Chapter 23 of 26
Chapter 23: Souls for Power
1.1k words
Rasa takut yang dingin mencengkeram Celestia. Tatapannya menyapu sosok-sosok yang terbaring tak berdaya, masing-masing terhubung pada tabung bercahaya, dada mereka naik dan turun dengan kelambanan yang tidak wajar. Mereka bukan sekadar subjek percobaan, bisikan mengerikan bergema di benaknya. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih buruk.
Energi Celestial dalam dirinya meledak, respons yang muncul tanpa sadar terhadap kengerian yang terbentang di hadapannya. Dunia seakan larut menjadi aliran cahaya dan bayangan yang berkilauan, dan kebenaran pun menjadi terlihat dengan kejam.
Energi mengalir. Bukan menuju tubuh mereka, melainkan keluar dari tubuh mereka. Esensi pucat dan halus, seperti helaian cahaya bintang yang sekarat, sedang disedot keluar, dialirkan melalui tabung-tabung transparan dan masuk ke jantung Proyek Chimera yang berdenyut.
Perutnya terasa mual. Gelombang rasa jijik menerpanya, pahit dan berbau logam. Orang-orang ini, sosok-sosok tak sadarkan diri itu, adalah baterai. Konduktor hidup, dengan kekuatan hidup mereka sendiri dikuras untuk menghidupkan ambisi teknologi yang mengerikan.
"Apa ini?" tanyanya tercekat, suaranya hanya berupa bisikan serak. Matanya yang terbelalak karena tak percaya dan jijik beralih kepada Jati. Wajah pria itu adalah topeng kepasrahan kelam, sebuah pengakuan atas ketakutan terburuknya.
Jati tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, otot di pipinya bergerak-gerak. Ia mengalihkan pandangan, matanya tertuju pada sosok terdekat, seorang wanita muda yang wajahnya pucat secara tidak wajar, hampir tembus pandang.
"Mereka adalah... konduktor energi," akhirnya ia berkata, suaranya tanpa emosi, seolah emosi itu menjadi perisai terhadap kebenaran yang mengerikan. "Para ilmuwan kami menemukan bahwa energi celestial yang masih berada pada tahap awal beresonansi dengan kekuatan hidup manusia. Memperkuatnya."
Celestia merasakan amarah dingin mulai mendidih di bawah kulitnya. Ini bukan ilmu pengetahuan. Ini adalah penistaan. Sebuah pelanggaran terhadap sesuatu yang paling mendasar. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kukunya menancap ke telapak tangan.
"Memperkuatnya dengan mengurasnya?" desisnya, setiap kata dipenuhi hawa dingin. "Dengan menjadikan manusia sekadar sumber tenaga? Bagaimana kau bisa berdiri di sana dan membiarkan semua ini terjadi?"
Jati akhirnya menatap matanya. Tatapannya dibayangi kelelahan yang seolah telah berusia berabad-abad.
"Keputusasaan, Celestia. Umat manusia sedang menghadapi kepunahan. Orang-orang ini... mereka sudah berada di ambang kematian. Korban dari retakan dimensi, ditinggalkan begitu saja untuk mati. Proyek ini memberi mereka sebuah tujuan, bahkan dalam keadaan tak sadarkan diri."
"Tujuan?" Celestia mencibir, tawa tanpa humor lolos dari bibirnya. "Untuk dikuras sampai kering? Untuk dieksploitasi demi kekuatan yang bahkan tidak kalian pahami? Ini bukan menyelamatkan umat manusia, Jati. Ini menghancurkan jiwanya."
Rasa sakit tajam menusuk kepalanya, kekejaman semua ini terlalu berat untuk ditanggung. Ia telah melihat kemampuan manusia untuk menghancurkan, untuk bertindak ceroboh demi kepentingan jangka pendek. Namun ini? Ini adalah titik terendah baru, kedalaman kebejatan yang tak pernah ia bayangkan.
Rasa tidak percaya, yang selalu menjadi teman setianya, kembali bergolak. Bukan hanya terhadap faksi pemberontak Jati, tetapi terhadap seluruh umat manusia. Kesombongan mereka, keyakinan bahwa mereka berhak mengendalikan dan memanipulasi kekuatan yang bahkan tidak mereka pahami, telah menjadi kanker yang terus tumbuh.
Dengan kepastian yang membuatnya mual, ia menyadari bahwa kesombongan yang sama telah menciptakan retakan dimensi sejak awal. Rasa lapar yang tak pernah terpuaskan akan kekuasaan, disamarkan sebagai kemajuan, yang pada akhirnya pasti membawa mereka menuju kehancuran.
Harapan awalnya yang penuh kehati-hatian, keyakinan rapuh bahwa mungkin faksi Jati memiliki solusi yang nyata meskipun tersesat, hancur menjadi jutaan kepingan tajam. Yang ia rasakan sekarang hanyalah kemarahan murni tanpa sedikit pun campuran keraguan.
Ini bukan tindakan putus asa. Ini adalah pengabaian moral. Pengkhianatan terhadap segala sesuatu yang ia yakini. Udara di sekelilingnya seolah berderak karena kemarahannya, aura celestial samar berkelap-kelip di tepi penglihatannya.
Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan getaran di tangannya dan amarah yang mengancam melahap dirinya. Tujuannya, yang sebelumnya diselimuti ketidakpastian, kini menjadi sangat jelas. Ia harus menghentikan semua ini. Apa pun harganya.
"Proyek ini," tegasnya, suaranya rendah dan mantap, ketenangan berbahaya menyelimuti dirinya. "Berakhir sekarang. Aku tidak akan membiarkan ini berlanjut. Aku tidak akan membiarkan kalian mengubah umat manusia menjadi monster dalam upaya sia-sia untuk menyelamatkannya."
Bahu Jati merosot. Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan, lalu mengembuskan napas berat.
"Celestia, kau tidak memahami besarnya ancaman ini. Kita sedang berjuang demi keberadaan kita sendiri. Pengorbanan harus dilakukan."
"Pengorbanan?" balasnya, matanya menyala penuh amarah. "Atau kekejaman? Ada perbedaannya, Jati. Perbedaan yang tampaknya telah dilupakan oleh faksimu dalam perebutan kekuasaan."
Ia memandang ke seluruh ruangan yang luas itu, melihat puluhan sosok tergantung dalam penderitaan tanpa suara, melihat cahaya inti energi yang berdenyut secara tidak alami. Setiap denyutan terasa seperti detak jantung yang dicuri, kekuatan hidup yang dilahap.
Hal itu semakin mengukuhkan tekadnya. Ia tidak akan hanya mengamati lagi. Ia tidak akan hanya memperingatkan. Ia akan bertindak. Ia akan menghancurkan proyek ini, bata demi bata yang mengerikan, jika memang itu yang harus dilakukan.
"Tunjukkan padaku cara menonaktifkannya," perintahnya, tatapannya tertuju pada inti energi. Tidak ada ruang untuk negosiasi dalam nada suaranya. Tidak ada jejak keraguannya yang tadi.
Jati ragu sejenak, kemudian mengangguk perlahan.
"Ini tidak sederhana. Inti ini dirancang agar dapat mempertahankan dirinya sendiri. Konsol kendali utamanya berada lebih jauh di dalam ruangan ini, terlindungi oleh perisai. Kita harus mengaksesnya secara langsung."
"Kalau begitu kita masuk secara langsung," kata Celestia, sudah bergerak menuju jantung raksasa yang berdenyut dari seluruh operasi tersebut. Langkahnya mantap, masing-masing didorong oleh amarah yang membara begitu kuat hingga menghapus rasa takutnya.
Ia bisa merasakan energi mentah yang telah disedot memancar dari inti tersebut, versi yang telah terkorupsi dari kekuatan celestial yang ia miliki. Energi itu kuat, mengerikan, dan sepenuhnya salah. Ia harus memutus hubungan itu dan membebaskan jiwa-jiwa tersebut.
Jati mengikutinya, ekspresinya masih dipenuhi kekhawatiran, tetapi ada kilatan sesuatu yang baru—mungkin kekaguman yang enggan ia akui, atau sekadar kepasrahan terhadap tekad Celestia yang tak tergoyahkan. Ia tahu seperti apa tekad Celestia ketika melihatnya.
Mereka melewati barisan lain yang dipenuhi sosok-sosok tak sadarkan diri, wajah pucat mereka diterangi cahaya yang menyeramkan. Setiap wajah menjadi tuduhan tanpa suara, semakin memperkuat tekad Celestia untuk menghancurkan kengerian ini.
Udara semakin berat, dipenuhi dengungan mesin dan aroma samar yang manis namun memuakkan dari kekuatan hidup yang telah terkuras. Inti energi bergetar, menghasilkan suara dengungan rendah dan dalam yang menggema hingga ke tulang-tulangnya.
"Titik akses utama seharusnya berada di sini," gumam Jati sambil menunjuk bagian inti yang tampak berkilauan dengan cahaya yang semakin kuat. "Tapi tempat ini dijaga ketat, bahkan dari dalam fasilitas."
Baru saja ia selesai berbicara, sebuah bayangan melepaskan diri dari bagian terdalam ruang inti energi. Sosok itu tinggi, kurus secara tidak wajar, dan bergerak dengan keheningan yang mengusik.
Tangan Celestia langsung bergerak ke samping tubuhnya, secara naluriah mencari senjata yang tidak dimilikinya. Jantungnya berdegup keras menghantam tulang rusuk. Jati menegang di sampingnya, satu tangannya bergerak menuju gagang pisau tersembunyi.
Sosok itu keluar sepenuhnya ke dalam cahaya yang menyakitkan. Kulitnya meregang erat di atas tulang-tulang yang tajam. Matanya, meskipun cekung dalam, berdenyut dengan cahaya celestial yang samar namun telah terkorupsi—tiruan mengerikan dari kekuatan miliknya sendiri.
Sebuah ingatan samar, dingin dan tajam, menembus amarah Celestia. Sebuah nama dari masa lalu yang hampir tak diingatnya muncul kembali dengan kejelasan yang mengerikan.
Inilah ilmuwan utama.
Dr. Aris.
Sosok misterius yang akan mengubah segalanya.