahun,” lanjut Aris sambil menggerakkan tangannya lebar-lebar ke arah sosok-sosok yang telah terkuras itu. “Potensi sebenarnya dari pemanenan bio-energi. Masa depan berkelanjutan, yang dibangun di atas...” Ia berhenti sejenak, bahunya sedikit terangkat. “...sumber daya yang dapat dikorbankan.”
Kian melangkah maju, rahangnya mengeras. “Dapat dikorbankan? Mereka manusia, Aris!”
Aris terkekeh, suara tawanya kering dan terdengar seperti seorang akademisi. “Benarkah? Atau mereka hanya wadah? Tempat penyimpanan energi laten yang menunggu untuk dibuka, dimurnikan, lalu dialihkan demi tujuan yang lebih besar?”
Tatapannya yang dipenuhi keyakinan mengerikan akhirnya tertuju pada Celestia.
Senyumnya sempat goyah, lalu kembali terbentuk menjadi sesuatu yang lebih tajam, lebih mirip senyum pemangsa. Pengenalan tiba-tiba muncul di matanya. Sikapnya berubah secara drastis dan mengganggu. Ia menegakkan tubuh, posturnya menjadi hampir kaku karena intensitas baru yang muncul dalam dirinya.
“Wah, wah, wah,” gumamnya, suaranya merendah. “Sungguh kejutan yang tak terduga, namun benar-benar menyenangkan.”
Napas Celestia tercekat. Energi surgawinya berdenyut di bawah kulit, bereaksi terhadap tatapan Aris. Sensasinya terasa familiar—perasaan ketika seseorang melihat dirinya, ketika sifat uniknya terekspos. Namun kali ini berbeda. Ini bukan rasa ingin tahu.
Ini adalah rasa lapar.
“Kau,” kata Aris sambil melangkah mendekat, matanya mengamati Celestia dengan intensitas yang membuatnya gelisah. “Anomali itu. Bisikan di dalam data. Bagian yang hilang dari Project Chimera.”
Darah Celestia terasa membeku.
Project Chimera?
Ia belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Namun cara Aris mengucapkannya, kilatan posesif di matanya, membuat gelombang ketakutan murni menjalar di dalam dirinya.
“Bagaimana kau tahu tentangku?” tanyanya dengan susah payah, suaranya hampir hanya berupa bisikan.
Pikirannya berpacu, menyaring setiap pertemuan dan setiap tatapan samar yang pernah ia terima. Apakah selama ini diawasi? Sejak kapan?
“Oh, sayangku, keberadaanmu telah menjadi teka-teki yang sangat menarik selama bertahun-tahun,” kata Aris lembut sambil mengitarinya perlahan, seperti pemangsa yang sedang menilai mangsanya. “Jejak energi yang samar. Fluktuasi yang tidak dapat dijelaskan. Tentu saja kami mendeteksinya. Bahkan jauh sebelum retakan-retakan itu terbuka.”
Keringat dingin mulai membasahi dahi Celestia.
Sebelum retakan terbuka?
Itu berarti Aris telah menyadari energi uniknya selama bertahun-tahun. Mungkin bahkan sejak kebakaran itu, sejak kekuatannya pertama kali muncul. Selama ini dia hanyalah hantu di dalam data miliknya—sebuah fenomena yang terus dipelajari dan dilacak.
“Kemampuanmu,” lanjut Aris sambil berhenti tepat di depannya, tatapannya tak bergeser sedikit pun, “adalah persis apa yang kami butuhkan. Sebuah konduktor. Sumber energi surgawi yang murni dan tidak tercemar. Katalis sempurna untuk menstabilkan dan memperkuat inti.”
Ia menunjuk ke arah bola energi raksasa yang berdenyut di tengah laboratorium.
“Menstabilkannya?” geram Lucas sambil melangkah defensif di antara Celestia dan Aris. “Kau menguras kehidupan orang-orang! Itu bukan stabilisasi. Itu pembunuhan!”
Aris mengibaskan tangannya dengan acuh. “Tindakan sementara. Kasar, kuakui. Tetapi diperlukan untuk mencapai ambang energi tertentu. Lapisan dasar, kalau kau mau menyebutnya begitu. Namun untuk benar-benar memanfaatkan dan mengendalikan kekuatan ini, untuk menyelesaikan Project Chimera, kami membutuhkan sesuatu yang jauh lebih kuat. Jauh lebih murni.”
Matanya berkilau, tertuju pada Celestia.
“Kami membutuhkan kau, Celestia. Hubungan unikmu dengan energi surgawi bukan sekadar anugerah. Itu adalah kunci keselamatan kita. Atau mungkin...” Senyumnya melebar. “...keselamatanku.”
Perubahan santai dari kata “kita” menjadi “aku” terasa mengerikan. Itu menyingkirkan semua kepura-puraan tentang niat ilmiah demi kepentingan bersama, memperlihatkan ego mentah dan tak terkendali yang tersembunyi di baliknya. “Kegilaan ilmiahnya yang tenang” ternyata hanyalah topeng mengerikan seorang megalomaniak.
Jantung Celestia berdegup keras di balik tulang rusuknya. Setiap nalurinya meneriakkan bahaya.
Aris bukan sekadar mengamatinya.
Dia telah merencanakan semua ini.
Seluruh operasi mengerikan ini, mesin yang menguras kehidupan, semuanya hanyalah batu loncatan—pendahulu kasar untuk mendapatkan dirinya.
Selama ini Celestia selalu merasa sendirian, terbebani oleh penglihatan-penglihatannya dan pengetahuannya tentang kehancuran yang akan datang. Kekuatannya, yang seharusnya digunakan untuk memperingatkan dan melindungi, kini justru menjadi sasaran yang terpampang jelas di punggungnya.
Inilah kengerian dari ketidakberdayaan, yang berlipat ribuan kali.
Sepanjang hidupnya, ia selalu melawannya. Namun sekarang, ketakutan itu kembali berdiri tepat di hadapannya, diatur oleh seorang pria gila.
Ketidakpercayaan, yang selama ini menjadi teman setianya, kini mengeras menjadi dinding yang tak dapat ditembus di sekeliling hatinya.
Ia tidak bisa mengandalkan siapa pun.
Tidak sepenuhnya.
Hanya dirinya yang memahami beratnya beban yang ia pikul. Dan sekarang, ia mengetahui kebenaran yang jauh lebih mengerikan: dirinya telah menjadi hadiah yang diperebutkan.
“Kau tidak akan menyentuhnya,” ujar Kian, tangannya sudah bergerak menuju senjata di pinggangnya.
Aris hanya tersenyum, lengkungan bibirnya menunjukkan sikap merendahkan.
“Kian tersayang, selalu begitu mudah ditebak. Apa kau benar-benar percaya bisa menghentikan kemajuan?”
Ia menekan sebuah tombol pada komunikator di pergelangan tangannya.
Seketika, pintu-pintu logam berat membanting menutup, mengunci mereka di dalam laboratorium. Dengungan rendah memenuhi udara, sementara medan energi berkilauan muncul, menutup semua jalur pelarian.
Dari celah-celah tersembunyi, empat sosok besar muncul. Para penjaga lapis baja mengangkat senapan energi, semuanya langsung mengarah kepada mereka.
“Pertukaran sederhana,” kata Aris sambil merentangkan kedua tangannya. “Kalian menyerahkan gadis itu, dan mungkin—mungkin—aku akan membiarkan kalian pergi. Tanpa terluka.”
Lucas mengeluarkan geraman keras dan langsung menerjang salah satu penjaga tanpa berpikir dua kali. Tinju yang biasanya begitu presisi kini berubah menjadi kilatan amarah mentah.
Kian, yang lebih cepat dan taktis, berguling ke balik sebuah konsol, lalu membalas tembakan dengan rentetan tembakan terkontrol.
Celestia, yang terjebak di antara mereka, merasakan gelombang energi putus asa melonjak dari dalam dirinya.
Ia melepaskan gelombang kekuatan surgawi, menghantam penjaga terdekat dan membuatnya terhuyung mundur hingga membentur dinding.
Udara berderak di sekelilingnya.
“Menakjubkan!” seru Aris, sama sekali tidak terganggu oleh pertempuran yang berlangsung. Ia mengamati Celestia seperti seorang ilmuwan yang sedang menyaksikan sebuah eksperimen. “Kekuatan mentah sebesar itu. Bayangkan apa yang bisa kita capai dengan integrasi yang tepat!”
Aris tidak tertarik melawan mereka.
Dia tertarik pada Celestia.
Dia menginginkannya hidup-hidup, tetap utuh, sebagai spesimen untuk eksperimen menyimpangnya.
Kesadaran itu semakin memperkuat tekad Celestia.
Ia tidak akan menjadi alatnya.
Saat Lucas bergulat dengan salah satu penjaga, percikan energi tiba-tiba menyambar seluruh ruangan.
Inti energi di tengah laboratorium, yang sebelumnya terus berdenyut dengan stabil, mendadak memancarkan cahaya yang sangat kuat dan ganas.
Seluruh laboratorium bergetar.
Mata Aris membelalak. Kilatan sesuatu yang hampir menyerupai kekhawatiran—atau mungkin sekadar rasa ingin tahu ilmiah—melintas di wajahnya.
“Tidak stabil. Energi dasarnya bereaksi terhadap kehadirannya.”
Sosok-sosok tak sadar di atas meja mulai bergerak.
Mereka tidak terbangun.
Tubuh mereka hanya berkedut dalam kejang-kejang yang tidak wajar. Tubuh mereka melengkung, otot-otot menegang.
Sebuah erangan parau menggema di seluruh laboratorium.
Bukan berasal dari satu mulut.
Melainkan dari mereka semua secara bersamaan.
Suara itu adalah suara penderitaan murni—seperti jiwa-jiwa yang sedang dicabik dari tubuh mereka.
“Apa yang terjadi?” teriak Lucas, sesaat teralihkan dari pertarungannya.
Kian berlindung sambil mengarahkan senjatanya ke inti energi, tetapi ia ragu.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia menembaknya.
Ketenangan Aris mulai retak.
Ia bergegas menuju konsol, jari-jarinya bergerak cepat di atas antarmuka holografis.
“Tidak, tidak, ini tidak benar! Resonansinya terlalu tinggi! Urutan integrasi bahkan belum dimulai!”
Celestia merasakan rasa sakit yang tajam menusuk inti energinya sendiri.
Energi surgawinya mundur, seolah menjerit secara naluriah di dalam dirinya.
Energi yang berasal dari inti itu bukan sekadar kekuatan mentah.
Energi itu telah tercemar.
Gelap.
Dan terasa begitu familiar.
Tiba-tiba, inti energi berdenyut dengan ganas.
Dari tubuh-tubuh tak sadarkan diri itu, sulur-sulur bayangan mulai menjulur keluar—identik dengan sulur milik makhluk Penumbra.
Sulur-sulur tersebut merayap menuju inti energi, lalu mulai menyatu dengannya.
Sebuah tindakan yang tak dapat dibatalkan.
Sebuah proses yang mengancam untuk melepaskan kekuatan dahsyat yang dapat membawa kehancuran pada seluruh dunia.