Chapter 14 of 26

Chapter 14: LUKA YANG MEMBEKU

1.5k words

BAB 14 — LUKA YANG MEMBEKU Bernapas terasa seperti menelan pecahan kaca. Percikan cahaya keemasan masih menari di ujung jari Celestia, memantulkan bayangan pucat yang bergerak liar di sepanjang dinding baja abu-abu ruang tahanan. Setiap otot di tubuhnya terasa nyeri. Bukan sekadar lelah, melainkan rasa sakit yang menjalar hingga ke tulang, seolah seluruh tubuhnya baru saja dihantam oleh gelombang energi yang jauh melampaui batas kemampuannya. Celestia menempelkan dahinya pada lantai logam yang dingin. Dunia masih berputar. Ia memejamkan mata dan menarik napas perlahan. Namun bahkan dalam kegelapan, ia tidak menemukan ketenangan. Dengungan sisa energi celestial masih bergetar di dalam giginya. Rasa pahit seperti logam memenuhi lidahnya. Ia masih dapat merasakan panas dari benturan kekuatan terakhirnya dengan Kael—ledakan dahsyat yang nyaris menghabiskan seluruh energinya. "Tenang..." Bisikannya nyaris tak terdengar. Ia mencoba menenangkan pikirannya. Namun ketika matanya terpejam, sesuatu yang lain muncul. Cahaya. Cahaya keemasan yang terlalu terang untuk sekadar bayangan. Energi celestial di dalam tubuhnya belum kembali tenang. Inti kekuatannya masih berdenyut liar, seolah menolak kembali ke keadaan semula. Dengungannya semakin tinggi. Semakin dalam. Dan perlahan, kesadarannya kembali terseret menuju sesuatu yang baru saja ia lihat. Penglihatan itu. Potongan masa lalu yang muncul ketika kekuatannya berbenturan dengan energi Penumbra milik Kael. Celestia mencoba melawannya. Ia berusaha mempertahankan kesadarannya di dalam ruang tahanan. Namun energi itu tidak memberinya pilihan. Ia menarik pikirannya semakin dalam. Dinding-dinding baja di sekelilingnya mulai memudar. Kemudian— dunia berubah. --- Angin dingin menerpa tubuh Celestia. Ia tersentak. Namun tidak ada udara yang masuk ke paru-parunya. Ia tidak benar-benar berada di sana. Tubuhnya terasa ringan, hampir tanpa berat. Ketika ia menunduk, kedua kakinya melayang beberapa sentimeter di atas lantai beton yang retak dan basah. Ia berada di dalam sebuah ingatan. Sebuah ingatan yang bukan miliknya. Di hadapannya terbentang reruntuhan sebuah laboratorium raksasa. Bangunan yang dulunya tampak modern dan canggih kini telah berubah menjadi kuburan logam. Atap kaca telah pecah seluruhnya. Langit kelabu terlihat melalui rangka baja yang bengkok. Asap hitam menggantung rendah di udara, bercampur dengan hujan gelap yang turun tanpa henti. Pilar-pilar baja tergeletak seperti tulang raksasa yang patah. Kabel-kabel menggantung dari langit-langit, sesekali memercikkan listrik. Alarm terdengar jauh di luar bangunan. Lemah. Terputus-putus. Seperti jeritan terakhir dari sesuatu yang sedang sekarat. Hujan hitam membasahi lantai. Bau ozon, bahan bakar sintetis, dan logam terbakar memenuhi udara. Celestia perlahan berbalik. Lalu ia melihatnya. Kael. Ia berlutut di tengah reruntuhan. Namun sosok yang dilihat Celestia bukanlah Commander Kael yang ia kenal. Wajahnya jauh lebih muda. Tidak ada tatapan dingin. Tidak ada aura mengancam. Tidak ada ekspresi seorang pria yang telah mengorbankan kemanusiaannya demi kekuasaan. Yang tersisa hanyalah ketakutan. Ketakutan yang begitu dalam hingga hampir menghancurkan wajahnya. Kael sedang memeluk seseorang. Seorang gadis. Celestia membeku. Rambut hitam gadis itu basah dan menempel di pipinya. Darah mengalir dari luka di dadanya, membasahi jas laboratorium putih yang dikenakannya. Wajah itu... Celestia mengenalnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak. "Alana..." Nama itu keluar dari bibirnya tanpa suara. Itu adalah Alana. Adiknya. Atau seseorang yang memiliki wajah yang sama persis dengannya. Kael menekan kedua tangannya pada luka di dada Alana. "Jangan..." Suaranya bergetar. "Jangan lakukan ini." Energi gelap berkedip di antara jari-jarinya. Namun kekuatan itu belum stabil. Cahaya hitam muncul sesaat, kemudian padam. Muncul lagi. Lalu menghilang. Kael berusaha mengendalikan kekuatannya, tetapi semakin keras ia memaksa, semakin liar energi tersebut bergerak. "Tolong..." Suara Kael pecah. "Alana, tetap bersamaku." Ia menundukkan kepala hingga dahinya menyentuh pelipis Alana. Air mata mengalir di wajahnya. Air mata yang bercampur dengan hujan dan debu. "Aku akan membawamu keluar dari sini." Napasnya bergetar. "Kita akan memperbaiki semuanya." Ia memeluk tubuh Alana lebih erat. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi." Namun Alana tidak menjawab. Dadanya bergerak sekali. Sangat pelan. Kemudian berhenti. Untuk selamanya. Kael membeku. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Kemudian— sebuah jeritan pecah dari tenggorokannya. Bukan jeritan seorang komandan. Bukan jeritan seorang prajurit. Melainkan jeritan seorang kakak yang baru saja kehilangan seluruh dunianya. Kael memeluk tubuh Alana semakin erat. Bahu lebarnya berguncang hebat. Celestia mundur selangkah. Dadanya terasa sesak. Ia mengenal rasa sakit itu. Rasa kehilangan. Ketidakberdayaan. Perasaan ketika seseorang yang paling dicintai pergi tepat di depan mata, sementara kita tidak mampu melakukan apa pun untuk menyelamatkannya. Celestia pernah merasakan hal yang sama. Lima tahun lalu. Malam ketika keluarganya mati. Untuk sesaat, rasa sakit mereka terasa seperti satu luka yang sama. Dua manusia. Dua kehilangan. Dua jiwa yang hancur oleh ketidakberdayaan. Namun kemudian— sesuatu bergerak. Celestia menoleh. Di antara genangan hujan hitam, bayangan mulai menggeliat. Perlahan. Seperti makhluk hidup yang baru saja terbangun. Untaian kegelapan merayap di atas beton dan mendekati Kael. Mereka tidak menyerangnya. Mereka menyentuh kakinya. Melingkarinya. Kemudian merayap naik ke tubuhnya. Kael tidak bergerak. Tidak melawan. Seolah ia sudah terlalu lelah untuk peduli. Lalu sebuah suara terdengar. Bukan dari satu tempat. Melainkan dari segala arah. Suara itu terdiri dari ribuan bisikan yang saling bertumpuk. "Kami bisa menyelamatkannya." Kael mengangkat kepalanya. Matanya dipenuhi kesedihan. "Kami bisa mengembalikan apa yang telah direnggut darimu." Bayangan hitam merayap semakin tinggi. "Tidak akan ada lagi kehilangan." Kael menatap tubuh Alana. Tangannya mengepal. "Tidak ada lagi kematian." Bisikan itu semakin dekat. Semakin menggoda. "Berikan kami kekuatanmu." Kael terdiam. Kemudian— ia membuat pilihan. Ia membiarkan kegelapan masuk. Energi hitam menembus kulitnya seperti tinta yang dituangkan ke dalam air. Pembuluh darah di lehernya mulai berubah warna. Cahaya biru perlahan muncul di matanya. Warna cokelat hangat yang sebelumnya memenuhi irisnya menghilang sedikit demi sedikit. Namun air matanya tidak berhenti. Kesedihannya tidak menghilang. Ia hanya berubah bentuk. Kesedihan itu membeku menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Tekad. Dendam. Dan obsesi. Kael menatap tubuh Alana sekali lagi. "Kalau dunia ini mengambilmu dariku..." Suaranya nyaris berbisik. "...maka aku akan memaksa dunia mengembalikanmu." Kegelapan meledak dari tubuhnya. Penglihatan itu pecah. --- Celestia terjatuh ke lantai ruang tahanan. "Ah—!" Ia menarik napas dalam-dalam seperti seseorang yang baru saja ditarik keluar dari dasar laut. Keringat dingin membasahi wajahnya. Kedua tangannya gemetar hebat. Ia menekan telapak tangannya ke lantai untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh lagi. Beberapa detik ia hanya duduk di sana. Diam. Mencerna apa yang baru saja dilihatnya. "Dia..." Suara Celestia bergetar. "Dia kehilangan Alana." Untuk pertama kalinya, Celestia melihat Kael bukan sebagai monster. Ia melihat seorang kakak. Seseorang yang kehilangan orang yang dicintainya. Seseorang yang membuat pilihan mengerikan karena tidak mampu menerima kehilangan tersebut. Namun Celestia tahu bahwa memahami seseorang tidak berarti membenarkan semua yang telah dilakukannya. Kael tetap telah menyerahkan dirinya kepada Penumbra. Tetap telah membuka jalan bagi kegelapan. Dan sekarang— ia mungkin sedang mencoba melakukan hal yang sama sekali lagi. Celestia perlahan berdiri. Kakinya masih gemetar. Namun pikirannya mulai jernih. Ia menatap pintu ruang tahanan. Di balik pintu itu ada Kael. Dan di balik Kael— ada kebenaran tentang Alana. Celestia menarik napas panjang. Selama lima tahun, ia melarikan diri dari rasa sakit itu. Menguburnya di balik dinding dingin yang ia bangun di dalam dirinya sendiri. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia tidak membutuhkan siapa pun. Karena itu, ia terus menjauhkan orang lain. Namun melihat kebenaran tentang Kael menghancurkan ilusi rapuh tersebut. Celestia akhirnya menyadari sesuatu yang selama ini tidak ingin ia akui. Ia tidak bisa melakukan ini sendirian. Namun ketika ia melihat sekeliling ruang observasi yang dipenuhi asap dan reruntuhan, tidak ada seorang pun yang dapat ia panggil. Tidak ada bala bantuan. Tidak ada orang yang bisa ia percaya. Kelangsungan hidupnya bergantung sepenuhnya pada kekuatannya sendiri. Pada Celestial Energy yang selama ini berusaha ia pahami. Energi emas mulai melilit kedua lengannya. Dengung halus memenuhi telinganya. Cahaya itu perlahan mendorong kembali kegelapan yang merayap masuk. Celestia melangkah mendekati kaca yang retak. Tatapannya terkunci pada sosok Kael yang berdiri di bawah. "Kenapa?" Bisikannya begitu pelan hingga ia sendiri hampir tidak mendengarnya. Ia tahu Kael tidak mungkin mendengar pertanyaan itu melalui kaca tebal. Namun ia tetap harus mengatakannya. Entah mengapa, Kael tampak mendengarnya. Pria itu memiringkan kepala. Ekspresinya berubah. Hampir seperti rasa iba. Perlahan, Kael mengangkat tangan kirinya. Satu jari bersarung tangan menunjuk tepat ke dada Celestia. Kemudian sebuah suara terdengar. Bukan melalui telinga. Suara itu muncul langsung di dalam pikirannya. Dingin. Kasar. Seperti besi yang digesekkan pada batu. "Karena dia sedang menunggumu." Celestia tersentak. Tangannya langsung menutup telinga. Rasa sakit menusuk kepalanya ketika suara itu menembus pertahanannya dan merambat jauh ke dalam kesadarannya. Kemudian wajah Alana muncul di benaknya. Namun kali ini, wajah itu berbeda. Wajah cantik adiknya telah terdistorsi. Urat-urat hitam merambat di bawah kulitnya. Persis seperti sulur gelap yang menutupi leher Kael. "Tidak..." Suara Celestia bergetar. "Dia sudah pergi." Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Mencoba menutup suara itu. Mencoba mempertahankan kenangan tentang Alana sebagai gadis kecil yang lembut dan penuh kehangatan. Namun hubungan itu terlalu kuat. Energi gelap yang memenuhi ruangan bertindak sebagai penghantar bagi bisikan Penumbra. Kael kembali melangkah maju. Dan Celestia menyadari bahwa luka yang selama ini ia coba bekukan tidak pernah benar-benar sembuh. Hanya menunggu saat yang tepat untuk terbuka kembali. Kali ini, Celestia tidak akan lari. Ia akan mencari Alana. Apa pun yang harus ia hadapi. Karena mungkin— Alana bukan sekadar korban. Mungkin Alana adalah kunci dari semua yang sedang terjadi. Dan mungkin satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan menghadapi kegelapan yang telah mengambilnya. Celestia mengepalkan tangannya. Cahaya emas menyala di antara jemarinya. "Aku akan menemukanmu, Alana." Ia menatap pintu di hadapannya. "Dan kali ini..." Suaranya menjadi lebih tegas. "...aku tidak akan terlambat."

End of Chapter 14