Chapter 22 of 26
Chapter 22: Project Chimera's Shadow
1.2k words
Tersengal-sengal, Jati menyeret Celestia melewati celah baru yang terbuka. Besi tulangan yang tajam tersangkut di jaketnya. Jati tidak memperlambat langkah. Debu memenuhi paru-parunya, terasa menusuk dan berbau logam. Di belakang mereka, alarm laboratorium meraung, terdengar semakin jauh dan sekarat. Jeritan Kael yang telah berubah bentuk masih menggema di telinganya.
Kegelapan menelan mereka. Sebuah terowongan servis sempit terbentang di depan, menyerupai labirin pipa dan kabel-kabel yang terbuka. Udara dingin menusuk kulitnya, lembap dan pengap. Jati tersandung, napasnya terengah-engah, cengkeramannya pada lengan Celestia begitu kuat seperti penjepit yang putus asa.
“Lari,” katanya terbata-bata, suaranya tipis karena ketakutan. “Kita harus lari.”
Celestia menarik lengannya hingga terlepas. Kepalanya berdenyut hebat. Dunia terasa miring, seolah hendak menelannya bulat-bulat. Kael. Berubah. Menjadi monster. Itu nyata. Semuanya nyata. Penumbra.
“Apa itu tadi?” tuntutnya, suaranya serak. “Apa yang kau lakukan padanya?”
Jati tersentak. Ia menempelkan tubuhnya ke dinding beton yang kotor, matanya bergerak liar karena panik. Keringat membasahi dahinya. Ia tampak seperti hewan yang terpojok, tubuhnya gemetar.
“Bukan aku,” bisiknya, menggelengkan kepala dengan cepat. “Bukan aku. Mereka yang melakukannya. Project Chimera.”
Suara langkah kaki terdengar menghentak dari kejauhan. Teriakan menyusul. Mereka sedang dikejar. Suara-suara itu teredam oleh lorong-lorong yang berliku seperti labirin, tetapi semakin lama semakin mendekat.
“Siapa ‘mereka’?” Celestia mencengkeram lengannya, memaksanya menatap matanya. Energi surgawinya berdenyut, seperti api dingin yang mengalir di dalam pembuluh darahnya. “Apa itu Project Chimera?” Ketidaksabarannya memuncak. Mereka tidak memiliki kemewahan berupa waktu.
Saat menatapnya, mata Jati melebar. Ia melihat intensitas dan cahaya berbahaya di dalam tatapan Celestia. Ia menelan ludah dengan susah payah. Suara pengejaran membuatnya berbicara lebih cepat daripada ancaman apa pun.
“Itu… itu tidak memiliki izin,” katanya terbata-bata, kata-katanya tumpah tanpa kendali. “Sebuah faksi pembangkang. Di dalam Alliance. Mereka percaya… mereka percaya bisa mengendalikannya. Menggunakannya sebagai senjata.”
Ia menggerakkan tangannya dengan samar, jemarinya gemetar.
“Energinya. Energi surgawi. Mereka mengira itulah kunci untuk melawan Penumbra. Senjata jenis baru. Senjata yang bisa menutup celah-celah itu untuk selamanya.”
Darah Celestia terasa membeku. Mengubahnya menjadi senjata. Mengendalikannya. Kata-kata itu terasa pahit seperti abu. Manusia selalu mengira mereka bisa mengendalikan segalanya. Selalu percaya bahwa mereka lebih pintar daripada alam semesta. Ketidakpercayaannya, yang selama ini menjadi salah satu fondasi dirinya, kini mengeras menjadi tembok kokoh.
“Apa yang kau bicarakan?” desaknya, suaranya begitu tenang hingga terdengar mengancam. “Jelaskan.”
Jati menarik napas bergetar. Ia melirik ke belakang, rasa takut ditangkap bertarung dengan kebutuhan mendesak untuk mengungkapkan semuanya.
“Mereka telah… memanen. Mengekstraksi energi surgawi yang masih berkembang. Dari anomali. Dari… dari orang-orang yang menunjukkan tanda-tanda.”
Rahang Celestia mengeras.
“Orang-orang sepertiku?”
“Ya!” desisnya. “Sepertimu. Tapi mereka tidak memahaminya. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka hanya… memaksanya. Memaksa energi itu. Mencoba membuatnya mengikuti rancangan mereka.”
Suaranya turun menjadi bisikan panik.
“Kael… Kael adalah salah satu subjek mereka yang paling menjanjikan. Mereka mengeksposnya pada dosis energi yang sangat terkonsentrasi. Mencoba mempercepat ‘kebangkitannya’. Mengendalikan transformasinya. Mengubahnya menjadi… menjadi senjata.”
Amarah menyapu Celestia, panas dan pahit. Sebuah senjata. Kael. Perutnya terasa mual. Ini bukan sekadar tindakan ceroboh; ini adalah pelanggaran, sebuah kesombongan yang tidak bisa dimaafkan. Pikiran itu membuat kulitnya merinding.
“Dan robekan dimensional?” tanyanya, setiap katanya setajam pecahan es. “Apa pengaruh semua ini terhadapnya?”
Kepala Jati tertunduk. Rasa bersalah membelit wajahnya.
“Mempercepatnya. Setiap kali mereka memaksa energi itu, setiap kali mereka mencoba membengkokkannya sesuai kehendak mereka, celah-celah itu menjadi semakin tidak stabil. Semakin sering muncul. Semakin berbahaya.”
Tatapannya bertemu dengan mata Celestia, dipenuhi keputusasaan yang menghancurkan.
“Mereka tidak sedang melawan kiamat, Celestia. Mereka justru membantunya. Mereka semakin merobek realitas, semuanya atas nama ‘menyelamatkan’ kita. Project Chimera bukanlah solusi. Itu adalah bencana yang tinggal menunggu waktu untuk terjadi.”
Celestia merasakan kepastian dingin menetap di dalam dadanya. Inilah jawabannya. Ketakutan terdalamnya telah terbukti.
Umat manusia, dengan kesombongan mereka yang tak pernah berakhir, bukan hanya tidak mampu mencegah kehancuran mereka sendiri, tetapi justru secara aktif mempercepatnya. Penglihatannya tentang dunia yang hancur bukan sekadar sekilas masa depan yang telah ditentukan. Itu adalah akibat dari campur tangan manusia.
Setiap usaha untuk mengendalikan. Setiap eksperimen yang salah arah. Setiap tindakan putus asa yang mereka lakukan hanya semakin mengencangkan jerat di leher mereka.
Celestia mundur selangkah. Terowongan steril itu tiba-tiba terasa seperti sebuah makam. Ketidakpercayaan, teman lamanya, kembali melilit tubuhnya dan mencekiknya.
Pengakuan Jati memang mengerikan, tetapi sekaligus menegaskan betapa terisolasinya dirinya.
Siapa yang bisa ia percaya?
Jika bahkan mereka yang seharusnya melindungi umat manusia diam-diam justru sedang menghancurkannya, harapan apa yang masih tersisa?
“Kita harus menghentikan mereka,” katanya datar, tanpa emosi. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Amarah berdenyut pelan dan berbahaya di bawah kulitnya.
Ini bukan lagi tentang menyelamatkan umat manusia.
Ini tentang mencegah mereka menghancurkan segalanya, termasuk diri mereka sendiri.
Jati mengangguk cepat dan mulai bergerak.
“Ya. Itu sebabnya aku membawamu ke sini. Aku… aku melihat apa yang kau lakukan di ruang itu. Kau bisa berinteraksi dengan energi tersebut. Kau… berbeda.”
Ia mendorong sebuah pintu berat yang terkunci dengan baut. Pintu itu mengerang saat terbuka, memperlihatkan lorong lain yang jauh lebih gelap.
Lorong ini lebih sempit, dengan udara yang dipenuhi dengungan aneh dan mengganggu. Langit-langitnya rendah, memaksa mereka membungkuk. Pipa-pipa di sini berbeda, memancarkan cahaya samar dari dalam, berdenyut perlahan.
“Lewat sini,” desak Jati, suaranya nyaris berbisik. “Ini menuju fasilitas penelitian inti. Tempat Chimera sebenarnya beroperasi. Mereka mengira tempat ini aman. Tersembunyi. Tidak tersentuh.”
Celestia mengikuti.
Matanya mengamati saluran-saluran bercahaya yang aneh. Energi di tempat ini terasa mentah, liar, bergetar dengan intensitas yang membuat giginya ngilu.
Ini bukan energi bersih dan terfokus yang terkadang bisa ia akses.
Ini adalah ekstraksi paksa yang kacau, tindakan brutal yang merobek untaian energi dari tempatnya.
Mereka bergerak semakin dalam ke bagian terdalam fasilitas itu. Dengungan semakin kuat, berubah menjadi getaran rendah yang merambat hingga ke tulang-tulang Celestia.
Udara menjadi semakin hangat, dipenuhi aroma ozon dan sesuatu yang lain—sesuatu yang berbau logam dan organik.
Kompas batinnya, yang biasanya begitu dapat diandalkan ketika berhadapan dengan energi surgawi, terasa kacau akibat keluaran energi yang begitu liar di tempat ini.
Lorong-lorong berliku yang identik dan sesak mulai bercampur dalam pandangannya. Setiap belokan membawa mereka semakin dekat menuju sumber dengungan mengerikan itu.
Jati bergerak dengan efisiensi seseorang yang sudah mengenal tempat tersebut. Ketakutannya untuk sesaat ditimpa oleh tekad kelam. Ia mengenal tempat ini.
Ia adalah bagian dari rahasianya.
Akhirnya, ia berhenti.
Ia menunjuk ke sebuah lubang vertikal pendek yang lebarnya nyaris hanya cukup untuk satu orang. Cahaya samar yang menyilaukan berdenyut dari bawah.
Dengungan itu berubah menjadi raungan, bergetar melalui seluruh struktur di sekeliling mereka.
“Di bawah sana,” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar di tengah suara yang semakin menggila. “Jantungnya. Nexus-nya.”
Celestia mengintip ke dalam lubang.
Jantungnya berdetak liar menghantam tulang rusuk. Cahaya di bawah semakin terang, berubah menjadi biru etereal yang hidup dan seolah bernapas.
Ia bisa merasakan energi surgawi itu.
Mentah.
Tak terkendali.
Dan sedang dicabut secara paksa dari aliran alaminya.
Mereka turun menggunakan tangga yang terpasang di dalam lubang tersebut. Mereka harus menuruni tangga sambil berpegangan kuat karena suara raungan energi semakin memekakkan telinga.
Udara berderak, menyengat kulitnya.
Semburan panas menyapu tubuhnya, kemudian berubah menjadi dingin yang menusuk, seolah realitas itu sendiri sedang berjuang mempertahankan keutuhannya.
Saat melangkah keluar menuju sebuah ruangan luas menyerupai gua, Celestia tersentak dan ternganga.
Matanya membelalak, tak mampu memahami pemandangan di hadapannya.
Sebuah inti energi raksasa yang berdenyut mendominasi ruangan.
Benda itu berdengung dengan kekuatan surgawi yang hampir terasa memiliki kesadaran sendiri—biru terang yang menakutkan, menyala lalu meredup dalam ritme yang memabukkan.
Inilah jantung Project Chimera.
Dan di sekelilingnya terdapat puluhan sosok tak sadarkan diri, terhubung pada tabung-tabung bercahaya.
Sebuah pilihan mengerikan kini terbentang di hadapan mereka.