Chapter 15 of 26
Chapter 15: VESEL
1.1k words
BAB 15 — VESEL
Udara dingin mengalir dari mulut lorong pelarian yang menganga dalam kegelapan.
Tangga-tangga batu yang telah dilapisi debu berkelok turun menuju kedalaman yang tidak terlihat. Tidak ada cahaya di sana. Tidak ada suara selain hembusan angin dingin yang keluar dari kegelapan, seolah lorong itu sedang bernapas.
Di belakangnya—
Klik.
Klik.
Klik.
Suara sepatu bot menghantam lantai baja koridor.
Kael datang.
Jantung Celestia berpacu.
Lorong itu ada tepat di hadapannya.
Satu langkah lagi, dan ia bisa menghilang ke dalam kegelapan.
Mungkin lorong itu akan membawanya keluar dari kompleks.
Mungkin menuju kebebasan.
Namun ketika tangannya hampir menyentuh dinding batu di samping pintu masuk, sebuah ingatan kembali menghantam pikirannya.
Api.
Asap.
Jeritan.
Rumah masa kecilnya yang berubah menjadi neraka.
Lidah-lidah api berwarna jingga menjilat dinding, mengubah segala sesuatu yang dicintainya menjadi abu.
Saat itu ia masih terlalu kecil.
Terlalu lemah.
Terlalu takut untuk melakukan apa pun.
Ia masih mengingat suara ayahnya dari lorong.
Sebuah teriakan.
Kemudian suara kayu besar runtuh.
Dan setelah itu—
sunyi.
Tangan Alana terlepas dari genggamannya.
Hilang di balik asap tebal yang memenuhi ruang keluarga.
Celestia tidak pernah melupakan sensasi itu.
Perasaan ketika seseorang yang paling ia cintai menghilang di depan matanya sementara tubuhnya sendiri tidak mampu bergerak.
Rasa bersalah itu telah tinggal di dalam dirinya selama lima tahun.
Menjadi luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Percikan cahaya keemasan muncul di bawah kuku-kukunya.
Energi celestial merespons gejolak emosinya.
Dulu, kekuatan itu terasa seperti kutukan.
Sekarang, ia mulai memahami bahwa kekuatan tersebut juga merupakan sesuatu yang bisa ia pilih untuk kendalikan.
Celestia menatap lorong gelap di hadapannya.
Jika ia pergi sekarang, ia mungkin selamat.
Namun selama sisa hidupnya, ia akan dihantui pertanyaan yang sama.
Bagaimana jika aku tetap tinggal?
Bagaimana jika aku bisa menyelamatkan seseorang kali ini?
Tangannya masuk ke saku.
Jari-jarinya menyentuh benda kecil yang dingin.
Liontin perak.
Benda yang telah ia simpan selama bertahun-tahun.
Celestia menggenggamnya erat.
Penglihatan dari Bab 14 kembali muncul di benaknya.
Kael yang jauh lebih muda.
Wajahnya yang dipenuhi kesedihan.
Dan seorang gadis yang memiliki wajah persis seperti Alana.
Bagaimana mungkin?
Alana telah mati lima tahun lalu.
Celestia menyaksikan rumah mereka terbakar.
Ia merasakan panas api di kulitnya.
Ia mengingat bagaimana kakinya tidak mampu bergerak ketika dunia di sekelilingnya runtuh.
Namun jika gadis dalam penglihatan itu benar-benar Alana...
maka seluruh keyakinan yang selama ini ia pegang mungkin salah.
Melarikan diri sekarang berarti kembali menjadi gadis yang sama.
Gadis yang hanya bisa berdiri dan menyaksikan orang yang dicintainya menghilang.
Celestia menarik napas panjang.
Kemudian ia menutup mata.
"Ini bukan lima tahun lalu."
Suaranya bergetar.
"Tidak lagi."
Ia membuka mata.
Tatapannya berubah.
"Aku tidak akan lari."
Celestia berbalik dari lorong.
Dengan satu gerakan tegas, telapak tangannya menghantam tombol pengunci darurat di dinding.
BIP.
Mekanisme tua di balik dinding langsung bergerak.
Batu-batu berat bergeser dari kedua sisi.
GRRRRKKK...
Mulut lorong perlahan tertutup.
Beberapa detik kemudian—
DUK.
Lorong itu tersegel.
Celestia berdiri sendirian di dalam ruang tahanan.
Ia baru saja mengunci satu-satunya jalan keluar.
Namun kali ini, itu adalah pilihannya sendiri.
Langkah kaki berhenti tepat di depan pintu.
Celestia membeku.
Terdengar suara mekanis.
Tssss...
Kunci pintu terbuka.
Ia segera bergerak ke balik sekat logam di dekat tempat tidurnya.
Pintu baja bergeser.
Bayangan seseorang masuk ke dalam ruangan.
Kael.
Ia berdiri di ambang pintu.
Namun kali ini, ia tidak tampak seperti komandan yang baru saja mencoba membunuhnya.
Ia terlihat kelelahan.
Lingkaran hitam mengelilingi matanya.
Wajahnya pucat.
Rahangnya menegang begitu keras hingga otot di pipinya sesekali bergerak.
Di tangannya terdapat sebuah tablet holografik yang memancarkan cahaya kebiruan ke wajahnya.
"Celestia?"
Suaranya serak.
Celestia menahan napas.
Ia menempelkan punggungnya pada permukaan logam dingin.
Kael mengamati ruangan.
Tatapannya bergerak perlahan dari satu sudut ke sudut lain.
Namun ia tidak menemukan Celestia.
Kemudian ia melihat pintu yang telah terkunci.
Kael mengerutkan kening.
Ia berjalan mendekatinya.
"Celestia."
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk pintu.
"Kalau kau masih di sini..."
Kael berhenti.
"...aku tahu kau mendengarku."
Celestia tetap diam.
Kael menatap panel pintu.
"Aku tidak datang untuk membunuhmu."
Celestia menggenggam liontin Alana.
"Kenapa aku harus percaya?"
Kael menutup mata sebentar.
"Karena kalau aku ingin membunuhmu, kau sudah mati."
Celestia keluar dari balik sekat.
Kael langsung menoleh.
Keduanya saling menatap.
Untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Kemudian Celestia bertanya.
"Di mana Alana?"
Wajah Kael berubah.
Ia menundukkan kepala.
"Masih hidup."
Dua kata itu membuat dada Celestia terasa sesak.
"Di mana?"
Kael mengangkat tabletnya.
Sebuah peta tiga dimensi muncul.
"Di bawah kita."
Celestia menatap peta tersebut.
"Seberapa jauh?"
Kael memperbesar tampilan.
"Jauh lebih dalam daripada fasilitas utama."
"Kenapa?"
"Karena tempat itu bukan bagian dari fasilitas."
Celestia mengerutkan kening.
"Lalu apa?"
Kael menatapnya.
"Vesel."
Celestia terdiam.
"Vesel?"
"Tempat untuk menampung sesuatu yang tidak seharusnya berada di dunia ini."
Celestia merasakan Sapphire berdenyut.
"Penumbra."
Kael mengangguk.
"Ya."
Kemudian sebuah suara terdengar dari lorong.
Bukan langkah kaki.
Bukan suara manusia.
Sebuah dengungan rendah.
Dum.
Dum.
Dum.
Kael langsung mematikan tabletnya.
"Kita harus pergi."
Celestia menatapnya.
"Ke mana?"
"Ke bawah."
Celestia terdiam.
"Kalau kita pergi ke sana, apakah aku bisa menemukan Alana?"
Kael menatapnya lama.
"Jika dia masih menjadi dirinya sendiri..."
Ia berhenti.
"...mungkin."
Celestia menggenggam liontin itu.
"Aku akan mengambil risiko itu."
Kael membuka pintu.
Di baliknya, lorong gelap terbentang menuju kedalaman fasilitas.
Celestia melangkah keluar.
Untuk pertama kalinya, ia dan Kael berjalan berdampingan.
Namun mereka berdua tahu—
di bawah sana bukan hanya Alana yang menunggu.
Sesuatu yang jauh lebih tua juga sedang menunggu.
Dan semakin mereka turun, semakin dingin udara yang mereka hirup.
Dum.
Dum.
Dum.
Denyut itu semakin kuat.
Kemudian mereka tiba di sebuah pintu raksasa.
Tidak ada tulisan.
Tidak ada kode akses.
Hanya sebuah simbol.
Tiga lengkungan.
Satu garis tajam di tengah.
Simbol Penumbra.
Kael berdiri di depan pintu.
"Setelah pintu ini dibuka..."
Ia menatap Celestia.
"...tidak ada jalan untuk kembali."
Celestia menatap simbol itu.
Kemudian ia mengangkat tangannya.
Cahaya emas muncul di telapak tangannya.
"Aku tidak datang sejauh ini untuk kembali."
Kael menekan telapak tangannya pada panel.
Pintu mulai terbuka.
GRRRRKKK...
Kegelapan muncul di baliknya.
Namun di tengah kegelapan itu—
sebuah cahaya ungu menyala.
Kemudian satu lagi.
Dan satu lagi.
Puluhan.
Ratusan.
Seperti mata.
Celestia menahan napas.
Dari kedalaman ruangan terdengar sebuah suara.
"Vessel terdeteksi."
Kael membeku.
Celestia menatapnya.
"Siapa yang berbicara?"
Kael tidak menjawab.
Suara itu kembali terdengar.
"Celestial Vessel terdeteksi."
Cahaya emas di tubuh Celestia menyala semakin kuat.
Dan dari balik pintu—
sesuatu mulai bergerak.
Sesuatu yang selama ini hanya mereka kenal sebagai Penumbra.
Kini ia sedang bangun.