Chapter 17 of 26
Chapter 17: Sister's Echoes
851 words
Jeritan menyobek tenggorokan Celestia, tetapi tak ada suara yang keluar. Itu adalah kehancuran sunyi yang terjadi di dalam dirinya, sebuah jeritan naluriah penuh penderitaan yang merobek seluruh ketenangannya. Wajah Alana, terukir dalam ketakutan, membara di balik kelopak matanya. Bayangan-bayangan melekat pada tubuh adiknya, membelenggunya, membungkam permohonan tolongnya. Penglihatan itu berdenyut, berulang tanpa ampun dalam sebuah lingkaran kejam.
Rasa tak berdaya mencengkeram dada Celestia, sebuah cengkeraman yang begitu akrab dan mencekik. Napasnya tercekat. Paru-parunya terasa terbakar. Inilah perasaan yang sama—kengerian memuakkan yang persis sama, yang mencengkeram dirinya lima tahun lalu ketika api melahap rumah mereka, ketika asap membungkam jeritan Alana, sementara ia hanya berdiri membeku, tak mampu menjangkaunya.
Tidak. Jangan lagi.
Sebuah geraman kasar bergemuruh jauh di dalam dirinya, suara yang nyaris tak dikenali Celestia sebagai miliknya sendiri. Ia tidak akan gagal lagi. Ia tidak boleh gagal.
Penumbra, siluet mengerikan yang tercipta dari keputusasaan, menjulang di hadapannya. Wujudnya terus berubah, menyatu dari ketakutan murni yang menjadi santapannya. Makhluk itu seolah semakin membesar, kehadirannya yang gelap menekan dari segala arah, menikmati penderitaannya. Tubuhnya berdenyut, sementara tawa jahat yang tak bersuara menggema di dalam pikiran Celestia.
Makhluk itu yang melakukan semua ini.
Makhluk itu telah menunjukkan Alana kepadanya.
Kemarahan yang dingin dan tajam membelah rasa takutnya. Tatapan Celestia beralih tajam kepada Kael, yang berdiri begitu tenang dan mengusik di samping makhluk itu, seperti penjaga yang tak bergerak. Hubungannya dengan Penumbra kini tak terbantahkan lagi—sebuah kebenaran menjijikkan yang membuat perutnya serasa terpelintir.
Kael tahu.
Dia bagian dari kegelapan ini.
Tangan Celestia bergetar. Energi Celestial miliknya meledak, memancarkan gelombang kekuatan yang lahir dari keputusasaan. Ia bisa merasakannya, berdengung di bawah kulitnya, liar dan tak terkendali, mencari jalan untuk dilepaskan.
Dunia di sekelilingnya menjadi semakin tajam. Warna-warna tampak lebih pekat, sementara energi terlihat seperti arus berkilauan yang mengalir di udara. Mata Celestia, yang biasanya berwarna hazel tenang, kini menyala dengan cahaya dari dalam.
Setiap serat dalam tubuhnya berteriak agar ia menyerang. Menghancurkan monster itu. Meremukkan ketenangan palsu Kael.
Namun bayangan Alana yang berjuang di dalam penjara kegelapan membuatnya tetap terpaku.
Logika berperang melawan naluri.
Amarah bertarung dengan cinta yang membara dan putus asa.
Celestia melangkah maju dengan gemetar. Satu langkah, lalu langkah berikutnya. Tanah terasa tidak stabil di bawah sepatu botnya. Pandangannya mengabur, bukan karena air mata, melainkan karena intensitas ketakutan yang diproyeksikan Penumbra, berusaha membanjiri seluruh indranya.
Makhluk itu ingin dia hancur.
Makhluk itu menginginkan keputusasaannya.
Namun Celestia menolak menyerah.
Ia melawan.
Celestia menyalurkan energinya, membentuk perisai dari tekad murni di sekeliling pikirannya. Sulur-sulur teror milik Penumbra mundur, mendesis tanpa suara di dalam kesadarannya. Wujud makhluk itu berkelip, mengalami gangguan sesaat pada aura jahatnya.
Wajah Alana yang pucat dan dibasahi air mata kembali muncul dalam benaknya.
Suara adiknya, teredam dan terdengar begitu jauh, memohon pertolongan.
Suara itu menghantam Celestia seperti pukulan fisik, merenggut sisa-sisa kendali yang masih dimilikinya. Keteguhan dingin yang selama ini ia kenakan sebagai perisai untuk menghadapi kerasnya dunia perlahan mencair, digantikan oleh keputusasaan membara yang nyaris tak tertahankan.
Ia akan merobek dimensi ini jika itu berarti bisa menyelamatkan Alana.
Ia akan menghadapi setiap monster, setiap kengerian yang tak dikenalnya.
Namun bagaimana caranya?
Bagaimana ia bisa melawan entitas yang menjadikan ketakutan terdalamnya sebagai senjata?
Dan Kael.
Dia masih berada di sana.
Masih mengawasi.
Kehadiran Kael terasa seperti duri bergerigi yang menusuk dari dalam. Dia berdiri di pihak musuh. Dia adalah ancaman.
Namun kenangan tentang tindakan cepat Kael di masa lalu, tentang kekuatannya yang aneh dan mengusik, kembali berkelebat dalam pikirannya.
Kael pernah membantunya.
Meskipun dengan enggan.
Dia memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki Celestia. Dia memahami hal-hal yang bahkan tidak mampu dipahaminya.
Mungkinkah dia tahu cara menghentikan semua ini?
Mungkinkah Kael memegang bagian dari teka-teki ini, meskipun dia berpihak pada kekuatan yang sedang menyiksa dirinya?
Pikiran itu terasa menjijikkan.
Seolah-olah mempercayai Kael berarti mengkhianati segala sesuatu yang ia yakini. Segala sesuatu yang selama ini ia perjuangkan.
Mempercayai Kael terasa seperti melangkah masuk ke sarang ular berbisa.
Namun penderitaan Alana menenggelamkan seluruh keraguannya.
Rahang Celestia mengeras. Sebuah urat berdenyut di pelipisnya.
Ia membenci gagasan itu.
Ia membenci Kael karena telah memaksanya menghadapi pilihan yang mustahil ini.
Namun Alana.
Kehidupan Alana.
Itulah satu-satunya hal yang penting sekarang.
Segala pertimbangan lain, setiap lapisan ketidakpercayaannya yang selama ini melekat kuat dalam dirinya, lenyap di hadapan satu kebutuhan yang membara itu.
Celestia menatap Kael.
Benar-benar memperhatikannya.
Mata Kael yang biasanya sulit dibaca seolah menyimpan kilatan sesuatu yang tak mampu ia pahami sepenuhnya.
Sebuah bayangan?
Sebuah pergulatan?
Atau mungkinkah itu hanya keputusasaannya sendiri yang memaksanya melihat makna di balik ekspresi Kael?
Celestia tidak tahu.
Penilaiannya telah dikaburkan oleh badai emosi yang berkecamuk di dalam dirinya.
Penumbra bergetar.
Wujudnya kembali memadat menjadi massa kegelapan yang tampak penuh kemenangan.
Makhluk itu telah mencapai tujuannya.
Ia telah menghancurkan ketenangan Celestia.
Ia telah mengubah kekuatan batinnya menjadi kepanikan yang liar dan tak terarah.
Penumbra menginginkannya terus tenggelam.
Menggulungnya ke dalam kekacauan.
Membuatnya menyerah.
Namun Celestia menolak.
Ia menancapkan kedua kakinya kuat-kuat ke tanah, menjadikan dirinya sendiri sebagai jangkar meskipun dunia terasa miring di sekelilingnya.
Ia menarik napas.
Perlahan.
Dalam-dalam.
Berusaha mendapatkan kembali sedikit kendali atas jantungnya yang berpacu dan denyut liar Energi Celestial yang bergejolak di dalam tubuhnya.
Ia tidak akan hancur.
Ia akan beradaptasi.