Chapter 1 of 26

Chapter 1: RAMALAN KEHANCURAN

719 words

BAB 1 — RAMALAN KEHANCURAN Angin malam yang dingin menerpa wajah Celestia ketika ia berdiri di balkon apartemennya. Di bawah sana, Bumi 12 masih hidup. Setidaknya, begitulah yang tampak dari kejauhan. Lampu-lampu neon merah, biru, dan ungu membelah jalanan kota. Kendaraan melayang bergerak di antara gedung-gedung pencakar langit, meninggalkan jejak cahaya di udara yang dipenuhi kabut. Hologram iklan raksasa berkedip di antara bangunan. Teknologi baru. Obat-obatan. Janji tentang masa depan yang lebih baik. Celestia menatap semuanya tanpa ekspresi. Dunia terlihat damai. Namun ia tahu kenyataannya tidak seperti itu. Sudah terlalu lama ia melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Energi. Aliran tipis cahaya yang bergerak di antara manusia, bangunan, bahkan langit. Kadang berwarna biru. Kadang emas. Namun beberapa bulan terakhir, warna lain mulai muncul. Hitam. Celestia menggenggam pagar balkon. Tatapannya tertuju pada langit. Tidak ada bintang malam ini. Hanya awan tebal yang menggantung rendah. Lima tahun. Sudah lima tahun sejak malam yang menghancurkan hidupnya. Malam ketika Alana menghilang. Ingatan itu datang tanpa izin. Api. Asap hitam. Rumah masa kecilnya. Dan suara adiknya dari lantai dua. "Kak!" Celestia memejamkan mata. Jangan. Namun ingatan itu tidak berhenti. Ia kembali melihat dirinya yang berusia dua puluh tahun berdiri di depan rumah yang terbakar. Orang-orang berteriak. Petugas pemadam berusaha menerobos masuk. Namun Celestia tidak bergerak. Tubuhnya membeku. Tangannya gemetar. Kakinya tidak mau melangkah. Ia hanya berdiri ketika suara Alana perlahan menghilang bersama kobaran api. Sejak malam itu, Celestia tidak pernah benar-benar menjadi dirinya sendiri. Dan beberapa bulan kemudian, Sapphire muncul. Bersamaan dengan penglihatan-penglihatan tentang masa depan. Namun tidak ada satu pun penglihatan yang memberinya jawaban tentang Alana. Hanya kehancuran. Hanya kematian. Sampai malam ini. Sakit tajam tiba-tiba menusuk kepalanya. "Ah—!" Celestia terhuyung. Cahaya biru menyala dari matanya. Dunia di sekelilingnya lenyap. Balkon. Gedung. Kota. Semuanya ditelan cahaya. Kemudian Celestia melihat Bumi 12. Bukan seperti sekarang. Melainkan seperti yang akan terjadi. Jakarta terbakar. London tenggelam dalam bayangan. New York terbelah menjadi dua. Gedung-gedung pencakar langit runtuh satu demi satu. Tanah membuka retakan raksasa. Jutaan manusia berlari di antara reruntuhan. Mereka berteriak. Mencari keluarga. Memanggil orang-orang yang mereka cintai. Tidak ada yang menjawab. Kemudian langit pecah. Benar-benar pecah. Sebuah lubang raksasa terbuka di antara awan, memperlihatkan kegelapan tanpa ujung. Dari dalamnya, sesuatu bergerak. Celestia tidak mampu melihat bentuknya dengan jelas. Terlalu besar. Terlalu asing. Bayangan menyerupai tentakel menjulur keluar dari retakan. Di mana pun bayangan itu menyentuh bumi, kehidupan mati. Hutan berubah menjadi abu. Laut menghitam. Kota-kota membusuk dalam hitungan detik. Kemudian makhluk itu menoleh. Celestia merasakan tatapannya. Padahal ia berada di luar waktu. Di luar tempat. Namun sesuatu di sana melihatnya. Sebuah nama muncul di dalam pikirannya. Penumbra. Entitas dari dimensi yang seharusnya tidak memiliki jalan menuju dunia manusia. Dan ia sedang mencari jalan masuk. Celestia mencoba menutup mata. Tidak bisa. Penglihatannya terus berjalan. Ia melihat jutaan manusia jatuh. Melihat bangunan runtuh. Melihat langit berubah menjadi hitam. Kemudian— sebuah sosok muncul di tengah kehancuran. Seorang gadis. Rambut panjang. Wajah yang sangat ia kenal. "Alana..." Celestia mencoba mendekat. Namun sosok itu semakin jauh. "Alana!" Gadis itu menoleh. Mata hazelnya menatap Celestia. "Kak..." Suara itu begitu nyata hingga jantung Celestia terasa berhenti. "Alana!" Namun sebelum Celestia sempat mendekat, bayangan hitam muncul di belakang gadis itu. Bayangan itu menelan tubuh Alana. Celestia berteriak. "Jangan!" Seketika penglihatan itu pecah. Celestia tersentak kembali ke balkon. Tubuhnya jatuh berlutut. Napasnya tersengal. Keringat dingin membasahi dahinya. Tangannya gemetar hebat. "Alana..." Ia menatap kosong ke langit. Tidak ada siapa-siapa. Hanya awan. Hanya malam. Namun sesuatu terasa berbeda. Sapphire di dadanya berdenyut. Sekali. Dua kali. Kemudian semakin kuat. Celestia mengangkat tangannya ke dada. Cahaya biru merembes dari balik pakaiannya. "Apa yang terjadi...?" Tiba-tiba— sebuah suara terdengar. Bukan dari luar. Dari dalam pikirannya. "Dia belum mati." Celestia membeku. "Apa?" Hening. Kemudian suara itu menghilang. Celestia berdiri perlahan. Jantungnya berdebar. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia merasakan sesuatu yang hampir menyerupai harapan. Alana mungkin masih hidup. Namun jika benar— di mana dia? Dan siapa yang membawanya? Celestia menatap langit. Sebuah garis cahaya hitam melintas jauh di antara awan. Matanya menyipit. Sapphire kembali berdenyut. Dum. Dum. Dum. Seolah-olah sesuatu sedang memanggilnya. Celestia menggenggam kalung Sapphire. "Aku akan menemukanmu." Angin malam kembali berembus. Namun kali ini, Celestia tidak merasa sendirian. Di kejauhan, jauh di luar batas kota— sesuatu bergerak dalam kegelapan. Sesuatu yang telah menunggu selama lima tahun. Dan malam itu— perjalanan Celestia benar-benar dimulai.

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter