Memekakkan telinga, ledakan mengguncang. Tanah bergemuruh di bawah kakinya, mengirimkan getaran kasar langsung ke tulang. Gelombang energi gelap Kael menghantam mulut terowongan, bukan dinding lab, dan seketika jeritan baja yang terkoyak dan batu yang retak mengisi udara. Dinding-dindingnya bergetar. Udara berbau debu dan ozon yang terbakar.Asap tebal dan kerikil menyembur ke arahnya, membuat Celestia terhuyung mundur. Refleksnya mengambil alih, tangannya terangkat menutupi wajah. Matanya perih. Paru-parunya tersengat debu vulkanik yang mengepul, panas dan menyesakkan.Ketika debu mulai sedikit mereda, menampilkan pemandangan yang mengerikan. Mulut terowongan yang hanya beberapa saat lalu menjanjikan kebebasan, kini menjadi gundukan puing. Balok baja bengkok mencuat dari tumpukan beton yang hancur, menembus batu yang retak.Jalur pelariannya telah lenyap. Jalan satu-satunya ke permukaan, terkubur.Celestia terhuyung, bahunya menabrak meja peralatan yang dingin. Matanya menyapu kekacauan, mencari celah, harapan. Tidak ada. Hanya dinding padat dari kehancuran yang tak tertembus. Kael telah melakukannya. Dia telah menutup jalannya.Dia menoleh tajam ke arah Kael. Pria itu berdiri beberapa meter darinya, Penumbra-device-nya masih terangkat sedikit. Ekspresinya tenang, bahkan hampir bosan. Seolah-olah dia baru saja menutup pintu yang berdecit, bukan mengubur harapannya hidup-hidup.Napas Celestia tercekat. Bukan hanya karena debu, tapi karena cengkeraman teror yang tiba-tiba mengencang di dadanya. Terjebak. Kata itu bergema di benaknya, dingin dan mutlak. Otaknya memproyeksikan kembali gambar-gambar malam itu, api yang melahap, pintu yang terkunci, tangannya yang kecil tak mampu meraih. Ketidakberdayaan yang sama, rasa panik yang sama, kini merangkak naik lagi.Punggungnya menempel ke meja. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seolah ingin melarikan diri. Kepalanya terasa ringan, pandangannya sedikit kabur. Dunia di sekelilingnya tampak menyempit, dinding-dinding lab yang tadinya terasa luas kini mendekat, mencekiknya.Kael mengamati reaksinya dengan mata yang tidak berkedip. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, melengkung di bibirnya. Senyum predator yang telah menjebak mangsanya.Senyum itu membakar amarah di dalam diri Celestia, memicu percikan perlawanan. Dia tidak akan membiarkan dirinya lumpuh. Tidak lagi. Dia tidak akan menjadi korban yang tidak berdaya.Visi kehancuran Bumi 12, yang pernah terasa begitu jauh, kini terasa begitu dekat, begitu nyata. Dia tidak bisa melindungi adiknya saat itu, tetapi dia bisa melindungi dunia ini. Dia harus.Dengan satu tarikan napas dalam, Celestia menarik Energi Celestialnya. Energi itu menyapu dirinya, menenangkan kekacauan yang mengancam untuk menelannya. Penglihatannya menjadi lebih tajam, pikirannya lebih jernih. Dia menatap Kael, matanya menyala dengan tekad baru.Siluet-siluet gelap mulai muncul dari bayangan di sudut-sudut lab. Makhluk-makhluk bayangan yang sama yang dia lihat sebelumnya, kini lebih banyak, lebih nyata. Mata merah mereka berkilauan dalam kegelapan yang semakin pekat di sudut ruangan. Kael tidak sendirian. Dia membawa bala bantuan.Pintu lab yang terkunci terasa seperti jeruji. Terowongan yang runtuh adalah segelnya. Dia berada di dalam kandang, dan Kael adalah penjaganya. Kael ingin dia tetap di sini, di bawah tanah ini, entah kenapa.Apa yang ada di balik tujuannya? Apa yang Kael inginkan darinya, selain hanya menjebaknya?Kael menurunkan Penumbra-device-nya.