Chapter 18 of 26
Chapter 18: The City's Mortal Wound
1.3k words
Rasa dingin, lebih menusuk daripada udara bawah tanah, meresap hingga ke tulang Celestia. Wajah Alana, yang terdistorsi dalam penderitaan tanpa suara, masih membekas jelas di balik kelopak matanya. Penglihatan itu telah menjadi serangan kejam dan tepat sasaran terhadap pertahanan kokoh yang selama ini susah payah ia bangun. Tangannya gemetar, seolah sarafnya terbuka tanpa perlindungan. Setiap naluri dalam dirinya berteriak untuk melindungi adiknya, untuk mencegah masa depan itu terjadi.
Kael mengawasinya. Ekspresinya tetap tak terbaca, seperti topeng pengamatan dingin. Ia telah mencapai tujuannya: menghancurkan ketenangan Celestia. Udara dipenuhi ketegangan yang tak terlihat, berat dan mencekik.
“Pilihan ada di tanganmu, Celestia,” suara Kael terdengar rendah. “Rasa sakitnya, atau keselamatan kota.”
Kata-katanya seperti anak panah beracun yang tepat mengenai titik paling rapuh dari ketakutan terdalamnya. Kegagalan di masa lalu, kobaran api yang telah merenggut keluarganya, bayangan Alana yang tak berdaya—semuanya terpilin menjadi simpul menyakitkan di dalam perutnya. Ia membenci Kael, kebencian yang membara dan begitu mendalam hingga mengancam menelannya hidup-hidup.
Celestia menarik napas dengan gemetar.
“Apa yang kau inginkan?”
Suaranya serak, hampir tak lebih dari bisikan. Pertanyaan itu merupakan pengakuan, sebuah retakan dalam tekadnya. Sebuah pertaruhan putus asa.
Kael memberikan anggukan kecil, nyaris tak terlihat. Ada kilatan sesuatu—kepuasan?—di matanya. Ia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia mengangkat tangan dan mengarahkannya perlahan ke dinding terjauh gua.
“Lihat.”
Celestia berbalik, mengikuti arah yang ditunjukkannya. Pusaran besar yang berputar-putar itu, robekan dimensi, kini berdenyut dengan ritme yang mengerikan dan semakin cepat. Ukurannya telah membesar. Bukan hanya dalam ukuran, tetapi juga dalam keganasannya.
Sebelumnya, robekan itu hanyalah luka menganga, sebuah portal. Kini, ia telah berubah menjadi sebuah rahang raksasa. Tepi robekan yang sebelumnya berupa garis berkilauan dan jelas kini mulai berjumbai dan mengalir ke bebatuan di sekitarnya. Sulur-sulur energi gelap murni, menyerupai cakar yang hendak mencengkeram, menjulur keluar dan melarutkan batu yang disentuhnya.
Debu berjatuhan dari langit-langit gua. Kerikil bergetar dan bergemeretak. Erangan rendah dan parau bergetar melalui lantai, suara yang bukan berasal dari mesin, melainkan sesuatu yang hidup. Seolah-olah bumi itu sendiri sedang menjerit.
Mata Celestia melebar. Ia telah melihat banyak retakan dimensi sebelumnya, tak terhitung jumlahnya, tetapi belum pernah melihat yang sebesar ini. Ini bukan sekadar gerbang bagi para penyusup. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih dahsyat dan menghancurkan.
Udara semakin dingin, dipenuhi kehadiran asing yang menekan dan menyesakkan. Energi Celestial miliknya berdenyut tak beraturan, meneriakkan peringatan yang bahkan hampir tak mampu ia pahami. Untuk sesaat, bayangan penderitaan Alana tersisih dari pikirannya. Teror yang jauh lebih besar mulai mencengkeram dirinya.
Lalu ia melihatnya.
Bukan dengan matanya, melainkan melalui kejernihan mengerikan dari penglihatan Celestial miliknya.
Robekan dimensi itu bukan sekadar terbuka.
Ia sedang melahap.
Ia seperti pertumbuhan kanker yang menyebar melalui realitas itu sendiri.
Arus energi yang biasanya tak terlihat kini berteriak dalam persepsinya. Arus itu tidak hanya mengalir dari robekan tersebut, tetapi juga menuju ke dalamnya. Kekuatan hidup kota, esensi Bumi 12 itu sendiri, sedang disedot dan ditarik ke dalam kehampaan yang kelaparan.
Jantungnya berdegup keras menghantam tulang rusuk.
Ini bukan invasi.
Ini adalah asimilasi.
Penumbra bukan sekadar mengirim makhluk-makhluknya. Mereka berniat menyatukan Bumi 12 dengan dimensi mereka yang kacau, lalu melahapnya seluruhnya.
Panik yang dingin dan tajam menusuk dirinya. Struktur kota kembali mengerang, menghasilkan dengungan dalam dan bergema yang bergetar hingga ke dadanya. Ia bisa merasakan tekanan itu, tekanan luar biasa yang menghantam fondasi keberadaan itu sendiri. Tanah di bawah kakinya bergetar, tak lagi menjadi pijakan yang stabil.
Fokusnya berubah.
Penderitaan Alana, meskipun masih menjadi luka yang membakar, kini tampak kecil dibandingkan skala ancaman apokaliptik di hadapannya. Ia tidak lagi hanya berjuang demi adiknya atau karena trauma pribadinya.
Ia sedang berjuang demi segalanya.
Demi Jakarta.
Demi Bumi 12.
Demi realitas itu sendiri.
Celestia terhuyung maju, tertarik mendekati realitas yang terkoyak itu, seolah dipaksa oleh rasa ingin tahu yang mengerikan. Udara menjadi begitu pekat, seakan ia sedang bernapas melalui cairan. Paru-parunya terasa terbakar. Ia dapat merasakan rasa logam dari materi yang sedang terurai, bercampur dengan aroma tajam ozon dan sesuatu yang benar-benar asing, sesuatu yang tak mampu digambarkan dengan kata-kata.
“Inilah yang terjadi,” suara Kael memotong suara gemuruh yang memenuhi telinganya.
Ia telah bergerak mendekat, kehadirannya seperti bayangan gelap di samping Celestia.
“Ketika dua realitas bertabrakan. Hanya satu yang bisa bertahan.”
Kata-katanya menggema bersama kebenaran mengerikan yang dikonfirmasi oleh penglihatan Celestial miliknya. Penumbra tidak tertarik pada penaklukan dalam pengertian biasa. Ia adalah kekuatan entropi kosmik, sebuah entitas yang berusaha memperluas wilayah kekacauannya sendiri dengan menyerap realitas-realitas yang stabil.
Rasa tak berdaya kembali mencengkeramnya.
Perasaan yang sama yang telah melumpuhkannya lima tahun lalu ketika ia hanya bisa menyaksikan kobaran api melahap rumahnya, tak mampu menjangkau Alana.
Kini, perasaan itu berlipat jutaan kali.
Apa yang bisa dilakukan satu orang melawan kekuatan yang mampu mengurai struktur dasar alam semesta?
Tangannya mengepal. Kukunya menusuk telapak tangannya. Skala kehancuran yang begitu besar dan mengerikan mengancam menghancurkan semangatnya. Beban penglihatannya, mengetahui apa yang akan terjadi, berubah menjadi beban fisik yang menekan kedua bahunya. Selama ini ia selalu tidak mempercayai orang lain, percaya bahwa hanya dirinya yang mampu menanggung pengetahuan tersebut.
Kini, pengetahuan itu sendiri mengancam untuk menghancurkannya.
“Kau bodoh jika berpikir bisa menghentikan ini,” kata Kael, suaranya dipenuhi rasa iba yang aneh. “Kau sudah melihat masa depan. Kau tahu semua ini tidak bisa dihindari.”
Celestia segera menoleh, matanya menyala penuh amarah.
“Tidak,” jawabnya tegas. “Masa depan belum ditentukan. Ada jutaan kemungkinan. Dan aku akan menemukan jalannya.”
“Jalan?” Kael mencibir, mengeluarkan suara kering tanpa sedikit pun humor. “Kau bahkan tidak bisa menyelamatkan adikmu. Bagaimana kau berniat menyelamatkan dunia yang sudah mulai dilahap?”
Kata-katanya menusuk, kembali membuka luka baru dari penderitaan Alana yang telah ia lihat. Kael tahu persis bagaimana menyerangnya di titik paling menyakitkan. Ia memahami luka terdalamnya, kelemahan fatalnya. Dan kini ia menggunakannya untuk melawan Celestia, memelintir keputusasaannya hingga menjadi penyerahan diri.
Namun kali ini berbeda.
Ini bukan hanya tentang Alana lagi.
Ini tentang segalanya.
Wajah-wajah orang asing, jalanan yang ramai, garis cakrawala Jakarta yang begitu dikenalnya—semuanya berada di bawah ancaman.
Kegagalan pribadinya mungkin telah menjadi bahan bakar yang mendorongnya maju, tetapi bencana global ini menuntut sesuatu yang lebih besar.
Ia menuntut perlawanan yang lahir dari keputusasaan.
Celestia menegakkan tubuhnya. Gemetar masih menjalar di sekujur tubuhnya, tetapi tatapannya telah berubah menjadi tegas.
“Aku tidak akan membiarkan ini terjadi,” tegasnya, suaranya kini jauh lebih kuat, menembus kegelapan yang semakin mendekat. “Aku akan menghentikanmu. Dan aku akan menghentikan Penumbra.”
Mata Kael menyipit.
Sikapnya berubah.
Rasa geli dan iba yang diperhitungkan menghilang, digantikan sesuatu yang lebih dingin dan tajam. Ia telah mendorong Celestia hingga ke ambang kehancuran, berharap wanita itu akan patah.
Namun, alih-alih hancur, Celestia justru menemukan kembali percikan tekad dalam dirinya.
“Kata-kata yang berani,” gumam Kael.
Tangannya perlahan meraih perangkat gelap dan ramping yang terpasang di pinggangnya.
Perangkat Penumbra.
Benda itu berdengung dengan energi rendah yang terasa seperti predator sedang mengintai mangsanya.
Celestia menegang, mempersiapkan diri. Ia mengira Kael akan melancarkan serangan, melumpuhkannya, dan mencegahnya ikut campur. Energi Celestial miliknya berkumpul, membentuk perisai pertahanan di sekeliling tubuhnya, siap menangkis kekuatan gelap apa pun yang mungkin dilepaskan Kael.
Kael menarik perangkat itu dari sarungnya.
Benda tersebut memancarkan cahaya ungu pucat yang mengerikan, berdenyut di dalam genggamannya.
Otot-otot Celestia menegang, siap menerjang. Ia memusatkan pikirannya, menyalurkan kekuatannya, mengantisipasi titik benturan.
Namun, Kael tidak mengarahkan perangkat itu kepadanya.
Tatapannya justru melintas melewati Celestia, menuju celah sempit di belakangnya—terowongan pelarian yang ia gunakan untuk turun ke dalam gua.
Satu-satunya jalan kembali ke permukaan.
Kembali ke kota.
Kael mengangkat perangkat Penumbra itu dengan gerakan lambat dan disengaja. Energi gelap yang terkonsentrasi mulai berkumpul di ujungnya, berupa pusaran kehampaan berwarna ungu dan hitam. Pusaran itu semakin besar, semakin padat, dan semakin kuat.
Mata Celestia langsung beralih ke pintu keluar terowongan.
Kengerian perlahan menyadarinya.
Dia tidak menyerangku.
Dia menjebakku.
Raungan memekakkan telinga meledak dari perangkat tersebut.
Energi gelap berdenyut, berubah menjadi sinar terfokus yang dipenuhi kekacauan murni, melesat menembus udara menuju pintu masuk terowongan.
Sinar itu menghantam dinding batu dengan kekuatan seperti meteor.
Namun, batu itu tidak meledak.
Ia dilahap.
Batu mengerang, lalu retak. Bukan pecah berkeping-keping, melainkan larut menjadi debu, kemudian lenyap menjadi kehampaan.
Mulut terowongan—jalur keselamatannya—runtuh ke dalam dirinya sendiri.
Jalan itu tertutup oleh dinding energi yang terdistorsi dan memadat, mustahil ditembus.
Jalur utama Celestia menuju kota di atas telah lenyap.