Chapter 16 of 26

Chapter 16: BAYANGAN DARI PENUMBRA

627 words

BAB 16 — BAYANGAN DARI PENUMBRA Udara dingin menusuk paru-paru Celestia ketika ia menekan punggungnya ke permukaan logam rak server yang membeku. Aroma ozon terbakar dan tembaga memenuhi udara—bau khas teknologi yang berada di ambang kehancuran, pertanda bahwa sesuatu yang jauh lebih buruk sedang menunggu. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan pecahan kaca. Tenggorokannya menegang menghadapi hawa dingin yang tidak wajar, berminyak, dan perlahan memenuhi ruangan. Celestia menutup mulut dengan satu tangan, berusaha sekuat tenaga meredam suara detak jantungnya yang berpacu. Di belakangnya, pintu keluar yang baru saja ia kunci berdiri seperti monumen bisu atas keputusan yang telah dibuatnya. Pintu baja berat itu kini justru menjadi penghalang yang menjebaknya di dalam makam berteknologi tinggi ini. Tidak ada jalan kembali. Jika sesuatu berjalan salah, ia tidak lagi memiliki jalan untuk melarikan diri. Bisikan-bisikan samar mengalir di seluruh laboratorium yang remang-remang. Suara itu membawa resonansi aneh yang membuat gigi Celestia bergetar dan pandangannya berkunang di tepi penglihatan. Ia tidak mengenali bahasa yang digunakan. Namun kebencian yang terkandung di dalamnya terasa begitu nyata. Celestia menahan napas. Sesuatu bergerak di antara rak-rak server. Bayangan. Ia tidak melihat bentuknya dengan jelas. Hanya gerakan samar yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Celestia menekan tubuhnya lebih rapat ke rak. Jangan bergerak. Jangan bernapas. Jangan menarik perhatian. Namun sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa makhluk itu sudah tahu ia berada di sana. Suara langkah terdengar. Perlahan. Berat. Satu langkah. Kemudian langkah berikutnya. Melewati peralatan yang masih menyala. Melewati bayangan-bayangan di antara rak server. Makhluk itu tidak sedang mencari. Ia sudah tahu. Tatapannya berhenti tepat pada rak server tempat Celestia bersembunyi. Panik mencengkeram tubuh Celestia. Namun ia memaksa seluruh ototnya terkunci. Ia bahkan tidak berani menarik napas. Suhu kembali turun. Udara membekukan bulu matanya dalam sekejap. Napasnya berubah menjadi kristal dingin di tenggorokan. Hawa sub-nol itu terasa seperti serangan fisik yang perlahan merenggut kehidupan dari tubuhnya. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut makhluk itu dapat mendengarnya. Kemudian— dua rongga kosong pada wajah Penumbra terkunci tepat pada posisinya. Celestia merasakan gelombang teror murni menghantam dadanya. Napasnya seolah direnggut paksa. Pertahanannya runtuh dalam sekejap. Rasanya seperti ada tangan tak kasatmata yang menjangkau ke dalam dadanya dan menggenggam jantungnya. Tidak ada lagi jarak di antara mereka. Tidak ada lagi rak server yang bisa melindunginya. Tidak ada penghalang yang mampu menjaga pikirannya. Ruang di antara mereka seolah melipat. Dan Penumbra masuk langsung ke dalam pikirannya. Tiba-tiba, laboratorium menghilang. Dunia di sekeliling Celestia larut menjadi pusaran energi gelap yang mengoyak batas realitas. Suara lenyap. Cahaya lenyap. Tidak ada lagi lantai. Tidak ada lagi dinding. Tidak ada lagi laboratorium. Yang tersisa hanyalah kehampaan hitam yang menyesakkan. Sebuah ruang tanpa suara yang menghimpit tubuh dan pikirannya dengan tekanan tak kasatmata. Celestia berada sepenuhnya di bawah kendalinya. Terperangkap dalam penjara yang diciptakan Penumbra sendiri. Kemudian sebuah penglihatan menerjang pikirannya. Kasar. Terpecah. Menyakitkan. Gambaran itu menancap ke dalam kesadarannya seperti pukulan fisik. Celestia mencoba menutup mata. Tidak bisa. Ia mencoba memalingkan wajah. Tidak bisa. Ia hanya bisa melihat. Alana muncul di hadapannya. Adiknya sedang berteriak. Wajah Alana dipenuhi penderitaan yang begitu dalam hingga membuat dada Celestia sesak. Jari-jari Alana mencakar-cakar sebuah penghalang tak kasatmata yang menahannya di tempat. "Celestia!" Suara itu terdengar jauh. Penuh ketakutan. Penuh rasa sakit. Sebuah permohonan agar kakaknya datang menyelamatkannya. Celestia ingin bergerak. Ingin menjawab. Ingin menerobos apa pun yang menghalangi mereka. Namun tubuhnya tidak bergerak. Penumbra menatapnya dari kejauhan. Dan untuk sesaat, Celestia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Sosok Alana terperangkap di dalam penjara yang terbuat dari bayangan yang berputar-putar. Ia masih berteriak. Masih memanggil namanya. Dan Celestia akhirnya mengerti. Penumbra tidak sekadar menunjukkan kepadanya apa yang sedang terjadi. Makhluk itu sedang memperingatkannya. Atau mungkin— menantangnya. Dan untuk pertama kalinya, Celestia menyadari bahwa penyelamatan Alana mungkin akan menuntut harga yang jauh lebih besar daripada nyawanya sendiri.

End of Chapter 16