Chapter 20 of 26

Chapter 20: The Mark of Connection

1.2k words

Jantung Celestia berdebar kencang. Simbol itu. Bentuknya melengkung, nyaris seperti cakar, berdenyut dengan cahaya ungu gelap di telapak tangan Kael. Itu sama persis dengan yang dia lihat di penglihatannya. Sama persis dengan tanda yang membakar ingatan Alana, tanda yang muncul di locket adiknya. Ini bukan kebetulan. Ini adalah koneksi. Langsung. Menyakitkan. Benar. Ketakutan dingin merayapi punggungnya, lebih mengerikan dari klaustrofobia yang baru saja mengancamnya. Simbol itu bukan hanya tanda Penumbra. Itu adalah sidik jari entitas kuno itu, tercetak di telapak tangan Kael. Ini mengkonfirmasi setiap mimpi buruk terburuknya. Kael tidak hanya mengamati. Dia terlibat. Alana. Adik perempuannya. Terjebak di suatu tempat, disiksa oleh entitas yang sama ini. Dan Kael, berdiri di sana, menyeringai, adalah bagian darinya. Kemarahannya mendidih, mengalahkan rasa takut yang baru saja mengancarkannya. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup atau melarikan diri. Ini adalah tentang Alana. "Kau..." Suara Celestia serak, nyaris tidak terdengar. Tubuhnya gemetar, tapi bukan karena gentar. Itu adalah gemetar amarah murni yang menyengat di pembuluh darahnya. "Kau tahu apa yang mereka lakukan padanya. Kau ada di dalamnya." Kael tertawa pelan, suaranya kering seperti dedaunan mati. "Tentu saja. Bukankah itu yang paling menarik dari semuanya? Melihat bagaimana penderitaan seseorang bisa membuka begitu banyak pintu? Adikmu... dia adalah kunci yang menarik, Celestia. Sangat rapuh, namun begitu penuh potensi." Matanya menyala, pupilnya melebar hingga memenuhi irisnya, memantulkan cahaya ungu dari simbol di tangannya. Senyumnya melebar, menampilkan deretan gigi yang terlalu putih, terlalu sempurna. Ia menikmati setiap kata, setiap tetes keputusasaan yang ia rasakan mengalir dari Celestia. Celestia merasakan gelombang energi Celestial bergolak dalam dirinya, lebih ganas, lebih kuat dari sebelumnya. Itu bukan lagi dorongan untuk bertahan atau melindungi. Itu adalah ledakan kehancuran. Nadi di pelipisnya berdenyut. Tangan terkepal erat, kukunya menancap di telapak tangannya. Rasa sakitnya tak berarti. "Kau menjijikkan," desisnya, suaranya rendah dan berbahaya. Setiap serat dalam dirinya ingin merobeknya, ingin membuatnya merasakan seperseribu rasa sakit yang dialami Alana. Kael mengangkat bahu, simbol itu berkedip-kedip, seolah hidup. "Hanya seorang peneliti, Celestia. Mengamati. Mempelajari. Dan kadang-kadang, memfasilitasi. Adikmu sangat pengertian, setelah beberapa bujukan. Dia menyadari tujuannya." Kata-kata itu adalah pemicu. Amarah Celestia meledak. Ia tidak lagi melihat lab atau Kael. Ia hanya melihat bayangan adiknya, ekspresi ketakutan di wajahnya, locket yang ia genggam erat. Ia melihat dirinya, tidak berdaya, tidak mampu menyelamatkan Alana. Kali ini, tidak akan terjadi lagi. Kali ini, ia akan menghancurkan siapa pun yang menyakitinya. Cahaya biru-perak meledak dari tubuh Celestia, mendorong kembali bayangan-bayangan yang mengitarinya. Beberapa makhluk bayangan berdesis, mundur selangkah, kegelapan mereka berkedip-kedip di bawah serangan cahaya murni. Energi Celestialnya beresonansi dengan sebuah raungan yang hanya ia dengar di dalam kepalanya, memekakkan telinga. Melangkah maju, ia tidak menunggu Kael bereaksi. Kakinya mendorong lantai beton yang retak, dan ia melesat ke depan, sebuah blur cahaya. Tangannya terangkat, bukan untuk meninju, melainkan untuk melepaskan gelombang energi yang padat, biru kehijauan yang melaju lurus ke arah Kael. Kael tidak bergerak. Ia hanya mengangkat tangannya, simbol Penumbra di telapak tangannya bersinar lebih terang. Gelombang energi Celestia menabrak perisai energi gelap yang muncul tiba-tiba di depannya. Dentuman keras memenuhi lab, diikuti oleh percikan listrik saat dua kekuatan bertabrakan. Energi Celestia terpental, menghantam dinding di belakang Kael, meninggalkan bekas hangus. "Cukup kuat," komentar Kael, senyumnya tidak goyah. "Tapi masih belum cukup. Kebencianmu, Celestia, itu memberimu kekuatan. Tapi juga membutakanmu. Kau menyerang tanpa berpikir." Kael melambaikan tangannya. Bayangan-bayangan yang tadi mundur kini menerjang maju, lusinan dari mereka, merayap di dinding dan lantai, melesat ke arah Celestia seperti kawanan serigala. Mata mereka kosong, hitam pekat, namun memancarkan niat membunuh yang mengerikan. Celestia berputar, memusatkan energinya. Ia tidak bisa melawan mereka semua secara individu. Ia membutuhkan sesuatu yang lebih besar. Sebuah ledakan. Energi Celestial menyembur dari telapak tangannya, menyapu dalam busur lebar, menebas melalui makhluk-makhluk bayangan terdepan. Mereka menjerit, bukan suara sungguhan, melainkan erangan yang mengiris pikiran. Bentuk mereka hancur, kembali menjadi gumpalan asap gelap sebelum menghilang. Namun, lebih banyak lagi yang datang. Mereka seolah tak ada habisnya, terus-menerus muncul dari celah-celah di sekitar Kael. Kael tetap berdiri di tengah, tenang, menyaksikan tarian kekacauan yang ia ciptakan. Simbol di tangannya berdenyut, seolah menyalurkan kegelapan itu. Ia adalah pusat badai, sumber semua horor ini. Dan Alana adalah korban badainya. Celestia tahu ia harus mencapai Kael. Makhluk-makhluk ini hanyalah gangguan. Ia harus menghentikan sumbernya. Ia menepis bayangan yang mencengkeram lengannya, energi Celestial membakar kulit gelap mereka. Sebuah tendangan melengkung menghancurkan satu makhluk yang mencoba menerjang kakinya. Ia menembak lagi, sebuah proyektil energi yang melubangi dua bayangan sebelum membentur dinding. "Kau tahu, Celestia," kata Kael, suaranya tenang, bergema di atas geraman bayangan dan desisan energi Celestia. "Adikmu adalah contoh sempurna. Kekuatan yang tersembunyi. Potensi yang belum tergali. Penumbra melihat itu. Ia melihat masa depan yang berbeda untuk semua orang. Sebuah masa depan di mana kekacauan adalah ketertiban." Ia mengangkat tangannya yang lain, dan bayangan-bayangan itu mulai berputar, membentuk pusaran gelap yang semakin besar, semakin cepat, menarik udara di sekitarnya. Udara terasa berat, dingin, dan kental. Celestia merasakan tarikan gravitasi yang aneh, seolah pusaran itu mencoba menyedotnya ke dalam jurang kekosongan. Ia berjuang, membumikan dirinya, tetapi tarikannya begitu kuat sehingga kakinya mulai terseret di lantai. Kael tidak lagi tersenyum. Wajahnya serius, matanya terpaku pada Celestia. "Kekuatanmu, Celestia, adalah anomali. Gangguan. Penumbra akan memperbaikinya." Ia menyalurkan lebih banyak energi ke dalam pusaran, dan kegelapan itu mulai memancarkan percikan ungu yang aneh. Ini adalah ancaman yang nyata. Ancaman yang bukan hanya fisik, tetapi juga spiritual. Pusaran itu terasa seperti lubang hitam yang siap menelan esensinya, menghapus keberadaannya. Ia harus memecahkannya. Ia harus menghancurkan Kael. Mengambil napas dalam-dalam, Celestia memusatkan semua energi yang ia miliki. Ia tidak akan membiarkan Kael atau Penumbra mengambil siapa pun lagi darinya. Bukan Alana. Tidak ada orang. Ia adalah satu-satunya yang bisa menghentikan ini. Distrust-nya pada orang lain, keyakinannya bahwa ia harus menanggung beban ini sendirian, mengeras menjadi tekad yang membara. Cahaya biru-perak yang terpancar dari tubuhnya semakin terang, membentuk aura berdenyut di sekelilingnya. Ia mengangkat kedua tangannya, jari-jarinya terentang, dan menembakkan dua berkas energi yang kuat, bukan lagi proyektil, tetapi balok cahaya murni yang memotong udara. Mereka melesat melewati makhluk-makhluk bayangan yang sekarang terhuyung-huyung di bawah tekanan pusaran, lurus ke arah Kael. Kael mendengus. "Bodoh." Ia mengangkat tangan yang memegang simbol Penumbra, dan balok-balok energi itu menabrak perisai gelapnya sekali lagi. Kali ini, perisai itu bergetar, memancarkan retakan-retakan energi saat ia menahan serangan Celestia yang marah. Celestia mendorong lebih keras, menguras cadangan energinya, tidak peduli dengan rasa sakit yang menusuk di kepalanya. Ia bisa merasakan perisai Kael menipis, memudar di bawah serangan tanpa henti. Jika ia bisa bertahan cukup lama, jika ia bisa menembus itu, ia akan menyeret Kael ke neraka bersamanya. Kael mengeraskan rahangnya. "Cukup." Dengan gerakan yang tiba-tiba, ia menarik tangannya, menyebabkan perisai gelap itu meledak dalam ledakan energi. Balok-balok cahaya Celestia melewati tempat di mana perisai itu berada, menghantam dinding di belakang Kael, menghancurkan beton dan memuntahkan debu. Namun, Kael tidak terluka. Ia bergerak secepat kilat, menghilang dari pandangan Celestia sebelum balok-balok energinya menghantam. Tiba-tiba, ia muncul tepat di depannya, begitu dekat sehingga Celestia bisa merasakan udara dingin yang menguar darinya. Simbol Penumbra di tangannya bersinar dengan cahaya yang lebih intens, siap untuk menyerang. Celestia tidak punya waktu untuk bereaksi. Energinya terkuras, fokusnya terpecah. Ia hanya bisa melihat kilatan ungu saat Kael mengangkat tangannya, siap untuk memberikan pukulan telak. Sebelum Kael bisa membuat gerakan, sebuah dentuman keras, seperti logam yang menghantam, bergema di seluruh lab saat sebagian dinding meledak ke dalam, memperlihatkan bukan musuh, melainkan seorang insinyur yang tampak panik dengan mata lebar, ketakutan, memegang senapan plasma rakitan, sosok misterius yang mengubah segalanya.

End of Chapter 20